Sabtu, 04 Juni 2011

tabiat yahudi yang tercatat muslim

Saat terjadinya konflik antara Yahudi (bukan Israel) dengan saudara kami sesama muslim di Palestina barulah kami berani menghadirkan pembahasan ini ke tengah-tengah pembaca. Lihatlah korban ratusan jiwa berjatuhan diakibatkan ulah mereka dan setiap harinya korban masih terus bertambah. Ingatlah saudaraku, kejadian yang terjadi saat ini menandakan bahwa mereka kaum Yahudi tidaklah pernah ridho dengan kita umat Islam sampai kita mau melepaskan agama kita. Inilah watak jelek mereka yang pertama.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut.
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah: 120)
Perhatikanlah saudaraku. Janganlah engkau terpengaruh dengan kaum sekuler yang keliru dalam memahami ayat ini. Kaum sekuler berpendapat bahwa ayat ini ditujukan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja ketika beliau masih hidup. Yahudi dan Nashrani pada zaman ini berbeda dengan yang dulu. Benarkah demikian?
Ini sungguh kekeliruan yang sangat besar yang berasal dari orang yang ingin mengaburkan ajaran Islam. Ketahuilah bahwa ayat ini memang ditujukan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi pembicaraan ini juga mencakup umatnya karena yang menjadi hukum adalah keumuman dan bukan hanya orang yang diajak bicara. Itulah yang dipahami oleh ulama Ahlus Sunnah (semacam Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya), berbeda dengan mereka yang sudah diracuni dengan pemikiran orang barat yang kafir.
Berdasarkan ayat di atas sangat jelas sekali bahwa Yahudi dan Nashrani tidak akan ridho kepada kita selamanya. Inilah watak orang Yahudi dan Nashrani sampai hari kiamat. Dari watak jelek mereka yang pertama ini, sekarang kita akan melihat watak mereka yang lainnya.
Watak Yahudi Kedua: Orang Yahudi selalu menyembunyikan kebenaran
Mereka kaum Yahudi sebenarnya tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai penutup para rasul di akhir zaman ini, tetapi mereka selalu menyembunyikan kebenaran ini. Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 146)
Al Qurtubhi mengatakan: Diriwayatkan  bahwasanya Umar berkata pada Abdullah bin Salam, “Apakah engkau (sebelum masuk Islam) mengenal Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana engkau mengenal anak-anakmu sendiri? Abdullah pun menjawab, “Ya, bahkan lebih dari itu. ”
Ibnu Katsir mengatakan bahwa kadang pula maksud ‘seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri’ adalah mereka mengenal sekumpulan  anak-anak manusia lalu mereka tidak merasa ragu sedikit pun untuk mengenal anak mereka sendiri jika mereka melihatnya di antara sekumpulan anak tadi.
Walaupun mereka sudah mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sangat yakinnya, namun Allah katakana, “sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran”. Maksudnya adalah mereka menyembunyikan sifat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada pada kitab mereka pada manusia padahal mereka mengetahuinya. (Lihat Tafsir Al Qur’anil Azhim, pada tafsir surat Al Baqarah ayat 146).
Watak Yahudi Ketiga: Tokoh agama Yahudi sangat sulit menerima kebenaran Islam
Dalam shohih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ تَابَعَنِى عَشْرَةٌ مِنَ الْيَهُودِ لَمْ يَبْقَ عَلَى ظَهْرِهَا يَهُودِىٌّ إِلاَّ أَسْلَمَ
“Seandainya sepuluh (pemuka agama) Yahudi mengikuti agamaku, maka sungguh tidak akan tersisa lagi orang Yahudi di muka bumi ini kecuali dalam keadaan Islam.” (HR. Muslim no. 2793)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ آمَنَ بِى عَشْرَةٌ مِنْ أَحْبَارِ الْيَهُودِ لآمَنَ بِى كُلُّ يَهُودِىٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ
“Seandainya sepuluh pemuka agama Yahudi beriman kepadaku, sungguh semua orang Yahudi di muka bumi ini akan turut beriman padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi, yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya)
Watak Yahudi Keempat: Orang Yahudi menyembah pemuka agamanya sendiri
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah : 31)
Hudzaifah ibnul Yaman, Abdullah bin ‘Abbas dan selainnya mengatakan mengenai tafsir ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah’, maksudnya adalah mereka mengikuti pemuka agama mereka dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Itulah yang disebut dengan menyembah mereka sebagaimana dimaksudkan dalam hadits dari ‘Adi bin Hatim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat At Taubah ayat 31)
Watak Yahudi Kelima: Orang Yahudi pernah menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dalam shohih Muslim pada Bab Sihir, ‘Aisyah berkata,
سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهُودِىٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِى زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq yang bernama Lubaid bin Al A’shom.” (HR. Muslim no. 2189)
Watak Yahudi Keenam: Wanita Yahudi pernah meracuni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
أَنَّ امْرَأَةً يَهُودِيَّةً أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِىءَ بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ أَرَدْتُ لأَقْتُلَكَ. قَالَ « مَا كَانَ اللَّهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكِ ». قَالَ أَوْ قَالَ « عَلَىَّ ». قَالَ قَالُوا أَلاَ نَقْتُلُهَا قَالَ « لاَ ». قَالَ فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِى لَهَوَاتِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Sesungguhnya seorang wanita Yahudi pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang sudah diracuni. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan daging tersebut. Lalu wanita tadi dipanggil untuk menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tentang perbuatan wanita tersebut tadi. Wanita tersebut pun berkata, “Aku ingin membunuhmu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah tidaklah memberimu kekuatan untuk maksudmu tadi.” (Periwayat hadits ini ada yang mengatakan), “(Allah tidaklah memberimu kekuatan) untuk mencelakakanku.” Lantas para sahabat berkata, “Apakah sebaiknya dia dibunuh saja?” (HR. Bukhari no. 2617 dan Muslim no. 2190)
Watak Yahudi Ketujuh: Orang Yahudi berusaha memurtadkan kaum muslimin
Allah Ta’ala berfirman,
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 109)
Watak Yahudi Kedelapan: Orang Yahudi berusaha menyesatkan kaum muslimin
Allah Ta’ala berfirman,
وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.” (QS. Ali Imran: 69)
Watak Yahudi Kesembilan: Mendoakan celaka atau mati bila bertemu dengan kaum muslimin
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمُ الْيَهُودُ فَإِنَّمَا يَقُولُ أَحَدُهُمُ السَّامُ عَلَيْكَ . فَقُلْ وَعَلَيْكَ
“Jika seorang Yahudi memberi salam padamu dengan mengatakan ‘Assaamu ‘alaikum’ (semoga kamu mati), maka jawablah ‘wa ‘alaika’ (semoga do’a tadi kembali padamu).” (HR. Bukhari no. 6257)
Setelah kita mengetahui sebagian watak jelek Yahudi, masihkan ada rasa simpati pada perlakuan dan tindak tanduk mereka. Sudah nampak jelas kejahatan mereka orang Yahudi, bukan hanya dengki dan menyembunyikan kebenaran yang mereka perbuat bahkan mereka menyakiti dan ingin membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah kita kaum muslimin yang sudah lama ditinggal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini masih berharap kebaikan mereka? Inilah sunatullah (ketetapan Allah) yang terjadi saat ini di negeri Palestina. Mereka kaum Yahudi memborbardir umat Islam tanpa henti. Tunggu saatnya pembalasan kami.
Ya Allah tolonglah kami kaum muslimin terhadap musuh-musuh kami. Kuatkanlah iman dan aqidah kami, sehingga kami bisa betul-betul kokoh menghadapi mereka.

Kebangkitan Islam

dalam sebuah seminar tentang peradaban Islam di Jakarta Islamic Centre. Diantara pembicara ada Prof. Dr. Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Jakarta. Dalam uraiannya, Prof Azyumardi menyatakan, bahwa peluang kebangkitan Islam lebih besar akan terjadi di Asia Tenggara ketimbang di Timur Tengah. Berbagai alasan dikemukakannya.
Pada sesi pembahasan saya menyampaikan bahwa soal kebangkitan Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54. Disitu disebutkan ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang memang suka mencela. Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Hanya saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab, jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin. Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”, “kebebasan”, dan sebagainya.
Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang. Tentu saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut. Jadi, jika dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi. Padahal, secara akhlak, negara itu sebenarnya hancur-hancuran.
Kita, kaum Muslimin, yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi. Kita sungguh kasihan kepada sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat. Mestinya, jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah SWT.
Jika kita memiliki kebanggaan akan nilai-nilai dan akhlak kita, maka kita justru akan bersikap sebaliknya. Kita kasihan pada orang-orang sekular – di mana pun — yang tidak tahu lagi kemana hidup mereka harus diarahkan. Hidup mereka hanya ditujukan untuk memuaskan syahwat, tidak beda jauh dengan peri hidup binatang. Mereka tidak ingat lagi perjanjian azali dengan Allah, saat berada di alam arwah, bahwa mereka pernah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba Allah. (QS 7:172).
Maka, ketika negara kita diminta mengejar kemajuan, kita melihat, yang lebih difokuskan adalah kemajuan materi, bukan kemajuan akhlak. Padahal, dalam UU Sisdiknas disebutkan, tujuan pendidikan nasional juga mencakup persoalan akhlak. Juga, sesuai lagu “Indonesia Raya”, kita harus membangun jiwa, baru membangun badan/raga. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu katanya. Tapi, apakah setiap tahun, ada laporan pemerintah kita tentang keberhasilan atau kegagalan membangun jiwa?
Bagi kita, umat Muslim, jika ingin membangun atau membangkitkan sebuah peradaban, maka yang seharusnya dibangun adalah manusia-manusia yang beradab. Membangun peradaban bukan sekedar bercita-cita merebut kekuasaan. Sebab, untuk sekedar berkuasa yang diperlukan adalah kekuatan, dan tidak harus selalu berbasis pada keilmuan. Bangsa Mongol pernah berhasil merebut kekuasaan di Baghdad, 1215, meskipun mereka sangat rendah ingkat peradabannya. Pasukan Salib pernah menaklukkan kaum Muslimin yang jauh lebih tinggi tingkat peradabannya.
Sekarang pun, kita menyaksikan, banyak orang di dunia bisa merebut kekuasaan, dengan mengandalkan modal kecantikan, popularitas, dan banyaknya anak buah, meskipun tingkat keilmuan dan akhlaknya sangat rendah. Jika seorang atau satu kelompok berperadaban rendah tetapi kuat secara fisik dan materi berhasil merebut kekuasaan, maka bisa menimbulkan kerusakan.
Jadi, sekali lagi, dalam merumuskan kebangkitan Islam, yang perlu digariskan adalah makna kebangkitan itu sendiri! Bangkit dalam hal apa? Barulah setelah itu dirumuskan, bagaimana cara bangkitnya! Sejarah Islam menunjukkan, bahwa kebangkitan umat Islam sebagai sebuah peradaban terjadi saat umat berhasil menghidupkan tradisi ilmu dan menanamkan jiwa cinta pengorbanan. Dua aspek ini pun sebenarnya bukan khas Islam. Peradaban lain juga harus menempuh jalan yang sama untuk bisa bangkit, yakni membangun tradisi ilmu dan menanamkan semangat pengorbanan.
Kita bisa menyimak kisah-kisah hebat berikut ini, seputar semangat pengorbanan:
Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.” Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?” Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.
Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi’ bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia. Rabi’ masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya. Ketika Rustum bertanya, “Apa tujuan kalian?” Dengan tegas Rabi’ menjawab, “Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.”
Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja’far bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja. Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, “Bersujudlah kalian kepada Raja!”. Dengan tegas Ja’far menjawab, “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.”
Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, “Maa Dzaa Khasiral ‘Aalam bi-inkhithaathil Muslimin.” (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988). Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.
Dalam risalahnya yang terkenal, Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan. Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. “Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri…”.
Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran, Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha. Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul Mengapa Kaum Muslim Mundur. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).
Hilangnya semangat berkorban – jiwa, raga, harta, dan sebagainya – di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (hubbud-dunya). Sikap ini muncul karena ilmu yang salah, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit “al-wahnu” (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka.
Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu yang benar di tengah masyarakat. Bisa dikatakan, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.
Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi shahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban manapun, hingga kini. Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.
Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.
Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.” Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”
Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya. Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.
Tradisi ilmu yang tinggi disertai dengan tertatanamnya kecintaan akan pengorbanan untuk meraih cita-cita luhur itulah yang harus diwujudkan di tengah umat Islam, jika umat Islam ingin meraih satu kebangkitan sebagai sebuah peradaban. [Depok, Januari 2011/hidayatullah.com]

Imam Khomeini: Hadapi Israel di Medan Nyata, Bukan di Meja Perundingan

Posted: 02 Jun 2010 08:02 AM PDT
Dunia akhirnya membuka mata kantuknya saat para aktivis perdamaian dari 44 ‎negara menuju ke tanah Gaza demi membawa pesan kebebasan mereka dari ‎blokade rezim Zionis Israel. Aksi mereka membuka kembali jendela harapan bagi ‎‎1,5 juta warga Gaza. Dunia ingin bangkit, namun mentari belum juga muncul.‎
Para pembawa misi perdamaian dan persahabatan tersungkur bersimbah darah ‎oleh rezim penjarah. Pejaman mata dunia masih belum juga terbuka untuk ‎menyaksikan mimpi buruk yang didemonstrasikan rezim buatan yang didukung ‎para pengusung (baca: pengaku) hak asasi manusia. Segala kebiadaban ini telah ‎dilakukan selama 60 tahun, dan dunia Barat yang mengaku beradab masih saja ‎asyik mengingkarinya.‎
Imam Khomeini ra sebagai pemimpin besar dunia adalah politikus besar yang ‎paling pertama menyikapi rezim penjajah Palestina.‎
Ketika orang-orang Zionis membakar Masjidul Aqsa pada 18 Agustus 1969, Imam ‎Khomeini ra langsung mengutuk tindakan tersebut. Beliau dalam pernyataan ‎bersejarahnya mengenai renovasi Masjidul Aqsa menyatakan, "Selama Palestina ‎belum dibebaskan, umat Islam tidak boleh merenovasinya dan puing-puing ‎Masjidul Aqsha dampak kejahatan Zionis disaksikan oleh seluruh dunia."‎
Pada periode Revolusi Islam, Imam Khomeini ra dalam berbagai pernyataannya ‎senantiasa menegaskan wajib jihad bagi seluruh umat Islam untuk membebaskan ‎Palestina, mendukung kelompok-kelompok pejuang Palestina dan pentingnya ‎memerangi Zionis. Semua ini dilakukan Imam Khomeini ra agar opini publik dunia ‎terus mengingatnya.‎
Fakta-fakta sejarah membuktikan bahwa perselisihan paling penting Imam ‎Khomeini ra dengan rezim Syah Pahlevi kembali pada masalah pengaruh rezim ‎Zionis Israel di Iran dan kehadiran anasir-anasir Zionis Israel di sejumlah jabatan ‎pemerintahan.‎
Sikap pertama Imam Khomeini ra bersamaan dengan dimulainya perjuangan politik ‎beliau terhadap rezim Syah Pahlevi terkait dengan penolakan rezim ini memboikot ‎minyak bagi Zionis Israel dan pemutusan hubungan dengan rezim penjajah al-‎Quds.‎
Imam Khomeini ra dalam wawancaranya tertanggal 17 Desember 1978 ‎mengatakan, "Satu alasan mengapa saya berhadap-hadapan dengan Syah, ‎kembali pada sikapnya membantu Israel. Ia menjarah minyak umat Islam dan ‎memberikannya kepada Israel. Ini dengan sendirinya menjadi faktor penentangan ‎saya terhadapnya."‎
Puncak sikap anti-Zionis Israel Imam Khomini ra dan dukungannya terhadap rakyat ‎tertindas Palestina dalam menentukan Hari Quds Sedunia, hari Jumat terakhir ‎bulan Ramadhan sebagai hari perjuangan melawan para arogan, zalim dan Zionis. ‎Sekaitan dengan hari ini, Imam Khomeini ra dalam pesannya mengatakan, "Hari ‎Quds adalah hari sedunia. Bukan hari yang dikhususkan untuk al-Quds, tapi hari ‎orang-orang tertindas menghadapi para arogan…"‎
Bila saat ini, dunia tengah sedih menyaksikan pembantaian para aktivis ‎perdamaian, mengapa tidak menyimak petunjuk Imam Khomeini ra dalam ‎menghadapi arogansi rezim Zionis Israel?‎
Cara pandang komprehensif Imam Khomeini ra terhadap masalah perjuangan ‎melawan Zionis Israel mengantarkan beliau pada satu kesimpulan bahwa Zionis ‎Israel adalah manusia-manusia yang tidak pernah taat pada hukum internasional. ‎Mereka berbuat segalanya sekehendak hati. Bagi Israel, masyarakat internasional ‎hanya angin lalu.‎
Dalam pemikiran Imam Khomeini ra, solusi masalah Palestina bukan melalui jalur ‎politik dan diplomasi. Menurut Imam Khomeini ra, rezim Zionis Israel merupakan ‎kanker dan satu-satunya jalan mengobatinya adalah dengan memusnahkannya. ‎Imam Khomeini ra berkeyakinan bahwa negara-negara dunia harus mengisolasi ‎rezim Zionis Israel dan memutuskan segala bentuk hubungan perdagangan dan ‎diplomasi.‎
Sekaitan dengan peran lembaga-lembaga internasional yang berafiliasi dengan ‎kekuatan-kekuatan imperialis dunia, Imam Khomeini ra menyampaikan pandangan ‎tegasnya. Kepada seluruh umat Islam dan banga-bangsa independen dunia Imam ‎berkata, "Umat Islam tidak perlu menanti lembaga-lembaga internasional ‎melakukan sesuatu untuk mereka. Bangsa-bangsa harus bangkit dan memaksa ‎setiap pemerintahnya menghadapi Israel. Jangan cukup hanya dengan ‎mengecam."‎
Serangan brutal rezim Zionis Israel hari Senin yang berujung pada syahidnya 20 ‎aktivis perdamaian dan melukai puluhan lainnya, dunia semakin terbuka matanya. ‎Debu yang dahulunya menutupi wajah para pemimpin Zionis Israel mulai menepi ‎dan wajah bengis mereka semakin tampak. Dunia semakin ngeri menyaksikan ‎wajah asli Zionis Israel.‎
Namun sampai kini dunia masih bingung dan jalan di tempat. Sementara ular yang ‎diciptakan oleh kekuatan hegemoni dunia mulai membuka mulutnya ingin ‎membinasakan manusia. Peristiwa perang 6 hari, 22 hari dan 33 hari serta ‎pelbagai kebiadaban lainnya dan pada akhirnya serangan brutal terhadap konvoi ‎bantuan kemanusiaan menyadarkan manusia. Apa yang dikatakan oleh Imam ‎Khomeini ra itu benar adanya.‎
Menghadapi Zionis Israel bukan di meja perundingan, tapi harus di medan nyata. ‎‎(IRIB/SL/PH)‎
Wassalam

Dibalik kematian Osama Bin Laden

Osama sudah mati sejak dulu, inilah yang sewajarnya dikatakan rakyat Amerika ketika terjadi peristiwa 11 september yang merobohkan gedung WTC, frase seperti ini terdengar sekedar anekdot. Namun dari sinilah terbesit sebuah skenario yang memenuhi semua kondisi yang saya dapatkan dari berbagai media. Sosok Osama bin laden yang dikabarkan tewas pada senin pagi-subuh waktu pakistan- yang kemudian jasadnya ditenggelamkan kelaut oleh pihak AS dengan alasan agar tidak ada yang menjadikan tempat pemakamannya sebagai tempat suci dan beberapa informasi yang sengaja di lepaskan ke media massa semua itu tidak salah hanya saja belum lengkap dan anda semua akan tercengang ketika melihat gambaran keseluruhan dari skenario ini.


”””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
Islam mengingatkan umatnya untuk berhati-hati dengan prasangka karena bila ada seribu prasangka dari seorang manusia. Sebaik-baik prasangka hanya satu yang benar dan 999 adalah salah
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
Sayangnya hal ini sulit dibuktikan tanpa otopsi pada jenasah Osama yang telah dibuang kelaut. Mereka-Amerika n Yahudi- merasa perlu untuk membiarkan Osama hidup selama ini sebagai senjata untuk melawan dunia Islam ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam artian untuk memegang kembali kendali ketika dunia Islam mulai diluar apa yang mereka harapkan. Kembali kepada penggerebekan terhadap Osama di pakistan dekat kota yang berpenduduk padat sangat mungkin bahwa keberhasilan penggerebekan itu dikarenakan Osama telah tertangkap pihak militer US -dalam waktu yang lama- dan sekarang mereka telah kehabisan alasan untuk tidak menyingkirkan beban yang mereka buat sendiri.
Awalnya sekenario ini tidak cukup layak untuk diterima dan saya biarkan saja melintas dalam pikiran yang sedang sibuk ini, namun kenyataan bahwa jasad Osama tidak dikebumikan dengan layak dan malah terkesan disembunyikan semakin membuka pintu bahwa hal inilah bagian penting dari pondasi untuk menutup kerahasian tipu muslihat US. Kemudian letak penggerebekan yang tidak jauh dari salah satu akses Amerika di pakistan juga mendukung logika ini, mereka bisa dengan mudah mengatur kejadian ini dalam jarak sedekat itu -hanya dibatasi jalan raya- dan juga korban yang jatuh berupa anak-anak dan seorang wanita yang diberitakan sebagai istri atau perisai hidup dari Osama –saat ini pihak pemerintahan US masih meralat info ini- pikirkan bila seorang Osama bisa memperlat perempuan melakukan hal itu maka Amerika akan lebih mampu lagi melakukan hal seperti ini.
Bagian lain yang tampak melemahkan argumen ini adalah nonton bareng pihak gedung putih-Obama(bukan Osama), Hilary Clinton, dan seterusnya tentang peristiwa penyergapan Osama yang didahului dengan rapat-arahan- dari Obama diberitakan bahwa dalam nonton bareng itu diperlihatkan video ketika salah seorang SEAL- elit- menembak langsung Osama dan mengenai mata jenasah Osama untuk memastikan apakah Osama benar-benar mati, video ini diambil dari helm yang dipakai penembak itu. Kemudian baku tembak yang terjadi selama 4 jam hal ini belum ada yang memastikan bahwa osama yang melakukannya namun bisa jadi wanita misterius yang dikabarkan tewas atau anak-anak yang bersama Osama apakah itu mungkin?? Why not bila Osama bisa membuat perempuan itu untuk mengorbankan nyawanya maka Amerika pun memiliki kesempatan lebih besar untuk memanipulasi wanita atau anak-anak itu untuk berbuat demikian. Satu hal yang saya tahu dan belum dapat memuaskan pikiran saya adalah turun kejalannya orang-orang Amerika ketika Barak Obama mengabarkan kematian Osama Bin Laden, awalnya saya kita itu memang hasil dari kerja para intelejen Amerika namun jawaban yang lebih dapat saya terima adalah rakyat Amerika telah teracuni oleh pemikiran yang diseting pihak pemerintah bahwa Osamalah yang bertanggung jawab terhadap kejadian WTC 11 September. Kenyataan ini pernah dipaparkan seseorang yang pernah berhubungan dengan Anggota parlemen-setingkat anggota DPR MPR di Indonesia- Amerika bahwa mereka tidak pernah keluar negeri –mereka tidak tahu keadaan riil dunia diluar negara mereka selain melalui media Amerika sendiri yang jelas mudah untuk disusupi kepentingan pemerintah- hal inilah yang mungkin mendasari sikap mereka secara cultural.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Sebuah cerita bijak tentang betapa orang yang mencurigai seorang anak maka akan melihat setiap tindakan anak itu mencurigakan hingga suatu hari kenyataan yang sebenarnya terungkap dan ternyata bukan anak itu pencurinya, maka anak itu kembali normal dimata orang tersebut
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
Hal yang ingin saya berikan dari ulasan sekenario ini adalah : Hal yang sangat berbeda bisa saja terjadi didunia kita padahal saat itu kita melihatnya dengan biasa-biasa saja maka ini hanya menjadi sebuah peringatan untuk selalu mempersiapkan diri dengan hal-hal yang paling buruk setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia, kejahatan selalu ada disisi lain kebenaaran. Setiap bagian sekenario ini saling terpisah bisa jadi semuanya hanya prasangka yang SALAH atau ada bagian kecil yang benar namun bila hal ini benar berarti Amerika sedang memulai hal yang lebih besar bahayanya-bagi selain Amerika- termasuk Islam-yang merupakan ketakutan terbesar dari The super power saat ini- Apa yang harus kita lakukan mendapi ancaman yang besar ini?
• Bagi orang yang memiliki ilmu agama dan menerapkannya(Ulama) maka dekatkanlah dirimu dengan Umat Islam sebuah nas yang mengatakan Akan hancur umat ini-Islam- bila orang-orangnya jauh dari Ulama, dapat juga menjadi panggilan bagi kita untuk lebih dulu mendekat diri kepada Umat yang kita cintai ini. Semoga Allah SWT memudahkan.
• Bagi masyarakat yang tahu sedikit dan belum menerapkannya maka mulailah dari apa yang paling menguatkan anda. Apabila anda seorang ahli biologi atau fisika dan seterusnya maka temukan hal-hal yang mencengangkan anda berkait dengan agama dalam aspek ilmu anda semoga itu jalan anda untuk menemukan kekuatan sejati seorang muslim.
• Bagi orang yang belum tahu tapi menginginkan menjadi seorang yang kuat menghadapi intervensi -US , yahudi-yang jauh lebih besar dari saat ini. Saya beritahu bahwa anda muslim yang paling diusahakan mereka adalah menjauhkan anda dari agama Islam. Karena sejarah telah mengukirkan Ajaran Islam yang sesungguhnyalah yang membangkitkan kekuatan yang menjadi Rahmatan lil alamin (Rahmat bagi selurih Alam) sehingga tak ada tempat lagi bagi ketidakadilan dan keserakahan mempecundangi sebagian besar dunia seperti saat ini.
Akhir dari goresan ini adalah peringatan mungkin saja ada nama Obama saya tulis Osama atau sebaliknya saya tidak hendak memulai lagi menelusuri anekdok yang kedua. Salam terhangat dari seorang kulir Sang Pencipta. Ar Rasyid dari timur.<http://www.kemungkinanlain.co.cc/>

Jumat, 03 Juni 2011

.:.pencari jejak.:.

Miqdad bin Amru radhiallahu ‘anhu.
Ketika membicarakan dirinya, para sahabatnya mengatakan: “Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang sabil ialah Miqdad ibnul Aswad”. Dan Miqdad ibnul Aswad yang mereka maksudkan itu ialah tokoh kita Miqdad bin Amru ini. Di masa jahiliyah ia menyetujui dan membuat perjanjian untuk diambil oleh al-Aswad ‘Abdi Yaghuts sebagai anak hingga namanya berubah menjadi Miqdad ibnul Aswad. Tetapi setelah turunnya ayat mulia yang melarang merangkaikan nama anak angkat dengan nama ayah angkatnya dan mengharuskan merangkaikannya dengan nama ayah kandungnya, maka namanya kembali dihubungkan dengan nama ayahnya iaitu Amru bin Sa’ad. Miqdad termasuk dalam rombongan orang-orang yang mula pertama masuk islam, dan orang ketujuh yang menyatakan keIslamannya secara terbuka dengan terus terang, dan menanggungkan penderitaan dari kemurkaan dan kekejaman Quraisy yang dihadapinya dengan kepahlawanan kaum Hawari. Perjuangannya di medan Perang Badar tetap akan jadi tugu peringatan yang selalu semarak di hati umat Islam.
Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini.” Pada hari berlansungnya Perang Badar itu, 1000 tentera Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat, dengan semangat dan tekad yang bergelora, dengan kesombangan dan keangkuhan mereka. Pada hari itu Kaum Muslimin sangat sedikit, yang sebelumnya tak pemah mengalami peperangan untuk mempertahankan islam, di Badarlah peperangan pertama yang mereka terjuni bagi membela Islam.
Sementara Rasulullah menguji dan meneliti persiapan para sahabat baginda untuk menghadapi tentara musuh yang datang menyerang, para sahabat diajak untuk proses syura. Para sahabat mengetahui bahwa jika baginda meminta buah fikiran dan pendapat mereka, maka perkara itu dimaksudkan secara bersungguh-sungguh. Setiap seorang dari mereka diminta pendirian dan pendapat yang sebenarnya, hingga bila ada di antara mereka yang berpendapat lain yang berbeza dengan pendapat umum, maka dia lebih baik baginya mengatakan pendapatnya atau akan mendapat penyesalan. Miqdad khuatir kalau ada di antara Kaum Muslimin yang terlalu berhati-hati terhadap perang, lantas sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kalimat-kalimat yang tegas dapat menyalakan semangat perjuangan dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum. Tetapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar as-Siddiq telah memulakan bicara, dan baik sekali buah bicaranya, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya. Setelah itu Umar bin Khatthab menyusul bicara, dan buah pembicaraannya juga baik.
Maka tampillah Miqdad, katanya:
“Ya Rasulullah… Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda! Demi, Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: “Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, biarkan kami duduk menunggu di sini.” Tetapi kami akan mengatakan kepada anda: “Pergilah anda bersama Tuhan anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping anda.” Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran! Seandainya anda membawa kami bergerak ke Bark-al-Ghimad sekalipun nescaya kami akan sanggup mengharunginya bersama anda sehingga kita sampai ke sana. Dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan disebelah kiri anda, di bagian depan dan di bagian belakang anda, sampai Allah memberi anda kemenangan!
Kata-katanya itu mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri kerananya, sementara mulutnya berkumat-kamit, mengucapkan do’a yang baik untuk Miqdad. Serta dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalirlah semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan.
Sungguh kalimat-kalimat yang diucapkan Miqdad bin Amru itu mencapai sasarannya di hati orang-orang Mu’min, hingga Sa’ad bin Muadz pemimpin kaum Ansar bangkit berdiri, katanya: “Wahai Rasulullah… Sungguh, kami telah beriman kepadaNya dan membenarkan anda, dan kamu saksikan bahwa apa yang anda bawa itu adalah benar, serta untuk itu kami telah ikatkan janji dan padukan kesetiaan kami! Maka majulah wahai Rasulullah laksana apa yang anda kehendaki, dan kami akan selalu bersama anda! Dan demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, sekiranya anda membawa kami menerjuni dan mangharungi lautan,akan kami terjuni dan harungi, tidak seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh. Sungguh, kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan moga-moga Allah akan memperlihatkan kepada anda perbuatan kami yang berkenan di hati anda. Oleh itu, kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah.”
Maka hati Rasulullah pun penuhlah dengan kegembiraan, lalu sabdanya kepada sahabat-sahabatnya: “Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian, sesungguhnya Allah telah menjanjikan aku salah satu dari dua kumpulan. Demi Allah, aku bagaikan sedang melihat kekalahan kaum itu.” Dan kedua pasukan pun berhadapanlah. Anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu jumlahnya tidak tebih dari 2 orang, iaitu Miqdad bin Amru dan Zubair bin al-’Awwam, sementara pejuang-pejuang Islam yang lain hanya terdiri dari pasukan pejalan kaki atau pengendara-pengendara unta.
Ucapan Miqdad yang dikemukakan tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Demikianlah sifat Miqdad. la adalah seorang ahli fikir dan falsafah. Hikmah dan fikirannya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus dan lurus sementara pengalaman-pengalamannya menjadi sumber bagi pemikiran itu.
Pada suatu hari dia diangkat oleh Rasulullah sebagai amir disuatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, baginda bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu menjadi amir?” Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya: “Anda telah menjadikan aku menganggap diri diatas semua manusia sedang mereka semua dibawahku. Demi yang telah mengutus anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya.
Miqdad seorang lelaki yang tak mahu tertipu oleh dirinya, tak hendak terpedaya oleh kelemahannya. Dipegangnya jawatan sebagai amir, hingga dirinya diliputi oleh kemegahan dan puji-pujian. Kelemahan ini disadarinya hingga ia bersumpah akan menghindarinya dan menolak untuk menjadi amir lagi setelah pengalaman pahit itu. Kemudian ternyata bahawa ia menepati janii dan sumpahnya itu hingga semenjak itu ia tak pernah mahu menerima jabatan amir.
Miqdad selalu membacakan hadith yang didengarnya dari Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, iaitu: “Orang yang berbahagia, ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.” Oleh karena jawatan sebagai amir(pemimpin) itu dianggapnya suatu kemegahan yang menimbulkan atau hampir menimbulkan fitnah bagi dirinya, maka syarat untuk mencapai kebahagiaan baginya ialah menjauhi jawatan tersebut.
Di antara manifestasi falsafahnya ialah tidak tergesa-gesa dan sangat hati-hati menjatuhkan putusan atas seseorang. Dan ini juga dipelajarinya dari Rasullah Sallallahu alaihi wasalam yang telah menyampaikan kepada umat Islam: “Bahawa hati manusia lebih cepat berputarnya daripada isi periuk di kala menggelegak.”
Miqdad sering menangguhkan penilaian terakhir terhadap seseorang sampai dekat saat kematian mereka. Tujuannya ialah agar orang yang akan dinilainya tidak beroleh atau mengalami hal yang baru lagi. Perubaban atau hal baru apakah lagi setelah maut?
Salah seorang sahabatnya menceritakan: “Pada suatu hari kami pergi duduk-duduk berdekatan Miqdad. Tiba-tiba lewatlah seorang lelaki, dan katanya kepada Miqdad: “Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam! Demi Allah, andainya kami dapat melihat apa yang anda lihat, dan menyaksikan apa yang anda saksikan!”
Miqdad menghampirinya dan mengatakan: “Apa yang mendorong kalian untuk ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari penglihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya pada kalian jika kalian menyaksikannya? Demi Allah, bukankah dimasa Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka jahannam! Kenapa kalian tidak mengucapkan pujian kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian.”
Suatu hikmah dan falsafah yang dalam tersembunyi di balik bait-bait perkataannya. Tidak seorangpun yang beriman kepada Allah, dan RasulNya yang anda temui, kecuali ia menginginkan dapat hidup di masa Rasulullah dan beroleh kesempatan untuk melihatnya.
Tetapi penglihatan Miqdad yang tajam dan dalam dapat menembusi sesuatu yang tidak terjangkau di balik cita-cita dan keinginan itu. Bukankah tidak mustahil orang yang menginginkan hidup pada masa-masa tersebut akan menjadi salah seorang penduduk neraka? Bukankah tidak mustahil ia akan jatuh kafir bersama orang-orang kafir lainnya? Maka tidakkah ia lebih baik memuji Allah yang telah menghidupkannya di masa-masa telah tercapainya kemantapan bagi Islam, hingga ia dapat menganutnya secara mudah dan bersih?
Demikianlah pandangan Miqdad, memancarkan hikmah dan falsafahnya. Dan seperti demikian pula pada setiap tindakan, pengalaman dan Ucapannya, ia adalah seorang ahli falsafah dan pemikir ulung. Kecintaan Miqdad kepada Islam tidak terkira besarnya. Cinta.. Bila ia tumbuh dan membesar serta didampingi oleh hikmat maka ia akan menjadikan pemiliknya manusia yang tinggi, yang tidak merasa puas hanya dengan kecintaan belaka tapi dengan menunaikan kewajiban dan memikul tanggungjawabnya. Dan Miqdad bin Amru dari jenis manusia seperti ini.
Kecintaannya kepada Rasululiah menyebabkan hati dan ingatannya dipenuhi rasa tanggungjawab terhadap keselamatan yang dicintainya, hingga jika ada kecemasan di Madinah, dengan secepat kilat Miqhad telah berada di ambang pintu rumah Rasulullah menunggang kudanya sambil menghunus pedang atau lembingnya. Sedang kecintaannya kepada Islam menyebabkannya bertanggung jawab terhadap keamanannya, tidak saja dari tipu-daya musuh-musuhnya, tetapi juga dari kekeliruan kawan-kawannya sendiri.
Pada suatu ketika ia keluar bersama rombongan tentara. Komander tentera Islam mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun mengembalakan haiwan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota pasukan tidak mengetahui larangan tersebut hingga melanggarnya. Sebagai akibatnya, ia menerima hukuman yang berat yang tidak setimpal dengan kesalahannya. Miqdad melalui di hadapan tentera tersebut yang sedang menangis berteriak-teriak. Ketika ditanya, ia mengisahkan apa yang telah terjadi. Miqdad meraih tangan orang itu, dibawanya kehadapan amir atau komander, lalu diterangkan keadaan sebenar hingga akhirnya tersingkaplah kesalahan dan kekeliruan amir itu. Maka kata Miqdad kepadanya: “Sekarang suruhlah ia membalas keterlanjuran anda dan berilah ia kesempatan untuk melakukan qisas” Sang amir tunduk dan bersedia, hanya si terhukum berlapang dada dan memberinya ma’af.
Penciuman Miqdad yang tajam mengenai pentingnya suasana, dan keagungan Islam yang telah memberikan kepada mereka kebesaran ini hingga seakan-akan ia menyatakan : “Biar saya mati asalkan Islam tetap tertinggi!” Itulah yang menjadi cita-citanya, iaitu kejayaan Islam walau harus dibalas dengan nyawa sekalipun. Dan dengan keteguhan hati yang menakjubkan, ia berjuang bersama sahabat-sahabatnya untuk menzahirkan cita-cita tersebut, hingga selayaknyalah ia beroleh kehormatan dari Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam. Miqdad telah menerima ucapan berikut dari baginda: “Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesanNya padaku bahwa ia mencintaimu”.
Ya Allah bangkitkanlah diantara kami dan anak cucu kami Miqdad-Miqdad, seorang pahlawan, pejuang dan pembela AgamaMu

MAU DEBAT AMA GUA CARI SAYA DI http://www.facebook.com/pages/STOP-MISI-KRISTENISASI/132310933466366 Nama cari sendiri