Kamis, 06 Oktober 2011

Kristiani adalah agama berhala (menurut pakar kalangan intern mereka sendiri)

Berikut ini disalinkan apa adanya dari buku Darah dan Penebusan Dosa karangan M. Hasem hal. 31 – 41
Edward Carpenter berkata:
Alangkah menakjubkan persamaan dan perserupaan dalam segala hal–hal ini dengan riwayat Yesus dalam kitab–kitab Injil.
Sering orang bertanya, mengapa Yesus dipandang sebagai tuhan Juru Selamat Penebus Dosa. Pertanyaan serupa ini diajukan oleh orang awam yang tidak mengetahui latar belakang sejarahnya.
Dr. Davies telah mengatakan dengan tepat:
Yang tidak diketahui si Awam, tetapi diketahui si Sarjana ialah bahwa banyak tuhan–tuhan kafir pada zaman Yesus dan sesudahnya mana terdapat tuntutan–tuntutan yang sama dan dalam nama–nama siapa dikhotbahkan doktrin–doktrin yang sangat serupa. Mithra adalah Juru Selamat umat manusia;

Larangan membuat berhala / idola
berhala anak lembu
demikian pula Tammuz, Adonis dan Osiris[1].
Tuhan–tuhan kafir yang ada di sekitar wilayah penyebaran agama Kristen pada awal pertumbuhannya, banyak sekali persamaan–persamaannya dengan riwayat hidup Yesus yang digambarkan dalam Bibel. Banyaknya persamaan–persamaan ini sangat menarik perhatian para sarjana untuk mempelajari riwayat dan ajaran–ajaran agama itu serta memperbandingkannya dengan riwayat dan ajaran–ajaran Yesus.
Sehubungan dengan ini Edward Carpenter berkata:
Ketika Yesus dari Nazaret hidup, atau dianggap hidup, dan selama berabad–abad sebelum itu, daerah–daerah di sekitar laut tengah merupakan panggung sejumlah kepercayaan–kepercayaan kafir dan ritus–ritus (upacara keagamaan/ upacara suci; peny.) agama kafir. Kuil–kuil yang tak terhitung jumlahnya dipersembahkan kepada tuhan–tuhan seperti Apollo dan Dionysos bagi bangsa Yunani, Adonis dan Attis di Frigia dan Suriah; Osiris, Isis dan Horus di Mesir; Baal dan Astarte di Babilonia dan Kartago, dan sebagainya. Kelompok–kelompok besar dan kecil mengumpulkan kepercayaan–kepercayaan itu dan pengabdian serta kebaktian atau upacara–upacara agama, yang termasuk kepada tuhan mereka masing–masing dan dalam kepercayaan mereka terhadap tuhan–tuhan mereka itu. Dan bagi kita adalah suatu kenyataan yang luar biasa pentingnya, bahwa kepercayaan–kepercayaan mereka dan upacara–upacara agama mereka dalam garis–garis besarnya; walaupun tidak identik namun sangat menyolok persamaan–persamaannya ...[2]
Sekedar gambaran singkat, berikut ini kami sajikan riwayat sekilas dari tuhan–tuhan atau dewa–dewa itu.
Osiris
Menurut Esayis dan biografis Plutarchus (46 – 120 M) yang mencatat riwayat hidup tuhan–tuhan itu, Osiris lahir dalam gua pada hari ke 361 dihitung dari permulaan tahun, yakni 27 Desember. Osiris ini adalah tuhan Bapa Mesir, salah satu oknum ketuhanan Tritunggal Mesir kuno. Ia mengajarkan kepada manusia tentang kelemah–lembutan dan kehalusan. Tetapi ia dikalahkan oleh Typhon, dicincang–cincang dan mati dengan mencurahkan darah untuk Penebusan dosa. Kata Plutarchus, "Hal ini terjadi pada tanggal 17 bulan Atyr, ketika Matahari membentuk Scorpion. Jasadnya dimasukkan ke dalam peti dan dikuburkan, tetapi kemudian, pada tanggal 19 bulan Atyr itu juga ia bangkit lagi dari kubur. Dengan kata–kata lain, ia mati sebagai Juru Selamat Penebus dosa, dengan mencurahkan darahnya dan bangkit lagi pada hari ketiga.
Osoris ini sebenarnya tuhan bangsa Mesir, tetapi kepercayaan orang kepadanya tersebar sangat luas ke wilayah–wilayah disekitar Laut Tengah.
Isis
Ia juga salah satu oknum Tritunggal Mesir kuno, lahir dalam gua. Seperti tuhan–tuhan Juru Selamat Penebus dosa lainnya, ia juga mati menebus dosa, dikuburkan lalu bangkit lagi dari kuburnya. Pemujaan kepada tuhan Isis ini meluas sampai ke Eropa. Bahkan tempat yang sekarang dikenal dengan Notre Dame di Paris dengan katedralnya yang sangat mahsyur itu dahulu asalnya dari rumah penyembahan kepada Isis. Isis ini adalah tuhan perempuan atau dewi dan pemujaan kepadanya sangat mirip dengan pemujaan kepada Maria dengan segala macam patung–patungnya.
Horus
Horus adalah putra tunggal dari Osiris dan Isis. Ia lahir dalam gua. Ia mati dibunuh dan mencurahkan darah sebagai Juru Selamat untuk menebus dosa dengan darahnya, dikuburkan, tetapi kemudian ia bangkit lagi dari kuburnya. Gambar–gambar tentang Horus dalam pangkuan Isis sebagai ibu tuhan ialah, menurut para ahli, yang masuk ke dalam gereja dalam bentuk Yesus dengan sang dara Maria.
Attis
Attis ini anak Cybele, ibu tuhan yang dipuja di Frigia, wilayah di Turki sekarang, yang dahulunya menjadi wilayah penyebaran agama Kristen awal, oleh Paulus dan kawan–kawannya. Attis terbunuh dengan disalibkan pada sebatang pohon dan mati menebus dosa dengan darahnya, kemudian bangkit lagi dari kubur. Setiap tahun kematian dan kebangkitannya diperingati secara besar–besaran dengan menyalib seorang pendeta yang dianggap seperti penjelmaan Attis. Pengaruh langsung kepercayaan ini kepada Paulus tidak dapat disangkal. Kisah–kisah Attis sangat menyerupai kisah Yesus.
Dalam kata–kata Arthur Weigall:
Attis adalah sang Gembala yang baik, putra Cybele. ... Tetapi ketika menjelang dewasa ia mengorbankan dirinya sendiri dan berdarah hingga mati di bawah pohon jarum–jarum suci. Di Roma upacara perayaan kematian dan kebangkitan diperingati pada setiap tahun dari tanggal 22 sampai 25 Maret. ... Pada perayaan itu sebatang pohon jarum–jarum ditebang pada tanggal 22 Maret dan pada batang pohon dikaitkan satu boneka dari tuhan itu. Dengan demikian maka Attis 'mati tergantung pada sebatang pohon' menurut uangkapan Bibel. Boneka ini kemudian dikuburkan pada suatu pekuburan. Tanggal 24 Maret adalah Hari Darah, dimana Imam Besar, yang tidak lain dari inkarnasi Attis sendiri, meraih darah dari lengannya dan mempersembahkan darah itu sebagai darah korban manusia, dan dengan demikian mengorbankan darahnya sendiri. Hal ini mengingatkan kita kepada kata–kata dalam Surat kepada Orang Ibrani: "Yesus telah datang sebagai Imam Besar ... bukan dengan membawa darah domba dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahnya sendiri ... mendapatkan penebusan yang kekal bagi kita." Pada malam itu pendeta–pendeta pergi ke kuburan dan mendapatkan kuburan itu bercahaya dari dalam dan pada saat itu ditemukan bahwa kuburan itu kosong, karena tuhan itu telah bangkit lagi pada hari ketiga sesudah matinya dan pada tanggal 25 hari kebangkitan itu dirayakan dengan sangat gembira ria, dengan semacam jamuan makan suci dan calon–calon mereka disucikan dan mereka dianggap telah dilahirkan kembali[3].
Adonis
Ia dibunuh oleh Typhoon sang Babi Hutan, tetapi bangkit hidup lagi pada musim semi. Pada waktu itu sungai Orantes pasang dan warna airnya kelihatan berwarna merah. Disana orang–orang mengadakan upacara pada tepi sungai dengan kepercayaan bahwa warna merah dari sungai itu adalah darah Adonis yang tercurah dan mengalir untuk menebus dosa manusia.
Pemujaan kepada Adonis ini sangat diperhatikan oleh penduduk Antiochia dan Siprus serta wilayah–wilayah sekitar Mediterania lainnya (sedangkan Antiokia merupakan basis awal penyebaran Kristen; peny.). Frazer menceritakan tentang pesta–pesta upacara yang diadakan di Asia dan di negeri–negeri di bawah kekuasaan Yunani, yang dilakukan setiap tahun.
Kata Frazer:
Patung–patung yang diberi pakaian, yang menyerupai mayatnya dibawa untuk dikuburkan dan kemudian dilemparkan ke laut atau sumber–sumber air. Pada beberapa tempat kebangkitannya dirayakan pada esok harinya ... Ia dianggap telah hidup lagi dan naik ke langit, disaksikan oleh pemuja–pemujanya[4].
Arthur Weigal menulis:
Salah satu tempat kedudukan yang pertama–tama dari agama Kristen ialah Antiochia, tetapi di kota ini setiap tahunnya diperingati kematian dan kebangkitan tuhan Tammuz atau Adonis, nama yang disebut terakhir ini semata–mata berarti 'Tuhan' saja. Tempat di Betleham yang dipilih oleh orang–orang Kristen zaman dahulu sebagai tempat kelahiran Yesus (karena tidak mengetahui dimana sebenarnya tempat kejadian itu) tidak lain dari pada tempat suci tuhan kafir ini dahulunya, sebagaimana Santo Jerome, Bapa Gereja (340 – 420 M) terkejut mendapatkan kenyataan yang menunjukkan bahwa Tammuz atau Adonis sangat dikacaukan dalam pikiran orang dengan Yesus Kristus. Menurut kepercayaan mereka, tuhan itu menderita maut secara kejam, turun ke neraka Hades, kemudian naik kelangit; dan perayaan peringatan terhadap tuhan itu, seperti yang dilakukan pada berbagai negeri, matinya diratapi, boneka tubuhnya yang telah mati dipersiapkan untuk dikuburkan setelah dibaptiskan dengan air dan diurapi, dan pada hari berikutnya kebangkitannya diperingati dengan penuh ria, kata–kata 'Tuhan telah bangkit' itu sendiri boleh jadi dipergunakan. Perayaan tentang kenaikan ke langit yang disaksikan oleh pemuja–pemujanya merupakan babak terakhir pesta itu[5].
Mithra
Mithra lahir dalam gua pada tanggal 25 Desember. hari lahir Mithralah yang dipinjam oleh gereja sebagai Hari Natal atau hari kelahiran Yesus. Hal ini tidak tersangkal oleh siapapun. Bahkan Santo Agustinus, dalam pedebatannya dengan si Yahudi yang bernama Trypho, tidak menyangkal kenyataan ini ketika ia berkata:
Kami merayakan hari ini sebagai hari suci; bukan sebagai kelahiran orang–orang kafir merayakan hari Matahari, tetapi kelahiran Dia yang menciptakan Matahari itu.
Hari Minggu yang dijadikan hari suci Kristen, sebagai ganti hari Sabat yang Sabtu itu, tidaklah lain dari hari suci bagi agama Mithra, agama pemujaan Matahari. Bekas–bekasnya masih kita lihat dengan myata pada istilah nama hari itu sendiri: Sunday (Inggris), Sonntag (Jerman), Zondag (Belanda) – Sun = Sonn = Zon, yang berarti Hari Matahari.
Mithra adalah tuhan Matahari yang banyak dipuja pada berbagai nama. Segala keterangan yang bersangkutan dengan kepercayaan yang bertalian dengan ilmu falak, seperti pertandaan bintang pada saat kelahiran Yesus, tanggal–tanggal kelahiran Maria dan Yahya pembabtis, tanggal kenaikan Yesus ke surga, kenaikan Maria kelangit, perlambangan Yesus sebagai anak domba, pengkudusan dengan darah lembu dan domba, serta ratusan macam keprcayaan lainnya, berasal dari agama Mithra.
Mithra adalah tuhan Juru Selamat Penebus dosa. Mithra mengorbankan lembu suci yang darahnya menyucikan dan menebus segala dosa manusia. Namun lembu itu tidak lain dari penjelmaan atau inkarnasi Mithra sendiri. Upacara pohon terang yang sangat terkenal itu dahulunya adalah upacara Mithra.
Anak–anak dewa atau putra–putra lainnya yang dipuja di wilayah Mediterania adalah Dionysos, Hercules, Apollo, Helios, Hyacinth, Zagreus, Marduk dan Zandan. Mereka semua adalah Juru Selamat Penebus dosa dengan darah; semuanya mati dengan mencucurkan darah korban, kemudian bangkit lagi dan naik ke langit. Riwayat dewa–dewa, anak–anak tuhan ini, tidak jauh berbeda dari tuhan–tuhan yang disebut sebelumnya, yang berarti pula erat persamaannya dengan riwayat Yesus. Bahkan pusat pemujaan Zandan adalah kota Tarsus, kota kelahiran Paulus, orang yang mula–mula menyiarkan bahwa Yesus itu tuhan dan Juru Selamat penebus dosa dengan darah.
Krisna
Putra dewa ini pun dilahirkan dalam kandang sapi. Kelahirannyapun diperlihatkan oleh tanda–tanda perbintangan. Ia anak manusia, tetapi berbapa Brahma, tuhan Bapa dalam Hinduisme.
Ketika lahir, Krisna hendak dibunuh oleh Kansa; Yesus hendak dibunuh oleh Herodes. Dalam perhitungan belum lama berselang ternyata bahwa Herodes, yang menjadi wakil raja roma di Palestina itu, telah meninggal sekurang–kurangnya empat tahun sebelum tahun pertama Masehi, tahun kelahiran Yesus, sehingga beralasanlah orang yang mengira bahwa cerita tentang pembunuhan kanak–kanak oleh Herodes ini hanyalah suatu paksaan untuk penyesuaian dengan dongeng–dongeng Mithra dan Krisna tentang ancaman pembunuhan anak itu.
Demikian banyaknya persamaan riwayat Yesus dengan Krisna, sehingga Swami Abhedananda, seorang Hindu yang mempelajari agama Kristen berkata:
Pada inkarnasi tuhan yang terkenal dikalangan orang Hindu, termasuk Krisna, Buddha, Rama dan lain–lain. Apabila seorang Hindu membaca riwayat dan ajaran–ajaran Yesus Kristus yang dinyatakan dalam Injil–Injil Sinoptik dan membandingkannya dengan riwayat dan ajaran–ajaran Krisna dan Buddha, maka persamaa–persamaan kedua penulisan itu sangat menakjubkan hingga pada bagian–bagian yang terkecil, dari naiknya bintang–bintang (pertanda kelahiran Yesus) hingga kebangkitannya dan kenaikannya ke langit. Krisna hidup 1.400 tahun sebelum Kristus, dan Buddha lahir 547 tahun sebelum Yesus Kristus[6].
Persamaan–persamaan riwayat dan ajaran Yesus Kristus dan Krisna tidak tersangkal. Seorang misioner berkebangsaan Jerman, setelah melihat persamaan–persamaan antara keduanya, menulis sebuah buku di mana ia menuduh bahwa para penganut agama Hindu telah meniru riwayat dan ajaran Yesus.
Misioner W. Dilger itu berkata:
Er ist uber allen zweifel erhanben, dasz die Gemeinsamen Einzelzuge aus dem neuen Testamen entlehnet sind (sama sekali tidak dapat diragukan bahwa persamaan itu berasal dari peminjam dari Injil Perjanjian Baru[7].
tuduhan Dilger yang menggelikan ini tidak dibiarkan begitu saja.
Plange berkata:
Namun bagaimana mungkin dikatakan demikian, sementara tidak terdapat keraguan bahwa legenda–legenda Krisna berasal dari jaman Buddha, dan tiada pula keraguan bahwa Buddha hidup sekitar 500 tahun sebelum Yesus?[8]
Plange kemudian mengingatkan akan kata–kata Hopkins:
Apabila orang memikirkan betapa tua asal–usul legenda–legenda ini, maka tidak akan ada keraguan bahwa cerita–cerita ini telah dipinjam dari Hindu[9].
Tentulah sejarah tidak dapat berkata lain dari yang telah ditegaskan Abhedananda, Plange, dan Hopkins itu.
Dari Bhagawad Gita, kita kutipkan pernyataan Krisna:
Ritus–ritus yang diperintahkan kitab–kitab Weda serta upacara–upacara yang dilakukan untuk roh nenek moyang, ramuan penyembuhan dan makanan, mantra, mentega suci: Akulah korban itu dan akulah api ke mana korban itu dipersembahkan[10].
Matinya Krisna sama pula dengan matinya Yesus. Krisna mati digantungkan atau disalibkan pada pohon dan ditombak hingga mati. Krisna bermahkota ketika dipakukan pada pohon itu. Sehubungan dengan itu, Plange mengatakan:
Keduanya mati sebagai korban. ... Keduanya naik kelangit sesudah matinya, setelah tugas selesai. keduanya dijadikan tuhan oleh para penganut agamanya[11].
Syiwa
Syiwa adalah oknum ketiga Tritunggal atau Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Kepadanya sering dikorbankan darah berratus–ratus manusia bersama nyawanya. Tetapi manusia yang dikorbankan untuk Syiwa itu tidaklah lain dari inkarnasi Syiwa sendiri. Terhadap ratusan nyawa manusia yang disembelih dalam pemujaan kepada Syiwa, dewa itu berkata kepada Brahma (dewa Bapa):
Akulah korban itu sebenarnya; Akulah yang kamu sembelih di atas altar–altarku[12].
Odin
Odin adalah tuhan dikalangan bangsa–bangsas Skandinavia. Ia termasuk salah satu oknum Tritunggal menurut kepercayaan Skandinavia purba. Agama ini banyak pula pengaruhnya di bagian lain wilayah Eropa Utara. Kepada Odin sering dikorbankan manusia yang digantung dan disalibkan. Tetapi Odin tidak puas dengan korban–korban manusia itu saja, sehingga ia sendiri mengorbankan dirinya.
Dalam Havanal tuhan itu berkata:
Aku tahu bahwa aku digantungkan pada pohon yang dihembus angin selama sembilan malam penuh; dilukai dengan tombak, dipersembahkan kepada Odin, dari aku kepada aku sendiri[13].


[1] Edward Carpenter, Heiden en Christendom, hal. 122.
[2] Edward Carpenter, Heiden en Christendom.
[3] Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity.
[4] Sir James G. Frazer, Adonis, Attis, Ossiris, hal. 183 – 184.
[5] Arthur Weigall, Paganism in Our Christianity.
[6] Svami Abhedanada, Warum …? Hal. 16.
[7] W. Dilger, Chrischna oder Christus?
[8] Th. J. Plange, Jesus ein Inder?, Hal 180.
[9] Hopkins, The Religion of India
[10] Bagavad Gita, edisi Inggris.
[11] Th. J. Plange, Jesus ein Inder?, Hal. 231.
[12] Edward Carpenter, Heidendom en Christendom
[13] Kitab suci agama Vicking.

Fakta : Aliran Kristiani Baru "Saksi Yehuwa" menentang konsep Trinitas/Tritunggal

Bagi mereka, sungguh penting untuk mendasarkan kepercayaan mereka pada Alkitab, bukan pada pendapat-pendapat rekaan manusia ataupun kredo-kredo agama. Mereka sependapat dengan rasul Paulus yang di bawah ilham menyatakan, ”Biarlah Allah didapati benar, meskipun setiap orang didapati pendusta.” (Roma 3:4, Terjemahan Dunia Baru*) Sehubungan dengan ajaran-ajaran yang diakui sebagai kebenaran Alkitab, Saksi-Saksi sangat setuju dengan pendirian orang-orang Berea ketika mendengarkan kesaksian rasul Paulus, ”Mereka menerima firman dengan kegairahan pikiran yang sangat besar, dan setiap hari, mereka memeriksa Tulisan-Tulisan Kudus dengan teliti untuk mengetahui apakah hal-hal itu benar demikian.” (Kisah 17:11) Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa semua ajaran agama harus diuji dahulu kebenarannya dengan menggunakan Tulisan-Tulisan Kudus yang terilham, entah ajaran itu dikemukakan oleh mereka sendiri atau oleh pihak lain. Mereka mengundang Saudara—mengimbau Saudara—untuk berbuat demikian saat berdiskusi bersama mereka.

Catatan Alkitab yang menjadi dasar nama Saksi-Saksi Yehuwa adalah Yesaya pasal 43. Dalam catatan itu, dunia ini diumpamakan sebagai ruang persidangan: Allah-allah dari bangsa-bangsa dipersilahkan untuk mengajukan saksi-saksinya guna membuktikan keadilbenaran kasus-kasus yang mereka kemukakan atau untuk mendengarkan saksi-saksi di pihak Yehuwa dan mengakui kebenaran. Di catatan itu, Yehuwa mengatakan kepada umat-Nya, ”’Kamulah saksi-saksiku,’ demikian ucapan Yehuwa, ’hambaku yang telah kupilih, supaya kamu mengenal dan beriman kepadaku, dan agar kamu mengerti bahwa aku adalah Pribadi yang sama. Sebelum aku tidak ada Allah yang dibentuk, dan setelah aku tetap tidak ada yang lain. Aku—akulah Yehuwa, dan selain aku, tidak ada juru selamat lain.’”—Yesaya 43:10, 11.

Allah Yehuwa telah memiliki saksi-saksi di bumi ribuan tahun sebelum Kristus lahir. Setelah Ibrani pasal 11 menyebutkan sederetan orang beriman, Ibrani 12:1 mengatakan, ”Maka, karena kita mempunyai begitu banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, biarlah kita juga menanggalkan setiap beban dan dosa yang dengan mudah menjerat kita, dan biarlah kita berlari dengan tekun dalam perlombaan yang ditetapkan bagi kita.” Yesus berkata di hadapan Pontius Pilatus, ”Untuk inilah aku dilahirkan, dan untuk inilah aku datang ke dunia, agar aku memberikan kesaksian tentang kebenaran.” Ia disebut ”saksi yang setia dan benar”. (Yohanes 18:37; Penyingkapan [Wahyu] 3:14) Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Kamu akan menerima kuasa pada waktu roh kudus datang ke atasmu, dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem maupun di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke bagian yang paling jauh di bumi.”—Kisah 1:8.

Dalam literatur Saksi Yehuwa dikemukakan alasan bahwa terjemahan mereka bertitik tolak pada upaya meninjau kembali ayat demi ayat dan kata-kata di dalam ayat itu yang berpeluang dijadikan tafsiran sepihak oleh pendukung doktrin pengutip dari sumber yang asal-usulnya diragukan, dan ayat-ayat dan kata-kata itu diluruskan sesuai sumber a.l. dewan alkitabiah internasional, penemuan dari cambridge university dan dari kalangan anthropologi international yang mapan dan diakui. Posisi demikian kelihatannya meyakinkan namun bila diselidiki ternyata sumber-sumber itu umumnya adalah kalangan Saksi Yehuwa sendiri sebab mereka mengatakan bahwa Alkitab terbitan Katolik (Lembaga Biblika Sedunia) dan Protestan (Lembaga Alkitab Sedunia) dianggap salah terjemahannya.

Saksi Yehuwa sangat alergi dengan pengajaran soal 'Allah Tritunggal' yang dianggapnya berasal dari kepercayaan bangsa-bangsa Babil dan Mesir dan bangsa-bangsa lain yang mempercayai dewa-dewa pada zaman dahulu kala, dan bahwa pencipta pengajaran tritunggal itu adalah Setan (Karena Allah itu Benar Adanya', hlm.105). Pendapat saksi Yehuwa memang ditunjang dengan fakta bahwa tidak ada satupun ayat-ayat Al-Kitab yang mengatakan 'Yesus adalah Tuhan' ditafsirkan bahwa Yesus hanyalah suatu alat (utusan Tuhan) seperti ayat Yohanes 1:1.

Siapa Tuhannya Maria, (Ibunda Yesus) ?

Ul. 27:16 Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

Mat 15:4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.

Mrk 7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

Dari 3 contoh ayat diatas kelihatannya mustahil Maria pernah menyembah yesus. Sangat mustahil seorang ibu menyembah anaknya...terlebih lagi Yesus tak mungkin mengkhianati isi Al Kitab itu sendiri, dengan menghinakan seorang ibu untuk menyembahnya sebagai syarat keselamatan....


Jadi siapa Tuhan sembahan Maria?

Sekali lagi, kerancuan yang membuktikan bahwa Kristiani itu, BODONG!!!....

Tamparan Buat Vatikan, Kasus Sodomi Pastor Katolik Tetap Lanjut di Pengadilan

Mahkamah Agung AS Senin kemarin (28/6) menolak untuk mempertimbangkan apakah Vatikan memiliki kekebalan hukum atas kasus pelecehan seksual anak di bawah umur yang dilakukan oleh pastur di Amerika Serikat, yang memungkinkan gugatan terhadap kasus ini yang diajukan pada tahun 2002 untuk terus maju.

Penggugat dalam kasus ini, diidentifikasi hanya sebagai John V. Doe, telah disodomi beberapa kali pada tahun 1965, ketika ia masih remaja, oleh seorang pendeta pedophilia yang diduga bernama pastor Andrew Ronan, di Portland, Oregon.

Sebelum dituduh melakukan tindak pidana di Oregon, Ronan, yang meninggal pada tahun 1992, diduga melakukan pelecehan secara seksual para seminaris di Irlandia dan anak-anak di Chicago.

Vatikan ingin pengadilan federal AS untuk mengabaikan gugatan yang berusaha terus menganggap Gereja Katolik Roma yang bertanggung jawab untuk memindahkan Ronan dari Irlandia ke Chicago kemudian ke Portland meskipun tuduhan pelecehan seks yang mengikutinya dari paroki ke paroki.

Tapi sembilan hakim AS menolak untuk mempertimbangkan klaim gereja bahwa mereka dapat menikmati "kekebalan berdaulat" dan kebal dari segala penuntutan.

Vatikan telah mengklaim kekebalan hukum mereka di bawah Hak Kekebalan Asing tahun 1976, sebuah undang-undang AS yang memungkinkan negara asing untuk menghindari gugatan di pengadilan.

Seorang pengacara penggugat pada hari Senin kemarin memuji keberanian hakim dalam memutuskan untuk melawan Vatikan. Sebagai catatan, Enam dari sembilan hakim di pengadilan tertinggi Amerika adalah Katolik.

"Tindakan hari ini oleh para hakim merupakan jawaban atas doa-doa ribuan korban pelecehan seksual yang akhirnya memiliki kesempatan nyata untuk mendapatkan keadilan, dan kebenaran, tentang keterlibatan para pemimpin Vatikan dalam menutupi tindak pidanapastor Katolik yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang tidak bersalah," kata Jeff Anderson seorang pengacara para korban.

"Atas nama korban dalam kasus ini, dan semua korban yang berani yang menderita atas penolakan bertanggung jawab para pemimpin Vatikan, kami mengucapkan terima kasih kepada hakim atas keberanianmereka untuk membiarkan kasus ini dilanjutkan," katanya.

"Akhirnya, kami memiliki kesempatan untuk mendapat keadilan, akuntabilitas dan penyembuhan," kata Anderson.

Vatikan mengatakan hari Senin bahwa akan ada komentar langsung atas keputusan itu.

Sementara itu pengacara yang mewakili gereja, Jeffrey Lena, meremehkan keputusan pengadilan tersebut, dengan mengatakan bahwa kasus ini masih panjang dan belum bisa diputuskan.

"Yang masih tertinggal adalah untuk kembali ke pengadilan distrik, yang merupakan sidang pengadilan, dan untuk melanjutkan argumen lebih lanjut di sana," katanya.

Kasus ini hanyalah salah satu skandal pedofilia yang banyak mengguncang Gereja Katolik Roma dalam beberapa tahun terakhir di sejumlah negara termasuk Austria, Belgia, Irlandia, Jerman dan Amerika Serikat.(eramuslim))

Paus: Penderitaan Terbesar Gereja Akibat Dosa-dosa Sendiri

Paus Benekdiktus melimpahkan tanggung jawab yang lebih besar pada gereja Katolik Roma dalam gelombang skandal pelecehan seksual dengan mengatakan penderitaan terbesar disebabkan oleh “dosa-dosa yang ada dalam gereja itu."

Dalam komentarnya yang paling terang-terangan tentang tuduhan pelecehan seksual, Paus mengatakan pada hari Selasa (11/5), ancaman terbesar bagi gereja itu tidak datang dari luar. Ia menambahkan gereja harus “meminta pengampunan selain juga keadilan."

"Ancaman terbesar gereja tidak datang dari musuh di luar, tapi lahir dari dosa-dosa yang ada di dalam gereja," kata Paus seperti dikutip Associated Press.

Paus Benekdiktus menyatakan hal tersebut kepada wartawan dalam sebuah penerbangan menuju Portugal.

Komentarnya dikeluarkan selagi gereja menghadapi kecaman pedas, karena cara penanganan kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang mencuat beberapa bulan terakhir ini.

Vatikan sebelumnya sangat defensif menanggapi tuduhan-tuduhan itu dan lewat beberapa pejabatnya bahkan menuduh media memfitnah Paus.(eramuslim)

“Tangisan Buaya” Paus Atas Skandal Seks di Geraja Katolik

Selama kunjungannya ke Malta, Paus Benediktus XVI mengadakan pertemuan pertama pribadinya dengan korban-korban terakhir dari skandal pedofilia para pastor yang menyebar di seluruh Eropa.Pertemuan tertutup di Kedutaan Besar Vatikan di Malta penuh dengan suasana emosional, dengan tangisan Paus mengekspresikan rasa kesedihannya dan rasa malunya secara pribadi atas korban dan keluarga mereka yang telah menderita akibat kasus tersebut," kata Vatikan dalam sebuah pernyataan hari Ahad kemarin (18/4).Paus, yang mendapat banyak kecaman karena menolak untuk langsung mengomentari krisis pelecehan seks di lembaga-lembaga Katolik, dalam pertemuan tersebut berjanji akan menuntut keadilan bagi para korban.Pernyataan itu menambahkan bahwa Paus "berdoauntuk mereka (para korban) dan meyakinkan mereka bahwa Gereja akan melakukan dengan menegakkan keadilan, dan akan terus melakukannya, semua dalam kekuasaannya untuk menyelidiki dugaan pelecehan seksual dan membawa ke pengadilan semua orang yang bertanggungjawab atas pelecehan seksual."Benediktus juga berjanji akan bekerja dengan mewujudkan langkah-langkah efektif yang dirancanguntuk melindungi anak-anak muda di masa mendatang."Vatikan juga saat ini sedang menghadapi tuduhan melindungi para pastor predator dari hukum, di tengah maraknya tuduhan terhadap beberapa pastor yang dicurigai atau dinyatakan bersalah melakukan pelecehan seks namun tidak dihukum, yang telah dilaporkan kepada pihak berwenang akibat adanya pelecehan anak-anak selama bertahun-tahun di lembaga-lembaga Katolik.Salah satu korban di antara sekelompok orang yang mengklaim 'disalahgunakan' oleh parapastor Katolik di panti asuhan Malta mengatakan kepada AFP bahwa dia terkesan dengan "kerendahan hati Benediktus" dan keberaniannya untuk menyatakan kesedihan dan rasa malunya serta adanya komitmen pribadinya untuk menyelesaikan kasus tersebut.Paus, yang telah meminta maaf kepada para korban pedophilia di Australia dan Amerika Serikat pada tahun 2008, sejauh ini hanya mengirim surat tanpa berkomitmen kepada umat Katolik di Irlandia atas skandal yang terjadi di sana. Surat paus tersebut dikritik oleh banyak pihak karena kesalahan parapastor yang melakukan pelecehan seksual hanya sekedar mendapat teguran, namun tidak mencantumkan hukuman apa yang bakal mereka terima.Sebelumnya, korps pers Vatikan korps telah menggemakan kekecewaan mereka secara meluas atas kegagalan Paus untuk mengatasi masalah tersebut secara terbuka dan langsung.(fq/prtv)Sumber: eramuslim

Pastor Italia Divonis 15 Tahun, Karena Skandal Pedofilia

Pengadilan di Roma menghukum seorang mantan pastor Gereja Katolik dengan kurungan 15 tahun penjara, karena kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak, di tengah gelombang praktek pedofilia oleh para pendeta di seluruh Eropa dan AS.

Ruggero Conti, seorang mantan pastor di Selva Candida di pinggiran ibukota Italia, dinyatakan bersalah atas kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak antara tahun 1998 dan 2008 ketika ia ditangkap.

Jaksa awalnya menuntut hukuman 18 tahun penjara kepada Conti atas tuduhan seks terhadap anak di bawah umur, kekerasan seksual dan hasutan untuk prostitusi anak di bawah umur.

Kasus ini telah menyita perhatian luas media di Italia, yang relatif sedikit terlilit skandal pelecehan seksual oleh para pastor di negara mayoritas Katolik, bila dibandingkan dengan ratusan kasus yang terjadi di Eropa Utara dan Amerika Serikat.

Seorang pengacara korban, Fabrizio Gallo mengatakan kepada wartawan bahwa ia hanya akan meminta ganti rugi kepada Otoritas Vatikan setelah pengadilan memerintahkan Conti untuk membayar sekitar 200.000 Euro atas kerugian yang ditimbulkan.

Gallo mengatakan, persidangan membuktikan bahwa tuduhan itu benar dan kehidupan banyak orang telah hancur selamanya. Ia berharap Gereja akan menemukan solusi dan membayar ganti rugi kepada para korban. Ditambahkannya, belum ada pihak yang menawarkan diri untuk membantu mereka atau meminta maaf.

Selama persidangan, uskup yang bertanggung jawab atas para pastor, Gino Reali mengakui bahwa dirinya telah mengabaikan rumor awal tentang Conti. Namun, ia kemudian melakukan penyelidikan setelah dua korban mengadukan kasus itu.