Jumat, 16 Desember 2011

DISTORSI MATIUS 2 : IMANUEL ANAK "SANG PERAWAN"

Konon, Yusuf adalah seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya, Maria, di muka umum, karenanya, niatnya menceraikan Maria hendak dilakukan secara diam-diam. Namun, ketika ia mempertimbangkan niat itu, malaikat Tuhan nampak dalam mimpi Yusuf dan melarangnya menceraikan Maria, karena anak yang sedang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus. Dikatakan malaikat dalam mimpi Yusuf, bahwa Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menyelamatkan umatnya dari segala dosa mereka. Karenanya, malaikat Tuhan berpesan kepada Yusuf agar memberi nama Yesus kepada anak yang akan dilahirkan Maria itu. Matius memandang hal ini sebagai pemenuhan atas nubuat Perjanjian Lama. Narasi selanjutnya, dikutip di bawah ini (cetak biru ditambahkan):
1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel"—yang berarti: Allah menyertai kita.
Kutipan Matius di atas sesungguhnya diambil dari Kitab Yesaya berikut ini (cetak biru ditambahkan):
7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel.
Dari perbandingan kedua kutipan ayat di atas, kita akan menemukan 4 persoalan prinsip, yaitu:
Pertama, kata "perempuan muda" dalam teks Yesaya, oleh Matius diubah menjadi "anak dara". Kenapa harus diubah? Perlu diketahui, kata "perempuan muda" dalam bahasa Ibraninya adalah "almah" yang bisa diterjemahkan sebagai "perempuan muda yang dalam konteks Yesaya bereputasi buruk seperti sundal atau pelacur". Sedangkan Maria adalah seorang perempuan suci yang masih perawan. Tampaknya Matius tidak benar2 menguasai budaya dan bahasa Ibrani, karenanya dia mengutip nubuat gagasannya dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani. Perbedaan mencolok ini memunculkan dugaan bahwa pengarang Matius bukanlah seorang Yahudi dari Palestina, apalagi seorang murid Yesus. Yang pasti, Matius ingin memaksakan gagasannya mengenai nubuat akan datangnya sang Juru Selamat dengan segala cara.
Kedua, nama "Imanuel" dalam teks Yesaya adalah nama anak tersebut sebenarnya yang akan dilahirkan oleh "almah". Sedangkan nama anak yang dilahirkan Maria adalah Yesus ("Yesus" sebenarnya merupakan bentuk Yunani dari kata Ibrani "Yeshua" atau "Joshua", yang berarti "Tuhan akan menyelamatkan"). Orang itu bukanlah Imanuel, tetapi nama orang itu adalah Imanuel. Nama "Imanuel" dan "Yesus" adalah nama 2 orang yang berbeda. Jika Yesaya 7:14 merupakan nubuat datangnya seseorang yang akan dilahirkan oleh Maria, seharusnya nama orang itu adalah Imanuel, bukan Yesus. Tetapi kenyataannya, Matius menyatakan bahwa nama anak yang dilahirkan Maria adalah Yesus (Matius 1:25). Jadi jelasnya, Yesus tidak sama dengan Imanuel! Dari sini, kembali dapat terlihat kegagalan Matius menyampaikan gagasannya. Matius seolah-olah telah membaca sebuah nubuat: "Jim akan menangkap bola", tetapi ketika "Bob yang menangkap bola", Matius secara tergesa-gesa dan tanpa malu-malu menyatakan bahwa "tangkapan Bob" merupakan pemenuhan atas nubuat tersebut, meski kedua orang tersebut adalah berbeda satu sama lain dan keduanya juga memiliki nama yang berbeda.
Ketiga, kata "ia" yang menunjuk kepada "almah" dalam teks Yesaya, diubah oleh Matius dengan kata "mereka" dalam kutipannya. Siapa saja "mereka" yang dimaksudkan Matius ini? Untuk apa merubahnya? Bukankah bertentangan dengan teks Yesaya? "Mereka" tidak lain adalah Maria dan suaminya, Yusuf. Sebaliknya, "ia" (almah) akan memberi nama sendiri kepada anak yang akan dilahirkannya, "Imanuel". Benar2 sudah jauh berubah!
Matius 1:21. Ia (Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan engkau (Yusuf) akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.
Matius 1:25. tetapi (Yusuf) tidak bersetubuh dengan dia (Maria) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Keempat, penerjemah versi Alkitab Indonesia mengubah huruf "d" (kecil) dalam teks Yesaya menjadi huruf "D" (besar) dalam teks Matius. Hal ini dilakukan untuk menguatkan dugaan pemenuhan nubuat yang dikarang oleh Matius agar seolah2 terpenuhi oleh Yesus, padahal teks Yesaya yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kelahiran Yesus dari Maria. Nama Yesus adalah "Yesus", bukan "Imanuel" 
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 3 : TEMPAT KELAHIRAN BETHLEHEM

Matius menyatakan bahwa Yesus dilahirkan di Bethlehem, dan memandang hal ini sebagai pemenuhan atas nubuat, sebagaimana tulisan Matius berikut ini:
2:5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
Tulisan Matius di atas didistorsi dari Kitab Mikha berikut ini:
5:2 (5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.
5:3 (5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.
5:4 (5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,
5:5 (5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.
Dalam nubuat Mikha tersebut, tidak ada sesuatu yang membedakan orang dari Bethlehem ini dan orang dari Bethlehem itu, kecuali bahwa orang yang dibicarakan adalah "berkuasa di Israel", bahwa "yang permulaannya sudah sejak purbakala", bahwa ia "akan menggembalakan mereka dalam kekuatan Tuhan", bahwa mereka yang hidup di bawah kekuasaannya akan "tinggal tetap/hidup aman", dan ia akan menjadi "besar sampai ke ujung bumi", dan bahwa ia akan menjadi salah seorang pembawa "damai sejahtera".
Sebagaimana diketahui, Yesus tidak pernah memapankan kekuasaan dalam bentuk apa pun di Israel, bahkan Yesus "mati" di tiang salib oleh umat Israel sendiri. Sementara makna dari "memerintah" yang tertulis dalam Kitab Mikha di atas adalah makna denotatif (riil). Ini menunjukkan bahwa pemenuhan nubuat yang dimaksudkan Matius adalah tidak lebih dari mengada-ada!
Perhatikan juga perubahan frasa "yang terkecil" dalam Mikha menjadi "bukanlah yang terkecil" dalam Matius. Mengapa harus dirubah? Tampaknya, Matius ingin menunjukkan bahwa dengan datangnya Yesus menjadi "raja", maka Bethlehem menjadi kota yang masyhur dan besar. Tetapi teks Mikha yang sebenarnya, tidak secara khusus menunjuk kepada seseorang, namun hanya sebuah nubuat yang secara de jure dan de fakto tidak pernah terwujud!
Namun demikian, jika ukurannya hanyalah ayat yang dikutip Matius dari kitab Mikha di atas, maka satu-satunya pribadi yang sangat cocok dengan nubuat Mikha tersebut adalah seorang nabi, tokoh besar, raja, dan mesias Israel yang bernama Daud sebagaimana catatan Alkitab berikut ini:
Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja, empat puluh tahun lamanya ia memerintah. Di Hebron ia memerintah atas Yehuda tujuh tahun enam bulan, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun atas seluruh Israel dan Yehuda. (2 Samuel 5:1-5)
Satu tambahan lagi, apakah Yesus benar2 dilahirkan di Bethlehem? Baik Matius maupun Lukas telah sepakat bahwa Yesus dilahirkan di Bethlehem. Markus tidak menyebutkan tempat kelahiran Yesus, sedangkan Yohanes menyangkal bahwa Yesus berasal dari Bethlehem, sebagaimana kutipan Yohanes berikut ini:
7:40 Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang."
7:41 Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!
7:42 Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
7:43 Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.
7:44 Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Secara konteks, Yohanes menyangkal bahwa Yesus berasal dari Bethlehem, tetapi dari Galilea. Persoalannya, orang2 Kristen meyakini Yesus sebagai Mesias, sehingga terbentuklah pandangan bahwa Yesus berasal dari Bethlehem. Akan lebih jelas, perhatikan ayat Yohanes sebelumnya berikut ini:
7:31 Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya (Yesus) dan mereka berkata: "Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia (???) akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia (Yesus) ini?"
Benar2 membingungkan 
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 4 : KE LUAR NEGERI DARI MESIR

Matius menyatakan bahwa kembalinya Yesus ke Palestina dari Mesir sebagai seorang anak kecil merupakan pemenuhan atas sebuah nubuat. Berikut ini tulisan Matius:
2:14 Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
2:15 dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."*
Keterangan Matius di atas didistorsi dari Kitab Hosea berikut ini:
11:1. Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku*itu.
11:2 Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung.
11:3 Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka.
11:4 Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.
11:5 Mereka harus kembali ke tanah Mesir, dan Asyur akan menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat.
11:10 Mereka akan mengikuti TUHAN, Ia akan mengaum seperti singa. Sungguh, Ia akan mengaum, maka anak-anak akan datang dengan gemetar dari barat,
11:11 seperti burung dengan gemetar datang dari Mesir, dan seperti merpati dari tanah Asyur, lalu Aku akan menempatkan mereka lagi di rumah-rumah mereka, demikianlah firman TUHAN.
Jelaslah dari kutipan Kitab Hosea di atas, bahwa ia sama sekali tidak berhubungan dengan nubuat akan datangnya seorang Juru Selamat. Kata "anak" di atas sangat jelas diidentifikasi sebagai "bangsa Israel", (bukan Yesus!) ketika mereka dibimbing untuk keluar dari penjara di Mesir. Kutipan Hosea tersebut berbicara tentang praktik kebiasaan buruk lama dan pemberhalaan yang dilakukan Efraim, salah satu subsuku Israel, yang seringkali diidentifikasi dengan 10 suku dari Kerajaan Israel utara.
Lebih lanjut, kutipan Hosea di atas menyatakan pembuangan 10 suku utara ke Asyur pada saat jatuhnya Kerajaan Israel utara, dan kemudian menyimpulkan bahwa 10 suku utara itu pada suatu saat akan kembali ke Palestina, dan akan kembali menjadi "anak-anak" Allah. Sebuah nubuat yang tidak pernah terwujud!
Perlu digarisbawahi di sini bahwa tidak ada konfirmasi di seluruh Perjanjian Baru, kecuali karangan Matius, bahwa Yesus pernah berada di Mesir. Tampaknya lebih mungkin bahwa Matius pertama2 mengada2kan nubuat akan datangnya seorang Juru Selamat dengan menjadikan kata2 dari Hosea berada di luar konteksnya, kemudian mengada2kan peristiwa tertentu dalam kehidupan Yesus untuk meneguhkan dan menggenapi nubuat yang diada2kan itu.
Perhatikan juga perubahan inisial "a" (kecil) pada kata "anak" dalam Hosea, diubah oleh penerjemah Alkitab menjadi "A" (besar) pada kata "Anak" dalam Matius. Seperti sudah dapat ditebak, perubahan ini dimaksudkan untuk meneguhkan pemenuhan nubuat yang dikarang Matius agar seolah2 terpenuhi oleh Yesus. Sekali lagi, kata "anak" dalam Hosea di atas tidak ada hubungannya sama sekali dengan Yesus, tetapi ia merupakan metafora bagi "bangsa Israel".
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 5 : TANGISAN RAHEL

Matius menyatakan bahwa Raja Herodes memerintahkan agar anak2 dalam kelompok usia 2 tahun ke bawah dibunuh di Bethlehem, dan Matius menyajikan tindakan ini sebagai sebuah pemenuhan atas nubuat. Berikut tulisan Matius:
2:16. Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.
2:17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:
2:18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi ."
Sekali lagi, Matius telah menjadikan pernyataan tersebut sama sekali berada di luar konteks yang sebenarnya. Pernyataan tersebut didistorsi dari Kitab Yeremia berikut ini:
31:15 Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anak nya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.
31:16 Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh.
31:17 Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.
31:18. Telah Kudengar sungguh-sungguh Efraim meratap: Engkau telah menghajar aku, dan aku telah menerima hajaran, seperti anak lembu yang tidak terlatih. Bawalah aku kembali, supaya aku berbalik, sebab Engkaulah TUHAN, Allahku.
Keterangan Yeremia secara khusus mengatakan bahwa "anak-anak" itu berada di "negeri musuh", yaitu Asyur, yang menjelaskan bahwa anak2 itu "tidak mati". Karenanya, keterangan Yeremia meramalkan, secara tidak tepat, bahwa anak2 itu akan kembali ke Palestina dari Asyur. Lebih jauh, adalah menarik dan meyakinkan untuk mencermati bahwa sementara Rama jauhnya sekitar 6 mil di utara Yerusalem, Bethlehem jaraknya sekitar 6 mil di selatan Yerusalem, yang selanjutnya membuktikan bahwa geografi itu pun tidak cocok dengan laporan Matius mengenai dugaan pembantaian yang terjadi atas anak2 Bethlehem. Singkatnya, Rama dan Bethlehem adalah 2 nama tempat yang sangat berbeda!
Jelasnya, Matius telah keliru merepresentasikan Yeremia, dan telah menjelaskan keterangan Yeremia di luar konteks yang sebenarnya. Lebih2, tidak ada keterangan lain di seluruh Perjanjian Baru atau dalam tulisan sekuler apa pun yang menyebutkan adanya pembantaian yang dilakukan Raja Herodes atas anak2 di Bethlehem!
Salah satu pemecahan untuk dilema ini adalah menegaskan bahwa Matius mengada2kan seluruh kisah mengenai pembantaian anak2 di Bethlehem. Dalam hal ini, motifnya, sekali lagi, adalah untuk menciptakan persamaan antara kehidupan Yesus dengan Musa.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 6 : ORANG NAZOREA

Ketika Yusuf, Maria, dan Yesus konon kembali ke Palestina dari Mesir, Matius mengklaim bahwa Yusuf telah diperingatkan dalam sebuah mimpi untuk menetap di kota Nazaret di wilayah Galilea. Matius menyuguhkan relokasi ini sebagai contoh lain dari pemenuhan atas nubuat. Berikut ini petikan Matius:
2:23 Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazorea.*
Dalam menyuguhkan contoh pemenuhan nubuat ini, Matius memilih sesuatu yang sama sekali baru. Kali ini, kutipannya tidak diambil di luar konteksnya, juga ia bukan kutipan yang dengan jelas diterapkan pada seseorang atau sesuatu yang lain. Kali ini faktanya adalah kutipan tersebut sama sekali tidak ada! Tidak seorang pun yang bisa menemukan kata2 "ia akan disebut orang Nazorea", atau bahkan kata "orang Nazorea" di seluruh Perjanjian Lama, termasuk kitab2 apokrif Perjanjian Baru.
Kata "orang Nazorea" dikaitkan kembali dengan orang2 Nazarite (Nazirite), kelompok Yahudi yang diduga hanya mengabdi kepada Allah, dan yang mempertahankan gaya hidup asketis secara ketat. Gaya hidup Yesus yang digambarkan oleh 4 injil kanonik sangat jauh dari gaya hidup seorang Nazarite, meskipun ia mungkin cocok dengan gaya hidup Yohanes Pembaptis. Namun demikian, meskipun kita mengganti "orang Nazorea" dengan "orang Nazirite", tetap tidak ada keterangan dari Perjanjian Lama yang menyatakan, "ia akan disebut orang Nazirite". Lebih2, kata "orang Nazorea" sama sekali tidak berkaitan dengan kota Nazaret!
Ringkasnya, Matius memiliki nubuat yang "dikutip", yang sama sekali tidak ada!
Keterangan:
*Dalam terjemahan versi Alkitab Indonesia edisi revisi yang baru, kata "orang Nazorea" diubah menjadi "orang Nazaret". Sebagai perbandingan, lihat versi Alkitab: Wycliffe New Testament, Latin Vulgate, New American Bible, New Revised Standard Version, dan Greek NT - Stephanos 1550.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 7 : NEGERI ZEBULON DAN NAFTALI

Setelah penangkapan Yohanes Sang Pembaptis, Matius melaporkan bahwa Yesus meninggalkan hutan belantara Yudea, kembali ke Galilea, kemudian pindah dari Nazaret ke Kapernaum, sebuah kota yang terletak di pinggir utara Laut Galilea (Danau Tiberias). Di tempat ini, Yesus konon memulai kerasulannya sendiri. Lagi2, Matius beranggapan bahwa peristiwa ini telah memenuhi nubuat datangnya seorang Juru Selamat. Berikut tulisan Matius:
4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
4:15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, yang dihuni orang-orang non Yahudi,—
4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
Tulisan Matius di atas didistorsi dari Kitab Yesaya berikut ini:
9:1. (8-23) Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea yang dihuni oleh pelbagai umat. *
9:2 (9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. *
Matius tidak mengutip dari Yesaya di luar konteks yang sebenarnya, tetapi Matius memberikan uraian yang agak bebas dan mudah dari teks yang sebenarnya. Dalam hal ini, menarik untuk mencatat adanya perubahan dari "pelbagai umat" dalam Yesaya menjadi "orang2 non Yahudi" dalam Matius. Perubahan ini tidak bisa dinisbahkan kepada Matius, tetapi kepada masing2 penerjemah Yesaya dan Matius ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya.
Bagaimanapun, kendati terdapat uraian yang bebas dan mudah tentang Yesaya yang diterjemahkan oleh Matius, penggunaan nubuat Perjanjian Lama oleh Matius ini mungkin sama akuratnya dengan representasi keterangan Perjanjian Lama yang dibuat Matius selama ini. Satu2nya persoalan signifikan adalah bahwa Matius agaknya merepresentasikan kerasulan Yesus kepada orang2 non Yahudi di wilayah timur Sungai Yordan, sementara Yesus sendiri menyangkal bahwa dirinya mengemban misi kerasulan di luar "negeri Israel", dan karenanya, persoalan itu menjadi banyak diperdebatkan.
Keterangan:
* "Galilea, yang dihuni orang-orang non Yahudi", dalam versi Alkitab Indonesia diganti menjadi "Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain"
"Galilea yang dihuni oleh pelbagai umat", dalam versi Alkitab Indonesia diganti menjadi "wilayah bangsa-bangsa lain". Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menciptakan persamaan antara teks Yesaya dengan pemenuhan nubuat yang dikarang Matius. Sebagai perbandingan, lihat versi Alkitab: Douay Rheims, King James Version 1611, dan New American Bible.
* Perhatikan juga perubahan inisial "t" (kecil) pada kata "terang" dalam teks Yesaya, diubah menjadi "T" (besar) pada kata "Terang" dalam teks Matius. Perubahan ini dilakukan oleh masing2 penerjemah Alkitab ke dalam bahasa umatnya masing2, yang tidak lain untuk mengelabui para pembaca Alkitab bahwa seolah2 nubuat Yesaya tersebut telah terpenuhi oleh Yesus.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 8 : IA MEMIKUL DERITA KAMI

Setelah kerasulan Yesus mengalami kemajuan, Matius melaporkan bahwa Yesus menunjukkan banyak mukjizat, termasuk menyembuhkan mereka yang kesurupan dengan pelbagai macam kondisi psikologis, juga mengusir setan. Bagi Matius, ini lagi2 merupakan pemenuhan nubuat. Berikut tulisan Matius:
8:17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."
Di sini, Matius mendistorsi dari ayat2 Kitab Yesaya yang dikenal sebagai "pelayan yang menderita" berikut ini:
53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
Sebagaimana bisa dilihat, Matius secara agak akurat meriwayatkan ayat Yesaya, dan tidak ada pengambilan ayat yang jelas2 keluar dari konteksnya. Singkatnya, satu2nya persoalan yang riil adalah apakah masing2 pembaca percaya atau tidak percaya terhadap ayat Yesaya yang diterapkan untuk Yesus di atas. Para sarjana alkitabiah telah lama memperdebatkan persoalan ini, dan sebagian besar percaya bahwa seluruh motif "pelayan yang menderita" Yesaya lebih baik diterapkan kepada bangsa Israel.
Lebih jauh, tidak ada hal yang yang cukup spesifik dalam Yesaya di atas yang bisa secara akurat diterapkan dalam diri Yesus. Hampir semua nabi Allah mengalami nasib serupa pada awal2 misi kenabiannya. Bahkan, sebagian di antara mereka benar2 dibunuh!
Wassalaam.