Sabtu, 13 Agustus 2011

" METODOLOGI BIBEL "


Ketika mengkaji Bibel secara kritis, para teolog Yahudi-Kristen mengakui Bibel yang selama ini dianggap sebagai textus receptus ternyata memiliki sejumlah kesalahan mendasar. Kajian kritis Bibel tersebut melahirkan banyak metode kritis yang disebut dengan biblical criticism (kritik Bibel). Dalam perkembangannya, para orientalis yang tidak terlepas dari perkembangan studi Bibel­ menggunakan biblical criticism sebabai kerangka dasar untuk mengkaji Al-Qur'an. Selain itu, beberapa sarjana Muslim kontemporer seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd, menerapkan juga metodologi Bibel ke dalam studi Al-Qur'an. Di bawah ini akan dipaparkan studi Sejarah Perjanjian Baru. Tujuannya untuk melacak jejak pemikiran para orientalis modern dalam studi Al-Qur'an.


1. Biblical Criticism

Naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno baru pertama kali dicetak pada tahun 1514 di Spanyol oleUniversitas Alcala. Tapi, naskah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno yang pertama kali mendapat sambutan di pasaran adalah adalah edisi naskah yang diterbitkan oleh Desiderius Erasmus (1469-1536) dari Rotterdam, Belanda pada tahun 1516. Naskah teks tersebut dijadikan textus receptus dan teks standar hingga tahun 1881.

 Perjanjian Baru versi Erasmus yang dijadikan textus receptus mendapat kritikan untuk pertama kalinya dari Richard Simon (1638-1712), seorang pendeta Perancis, yang dijuluki`the father of Biblical criticism'. Mengomentari Simon, Kummel, seorang teolog Kristen Jerman menyimpulkan Simon adalah orang yang pertama menggunakan metode­medote kritis di dalam studi historis asal mula bentuk tradi­sional teks Perjanjian Baru... (Simon was the first to employ critical methods in a historical study of the origin of the tradi­tional form ofthe New Testament...).

Memanfaatkan karya-karya Simon, John Mill (1645­1707), seorang teolog Anglikan menganalisa secara kritis teks Perjanjian Baru. Setelah 30 tahun mengkaji teks Perjanjian Baru, Mill menerbitkan karyanya di Oxford pada tahun 1707, tepatnya dua minggu sebelum kematiannya (23 Juni 1707). Tiga tahun setelah itu, karyanya diedit dan diterbitkan kembali di Amsterdam oleh Westphalian L. Kuster dengan judul Novum Testamentum Graecum cum lectionibus variantibus studio et labore, Joannis Millii. Collectionem Millianam locupletavit, Ludolphus Kusterus (Perjanjian Baru Yunani dengan varian bacaan, studi dan kajian John Mill, editor Ludolph Kuster).John Mill mengkaji kritis teks (textual criticism) Perjanji­an Baru dengan cara menghimpun varian bacaan dari manus­krip-manuskrip Yunani kuno, ragam versi teks Perjanjian Baru dari para Petinggi Gereja. Hasilnya, Mill dapat meng­himpun sekitar 30.000 varian bacaan yang berbeda dengan textus receptus dalam versi bahasa Yunani kuno. 

 Meski demikian, John Mill belum berani untuk mengubah textus receptus. 
Dr. Edward Wells (1667-1727) melanjutkan penelitian yang telah dilakukan John Mill. Wells adalah orang pertama yang mengedit secara lengkap Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani Kuno. Dalam beberapa bacaan, Wells meninggalkan textus receptus dengan menyebelahi bacaan dari manuskrip­manuskrip kuno.Selain itu, Richard Bentley (1662-1742) mengkaji secara kritis teks edisi Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno dan Latin. Hasilnya, Bentley meninggalkan textus receptuslebih dari 40 tempat. Ia menghimpun materi-materi untuk membuat Perjanjian Baru edisi kritis yang akan mengganti textus receptus. Ketika ia sedang melakukan itu, Daniel Mace, seorang Pastur Presbyterian di Newbury menerbitkan Perjan­jian Baru dalam 2 jilid dan dalam dua bahasa, Yunani kuno dan Inggris. Naskah tersebut diterbitkan di London pada tahun 1729 dengan judul The New Testament in Greek and English, Containing the Original Text Corrected from the Authority of the Most Authentic Manuscripts: and a New Version Form'd agreeably to the Illustrations of the most Learned Commenta­tors and Critics: with Notes and Various Readings, and a Co­pious Alphabetical lndex. Mace memilih varian bacaan yang telah dihimpun Mill.

Dalam pandangan Mace, varian bacaan yang dihimpun Mill lebih tinggi dari textus receptus.Fase baru dalam analisa teks Perjanjian Baru bermula de­ngan Johann Albrecht Bengel (1687-1752). Dengan meman­faatkan 30.000 varian bacaan yang telah dihimpun Mill, Bengel memfokuskan kajiannya kepada periwayatan teks (the transmission of the text). Bengel yang pertama kali menyusun bukti-bukti kepada teks Perjanjian.Baru. Ia juga memformula­si aturan kritis (a canon of criticism) untuk menetapkan akurasi sebuah varian bacaan. Dalam pandangan Bengel, ke­mungkinan besar penulis akan memudahkan tulisan yang sukar dipahami, ketimbang menyulitkan tulisan yang mudah dipahami.Bengel memformulasi sebuah prinsip; bacaan yang lebih sulit lebih diprioritaskan dibanding bacaan yang mudah (proclivi scriptioni praestat ardua). Bagaimanapun, Bengel masih belum sepenuhnya mengkritik textus receptus. Bengel membuat apparatus criticusdalam textus receptus. Di hala­man pinggir, Bengel mencantumkan varian bacaan dengan kategori berikut: a menunjukkan bacaan asal;  menunjukkan bacaan yang lebih baik dari yang dicetak di dalam teks; γ menunjukkan bacaan sama baiknya dengan teks; dan menunjukkan sangat rendah dan ditolak. Sezaman dengan Bengel, Johann Jakob Wettstein (1693-1754) seorang Pastor yang berasal dari Basel, Swiss membuatapparatus criticus serta memasukkan berbagai ragam bacaan sebagai alternatif kepadatextus receptus.

Dengan memanfaatkan kajian analisa teks (textual criticism) yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, Johann Salomo Semler (1725-1791), seorang profesor dalam bidang teologi di Halle, Jerman, menulis berbagai karya yang menga­nalisa secara kritis-historis teks Perjanjian Baru. Ia mengkaji individu-individu yang mengarang Bibel. Dalam pandangan­nya, Kalam Ilahi (God's Word) dan Kitab Suci (Holy Scripture) tidak identik. Kitab Suci memuat buku-buku yang penting hanya untuk masa terdahulu saat buku-buku tersebut ditulis. Menurut Semler, ajaran seperti itu tidak dapat mem­beri sumbangan moral kepada manusia hari ini untuk maju. Konsekwensinya, dalam pandangan Semler, bagian-bagian dari Bibel bukanlah inspirasi dan tidak dapat diterima secara otoritatif. Semler juga berpendapat buku yang ada di dalam Bibel adalah murni historis belaka. Bibel terbentuk berdasarkan kepada kesepakatan dari wilayah-wilayah Gereja. Menu­rut Semler lagi, setiap orang Kristen berhak untuk meneliti secara bebas kondisi historis setiap buku di dalam Bibel ketika ditulis. Semler menyatakan:
"Terutama, seluruh gagasan umum mengenai Kanon, berasal dari Tuhan yang sama serta nilai dari semua buku beserta bagian-bagian yang sehingga kini ada di dalamnya secara mutlak bukanlah bagian yang esensi dari agama Kristen. Seseorang dapat menjadi Kristen yang taat tanpa menyifatkan semua buku yang termasuk di dalam Perjan­jian Lama dan Perjanjian Baru berasal dari wahyu Tuhan yang satu dan dari sumber yang sama, atau menganggap semua buku tersebut sederajat, dan tanpa menilai semua buku tersebut manfaat umumnya sama. Tidak ada keyakinan yang tidak bisa berubah, universal berkaitan dengan hal tersebut. Sekalipun begitu, keyakinan yang tidak bisa berubah dan umum dari karakter agama Kristen beserta doktrin-doktrin dan prinsip-prinsip dasarnya akan selalu ada.

Semler adalah sarjana yang pertama kali menggunakan istilah recension untuk mengklasifikasi manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Ia mengklasifikasi manuskrip-manuskrip ter­sebut ke dalam tiga versi (recensions); Alexandria, Timur (Eastern), dan Barat ( Western).Disebabkan karya-karyanya, Semler digelar ‘the founder of the historical study of the New Testament.' (pendiri studi historis Perjanjian Baru).Murid Semler di Halle, Johann Jakob Griesbach (1745­1812) menerbitkan pada tahun 1774-1775 sebuah edisi Per­janjian Baru Yunani yang memasukkan versinya sendiri ke­timbang menggunakan textus receptus. Griesbach juga membuat apparatus criticus. Dengan karya tersebut, Griesbach mengakhiri dominasi Perjanjian Baru Yunani edisi Erasmus yang sebelumnya telah dijadikan textus receptus. Ia melakukan kritik metodologis (methodological criticism). Sekalipun ia merujuk kepada bukti-bukti teks kepada tiga versi, yaitu Al­exandria, Barat dan Konstatinopel, Griesbach menganggap hanya kodex Alexandria dan kodex Barat yang berharga. Pembahasannya mengenai kodex-kodex tersebut merupakan fondasi bagi perkembangan analisa teks dan studi historis teks Perjanjian Baru. Selain itu, Griesbach menganalisa pengarang Perjanjian Baru. Ia mengkaji keterkaitan antara Matius, Mar­kus dan Lukas. Dalam pandangannya, susunan kronologis dari objek pembahasan ketiga para pengarang Bibel (Synoptics) tersebut tidak dapat dipercaya. Karya mereka mustahil diharmonisasikan.
Menolak mengharmonisasikan Synoptics, Johann Gott­fried Herder (1744-1803), seorang Ketua Pastor di Weimar, Jerman, menyatakan setiap pengarang Bibel memiliki mak­sud, waktu dan lokasi masing-masing. Ia menegaskan Bibel yang utama (Primal Gospel) adalah oral dibanding tulisan. Bibel yang paling tua adalah ucapan oral Yesus. Herder yang mengkaji bentuk-bentuk kuno dari tradisi Bibel dan karakter dari semua Bibel kanonik sebagai alat bukti, dalam pandangan Kummel, merupakan cikal bakal kelak terbentuknya kritik bentuk (form criticism).

Salah seorang yang juga memfokuskan kajiannya kepada bentuk-bentuk Bibel adalah Friedrich Daniel Ernst Sehleier­macher (1768-1834). Ia adalah seorang profesor teologi di Universitas Berlin, yang digelari juga sebagai `the founder of General Hermeneutics 'Schleiermacher memformulasi Gen­eral Hermeneutics karena alasan-alasan teologis. Tujuan akhirnya supaya hermeneutika Bibel memiliki dasar yang kuat. Dasar tersebut, menurut Schleirmacher, dapat disiapkan jika hermeneutika Bibel (hermeneutica sacra) memanfaatkan wawasan dari hermeneutika sastra (Hermeneutica profana). Menurut Schleiermacher, sekalipun Bibel adalah wahyu, namun ia ditulis dalam bahasa manusia. Schleiermacher diang­gap sebagai `the founder of General Hermeneutics' bukan saja karena ia secara eksplisit mengemukakan cara-cara melakukan penafsiran, namun ia menjadikan General Hermeneutics sebagai sebuah permasalahan filosofis. Jika Kant menjawab pertanyaan How knowledge is possible, maka General Hermeneutics, dalam pandangan Schleiermacher, menjawab pertanyaan `How is the understanding of speechpossible?’ Dalam pandangan Schleiermacher, Timotius I bukanlah berasal dari Paul. Alasannya, penggunaan bahasa serta situasi yang digambarkan di dalam teks tersebut; tidak sesuai dengan kehidupan Paul. Schleiermacher berpendapat bahwa bukubuku yang ada di dalam Bibel sepatutnya diperlakukan sama dengan karya-karya tulis yang lain.Schleirmacher melengkapi tafsirnya kepada teks dengan menganalisa pemahaman sejarah-bahasa dan psikologis. Ia berusaha memahami setiap kompleksitas ide yang ada sebagai sebuah momen di dalam kehidupan individu tertentu (to comprehend every given complex of ideas as a moment in the life ofa definite individual).

Di bawah pengaruh Schleiermacher, Karl Lachmann (1793-1851), seorang profesor filologi di Berlin, untuk pertama kalinya meninggalkan textus receptus secara total. Ia menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani kuno pada tahun 1831. Edisi baru tersebut menggunakan analisa teks ke­tika mengevaluasi varian bacaan. Dalam pandangannya, tidak mungkin teks orisinal Perjanjian Baru akan dapat dihasilkan lagi.Dengan karya tersebut, Lachmann merupakan `the founder of the modern era of textual criticism' (pendiri kritik teks era modern).
Setelah Lachmann, banyak sekali para sarjana Kristen menganalisa teks dan menolak textus receptus, seperti Lobe­gott Friedrich Constantin von Tischendorf (1815-1874), Samuel Prideaux Tregelles (1813-1875), Henry Alford (1810­1871), Brooke Foss Westcott (1825-1901), Bernhard Weiss (1827-1918), Hermann Freiherr von Soden (1852-1914), dan lain-lainnya.Uraian ringkas di atas menunjukkan pada abad ke-19 M, textus receptusPerjanjian Baru sudah ditolak. Berbagai jenis disiplin ilmiah untuk mengkritik Bibel(biblical criticism) telah mapan. Kata kritik (criticism) ketika dikaitkan dengan Perjanjian Baru bukan lagi sesuatu yang negatif. Makna kata tersebut berubah menjadi sesuatu yang positif. Kata criticism berasal dari kata kerja Yunani, krina: memisahkan, membeda­kan, memilih, menentukan atau menilai. Sarjana yang meng­gunakan metode kritis-historis bertindak sebagai sejarawan dan hakim yang berusaha untuk menentukan kebenaran prob­lema yang sedang dikaji.Salah satu bentuk dari biblical criticism adalah metode kritis-historis (historical-critical method). Ketika diterapkan pada studi Bibel, kritik-historis melibatkan penentuan teks yang paling lama, watak kesastraannya, kondisi-kondisi yang memunculkannya, dan makna asalnya. Ketika diterapkan utuk mengkaji Yesus dan Bibel, kritis-historis melibatkan usaha untuk memisahkan legenda dan mitos dari fakta, mengkaji mengapa para penulis Bibel melaporkan dengan versi yang berbeda-beda, dan berusaha mcnentukan mana yang betul­betul perkataan Yesus.

Dalam metode yang luas ini, terdapat beberapa jenis kritik lain yang saling terkait diantaranya kritik teks (textual criti­cism), kajian filologis (philological study), kritik sastra(liter­ary criticism), kritik bentuk (fonn criticism) dan kritik redaksi (redaction criticism).Kritik teks (textual criticism) akan mengkaji segala aspek mengenai teks. Tujuannya menetapkan akurasi sebuah teks. Menganalisa teks melibatkan dua proses, yaitu edit (recen­sion) dan amandemen (emendation). Mengedit adalah memi­lih, setelah memeriksa segala material yang tersedia dari bukti yang paling dapat dipercaya, yang menjadi dasar kepada se­buah teks. Amandemen adalah menghapuskan kesalahan­kesalahan yang ditemukan sekalipun di dalam manuskrip­manuskrip yang terbaik.Kajian filologis (philological study) sangat penting untuk menentukan makna yang diinginkan pengarang. Kajian filolo­gis bukan hanya mencakup kosa kata, morfologi, tata bahasa, namun ia juga mencakup studi bentuk-bentuk, signifikansi, makna bahasa dan sastra.

Kritik sastra (literary criticism) memiliki banyak maksud. Salah satunya merujuk kepada pendekatan khusus ketika mengkaji sejarah teks Bibel, yang disebut juga dengan studi sumber (source criticism). Kritik sumber pertama kali muncul pada abad ke-17 dan ke-18 M ketika para sarjana Bibel menemukan berbagai kontradiksi, pengulangan perubahan di dalam gaya bahasa, dan kosa kata Bibel. Mereka menyim­pulkan kandungan Bibel akan lebih mudah dipahami. jika sumber-sumber yang melatarbelakangi teks Bibel diteliti.

Kata form criticism (kritik bentuk) adalah terjemahan dari kata Jerman Fonngeschichte,yang artinya "sejarah-bentuk" dan kata Fonngeschichte muncul pertama kalinya di dalam karya seorang sarjana Jerman Martin Dibelius (1919). Dise­babkan karya Dibelius dan dua karya sarjana Jerman lainnya, yaitu K. L. Schmidt (1919) dan R. Bultmann (1921), form criticism menjadi sebuah metode dalam studi Perjanjian Baru. Ketika form criticismditerapkan untuk mengkaji Yesus dan Bibel, terdapat dua asumsi dasar. Pertama, ada sebuah periode mengenai dakwah Yesus oleh orang-orang yang memper­cayainya, yang mendahului penulisan Bibel. Kedua, dalam periode tersebut materi dari dan mengenai Yesus kebanya­kannya telah beredar sebagai unit-unit oral yang dapat diten­tukan dan diklasifikasikan menurut bentuk-bentuknya. Jadi, Bibel adalah hasil dari memilih dan memilah yang sampai kepada para penulis Bibel di dalam berbagai bentuk.

Kritik redaksi (redaction criticism) di dalam studi Bibel bertujuan untuk menentukan bagaimana para pengarang Bibel menggunakan materi-materi yang ada di tangan mereka. Kri­tik redaksi berusaha untuk memahami mengapa para penulis Bibel menulis seperti itu dan mempelajari materi-materi yang mereka tambahkan ke dalam karangan mereka. Kritik redaksi memfokuskan kepada apa yang dimasukkan dan apa yang tidak beserta perubahan-perubahan sumber-sumber yang di­ketahui pangarang Bibel. Bukan kcpada tradisi oral dan sum­ber-sumber Bibel itu sendiri.

Metodologi Bibel memang tepat diterapkan untuk Bibel, karena Bibel hasil karangan beberapa orang penulis. Karang­ an pengarang Bibel terwarnai oleh latar belakang mereka ma­sing-masing. Oleh sebab itu, kanonisasi, textus receptus dan teks standart Bibel memang harus ditolak. Jadi, sebenarnya Bibel bukanlah kitab suci sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat awam Kristen. Bibel memuat sejumlah permasa­lahan mendasar. Bagaimanapun, ketika para sarjana Barat, orientalis atau Islamolog Barat mengkaji Al-Qur'an, mereka membawa biblical criticism masuk ke dalam studi AI-Qur'an. Padahal, AI-Qur'an itu bukan karangan manusia. Ia adalah tanzil, dan bukan produk budaya. Jadi, metodologi biblical criticism tidak tepat diaplikasikan ke dalam metodologi‘ulũm AI-Qur'an. Memang ada beberapa kemiripan antara ulũm AI-Qur'an dengan biblical criticism. Namun, terdapat juga se­jumlah perbedaan yang mendasar antara keduanya.