Jumat, 03 Juni 2011

.:.pencari jejak.:.

Miqdad bin Amru radhiallahu ‘anhu.
Ketika membicarakan dirinya, para sahabatnya mengatakan: “Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang sabil ialah Miqdad ibnul Aswad”. Dan Miqdad ibnul Aswad yang mereka maksudkan itu ialah tokoh kita Miqdad bin Amru ini. Di masa jahiliyah ia menyetujui dan membuat perjanjian untuk diambil oleh al-Aswad ‘Abdi Yaghuts sebagai anak hingga namanya berubah menjadi Miqdad ibnul Aswad. Tetapi setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak angkat dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka namanya kembali dihubungkan dengan nama ayahnya iaitu Amru bin Sa’ad. Miqdad termasuk dalam rombongan orang-orang yang mula pertama masuk islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keIslamannya secara terbuka dengan terus terang, dan menanggungkan penderitaan dari kemurkaan dan kekejaman Quraisy yang dihadapinya dengan kepahlawanan kaum Hawari. Perjuangannya di medan Perang Badar tetap akan jadi tugu peringatan yang selalu semarak di hati umat Islam.
Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini.” Pada hari berlansungnya Perang Badar itu, 1000 tentera Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat, dengan semangat dan tekad yang bergelora, dengan kesombangan dan keangkuhan mereka. Pada hari itu Kaum Muslimin sangat sedikit, yang sebelumnya tak pemah mengalami peperangan untuk mempertahankan islam, di Badarlah peperangan pertama yang mereka terjuni bagi membela Islam.
Sementara Rasulullah menguji dan meneliti persiapan para sahabat baginda untuk menghadapi tentara musuh yang datang menyerang, para sahabat diajak untuk proses syura. Para sahabat mengetahui bahwa jika baginda meminta buah fikiran dan pendapat mereka, maka perkara itu dimaksudkan secara bersungguh-sungguh. Setiap seorang dari mereka diminta pendirian dan pendapat yang sebenarnya, hingga bila ada di antara mereka yang berpendapat lain yang berbeza dengan pendapat umum, maka dia lebih baik baginya mengatakan pendapatnya atau akan mendapat penyesalan. Miqdad khuatir kalau ada di antara Kaum Muslimin yang terlalu berhati-hati terhadap perang, lantas sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kalimat-kalimat yang tegas dapat menyalakan semangat perjuangan dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum. Tetapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar as-Siddiq telah memulakan bicara, dan baik sekali buah bicaranya, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya. Setelah itu Umar bin Khatthab menyusul bicara, dan buah pembicaraannya juga baik.
Maka tampillah Miqdad, katanya:
“Ya Rasulullah… Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda! Demi, Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, biarkan kami duduk menunggu di sini.” Tetapi kami akan mengatakan kepada anda: “Pergilah anda bersama Tuhan anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping anda.” Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda membawa kami bergerak ke Bark-al-Ghimad sekalipun nescaya kami akan sanggup mengharunginya bersama anda sehingga kita sampai ke sana. Dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan disebelah kiri anda, di bagian depan dan di bagian belakang anda, sampai Allah memberi anda kemenangan!
Kata-katanya itu mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri kerananya, sementara mulutnya berkumat-kamit, mengucapkan do’a yang baik untuk Miqdad. Serta dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalirlah semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan.
Sungguh kalimat-kalimat yang diucapkan Miqdad bin Amru itu mencapai sasarannya di hati orang-orang Mu’min, hingga Sa’ad bin Muadz pemimpin kaum Ansar bangkit berdiri, katanya: “Wahai Rasulullah… Sungguh, kami telah beriman kepadaNya dan membenarkan anda, dan kamu saksikan bahwa apa yang anda bawa itu adalah benar, serta untuk itu kami telah ikatkan janji dan padukan kesetiaan kami! Maka majulah wahai Rasulullah laksana apa yang anda kehendaki, dan kami akan selalu bersama anda! Dan demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, sekiranya anda membawa kami menerjuni dan mangharungi lautan,akan kami terjuni dan harungi, tidak seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh. Sungguh, kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan moga-moga Allah akan memperlihatkan kepada anda perbuatan kami yang berkenan di hati anda. Oleh itu, kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah.”
Maka hati Rasulullah pun penuhlah dengan kegembiraan, lalu sabdanya kepada sahabat-sahabatnya: “Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan aku salah satu dari dua kumpulan. Demi Allah, aku bagaikan sedang melihat kekalahan kaum itu.” Dan kedua pasukan pun berhadapanlah. Anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu jumlahnya tidak tebih dari 2 orang, iaitu Miqdad bin Amru dan Zubair bin al-’Awwam, sementara pejuang-pejuang Islam yang lain hanya terdiri dari pasukan pejalan kaki atau pengendara-pengendara unta.
Ucapan Miqdad yang dikemukakan tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Demikianlah sifat Miqdad. la adalah seorang ahli fikir dan falsafah. Hikmah dan fikirannya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus dan lurus sementara pengalaman-pengalamannya menjadi sumber bagi pemikiran itu.
Pada suatu hari dia diangkat oleh Rasulullah sebagai amir disuatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, baginda bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu menjadi amir?” Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya: “Anda telah menjadikan aku menganggap diri diatas semua manusia sedang mereka semua dibawahku. Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya.
Miqdad seorang lelaki yang tak mahu tertipu oleh dirinya, tak hendak terpedaya oleh kelemahannya. Dipegangnya jawatan sebagai amir, hingga dirinya diliputi oleh kemegahan dan puji-pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi amir lagi setelah pengalaman pahit itu. Kemudian ternyata bahawa ia menepati janii dan sumpahnya itu hingga semenjak itu ia tak pernah mahu menerima jabatan amir.
Miqdad selalu membacakan hadith yang didengarnya dari Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, iaitu: “Orang yang berbahagia, ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.” Oleh karena jawatan sebagai amir(pemimpin) itu dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan fitnah bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhi jawatan tersebut.
Di antara manifestasi falsafahnya ialah tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan putusan atas seseorang. Dan ini juga dipelajarinya dari Rasullah Sallallahu alaihi wasalam yang telah menyampaikan kepada umat Islam: “Bahawa hati manusia lebih cepat berputarnya daripada isi periuk di kala menggelegak.”
Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak beroleh atau mengalami hal yang baru lagi. Perubaban atau hal baru apakah lagi setelah maut?
Salah seorang sahabatnya menceritakan: “Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk berdekatan Miqdad. Tiba-tiba lewatlah seorang lelaki, dan katanya kepada Miqdad: “Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam! Demi Allah, andainya kami dapat melihat apa yang anda lihat, dan menyaksikan apa yang anda saksikan!”
Miqdad menghampirinya dan mengatakan: “Apa yang mendorong kalian untuk ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya pada kalian jika kalian menyaksikannya? Demi Allah, bukankah dimasa Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka jahannam! Kenapa kalian tidak mengucapkan pujian kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian.”
Suatu hikmah dan falsafah yang dalam tersembunyi di balik bait-bait perkataannya. Tidak seorangpun yang beriman kepada Allah, dan RasulNya yang anda temui, kecuali ia menginginkan dapat hidup di masa Rasulullah dan beroleh kesempatan untuk melihatnya.
Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dan dalam dapat menembusi sesuatu yang tidak terjangkau di balik cita-cita dan keinginan itu. Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah seorang penduduk neraka? Bukankah tidak mustahil ia akan jatuh kafir bersama orang-orang kafir lainnya? Maka tidakkah ia lebih baik memuji Allah yang telah menghidupkannya di masa-masa telah tercapainya kemantapan bagi Islam, hingga ia dapat menganutnya secara mudah dan bersih?
Demikianlah pandangan Miqdad, memancarkan hikmah dan falsafahnya. Dan seperti demikian pula pada setiap tindakan, pengalaman dan Ucapannya, ia adalah seorang ahli falsafah dan pemikir ulung. Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Cinta.. Bila ia tumbuh dan membesar serta didampingi oleh hikmat maka ia akan menjadikan pemiliknya manusia yang tinggi, yang tidak merasa puas hanya dengan kecintaan belaka tapi dengan menunaikan kewajiban dan memikul tanggungjawabnya. Dan Miqdad bin Amru dari jenis manusia seperti ini.
Kecintaannya kepada Rasululiah menyebabkan hati dan ingatannya dipenuhi rasa tanggungjawab terhadap keselamatan yang dicintainya, hingga jika ada kecemasan di Madinah, dengan secepat kilat Miqhad telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah menunggang kudanya sambil menghunus pedang atau lembingnya. Sedang kecintaannya kepada Islam menyebabkannya bertanggung jawab terhadap keamanannya, tidak saja dari tipu-daya musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan kawan-kawannya sendiri.
Pada suatu ketika ia keluar bersama rombongan tentara. Komander tentera Islam mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun mengembalakan haiwan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan tersebut hingga melanggarnya. Sebagai akibatnya, ia menerima hukuman yang berat yang tidak setimpal dengan kesalahannya. Miqdad melalui di hadapan tentera tersebut yang sedang menangis berteriak-teriak. Ketika ditanya, ia mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad meraih tangan orang itu, dibawanya kehadapan amir atau komander, lalu diterangkan keadaan sebenar hingga akhirnya tersingkaplah kesalahan dan kekeliruan amir itu. Maka kata Miqdad kepadanya: “Sekarang suruhlah ia membalas keterlanjuran anda dan berilah ia kesempatan untuk melakukan qisas” Sang amir tunduk dan bersedia, hanya si terhukum berlapang dada dan memberinya ma’af.
Penciuman Miqdad yang tajam mengenai pentingnya suasana, dan keagungan Islam yang telah memberikan kepada mereka kebesaran ini hingga seakan-akan ia menyatakan : “Biar saya mati asalkan Islam tetap tertinggi!” Itulah yang menjadi cita-citanya, iaitu kejayaan Islam walau harus dibalas dengan nyawa sekalipun. Dan dengan keteguhan hati yang menakjubkan, ia berjuang bersama sahabat-sahabatnya untuk menzahirkan cita-cita tersebut, hingga selayaknyalah ia beroleh kehormatan dari Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam. Miqdad telah menerima ucapan berikut dari baginda: “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesanNya padaku bahwa ia mencintaimu”.
Ya Allah bangkitkanlah diantara kami dan anak cucu kami Miqdad-Miqdad, seorang pahlawan, pejuang dan pembela AgamaMu

MAU DEBAT AMA GUA CARI SAYA DI http://www.facebook.com/pages/STOP-MISI-KRISTENISASI/132310933466366 Nama cari sendiri


Kamis, 02 Juni 2011

ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH


  • Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Allah Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat.
    “Artinya : Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107]
    Allah menurunkan Al-Qur’an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
    “Artinya : “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
    Sebagai contoh tentang kemudahan Islam:
    [1]. Menuntut ilmu syar’i, belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf adalah mudah. Kita dapat belajar setiap hari atau sepekan dua kali, di sela-sela waktu kita yang sangat luang.
    [2]. Mentauhidkan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya adalah mudah.
    [3]. Melaksanakan Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mudah, seperti memanjangkan jenggot, memakai pakaian di atas mata kaki, dan lainnya.
    [4]. Shalat hanya diwajibkan 5 waktu dalam 24 jam. Orang yang khusyu’ dalam shalat, paling lama 10 menit, dalam hitungan hari ia melaksanakan shalatnya dalam sehari hanya 50 menit dalam waktu 24 x 60 menit.
    [5]. Orang sakit wajib shalat, boleh sambil duduk atau berbaring jika tidak mampu berdiri.
    [6]. Jika tidak ada air (untuk bersuci), maka dibolehkan tayammum.
    [7]. Jika terkena najis, hanya dicuci bagian yang terkena najis, (agama lain harus menggunting pakaian tersebut dan dibuang).
    [8]. Musafir disunnahkan mengqashar (meringkas) shalat dan boleh menjama’ (menggabung) dua shalat apabila dibutuhkan, seperti shalat Zhuhur dengan ‘Ashar, dan Maghrib dengan ‘Isya’.
    [9]. Seluruh permukaan bumi ini dijadikan untuk tempat shalat dan boleh dipakai untuk bersuci (tayammum).
    [10]. Puasa hanya wajib selama satu bulan, yaitu pada bulan Ramadlan setahun sekali.
    [11]. Orang sakit dan musafir boleh tidak berpuasa asal ia mengganti puasa pada hari yang lain, demikian juga orang yang nifas dan haidh.
    [12]. Orang yang sudah tua renta, perempuan hamil dan menyusui apabila tidak mampu boleh tidak berpuasa, dengan menggantinya dalam bentuk fidyah. [2]
    [13]. Zakat hanya wajib dikeluarkan sekali setahun, bila sudah sampai nishab dan haul.
    [14]. Haji hanya wajib sekali seumur hidup. Barangsiapa yang ingin menambah, maka itu hanyalah sunnah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh al-Aqra’ bin Habis tentang berapa kali haji harus ditunaikan, apakah harus setiap tahun ataukah hanya cukup sekali seumur hidup? Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab.
    “Artinya : “Haji itu (wajibnya) satu kali, barangsiapa yang ingin menambah, maka itu sunnah” [3]
    [15]. Memakai jilbab mudah dan tidak berat bagi muslimah sesuai dengan syari’at Islam. Untuk masalah jilbab silahkan lihat kitab Jilbab Mar’ah Muslimah oleh Syaikh Imam Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullahu
    [16]. Qishash (balas bunuh) hanya untuk orang yang membunuh orang lain dengan sengaja.[4]
    Allah Azza wa Jalla menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan atas hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
    “…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [Al-Baqarah: 185]
    “…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]
    “… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama …” [Al-Hajj: 78]
    Agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam hal ‘aqidah, syari’at, ibadah, muamalah dan lainnya. Allah Allah Azza wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadap dan masuk ke agama fitrah. Allah Allah Azza wa Jalla berfirman.
    “Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Ar-Ruum: 30]
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “Artinya : Tidaklah seorang bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [5]
    Tidak mungkin, Allah Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan manusia, kemudian Allah Allah Azza wa Jalla memberikan beban kepada hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak sanggup lakukan, Mahasuci Allah dari sifat yang demikian.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
    “Artinya : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [Al-Baqarah: 286]
    Tidak ada hal apa pun yang sulit dalam Islam. Allah Azza wa Jalla tidak akan membebankan sesuatu yang manusia tidak mampu melaksanakannya.
    Sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam
    “Artinya : Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [6]
    Orang yang menganggap Islam itu berat, keras, dan sulit, hal tersebut hanya muncul karena.
    [1]. Kebodohan tentang Islam, umat Islam tidak belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Shahabat, tidak mau menuntut ilmu syar’i.
    [2]. Mengikuti hawa nafsu. Orang yang mengikuti hawa nafsu, hanya akan menganggap mudah apa-apa yang sesuai dengan hawa nafsunya.
    [3]. Banyak berbuat dosa dan maksiyat, sebab dosa dan maksiyat menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan dan selalu merasa berat untuk melakukannya.
    [4]. Mengikuti agama nenek moyang dan mengikuti banyaknya pendapat orang. Jika ia mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, niscaya ia akan mendapat hidayah dan Allah Allah Azza wa Jalla akan memudahkan ia dalam menjalankan agamanya.
    Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan beban dan belenggu-belenggu yang ada pada manusia, sebagaimana yang tersurat dalam Al-Qur’an:
    “Artinya : (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis), yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil yang ada di pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membebaskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur-an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-A’raaf: 157]
    Dalam syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada lagi beban-beban berat yang dipikulkan kepada Bani Israil. Di antara beban berat itu ialah:
    • Saling membunuh penyembah sapi. [7]
    • Mewajibkan qishas pada pembunuhan baik yang disengaja ataupun tidak, tanpa memperbolehkan membayar diyat.
    • Memotong anggota badan yang melakukan kesalahan.
    • Melarang makan dan tidur bersama istrinya yang sedang haidh.
    • Membuang atau menggunting kain yang terkena najis.
    Kemudian Islam datang menjelaskan dengan mudah, seperti pakaian yang terkena najis wajib dicuci namun tidak digunting.[8]
    Syari’at Islam adalah mudah. Kemudahan syari’at Islam berlaku dalam semua hal, baik dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), baik tentang ‘aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, jual beli, pinjam meminjam, pernikahan, hukuman dan lainnya.
    Semua perintah dalam Islam mengandung banyak manfaat. Sebaliknya, semua larangan dalam Islam mengandung banyak kemudharatan di dalamnya. Maka, kewajiban atas kita untuk sungguh-sungguh memegang teguh syari’at Islam dan mengamalkannya.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” [9]
    [Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]
    __________
    Foote Note
    [1]. Pembahasan ini diambil dari Kamaluddin al-Islami oleh Syaikh ‘Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim (hal. 42) dan Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh DR. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah, cet. Darul Mathbu’aat al-Haditsah, Jeddah th. 1406 H, dan kitab-kitab lainnya.
    [2]. Lihat Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabiil (IV/17-25) juga Shifat Shaumin Nabiy (hal. 80-85) oleh Syaikh Salim al-Hilaly dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, cet. Maktabah al-Islamiyyah, th. 1412 H.
    [3]. HR. Abu Dawud (no. 1721), al-Hakim (II/293), an-Nasa-i (V/111), dan Ibnu Majah (no. 2886), lafazh ini milik Abu Dawud.
    [4]. Lihat QS. Al-Baqarah 178-179.
    [5]. HR. Al-Bukhari (no. 1358) dan Muslim (no. 2658), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
    [6]. HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa’i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
    [7]. Lihat surat al-Baqarah ayat 54.
    [8]. Lihat Shuwarun min Samaahatil Islaam oleh Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdur Rahman bin ‘Ali ar-Rabii’ah.
    [9]. HR. Al-Bukhari (no. 69, 6125), Muslim (no. 1734) dan Ahmad (III/131) dari Shahabat Anas Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik al-Bukhari.

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN MUHAMMAD


Buku kecil – Muhammad Dalam Kitab Suci Dunia- ini telah menemukan dari kepustakaan Buddhist suatu rahasia mendalam yang akan merombak pandangan keagamaan dari sepertiga penduduk dunia yang memeluk keimanan kepada Gautama Buddha. Ini adalah nubuatan dalam bahasa seterang mungkin mengenai kedatangan dari Guru besar dunia, digambarkan sebagai Maitreya Buddha, yang berarti “Rahmat kepada seluruh bangsa-bangsa”, suatu terjemahan harfiah dari gambaran al-Quran atas Nabi Suci Muhammad sebagai Rahmatan-lil-‘alamien. Al-Quran mengklaim bahwa kedatangan Nabi Suci telah diramalkan oleh setiap Guru agama dunia dan dimasukkan dalam masing-masing Kitab sucinya. Nubuatan dalam Injil telah diketemukan yang menekankan tergenapinya dalam pemunculan diri Nabi Suci. Nubuatan dalam Weda, Kitab suci agama Hindu, juga telah membawa ke tempat terang penemuan terpenuhinya kedatangan Nabi Suci secara ajaib.
Penemuan kini tentang nubuatan yang sama dari Buddha, memberikan nyaris setiap gambaran yang menonjol dari tata aturan Nabi Suci, yang membubuhkan segel penutup atas pembenaran dari klaim al-Quran. Pengarangnya, Maulana Abdul Haque Vidyarthi yang adalah seorang pakar Sanskerta yang besar, melakukan perjalanan panjang untuk melengkapi penelitiannya, mendalami arsip dari British Museum di London dan perpustakaan Buddhist di Ceylon untuk mencari tahu Kitab-kitab asli yang sangat langka. Kitab ini, di samping mengusung persamaan yang kuat antara ajaran Islam dan Buddha, masih harus menempuh perjalanan panjang  dalam membawa umat Muslim dan Buddha lebih erat di dunia.
Muhammad Yakub Khan Editor The Civil and Military Gazette Lahore, December 22, 1955.
BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN MUHAMMAD
Sekarang sampailah kita kepada agama Buddha, yang mempunyai lebih banyak pemeluk dibanding setiap agama lain di dunia. Jumlah penganutnya adalah sepertiga dari penduduk bumi. Karena itu, adalah benar­-benar tidak adil pada fihak Tuhan bila Dia meninggalkan begitu besar komunitas tanpa seorang saksi. Jika memang benar bagi bangsa Yahudi, bahwa bila mereka percaya kepada Tuhan dan para rasul-Nya, lalu mengapa kaum Hindu dan Buddha tidak memiliki nabi-nabi di antara mereka sehingga mereka bisa beriman kepada Tuhan dan Utusan-Nya serta mengikuti jalan yang lurus, sebagaimana dicantumkan dalam al-Quran. Beberapa ulama Muslim mengira bahwa Quran Suci hanya menyebutkan para nabi Bani Israil. Ini adalah benar-benar kesalah-fahaman. Yakinlah bahwa ada nabi-nabi yang tidak termasuk dalam Rumah Israil. Ini dinyatakan dengan kata-kata yang jelas:
“Dan (Kami telah mengutus) para Utusan, yang sebelumnya telah Kami kisahkan kepada engkau, dan para Utusan yang tak Kami kisahkan kepada engkau”. (Q.S. 4:164).
Pada akhir ayat ini, Tuhan Sendiri menekankan:
“Para Utusan, mereka mengemban kabar baik dan memberi peringatan, agar manusia tak mempunyai alasan untuk menentang Allah setelah (datangnya) para Utusan. Dan Allah itu senantiasa Yang Maha-perkasa, yang Maha-bijaksana”(Q.S. 4:165).
Manifestasi dari kebijaksanaan Tuhan ini adalah bahwa perlu juga dalam hal bangsa-bangsa lain sebagaimana dalam hal bangsa Yahudi. Dinyatakan dalam al-Quran bahwa Hud telah dikirim ke kaum Ad. Bangsa ini tinggal di gurun Al-Ahqaf yang memanjang dari Oman sampai Hadramaut, di Arabia selatan.
Nabi saleh dikirim ke kaum Tsamud. Ini tidak hanya para nabi yang disebutkan dalam al-Quran yang sama sekali tak terdapat dalam Alkitab. Dia juga menyebutkan nabi-nabi non-Israil yang bersamaan waktunya dengan Musa dan kepada siapa Musa pergi mencari ilmu. Dia tinggal di pertemuan kedua Sungai Nil yakni di Khartoum. Lagi pula, al-Quran juga membicarakan Darius, Raja Persia, yang disebut Dzulqarnain, atau seorang yang bertanduk dua, berdasarkan rukyah Nabi Daniel. Ada juga surat dalam Quran Suci yang mengandung nama Luqman (al-Quran surat 31). Luqman adalah seorang Ethiopia dan meskipun demikian dia adalah seorang nabi, meski mufassir berbeda masalah identitasnya, beberapa mengatakan bahwa dia seorang Yunani, yang lain menyatakan bahwa dia termasuk kaum ‘Ad, namun tetap yang lain menyatakan bahwa dia seorang Ethiopia. Sebagai tambahan atas hal ini dalam surat berjudul “Para Nabi” (al-Anbiyya) dinyatakan:
“Dan Ismail dan Idris dan Dhul-Kifli; semua itu orang yang sabar. Dan mereka Kami masukkan    dalam rahmat Kami, sesungguhnya mereka golongan orang yang saleh” (Q.S. 21:85-86).
Di sini, setelah menyatakan penderitaan, cobaan dan kesukaran yang datang menimpa Ayub dari Tuhan, dikatakan bahwa dia menghadapkan diri kepada Tuhan bagaikan bayi ketika dipukul oleh ibunya. Sang bayi menangis namun lari kepada ibunya minta perlindungan. Demikianlah maka para Nabiyullah lari kepada Tuhan untuk mohon perlindungan bahkan ketika tahu dari Tuhanlah suatu cobaan tertentu itu datang menimpa mereka. Ismail dan ibunya, misalnya, hidup dalam kesunyian mutlak di tanah yang asing di bawah perintah Tuhan yang diberikan kepada Ibrahim, namun mereka tidak pernah mengeluh kepada Tuhan dan tetap bersabar serta penuh yakin kepada-Nya seperti saat-saat sebelumnya. Terlebih lagi, Ismail dalam pengabdiannya kepada Tuhan menyerahkan sepenuh hidup dan pengorbanannya. Dan Idris, nabi Tuhan yang lain, menyerahkan seluruh hidupnya, yakni tigaratus tahun, dalam mempelajari jalan-jalan Tuhan. Setelah ini Tuhan menyebut seorang nabi yang membawa nama Dzulkifli yang jelas bukan dari ras Israil. Adalah suatu pemutar-balikan sejarah para nabi yang mengatakan bahwa dia seorang nabi Israili. Kisah Dzulkifli sebagaimana diberikan oleh Ibnu Abbas tidak ada sebutannya dalam tradisi Yahudi dan Kristiani serta Kitab-kitab suci mereka. Di sisi lain, Mujahid mengira bahwa Dzulkifli adalah nama lain dari Ilyas, dan Abu-Musa Asy’ari berkata bahwa Dzulkifli bukanlah seorang nabi. Tetapi Hasan mengatakan kepada kita bahwa dia adalah seorang nabi karena dia telah disebutkan dalam surat ‘Para Nabi’ (Al-Anbiyya). Kedua, dia telah digabungkan dengan Ismail dan Idris dan mereka itu diakui adalah nabi, yang menunjukkan bahwa dia seorang nabi juga. Ketiga, Tuhan Sendiri berfirman:
“Dan Ismail dan Idris dan Dhul-Kifli; semua itu orang yang sabar” (Q.S. 21:85).
Rahmat ini (rahmatina) adalah nama lain dari kenabian. Ke empat, Dzulkifli begitu pun Ismail dan Idris adalah teladan kesabaran; yakni keteguhan hati mereka inilah yang menunjukkan bahwa mereka itu nabi.
Tak seorangpun dari kita tanpa kesulitan. Kita harus merasakan kesedihan dan penderitaan serta tunduk kepada nasib yang kurang beruntung. Tetapi hanya ketika kehilangan ini diderita dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan maka hal ini baru menjadi punya nilai spiritual. Terlebih lagi, kesucian didapat oleh dia yang berduka tidak untuk dirinya sendiri melainkan demi derita orang-orang lain dan yang mengabdikan kehidupannya demi kesejahteraan orang lain, tidak pernah mempedulikan kepentingan dirinya sendiri. Penuh kehormatanlah dia yang mencintai umat manusia dan menunjukkan kasih-sayangnya dengan tindak pertolongan serta kedermawanan. Tak diragukan lagi, dia adalah benar-benar sedih tetapi tak pernah mengeluh. Kata Arab sabar yang, memberi arti berlainan tergantung penggunaannya, dalam terminologi teologi Islam ini berarti:
Menghindari berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kebijaksanaan dan hukum.
Tidak menjerit dan menangis pada waktu kesulitan. Dalam medan perang atau waktu agresi, sabar berarti keberanian dan ketegaran, sebagaimana Quran Suci telah berkata:
“Keberanian sejati itu adalah mereka yang berdiri teguh dan berlaku sabar di bawah sakit dan kesulitan kesabaran mereka hanyalah demi Tuhan, dan tidak memperagakan keberaniannya”.
Keberanian sejati terletak dalam kesabaran serta ketegaran dalam menahan nafsu, dan berdiri tanpa takut untuk menyokong kebaikan dan mencegah kejahatan. Jika seseorang itu sabar dalam pengertian yang benar, dia bertindak sebagai pembaharu dan pemimpin dari komunitas yang lebih besar dan tetap bertambah demikian bila dia kelihatan tidak hanya mencari makan untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk memberi makan orang-orang yang menderita kelaparan. Sesungguhnya dia adalah putera langit yang terilham.
Buddha meninggalkan mahkota dan istana serta segala kesenangan hidup demi orang-orang yang terlantar dan mengalami kesulitan untuk membawa mereka keluar dari penderitaan dan kesedihan. Meskipun dia seorang pangeran, dia tidak pernah menangisi rasa sakit dan kesukarannya sendiri melainkan tetap sabar dalam menghadapinya. Dia menahan marahnya terhadap musuh-musuhnya dan mengajari para pengikutnya moral yang tinggi. Dia teguh dalam kebenaran bila kehormatan bahkan kehidupan dalam bahaya. Orang-orang mempercayai kejujurannya. Ada kisah yang diceriterakan oleh Ibnu Abbas bahwa ada seorang nabi yang Tuhan memberinya kerajaan. Tiada berapa lama, Dia mewahyukan kepadanya:
“Aku akan mematikan engkau segera, karena itu serahkanlah kerajaan itu kepada orang lain, yang akan menjadi pewarismu, dia harus menyembah Tuhan pada waktu malam dan menjalani puasa sepanjang hari. Dia tidak boleh marah selagi mengadili orang”.
Atas pariwara sebagai nabi, seorang lelaki menyerahkan dirinya mengaku bahwa dia adalah orang yang dimaksud. Setan datang mencobainya dengan keras tetapi dia terbukti sempurna dan bersyukur kepada Tuhan. Sesuai dengan itu, Tuhan berkenan kepadanya dan memberi nama Dzulkifli (Razi jilid 6 halaman 136). Perawi yang lain Mujahid menceriterakan kisah ini untuk Ilyas. Dari kisah ini bila kita hilangkan namanya, jelaslah bahwa kisah ini hanya punya sedikit sekali perbedaan dengan riwayat Buddha, yang meninggalkan kerajaannya dan menjalani praktek hidup bertapa yang keras. Mara (setan) mencobainya tetapi dia tetap teguh dalam menolak bisikan jahat dari setan. Dia menghilangkan kecemburuan dan kemarahan, meskipun musuh-musuhnya membencinya dengan sengit. Mereka yang telah mempelajari riwayat hidup Buddha, kenal benar bahwa dia memiliki semua sifat moral yang tinggi. Sekarang, menyimpulkan bahwa Buddha adalah seorang yang terilham.
Quran Suci berulang-ulang berfirman:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada Utusan. Maka apabila Utusan mereka datang, perkara akan diputuskan antara mereka dengan adil, dan mereka tak akan dianiaya” (Q.S.10:47).
Orang-orang dari Timur Jauh, Cina, Jepang, dan Tibet, membentuk sejumlah besar mayoritas populasi dunia. Bagaimana ini bisa masuk di akal untuk mengira bahwa sejumlah besar umat semacam itu tidak mendapatkan juru ingat atau utusan yang dikirimkan kepada mereka, dan kemudian mereka bisa menegakkan suatu agama yang mengaku mempunyai penganut yang lebih besar dari umat lain. Pada hari pengadilan ketika hukum pembalasan Ilahi akan mengadili di antara umat sesuai dengan kitab wahyunya masing-masing, jika tidak ada kitab atau hukum yang pernah diturunkan kepada suatu umat tertentu melalui utusan-Nya, lalu atas dasar apa mereka akan diadili? Hendaknya dicatat bahwa umat Buddha bukanlah suku terasing melainkan bangsa yang beradab. Dinyatakan dalam Quran Suci:
“Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, Kami pasti akan memimpin mereka di jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah itu menyertai orang yang berbuat baik”. (Q.S. 29:69).
Dan siapakah yang mengingkari bahwa Buddha berjuang keras untuk mengenal jalan yang lurus dan menderita dirinya demi mencari cahaya ruhani. Perkara revolusioner pertama dalam kehidupan gautama yalah bahwa dia mendapat julukan ‘Buddha’ yang berarti ‘seorang yang tercerahkan’. Dia duduk di bawah satu Pohon tertentu (belakangan disebut pohon ilmu). Dia memutuskan bahwa dia tak akan berdiri sebelum menerima pencahayaan. Dia memiliki kemauan baja; sehingga dia lebih disukai dengan gelar ‘Buddha’ (seorang yang mendapat pencerahan) dari langit. Dia langsung kembali kepada para pertapa yang mengutuknya dan kini mereka berlari menemuinya dan memanggilnya “Saudara”. Untuk itu, dia menjawab:
“Wahai pertapa, jangan tujukan seorang yang sempurna sebagai ‘Saudara’, seorang yang sempurna adalah Buddha(yang tercerahkan) yang suci dan utama”.
Dan tertulis dalam Quran Suci:
“Apakah orang yang telah mati, lalu Kami hidupkan lagi, dan kepadanya Kami beri cahaya yang dengan itu dia berjalan di antara manusia” (Q.S. 6:123).
Buddha telah bangkit dari kematiannya menuju hidup; dia sekarang telah membawa cahaya dengan mana dia menunjukkan jalan kepada orang-orang lain.
Suatu hari setelah enam tahun dengan bertapa menahan diri yang sangat ketat yang telah menurunkan dirinya hingga berubah tinggal tulang, dia diserang penyakit keras dan jatuh pingsan. Maka dia tiba pada kesimpulan bahwa dia harus menggunakan suatu ‘jalan tengah’(majjhima pad), langkah antara penolakan diri dari seorang pertapa dengan keinginan sensual, dan inilah jalan yang lurus.”jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” (Q.S. 1:5, 4:69). Dikatakan dalam Quran Suci: “Dan tiada suatu umat, melainkan telah berlalu di kalangan mereka seseorang juru ingat”(Q.S. 35:24).
Alasan yang diberikan adalah: “agar manusia tak mempunyai alasan untuk menentang Allah setelah (datangnya) para Utusan” (Q.S. 4:165). Jika tak seorangpun juru ingat telah datang di kalangan bangsa India, maka alasan mereka pada hari pengadilan terhadap Tuhan adalah bahwa Dia tidak mengirim utusan seorangpun kepada mereka sehingga mereka bisa beriman kepada rasul-Nya dan beriman kepada-Nya. Adalah masuk akal untuk berpendapat bahwa suatu komunitas yang besar semacam itu tersisih dari “Rahmat bagi segala bangsa” s.a.w., bahwa dia tidak membenarkan Buddha atau ‘cahaya Asia’, maupun Buddha menubuatkan “demi kehendak dari segala bangsa” (Kejadian 49:10, Yesaya 2:2, 11:10, 42:1,4). Dalam ayat yang dikutip di atas, disebutkan tiga nabi besar – Ismail, Idris dan Dzulkifli dalam satu kategori yang sama dan dinyatakan bahwa mereka itu sabar dalam segala keadaan. Ismail telah menyerahkan dirinya dalam ketaatan kepada Tuhan. Idris (Henokh) membaktikan seluruh hidupnya dalam mempelajari sifat-sifat Tuhan dan berjalan bersamanya selama tigaratus tahun (Enokh dalam bahasa Ibrani berarti ‘seorang yang sangat berbakti’, Kejadian 5:22-24). Yang ketiga adalah Dzulkifli, kifl berarti ‘dua kali, dua­kelipatan pahalanya’. Karena itu, Dzulkifli berarti, ‘Seorang yang telah diberi pahala dua kali lipat’. Ada juga ayat lain yang menerangi arti dari kata sifat ini. Bahwa ahli Kitab bila mereka percaya kepada Nabi Suci, maka mereka akan dihadiahi Tuhan pahala dua kali:
“Dan apabila dibacakan kepada mereka, mereka berkata: Kami beriman kepadanya; sesungguhnya itu Kebenaran dari Tuhan kami. Sesungguhnya sebelum itu kami orang yang berserah diri.   Mereka akan diberi ganjaran lipat dua, karena mereka sabar, dan menolak kejahatan dengan   kebaikan, dan membelanjakan sebagian yang Kami rezekikan kepada mereka” (Q.S. 28:53-54).
Alasan untuk memberikan pahala dua kali lipat diberikan dengan kata-kata: “Karena mereka menolak kejahatan dengan kebaikan”.
Orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat ini adalah “ahli kitab”, yang beriman kepada kitab-kitab suci mereka maupun kepada Nabi Suci s.a.w. Jelaslah bahwa Buddha atau Dzulkifli adalah salah-satu dari mereka, dia beriman kepada kitabnya sendiri dan meramalkan datangnya Maitreya Buddha yang mirip dirinya. Karena itu, Tuhan menghadiahi dia dengan pahala berlipat dua sesuai dengan gelarnya yakni ‘Dzulkifli’.
Sebagai penutup, boleh saya katakan bahwa Islam meletakkan landasan universalisme. Ini terbukti tidak saja yang terbesar melainkan juga tenaga yang mempersatukan elemen kemanusiaan yang berbenturan. Untuk pertama kalinya diumumkan bahwa kepada setiap bangsa itu dikirim seorang utusan dan Nabi Suci kita yalah yang membenarkan semua nabi. Sekarang buku berjudul “Muhammad dalam Kitab-kitab Suci Dunia” adalah suatu bukti tercatat, yang diterbitkan untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, mengenai fakta skriptural yang besar yang diperkuat dalam al-Quran bahwa semua nabi, mereka yang muncul sebelum Nabi Suci Muhammad s.a.w. telah meramalkan kedatangannya yang diberkahi.
Buku berjudul Muhammad dalam Kitab Suci Dunia karya Maulana Abdul Haque Vidyarthi (1888 – 1978) dapat didownload gratis di pakdenono.com