Al-Qur'an, yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara lisan dan berangsur-angsur antara tahun 610 hingga 632 M atau selama kira-kira 22 tahun, dimana pada masa itu umat manusia khususnya orang-orang Mekah dan Madinah masih dalam kegelapan dan buta huruf, telah membuktikan kebenaran wahyunya melalui konsistensinya dan kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang ditemukan umat manusia pada masa jauh setelah Muhammad.
Berbagai contoh di bawah ini, menunjukkan bukti-bukti kebenaran wahyu Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa bisa dibantah.
1. Kemenangan Bizantium. Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan. "Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4)
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)
Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan.
Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)
Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan.
Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.
Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi".
Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.
Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.
Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi.
2. Kebohongan Alkitab secara umum.
Website ini dibuat justru untuk mengungkap berbagai jenis kebohongan Alkitab/Bibel sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur'an berikut ini:
"Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Yahudi & Kristen) akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar Firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?" (QS. 2:75)
"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang (Yahudi & Kristen) yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: 'Ini dari Allah', untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. 2:79)
"Orang-orang (Yahudi & Kristen) yang telah Kami beri Al Kitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. 2:146)
"Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia'. Katakanlah: 'Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?' Katakanlah: 'Allah-lah (yang menurunkannya)', kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur'an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (QS. 6:91)
Dan lain sebagainya. 3. Kemenangan di Khaibar dan Mekah.
Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27)
Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah dengan aman.
Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas.
4. Ditemukannya jasad Fir'aun.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir'aun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. 10:92)
Pada waktu Qur-an disampaikan kepada manusia oleh Nabi Muhammad, semua jenazah Fir'aun-Fir'aun yang disangka ada hubungannya dengan Exodus oleh manusia modern terdapat di kuburan-kuburan kuno di lembah raja-raja (Wadi al Muluk) di Thebes, di seberang Nil di kota Luxor. Pada waktu itu manusia tak mengetahui apa-apa tentang adanya kuburan tersebut. Baru pada abad 19 orang menemukannya seperti yang dikatakan oleh Qur-an jenazah Fir'aunnya Exodus selamat. Pada waktu ini jenazah Fir'aun Exodus disimpan di Museum Mesir di Cairo di ruang mumia, dan dapat dilihat oleh penziarah. Jadi hakekatnya sangat berbeda dengan legenda yang menertawakan yang dilekatkan kepada Qur-an oleh ahli tafsir Injil, R.P. Couroyer.
5. Madu adalah Obat.
"kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan." (QS. 16:69)
Tidak ada seorang pun yang membantah bahwa madu lebah dapat dijadikan obat bagi manusia. Padahal, Al-Qur'an diturunkan pada abad ke-7 Masehi, dimana orang-orang pada waktu itu, khususnya di Jazirah Arab, masih buta iptek.
6. Air susu binatang, minuman yang lezat.
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya." (QS. 16:66) Pada waktu itu tidak ada seorang manusia pun di Jazirah Arab yang mengira bahwa air susu ternak dapat diminum oleh manusia, bahkan menyehatkannya. Sekarang, air susu ternak sudah menjadi santapan sehari-hari bagi manusia yang menyukainya. 7. Segala yang hidup di muka bumi diciptakan dari air.
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. 21:30)
Pada waktu ayat tersebut diturunkan, tidak ada yang berfikir kalau segala yang hidup itu tercipta dari air. Sekarang, tidak ada seorang pakar pun yang membantah bahwa segala yang hidup itu tercipta dari air. Air adalah materi pokok bagi kehidupan setiap makhluk hidup. 8. Fenomena berpasang-pasangan atas segala sesuatu.
Qur-an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui." (QS. 36:36)
Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara gamblang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.
Meskipun gagasan tentang "pasangan" umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut "parité", menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
"...setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan ... dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat."
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui ledakan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian "dikirim ke bumi", persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur'an diturunkan. (http://www.2think.org/nothingness.html, Henning Genz - Nothingness: The Science of Empty Space, s. 205)
9. Kejadian manusia di dalam rahim.
Telor yang sudah dibuahkan dalam "Trompe" turun bersarang di dalam rendahan (cavite) Rahim (uterus). Inilah yang dinamakan "bersarangnya telur."
Qur-an menamakan uterus tempat telor dibuahkan itu Rahim (kata jamaknya Arham).
"Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan." (QS. 22:5)
Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya (villis) yakni perpanjangan telor yang akan mengisap dari dinding rahim, zat yang perlu bagi membesarnya telor, seperti akar tumbuh-tumbuhan masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telor dalam Rahim. Pengetahuan tentang hal ini baru diperoleh manusia pada zaman modern.
Pelekatan ini disebutkan dalam Qur-an 5 kali. Mula-mula dua ayat pertama surat 96 ayat 2.
"Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat." (QS. 96:2)
"Sesuatu yang melekat" adalah terjemahan kata bahasa Arab: 'alaq. Ini adalah arti yang pokok. Arti lain adalah "gumpalan darah" yang sering disebutkan dalam terjemahan Qur-an. Ini adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap "gumpalan darah." Ada lagi terjemahan 'alaq dengan "lekatan" (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yakni "sesuatu yang melekat" sesuai sekali dengan penemuan Sains modern.
Ide tentang "sesuatu yang melekat" disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan semenjak tahap "setetes sperma" sampai sempurna.
"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dan kabur) maka (ketahuilah) bahwasanya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, (sesuatu yang melekat) kemudian dari segumpal daging yang sempurna keadaannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu." (QS. 22:5)
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat)." (QS. 23:4)
"Dialah yang menciptakan kamu dan tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dan segumpal darah (sesuatu yang melekat)." (QS. 40:67)
"Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah (sesuatu yang melekat) lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya." (QS. 75:37-38)
Anggauta tempat "mengandung" itu terjadi, selalu disebutkan dalam Qur-an dengan kata yang berarti uterus.
Dan beberapa surat, tempat itu dinamakan "Tempat menetap yang kokoh." (surat 23 ayat 13 yang pernah kita sebutkan dan surat 77 ayat 21.18)
PERKEMBANGAN EMBRIYO DIDALAM PERANAKAN
Hal-hal yang disebutkan oleh Qur-an sesuai dengan apa yang diketahui manusia tentang tahap-tahap perkembangan embryo dan tidak mengandung hal-hal yang dapat dikritik oleh Sains modern.
Setelah "sesuatu yang melekat," yaitu kata-kata yang telah kita lihat kebenarannya, Qur-an mengatakan bahwa embriyo melalui tahap: daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi dengan daging (diterangkan dengan kata lain yang berarti daging segar).
"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik." (QS. 23:14)
Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa Arab mudlghah; daging (seperti daging segar) adalah terjemahan lahm Perbedaan perlu digaris bawahi, embriyo pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa (tanpa alat), dalam tahap tertentu daripada perkembangannya, sebagai daging dikunyah. Sistem tulang, berkembang pada benda tersebut dalam yang dinamakan "mesenhyme." Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksudkan dengan "lahm. "
Dalam perkembangan embriyo, ada beberapa bagian yang muncul, yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang.
Bukankah arti kata bahasa Arab "mukhallaq" yang berarti "dibentuk dengan proporsi seimbang" dan dipakai dalam ayat 5 surat 22, disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini?
Qur-an juga menyebutkan munculnya pancaindera dan hati (perasaan, af-idah).
"Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (QS. 32:9)
Qur-an juga menyebutkan terbentuknya seks: "Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dan air mani apabila dipancarkan." (QS. 53:45-46) Terbentuknya seks juga disebutkan dalam surat 35 ayat 11 dan surat 75 ayat 39.
Semua pernyataan-pernyataan Qur-an harus dibandingkan dengan hasil-hasil Sains modern; persesuaian di antara kedua hal tersebut sangat jelas. Tetapi juga sangat perlu untuk membandingkannya dengan kepercayaan-kepercayaan umum yang tersiar pada waktu Qur-an, agar kita mengetahui bahwa manusia pada waktu itu tidak mempunyai konsepsi seperti yang diuraikan oleh Qur-an mengenai problema-problema tertentu. Mereka itu tidak dapat menafsirkan Qur-an seperti yang kita lakukan sekarang setelah hasil Sains modern membantu kita. Sesungguhnya hanya baru pada abad XIX, manusia mempunyai pandangan yang jelas tentang hal-hal tersebut.
Selama abad pertengahan mitos dan spekulasi tanpa dasar merupakan sumber daripada doktrin yang bermacam-macam, yang tetap dianut orang setelah abad pertengahan selesai. Banyak orang tidak tahu bahwa tahap fundamental dalam sejarah embryologi adalah pernyataan Harvey pada th. 1651 bahwa: "Semua yang hidup itu berasal dari telor."
Juga banyak orang tidak tahu bahwa embriyo itu terbentuk sedikit demi sedikit, sebagian demi sebagian. Tetapi pada waktu ilmu pengetahuan baru telah mendapat bantuan dari penemuan baru yaitu mikroskop untuk menyelidiki soal-soal kita ini, masih terdapat banyak orang yang membicarakan peran telur spermatozoide. Seorang naturalis, yaitu Buffon termasuk golongan ovist (yaitu golongan yang menganut teori pengkotakan). Bonnet salah seorang penganut teori tersebut mengatakan bahwa telor Hawa, ibu dari jenis manusia, mengandung segala bibit jenis manusia, yang disimpan dalam pengkotakan, yang satu didalam yang lainnya. Hipotesa semacam ini masih diterima orang pada abad XVIII.
Lebih seribu tahun sebelum zaman tersebut, di mana doktrin-doktrin khayalan masih mendapat pengikut, manusia sudah diberi Qur-an oleh Tuhan. Pernyataan-pernyataan Qur-an mengenai reproduksi manusia menjelaskan hal-hal yang pokok dengan istilah-istilah sederhana yang manusia memerlukan berabad-abad untuk menemukannya.
10. Karakter binatang yang hidup berkelompok. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al Kitab, kemudian kepada Tuhan merekalah, mereka dihimpunkan." (QS. 6:38)
Beberapa hal dalam ayat tersebut harus kita beri komentar. Pertama-tarna: nasib binatang-binatang sesudah mati perlu disebutkan. Dalam hal ini nampaknya Qur-an tidak mengandung sesuatu doktrin. Kemudian soal taqdir secara umum, yang kelihatannya menjadi persoalan di sini, dapat difahami sebagai taqdir mutlak atau taqdir relatif, terbatas pada struktur atau organisasi fungsional yang mengkondisikan tindakan (behaviour). Binatang bereaksi kepada fakta luar yang bermacam-macam sesuai dengan kondisi-kondisi tertentu.
Menurut Blachere, seorang ahli tafsir kuno seperti Al Razi berpendapat bahwa ayat ini hanya menunjukkan tindakan-tindakan instinktif yang dilakukan oleh binatang untuk memuji Tuhan.
Syekh si Baubekeur "Hamzah" (Sayid Abubakar Hamzah, seorang ulama Maroko) dalam tafsirnya menulis: "Naluri yang mendorong makhluk-makhluk untuk berkelompok dan berreproduksi, untuk hidup bermasyarakat yang menghendaki agar pekerjaan tiap-tiap anggauta dapat berfaedah untuk seluruh kelompok."
Cara hidup binatang-binatang itu pada beberapa puluh tahun terakhir telah dipelajari secara teliti dan kita menjadi yakin akan adanya masyarakat-masyarakat binatang. Sudah terang bahwa hasil pekerjaan kolektif telah dapat meyakinkan orang tentang perlunya organisasi kemasyarakatan. Tetapi penemuan tentang mekanisme organisasi beberapa macam binatang baru terjadi dalam waktu yang akhir-akhir ini. Kasus yang paling banyak diselidiki dan diketahui adalah kasus lebah. Nama Von Frisch dikaitkan orang dengan penyelidikan tersebut. Pada tahun 1973 Von Frisch, Lorenz dan Tinbergenmendapat hadiah Nobel karena penyelidikan mereka.
11. Peredaran benda-benda angkasa dalam garis edarnya.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. "Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al Qur'an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Al Qur'an, 36:38)
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur'an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.
Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Al Qur'an, 51:7)
Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.
Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur'an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur'an adalah firman Allah. 12. Gugusan bintang atau galaksi.
"Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang (galaksi) dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya." (QS. 25:61) Dalam alam semesta ini terdapat milyaran galaksi. Di antara galaksi-galaksi itu adalah:
- Galaksi Bima Sakti (tata surya kita ini terdapat di dalamnya).
- Galaksi Magellan (berjarak kira-kira 150.000 tahun cahaya dari Bima Sakti).
- Galaksi Andromeda (lebih jauh sedikit dari Magellan, dengan jarak kira-kira 2.000.000 tahun cahaya).
13. Gerak semu matahari.
"Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya." (QS. 55:17)
Dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya ialah tempat dan terbenam matahari di waktu musim panas dan di musim dingin. Gerak semu matahari ke utara-selatan menyebabkan beberapa musim tertentu di suatu negara tertentu.
14. Planet dalam langit terdekat.
Dalam suatu ayat terdapat kata "Kawakib" yang menurut pengetahuan modern hanya dapat diartikan "planet". "Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan yaitu planet-planet." (QS. 37:6)
Kalimat Qur-an: "Langit yang terdekat" dapatkah diartikan sebagai sistem matahari? Kita mengetahui bahwa tak terdapat di antara benda-benda samawi yang terdekat kepada kita selain planet. Matahari adalah bintang satu-satunya dalam sistem ini yang pakai nama. Orang tak dapat mengerti, benda samawi apa gerangan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, jika bukan planet. Rasanya sudah benar jika kita terjemahkan "Kawakib" dengan "planet;" dan ini berarti bahwa Qur-an menyebutkan adanya "planet" menurut definisi modern.
15. Mengembangnya alam semesta. Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)
Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
16. Bentuk bulat planet bumi. "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (Al Qur'an, 39:5)
Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.
Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur'an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.
Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur'an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur'an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya. Rasanya tidak mungkin Allah menyebutkan secara vulgar bahwa bentuk bumi adalah bulat, karena ini akan bertentangan dengan keyakinan manusia pada waktu itu. Lebih jauh, Allah menyuruh manusia untuk berfikir dan memahami segala ciptaan-Nya yang tak terbatas luasnya ini.
17. Lautan yang tidak bercampur satu sama lain.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Quran sebagai berikut:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing ... Dari keduanya keluar mutiara dan marjan." (Al Qur'an, 55:19-20,22)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Dari keduanya, dapat digali berbagai kekayaan alam khususnya mutiara dan marjan.
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur?an.
Suatu fenomena lain yang sering kita dapatkan adalah bahwa air lautan yang asin, dengan air sungai-sungai besar yang tawar tidak bercampur seketika. Orang mengira bahwa Qur-an membicarakan sungai Euphrat dan Tigris yang setelah bertemu dalam muara, kedua sungai itu membentuk semacam lautan yang panjangnya lebih dari 150 km, dan dinamakan Syath al Arab. Di dalam teluk pengaruh pasang surutnya air menimbulkan suatu fenomena yang bermanfaat yaitu masuknya air tawar ke dalam tanah sehingga menjamin irigasi yang memuaskan. Untuk memahami teks ayat, kita harus ingat bahwa lautan adalah terjemahan kata bahasa Arab "Bahr" yang berarti sekelompok air yang besar, sehingga kata itu dapat dipakai untuk menunjukkan lautan atau sungai yang besar seperti Nil, Tigris dan Euphrat.
Dua ayat yang memuat fenomena tersebut adalah sebagai berikut: "Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (QS. 25:53)
"Dan tidak sama (antara) dua laut. Yang ini tawar segar sedap diminum, dan yang ini asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya." (QS. 35:12)
Selain menunjukkan fakta yang pokok, ayat-ayat tersebut menyebutkan kekayaan-kekayaan yang dikeluarkan dari air tawar dan air asin yaitu ikan-ikan dan hiasan badan: batu-batu perhiasan dan mutiara. Mengenai fenomena tidak campurnya air sungai dengan air laut di muara-muara hal tersebut tidak khusus untuk Tigris dan Euphrat yang memang tidak disebutkan namanya dalam ayat walaupun ahli-ahli tafsir mengira bahwa dua sungai besar itulah yang dimaksudkan. Sungai-sungai besar yang menuang ke laut seperti Missisippi dan Yang Tse menunjukkan keistimewaan yang sama; campurnya kedua macan air itu tidak terlaksana seketika tetapi memerlukan waktu.
18. Kegelapan dan gelombang di dasar lautan.
"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, 24:40)
Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)
Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.
Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Quran, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan?" mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Quran yang lain.
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda." Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)
Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur'an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.
19. Manfaat sidik jari.
Saat dikatakan dalam Al Qur'an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:
"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." (Al Qur'an, 75:3-4) Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur'an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang. 20. Jenis kelamin bayi.
Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sel-sel ibu. Atau setidaknya, dipercaya bahwa jenis kelamin ini ditentukan secara bersama oleh sel-sel lelaki dan perempuan. Namun kita diberitahu informasi yang berbeda dalam Al Qur'an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan "dari air mani apabila dipancarkan".
"Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan." (Al Qur'an, 53:45-46)
Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur'an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.
Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut "XY" pada pria, dan "XX" pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.
Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.
Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.
Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.
Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur'an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.
21. Manusia tercipta dari setitik sperma.
Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur'an :
"Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?" (Al Qur'an, 75:36-37)
Seperti yang telah kita amati, Al-Qur'an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi. 22. Bagian otak yang mengendalikan gerak kita.
"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al Qur'an, 96:15-16)
Ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur'an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar). Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology, yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini, menyatakan:
Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal. Ini adalah daerah korteks asosiasi... (Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211; Noback, Charles R.; N. L. Strominger; and R. J. Demarest, 1991, The Human Nervous System, Introduction and Review, 4. edition, Philadelphia, Lea & Febiger , s. 410-411)
Buku tersebut juga mengatakan:
Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang... (Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211)
Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta.
Jelas bahwa ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam Al Qur'an sejak dulu.
23. Air susu ibu dalam 2 tahun.
Air susu ibu adalah suatu campuran ciptaan Allah yang luar biasa dan tak tertandingi sebagai sumber makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir, dan sebagai zat yang meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap penyakit. Bahkan makanan bayi yang dibuat dengan teknologi masa kini tak mampu menggantikan sumber makanan yang menakjubkan ini.
Setiap hari ditemukan satu manfaat baru air susu ibu bagi bayi. Salah satu fakta yang ditemukan ilmu pengetahuan tentang air susu ibu adalah bahwa menyusui bayi selama dua tahun setelah kelahiran sungguh amat bermanfaat. (Rex D. Russell, Design in Infant Nutrition, http:// www. icr.org/pubs/imp-259.htm)
Allah memberitahu kita informasi penting ini sekitar 14 abad yang lalu, yang hanya diketahui melalui ilmu pengetahuan baru-baru ini, dalam ayat-Nya "...menyapihnya dalam dua tahun...".
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Al Qur'an, 31:14)
24. Reproduksi tumbuh-tumbuhan.
"Yang telah menjadikan bagimu sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam." (QS. 20:53)
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (QS. 15:22)
"...Dan menjadikan padanya (bumi) semua buah-buahan berpasang-pasangan..." (QS. 13:3)
Kita mengetahui bahwa "buah" adalah hasil proses reproduksi daripada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi yang mempunyai organisasi (susunan anggauta) yang lengkap dan sangat kompleks. Tahap sebelum menjadi buah adalah bunga dengan anggauta jantan (etamine) dan betina (ovules). Ovul ini setelah menerima "pollen" menghasilkan buah, dan buah itu sesudah matang menghasilkan biji. Tiap-tiap buah mengandung arti tentang adanya anggauta jantan dan anggota betina. Inilah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas.
Tetapi kita harus ingat bahwa dalam beberapa pohon, buah dapat dihasilkan oleh bunga yang tidak dikawin seperti pisang, beberapa macam ananas, tin (fique), orange dan buah anggur. Buah tersebut tidak berasal dari pohon yang mempunyai jenis seks.
Selesainya reproduksi terjadi dengan proses tumbuhnya biji, setelah terbukanya tutup luar (yang mungkin juga terpadat dalam biji). Terbukanya tutup luar itu memungkinkan keluarnya akar yang akan menyerap makanan dari tanah. Makanan itu perlu untuk tumbuh-tumbuhan yang lambat pertumbuhannya, yaitu untuk berkembang dan menghasilkan individu baru.
Suatu ayat memberi isyarat kepada pembenihan ini.
"Sesungguhnya Allah membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan..." (QS. 6:95)
25. Reproduksi binatang. "Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani, apabila dipancarkan." (QS. 53:45-46)
Ayat di atas berlaku umum, tidak saja bagi reproduksi manusia, tetapi juga berlaku bagi reproduksi binatang. "Pasangan" adalah kata-kata yang sama yang kita dapatkan dalam ayat-ayat yang membicarakan reproduksi tumbuh-tumbuhan. Di sini soal sex ditegaskan. Perincian yang sangat mengagumkan adalah gambaran yang tepat tentang beberapa tetes zat cair (sperma) yang diperlukan untuk reproduksi.
26. Menembus ruang angkasa dan kedalaman perut bumi.
Al-Qur'an memberi isyarat kepada manusia untuk menjelajahi ruang angkasa dan perut bumi yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia pada waktu ayat ini diturunkan.
"Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, dan kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (QS. 55:33)Manusia, dengan kecerdasan dan keterampilannya, telah berhasil mendaratkan dua orang awak pesawatapollo 11 ke bulan dan membuat stasiun ruang angkasa, dan banyak menerjunkan pekerja tambang ke dalam perut bumi hingga kedalaman beberapa kilometer.
Dan lain sebagainya.
TANTANGAN ALLAH SWT KEPADA ORANG-ORANG KAFIR (KHUSUSNYA ATHEIS): Allah SWT menantang orang-orang kafir untuk mengembalikan nyawa manusia ketika dicabut: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu, tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?" (QS. 56:83-87)
PEKERJAAN RUMAH BAGI AHLI-AHLI RUANG ANGKASA:
Secara gamblang, Allah SWT menyebutkan keberadaan makhluk-makhluk melata di ruang angkasa:
"Diantara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya." (QS. 42:29)
Wassalaam.
Minggu, 18 Desember 2011
Mukjizat Nabi Muhammad, Nabi & Rasul Penutup
Al-Qur'an Suci adalah mukjizat abadi Nabi terakhir saw. Mukjizat para nabi sebelumnya seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as dan Nabi Isa as—masing-masing Nabi ini mendapat Kitab suci dan juga memiliki mukjizat—tidak identik dengan Kitab-kitab suci mereka. Mereka melakukan perbuatan mukjizat seperti mengubah api yang berkobar menjadi "dingin dan damai", mengubah tongkat kayu menjadi ular besar, dan menghidupkan orang mati. Jelaslah mukjizat-mukjizat ini sementara sifatnya. Namun untuk Nabi terakhir saw, Kitab sucinya itu sendiri merupakan mukjizatnya. Kitab sucinya merupakan bukti kenabiannya. Dengan demikian, mukjizat Nabi terakhir saw, tak seperti mukjizat yang lain, abadi sifatnya, bukan dimaksudkan hanya untuk sementara waktu.
Fakta bahwa Kitab suci (Al-Qur'an—pen.) merupakan mukjizat Nabi terakhir saw, sungguh selaras dengan zamannya, zaman kemajuan ilmu pengetahuan, budaya dan pendidikan. Keabadian Al-Qur'an Suci juga sesuai dengan keabadian pesannya yang tak akan pernah dicabut.
Dalam beberapa ayat Al-Qur'an dengan tegas disebutkan aspek supra-manusiawi dan luar biasa ini. Salah satunya mengatakan:
Dan jika hamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan hepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (sajaj yang semisal Al-Qur'an itu. (QS. al-Baqarah: 23)
Al-Qur'an juga dengan jelas menyebutkan beberapa mukjizat lain Nabi terakhir saw. Al-Qur'an Suci berbicara panjang lebar mengenai sejumlah masalah yang berkaitan dengan mukjizat. Al-Qur'an menyatakan bahwa risalah Allah SWT harus disertai mukjizat, bahwa mukjizat merupakan bukti kuat dan pasti, bahwa nabi dapat melakukan perbuatan mukjizat atas kehendak Allah dan untuk membuktikan kebenaran pernyataannya, dan bahwa nabi tidak harus mengabulkan setiap permintaan orang akan mukjizat. Dengan kata lain, nabi tidak diharapkan memamerkan mukjizat atau memproduksi mukjizat.
Di samping membahas soal-soal ini, Al-Qur'an Suci juga dengan jelas menceritakan kisah mukjizat banyak Nabi seperti Nuh as, Ibrahim as, Luth as, Saleh as, Hud as, Musa as dan Isa as, dan memperkuat kisah-kisah itu.
Sebagian orientalis dan pendeta Nasrani, berdasarkan ayat-ayat yang menolak permintaan kaum musyrik agar Nabi Muhammad saw memperlihatkan mukjizat yang mereka minta, mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw menyatakan kepada kaumnya bahwa mukjizatnya tak lain adalah Al-Qur'an Suci, dan kalau mereka tak mau menerimanya, maka dia tak dapat berbuat apa-apa lagi. Beberapa penulis Muslim yang "berpandangan terbuka" juga menerima pandangan ini, dan ketika menjelaskan pandangan ini, mereka mengatakan bahwa mukjizat merupakan argumen yang hanya dapat meyakinkan manusia yang belum matang yang mencari sesuatu yang luar biasa dan fantastis. Manusia yang sudah matang tak akan terkesan dengan hal-hal seperti itu. Yang menjadi perhatian manusia yang sudah matang hanyalah hal-hal yang rasional. Mengingat zaman Nabi Muhammad saw adalah zaman rasionalitas, bukan zaman mitos dan fantasi, maka dia, dengan kehendak Allah, tak mau menerima permintaan akan mukjizat selain Al-Qur'an Suci. Seorang penulis mengatakan, "Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw mau tak mau harus menggunakan mukjizat, karena pada zaman itu nabi-nabi nyaris mustahil dapat meyakinkan orang dengan menggunakan argumen rasional. Ketika Nabi Muhammad saw datang, manusia sudah melewati periode kanak-kanak (belum matang)-nya. Manusia sudah sampai pada tahap kematangan pikirannya. Yang kemarin anak, sekarang sudah tak lagi bergantung pada ibunya dan sudah mampu berdiri sendiri serta menggunakan otaknya. Dalam kondisi seperti itu pantaslah kalau Nabi Muhammad saw menentang tekanan kaum kafir, dan lawan-lawannya yang menghendaki mukjizatnya. Untuk membuktikan kebenaran misinya, Nabi Muhammad saw hanya bersandar pada argumen rasional dan bukti sejarah. Kendatipun kaum kafir bersikeras, namun Nabi Muhammad saw, atas perintah Allah, tak mau memperlihatkan tindakan mukjizat seperti yang dilakukan para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad saw hanya bersandar pada Al-Qur'an Suci sebagai mukjizat yang tiada taranya. Bahwa Al-Qur'an Suci tak ada tandingannya itu sendiri sudah merupakan bukti nnalitas kenabian. Mukjizat tersebut adalah sebuah kitab yang berisi kebenaran, ajaran dan petunjuk yang sungguh cocok dengan semua aspek kehidupan. Kitab tersebut merupakan mukjizat yang cocok untuk manusia yang sudah matang, bukan untuk manusia yang masih kanak-kanak yang mempercayai mitos dan dongeng.
Apa yang disebut penulis Muslim "berpandangan terbuka" itu menambahkan, "Asmosfer kehidupan manusia purba selalu penuh dengan mitos, cerita kosong dan pikiran supranatural." Karena itu, yang mengesankan manusia purba hanyalah hal-hal yang tak dapat diterima akal sehat dan yang tak dapat dimengerti. Itulah sebabnya sepanjang sejarahnya umat manusia menyukai hal-hal yang aneh dan mencari hal-hal yang supranatural. Sikap emosional terhadap apa yang tak dapat dimengerti dan yang tak dapat diterima akal sehat ini lebih kuat di kalangan manusia yang semakin tidak beradab.
Bila manusia semakin dekat dengan alam, maka dia semakin menyukai hal-hal yang supranatural. Mitos merupakan produk situasi seperti ini. Manusia gurun selalu mencari keajaiban. Dunianya penuh dengan roh dan misteri besar. Itulah sebabnya bukan saja nabi, namun juga raja, pahlawan dan orang arif setiap bangsa, menggunakan sesuatu yang supranatural untuk memperkuat klaim mereka. Dalam keadaan seperti ini, nabi yang misinya didasarkan pada hal yang nyata (kasat mata), kemudian lebih menggunakan mukjizat, karena pada periode sejarah ini kejadian supranatural lebih efektif ketimbang logika, ilmu pengetahuan dan fakta yang tak terbantahkan."
Namun, kehidupan Nabi Muhammad saw merupakan kekecualian. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa mukjizatnya adalah Al-Qur'an. Pernyataan ini dilontarkan di tengah masyarakat, di sebuah kota perdagangan yang terbesar, di kota ini orang yang tahu seni menulis tak lebih dari tujuh orang. Yang jadi pikiran masyarakat ini hanyalah berbual, bersombong diri, berbesar mulut, pedang, onta dan anak laki-laki. Bahwa di tengah masyarakat ini Nabi Muhammad saw memaklumkan mukjizatnya adalah Al-Qur'an, ini sendiri sudah merupakan mukjizat. Nabi Muhammad saw memaklumkan ini di sebuah negara yang belum pernah ada Kitab samawinya. Tuhannya, Allah, Sang Pencipta bersumpah dengan tinta, pena dan tulisan kepada kaum yang memandang pena sebagai alat bagi segelintir orang lemah tak berdaya. Ini sendiri sudah merupakan mukjizat. Dan mukjizat yang senantiasa dapat dilihat hanyalah kitab samawi itu. Tidak seperti mukjizat lainnya, Al-Qur'an Suci merupakan satu-satunya mukjizat yang karakternya yang luar biasa dapat lebih diapresiasi dan dipahami dengan lebih tepat oleh orang-orang yang lebih arif dan lebih berpengetahuan dalam masyarakat yang maju dan berbudaya.
Al-Qur'an Suci merupakan satu-satunya mukjizat yang bukan saja dipercaya oleh orang-orang yang mempercayai hal-hal yang supranatural. Kesupranaturalan Al-Qur'an Suci diakui oleh orang yang berpengetahuan luas. Kemukjizatan Al-Qur'an Suci bukan saja bagi orang biasa. Kemukjizatan Al-Qur'an Suci juga bagi kaum cerdik cendekia. Tidak seperti mukjizat lainnya, Al-Qur'an Suci tidak dimaksudkan untuk menggugah decak kagum orang yang membacanya, dan juga tidak dimaksudkan untuk meyakinkan mereka agar, setelah mengaguminya, menerima pesannya. Al-Qur'an Suci dimaksudkan untuk mendidik orang-orang yang mau menerimanya. Al-Qur'an Suci merupakan pesan (risalah) itu sendiri. Mukjizat Nabi Muhammad saw, meskipun bukan produk manusia, bukanlah sesuatu yang tak ada kaitannya dengan umat manusia. Tidak seperti mukjizat sebelumnya, Al-Qur'an Suci bukanlah alat yang digunakan sekadar untuk membuat orang percaya dan tak ada manfaat lainnya. Namun mukjizat Nabi Muhammad saw ini merepresentasikan semacam manifestasi kecakapan dan kekuatan tertinggi manusia. Juga merupakan sebaik-baik model untuk praktik dan pendidikan, dan karena itu sebuah model yang selalu dapat diakses.
Nabi Muhammad saw mencoba mengalihkan rasa ingin tahu manusia, dari masalah-masalah yang luar biasa dan supranatural ke masalah-masalah yang logis, rasional, intelektual, sosial dan moral. Tugas beliau saw tidaklah ringan, khususnya kalau melihat kenyataan bahwa kaum yang dihadapinya hanya mau menerima hal-hal yang supranatural. Sungguh mengherankan bagaimana dia menyebut dirinya Nabi, mengajak orang untuk menerima risalah Ilahiah-nya dan sekaligus mengakui secara formal bahwa dia tidak mengetahui hal-hal yang "gaib". Terlepas dari nilai manusiawi pengakuan ini, yang mencolok adalah kebenaran luar biasa yang terasakan dalam perbuatannya dan yang memaksa setiap had untuk hormat dan kagum kepadanya. Sebagian orang meminta dia untuk meramalkan harga yang dapat dicapai barang mereka agar mereka dapat membuat rencana sehingga dapat memperoleh untung.
Al-Qur'an Suci menyuruh Nabi untuk mengatakan:
Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak (pula) menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-A'râf: 188)
Seorang nabi yang tak dapat membuat ramalan, yang tidak bicara dengan roh, peri dan jin, dan yang tidak berbuat mukjizat setiap hari, tak ada gunanya di mata orang gurun. Nabi Muhammad saw mengajak mereka untuk memperhatikan alam semesta, takwa, lurus dan beriman, untuk mencari pengetahuan dan untuk memahami makna kehidupan dan takdir, namun mereka selalu saja meminta dia untuk memperlihatkan mukjizat dan membuat ramalan. Di lain pihak Allah mendorong dia untuk mengatakan:
Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi Rasul? (QS. Al-Isrâ': 93)
Orang-orang yang menafikkan kejadian-kejadian mukjizat terutama bersandar pada ayat-ayat yang mengatakan:
Dan mereka berhata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari etnas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah Kitab yang kami baca." Katakanlah: "Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?" (QS. al-Isrâ': 90-93)
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrik meminta Nabi Muhammad saw untuk memperlihatkan mukjizat selain Al-Qur'an, namun Nabi saw menolak permintaan mereka.
Sayangnya, teori ini tak dapat kami terima, khususnya kalau melihat poin-poin yang disebutkan di atas, dan kalau melihat paparan kami mengenai keunggulan Al-Qur'an Suci terhadap mukjizat-mukjizat lainnya. Menurut kami, poin-poin yang dapat dipertanyakan itu adalah:
(1) Mukjizat Nabi Muhammad saw hanyalah Al-Qur'an Suci. Nabi saw tak mau memenuhi permintaan kaum musyrik yang menghendaki Nabi saw memperlihatkan beberapa mukjizat lainnya. Ayat-ayat surah al-Isrâ' itu membuktikan poin ini.
(2) Adapun nilai dan efektivitas mukjizat, dapat dikatakan bahwa mukjizat cocok untuk periode ketika umat manusia belum matang, yaitu ketika nalar dan logika belum jalan. Bahkan orang arif dan raja harus menggunakan hal-hal supranatural untuk menjustifikasi diri mereka. Para nabi juga menggunakan hal-hal supranatural untuk meyakinkan kaum mereka. Nabi Muhammad
saw, yang mukjizatnya adalah Al-Qur'an Suci, merupakan kekecualian. Nabi saw menjustifikasi dirinya dengan menggunakan Al-Qur'an Suci atau dengan nalar dan logika.
(3) Nabi Muhammad saw mencoba mengalihkan perhatian kaumnya dari masalah-masalah supranatural ke masalah-masalah rasional dan logika, dan mencoba mengalihkan kepekaan mereka dari hal-hal yang ajaib ke hal-hal yang aktual dan faktual.
Mari kita bahas satu persatu poin-poin yang diajukan oleh para penentang mukjizat. Betulkah Nabi Muhammad saw mukjizatnya hanya Al-Qur'an saja? Terlepas dari kenyataan bahwa pandangan ini tak dapat diterima bila dilihat dari segi sejarah dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sumber-sumber tepercaya, pandangan ini justru bertentangan dengan Al-Qur'an sendiri. Mukjizat terbelahnya bulan disebutkan dalam Al-Qur'an Suci itu sendiri. Misal saja seseorang memandang remeh arti ayat yang menyebutkan mukjizat ini, sekalipun tak dapat dijelaskan, lantas bagaimana menjelaskan kisah mi'râj Nabi Muhammad saw yang disebutkan dalam Surah al-Isrâ'? Dengan tegas Al-Qur'an Suci mengatakan:
Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. al-Isrâ': 1)
Apakah peristiwa ini bukan peristiwa supranatural dan bukan mukjizat? Dalam Surah at-Tahrîm disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw mengemukakan sebuah rahasia kepada salah seorang istrinya. Istrinya ini kemudian membuka rahasia itu kepada istri Nabi saw yang lain. Nabi saw bertanya kepada istri pertamanya, kenapa membuka rahasia kepada istri keduanya, dan kenapa menceritakan sebagian pembicaraan yang terjadi antara keduanya. Istri pertama ini terkejut, lalu bertanya kepada Nabi saw bagaimana Nabi saw bisa tahu semua itu. Nabi Muhammad saw menjawab bahwa Allah memberitahukan kepadanya tentang kejadian itu. Ketika Nabi saw menceritakan sebuah rahasia kepada salah seorang istrinya, dan ketika istrinya itu kemudian membeberkan rahasia itu, dan Allah memberitahukan kepada Nabi saw tentang kejadian itu, dan Nabi saw memberitahukan kepada istrinya itu sebagiannya saja. Dan ketika Nabi saw menceritakannya kepada istrinya. Si istri berkata, "Kata siapa?" Nabi saw berkata, "Yang Mahatahu yang telah memberitahuku." Bukankah ini berarti Nabi saw menceritakan hal yang gaib? Bukankah ini mukjizat? Apa yang disebutkan dalam surah al-Isrâ': 90-93, dan beberapa ayat lainnya sama sekali tidak menunjukkan apa yang disimpulkan dari ayat itu. Kaum musyrik tidak minta bukti kenabian dan ayat dengan tujuan mendapatkan kepuasan. Sesungguhnya mereka minta sesuatu yang lain. Ayat-ayat ini dan juga surah al-‘Ankabût: 50, banyak menjelaskan mentalitas khas kaum musyrik yang rupanya meminta mukjizat. Ayat-ayat ini juga menjelaskan filosofi Al-Qur'an Suci tentang mukjizat para nabi.
Dalam surah al-Isrâ’, kaum musyrik mengawali pembicaraannya dengan mengatakan, "Kami sekali-kali tak akan mempercayaimu sampai kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami." Ini cuma sebuah transaksi. Kemudian mereka mengatakan, "Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, ataukamu mempunyai sebuah rumah yang penuh emas, sehingga kami bisa berbagi denganmu." Ini lagi-lagi merupakan transaksi, karena mereka menginginkan semua ini untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengatakan, "Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana menurutmu akan jatuh pada Hari Kiamat." Ini adalah meminta hukuman dan akhir segalanya, sekalipun rupanya mereka meminta mukjizat. "Atau kamu naik he langit, atau kamu bawa Allah dan para malaikat ke hadapan kami." (QS al-Isrâ’: 90-93) Ini lagi-lagi adalah transaksi, kendatipun kali ini mereka tak meminta kekayaan, melainkan minta sesuatu yang dapat mereka banggakan. Namun mereka mengabaikan fakta bahwa mustahil mengabulkan per-mintaan mereka.
Kata-kata yang digunakan kaum musyrik itu sesungguhnya luar biasa. Mereka tidak mengatakan, "Lan nu'mina bika", yaitu kami tak akan mempercayaimu. Yang mereka katakan adalah, "Lan nu'mina laka", yang artinya adalah kami tak akan bergabung denganmu yang akan menguntungkanmu. Perbedaan makna ini sudah disebutkan oleh ahli-ahli ushul fiqih ketika menjelaskan ungkapan-ungkapan yang sama dalam surah at-Taubah: 61.
Dari bagaimana kaum musyrik itu mengajukan permintaan terlihat jelas niat mereka. Mereka minta Nabi saw untuk memancarkan mata air dari bumi untuk mereka sebagai imbalan untuk dukungan dan kepercayaan mereka kepada Nabi saw. Jelaslah ini adalah meminta upah dan bukan meminta bukti dan mukjizat. Nabi saw datang untuk membuat orang jadi beriman, bukan untuk membeli pandangan dan iman mereka.
Penulis yang kami kutip di atas itu sendiri mengatakan, "Kaum musyrik itu meminta Nabi saw untuk meramalkan harga yang dapat dicapai oleh barang mereka, sehingga mereka dapat memperoleh untung." Jelaslah permintaan akan mukjizat ini bukan untuk mengetahui kebenaran. Mereka ingin memanfaatkan Nabi saw sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Tentu saja jawaban Nabi saw adalah, "Kalau saja aku tahu hal gaib, tentu aku sudah menggunakannya untuk mendapatkan banyak keuntungan di dunia ini." Jelaslah mukjizat tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan seperti itu. "Aku adalah seorang Nabi. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita baik kepada orang-orang yang beriman."
Kaum musyrik itu menganggap Nabi saw akan memperlihatkan mukjizat kalau diminta kapan pun dan untuk tujuan apa pun. Itulah sebabnya mereka menginginkan Nabi memancarkan mata air dari bumi, memiliki rumah emas, dan meramalkan harga pasar. Namun, faktanya adalah bahwa mukjizat tak ubahnya seperti wahyu. Terjadinya mukjizat bergantung pada "sana", bukan pada "sini". Wahyu tidak mengikuti kemauan Nabi. Wahyu merupakan proses yang mempengaruhi kehendak Nabi. Begitu pula dengan mukjizat. Mukjizat juga merupakan proses yang berasal dari "sana" dan mempengaruhi kehendak Nabi, kendatipun yang melakukan aksi mukjizat tersebut adalah Nabi. Itulah arti kata "atas kehendak Allah" dalam kaitannya dengan wahyu dan mukjizat:
Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata. (QS. al-‘Ankabût: 50)
Ayat ini telah disalahtafsirkan oleh misionaris Kristen. Begitu pula dengan pengungkapan hal gaib secara mukjizat. Sejauh menyangkut personalitas Nabi saw, dia tidak tahu hal gaib. Al-Qur'an Suci mengatakan, "Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat, juga aku tidak tahu hal gaib."
Namun ketika dalam pengaruh supranatural, Nabi saw menuturkan hal gaib, dan ketika ditanya dari mana dia tahu, dia menjawab bahwa Allah Yang Mahatahu telah memberitahunya.
Ketika Nabi saw mengatakan tidak tahu hal gaib, dan kalau dia tahu tentu dia akan mendapat banyak uang dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang yang gaib, dia ingin menyangkal dugaan keliru kaum musyrik. Dia menjelaskan bahwa pengetahuan tentang yang gaib merupakan bagian dari mukjizat, dan dia menerima pengetahuan seperti itu hanya melalui wahyu Allah. Seandainya pengetahuannya tentang yang gaib itu otomatis dan seandainya dapat memanfaatkannya untuk tujuan yang dikehendakinya, tentu dia sudah memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri, dan tak akan menyebutkan harga pasar ke depan kepada orang lain yang akan menguntungkan mereka saja.
Dalam ayat lain disebutkan pula, yang artinya:
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak mempertihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuati kepada Rasul yang dipilih-Nya. (QS. al-Jin: 26-27)
Nabi Muhammad saw tentu saja adalah Rasul pilihan-Nya. Kemudian, Al-Qur'an Suci menceritakan banyak mukjizat nabi-nabi sebelumnya seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Lantas mana mungkin Nabi saw, ketika diminta memperlihatkan mukjizat seperti mukjizat nabi-nabi sebelumnya, mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang diutus sebagai Rasul? Apakah kaum musyrik itu tidak berhak menjawab, "Anda sendiri dengan fasih menguraikan mukjizat nabi-nabi sebelumnya. Apakah mereka itu bukan manusia atau apakah mereka itu bukan Nabi?" Mungkinkah kontradiksi yang mencolok seperti itu ada dalam Al-Qur'an Suci? Apakah dapat dibayangkan bahwa kaum musyrik itu tidak melihat kontradiksi yang mencolok seperti itu?
Seandainya pikiran orang-orang yang "berpandangan terbuka" ini benar, tentu yang dikatakan Nabi saw bukan "Mahasuci Allah, aku hanyalah seorang manusia yang menjadi Rasul", tetapi "Mahasuci Allah, karena aku Nabi terakhir, maka aku tak termasuk dalam norma yang berlaku pada nabi-nabi lain. Karena itu jangan suruh aku melakukan apa yang nabi-nabi lain diminta untuk melakukannya." Namun Nabi saw tidak mengatakan begitu. Nabi saw justru mengatakan, "Aku adalah seorang Rasul seperti rasul-rasul lainnya."
Ini menunjukkan bahwa yang diminta kaum musyrik dari Nabi Muhammad saw bukanlah mukjizat dengan tujuan untuk menemukan kebenaran. Mereka meminta sesuatu yang lain, dan permintaan mereka itu sedemikian rupa sehingga Nabi saw tak mengabulkannya. Itulah sebabnya Nabi saw tak mau mengabulkan permintaan arogan dan egois mereka. Sebenamya mereka meminta sesuatu yang mustahil.
Memang orang biasa suka merekayasa ceritaKemudian, ada bedanya antara mukjizat nabi dan mukjizat wall. Mukjizat nabi merupakan mukjizat dari Allah dan bukti adanya misi dari Allah. Mukjizat nabi selalu ada kaitannya dengan tantangan. Mukjizat nabi ada kondisi khusus tertentunya, dan terjadi untuk tujuan khusus. Adapun mukjizat wali, itu merupakan kejadian supranatural yang murni hasil dari kekuatan spiritual dan kesucian pribadi seorang yang sempurna atau semi sempurna, dan kejadiannya bukan untuk membuktikan kebenaran adanya misi dari Allah. Mukjizat wali hampir merupakan urusan yang tak ada kondisi khususnya. Mukjizat nabi merupakan suara Allah yang mendukung orang tertentu. Sedangkan mukjizat wali bukan begitu.
Nilai dan Efek Mukjizat
Apa nilai mukjizat? Ahli logika dan ahli filsafat membagi materi yang digunakan untuk memperdebatkan urusan menjadi beberapa jenis. Sebagian argumen ada nilai tahkiknya. Argumen-argumen tersebut sangat kuat, seperti yang terjadi pada data yang digunakan ahli matematika. Sebagian argumen lainnya hanya memiliki nilai persuasif, seperti yang terjadi pada argumen-argumen yang diajukan ahli retorika. Namun sepanjang tidak dianalisis, argumen-argumen seperti itu ternyata sangat mengesankan. Sebagian argumen lainnya semata-mata emosional atau ada nilainya yang lain.
Nilai Mukjizat Menurut Al-Qur'an
Al-Qur'an Suci menggambarkan mukjizat para nabi sebagai tanda dan bukti yang kuat, dan memandangnya sebagai bukti yang meyakinkan dan logis tentang eksistensi Allah. Al-Qur'an Suci juga menganggap alam semesta sebagai bukti eksistensi-Nya yang tak terbantahkan. Al-Qur'an Suci membicarakan dengan saksama masalah mukjizat. Al-Qur'an memandang permintaan orang akan mukjizat dan ketaksudian mereka menerima nabi kecuali kalau mereka sudah menyaksikan mukjizatnya, dapat dibenarkan dan masuk akal, asalkan permintaan tersebut bukan untuk maksud-maksud tersembunyi atau sekadar iseng. Dengan fasih Al-Qur'an Suci membawakan banyak kisah tentang jawaban praktis para nabi terhadap permintaan-permintaan seperti itu. Al-Qur'an Suci tak pernah menunjukkan bahwa mukjizat hanyalah argumen persuasif yang cocok untuk orang bodoh dan untuk periode ketika manusia masih belum matang. Al-Qur'an Suci justru menyebut mukjizat sebagai bukti yang nyata.
Karakter Petunjuk Nabi saw
Mukjizat "Nabi terakhir" yang berupa Al-Qur'an, sebuah Maha-karya sastra dan sebuah khazanah budaya dan ilmu pengetahuan, merupakan mukjizat yang abadi. Banyak di antara segi-segi mukjizat Al-Qur'an berangsur-angsur mulai terungkap. Sebagian segi luar biasa dari Al-Qur'an yang kini telah diketahui oleh manusia di zaman kita, di masa lalu tidak diketahui dan tak dapat diketahui. Nilai mukjizat-Al-Qur'an lebih dimengerti oleh pemikir ketimbang orang biasa. Memang mukjizat ini, berkat nilai-nilai khususnya, cocok untuk periode akhir kenabian. Namun apakah juga benar bahwa mukjizat ini memiliki karakter sebuah kitab lantaran antara lain dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian manusia dari masalah gaib ke masalah nyata, dari masalah yang tidak rasional ke masalah yang rasional dan logis, dan dari masalah supranatural ke masalah natural? Apakah Nabi Muhammad saw berupaya mengalihkan rasa ingin tahu orang dari masalah-masalah yang luar biasa dan supranatural ke masalah-masalah yang rasional, logis, intelektual, ilmiah, sosial dan moral, dan berupaya mengalihkan rasa ingin tahu mereka dari masalah yang luar biasa ke realitas? Kelihatan itu tidak benar. Andaikata benar, berarti para nabi lainnya mengajak orang untuk memperhatikan masalah-masalah gaib, dan hanya Nabi Muhammad saw sajalah yang mengajak orang untuk memperhatikan masalah-masalah nyata. Kalau memang begini, kenapa sampai ratusan ayat Al-Qur'an Suci memaparkan tentang mukjizat?
Memang benar, salah satu karakter pokok Al-Qur'an Suci adalah mengajak orang untuk mengkaji alam dan memaparkan fenomena alam sebagai ayat-ayat Allah. Namun ajakan untuk mengkaji alam tidak berarti mengalihkan perhatian orang dari segala sesuatu yang tak ada hubungannya dengan alam. Ajakan untuk mengkaji fenomena alam sebagai ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan—pen.) Allah SWT justru berarti melangkah dari alam menuju yang di luar alam, dan dari yang kasat mata ke yang dapat dimengerti akal.
Arti penting karya Nabi Muhammad saw terletak pada fakta bahwa di samping mengajak orang untuk mengkaji alam, sejarah dan masyarakat, Nabi Muhammad saw juga meyakinkan orang-orang yang hanya mau menerima yang supranatural untuk mau menerima akal, logika dan ilmu pengetahuan juga. Nabi saw juga berupaya membuat orang-orang yang keranjingan akal dan logika, dan maunya hanya menerima yang natural dan yang lahiriah saja untuk mengenal logika yang lebih tinggi juga.
Perbedaan pokok antara dunia yang dikemukakan oleh agama sebagai keseluruhan, dan khususnya Islam, dan dunia yang digambarkan filsafat dan ilmu pengetahuan murni, adalah bahwa, seperti dikatakan William James, dalam konstruksi dunia agama, unsur-unsur lain tertentu hilang di samping unsur-unsur material dan hukum-hukum yang lazim dikenal manusia.
Al-Qur'an Suci tak mau mengalihkan perhatian orang dari hal-hal alamiah dan lahiriah ke hal-hal supranatural dan non-lahiriah. Nilai penting Al-Qur'an Suci terletak pada fakta bahwa di samping memperhatikan hal-hal yang alamiah atau, dalam kata-kata Al-Qur'an Suci, nyata, Al-Qur'an juga menempatkan iman kepada yang gaib di garis terdepan ajarannya. Al-Qur'an memfirmankan:
Kitab (Al-Qur'an) ini tak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang takwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib. (QS. al-Baqarah: 2-3)
Mana mungkin Al-Qur'an Suci mengalihkan perhatian orang dari yang supranatural padahal Al-Qur'an itu sendiri adalah mukjizat (yang juga supranatural—pen.), dan sedemikian banyak mukjizat lainnya dipaparkan dalam lebih dari seratus ayatnya.
Kami tak dapat memahami apa maksud perkataan bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya mukjizat yang bukan saja diimani oleh orang-orang yang mempercayai hal-hal yang supranatural.
Percaya yang bagaimana? Apakah maksud si penulis adalah percaya bahwa Al-Qur'an adalah sebuah kitab yang isinya sangat bemilai dan tinggi, atau percaya bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat? Percaya bahwa sesuatu itu mukjizat, dalam pengertian bahwa itu adalah mukjizat Allah, berarti mempercayai kesupranaturalannya. Mana mungkin seseorang mempercayai mukjizat dan sekaligus tidak mempercayai sesuatu yang supranatural?
Sudah disebutkan bahwa mukjizat Nabi Muhammad saw bukan bagian dari masalah-masalah non-manusiawi, sekalipun mukjizat Nabi saw itu merupakan suatu karya non-manusiawi. Bagi kami, makna pernyataan ini juga tidak jelas, karena dapat ditafsirkan dengan dua cara: pertama, bisa berarti bahwa Al-Qur'an yang merupakan kitab wahyu, yang penyusunnya bukan Nabi Muhammad saw, merupakan suatu karya non-manusiawi. Namun, sekalipun Al-Qur'an merupakan firman Allah, bukan kata-kata manusia, namun Al-Qur'an termasuk dalam kategori masalah-masalah manusiawi dan merupakan suatu karya biasa, seperti karya-karya manusiawi lainnya.
Kelihatannya mustahil kalau ini yang dimaksud si penulis, karena kalau pandangan ini diterima, maka Al-Qur'an tak ada bedanya dengan kitab-kitab wahyu lainnya. Kitab-kitab wahyu lainnya juga berasal dari sumber wahyu yang sama. Namun karena kitab-kitab tersebut tak ada aspek supranaturalnya, maka tidak termasuk dalam kategori karya supra-manusiawi.
Ada kategori sabda Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan sebutan hadis Qudsi. Sabda-sabda ini merupakan wahyu Allah meski tidak mukjizat dan juga tidak supra-manusiawi. Al-Qur'an Suci beda dengan kitab-kitab wahyu lainnya dan beda dengan hadis Qudsi karena Al-Qur'an supra-manusiawi. Al-Qur'an adalah wahyu, supra-manusiawi dan supranatural. Itulah sebabnya Al-Qur'an menyebutkan:
Katqkanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. al-Isrâ’: 88)
Interpretasi lain mengenai wahyu tersebut di atas bisa berupa, bahwa tak seperti mukjizat nabi-nabi lainnya seperti mengubah tongkat menjadi ular besar dan menghidupkan mayat—dan kedua perbuatan ini bukan tergolong perbuatan manusia—mukjizat Nabi Muhammad saw, yang berupa kepiawaian berbicara, tergolong perbuatan manusia, meski tetap supra-manusia, karena sumbernya adalah sumber supranatural. Kalau interpretasi ini yang dimaksud, maka paparan ini sendiri merupakan pengakuan bahwa ada yang supranatural dan yang luar biasa, dan bahwa ada hal-hal yang gaib. Kemudian mengapa kita menganggap mukjizat seakan-akan sesuatu yang bersifat mitos dan irasional. Keriapa dari awal kita tidak membedakan saja antara mukjizat di satu pihak dan mitos serta takhayul di lain pihak, sehingga orang-orang yang kurang tahu, kesannya tentang mukjizat jangan sampai seperti yang tidak kita kehendaki. Kenapa bukannya mengatakan dengan jelas dan apa adariya bahwa kitabnya Nabi Muhammad saw (Al-Qur'an—pen.) adalah sebuah mukjizat, tetapi malah secara tak langsung mengatakan bahwa mukjizat Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur'an?
Dalam salah satu karya terakhir penulis ini juga dimuat sebuah artikel dengan judul "Al-Qur'an dan Komputer". Artikel ini dapat dianggap sebagai koreksi atas pandangannya sebelumnya mengenai kemukjizatan Al-Qur'an Suci dan sebagai tanda perkembangan gradual pemikirannya.
Dalam artikel ini dia mengusulkan supaya huruf-huruf Al-Qur'an diganti saja dengan karakter-karakter komputer, dan supaya digunakan manifestasi luar biasa dari budaya manusia ini (komputer—pen.) untuk menggali ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur'an. Ini merupakan usulan yang bagus dan tepat waktu. Penulis menyinggung upaya-upaya yang telah dan tengah dilakukan oleh beberapa sarjana Mesir dan Iran di bidang ini. Penulis juga berwacana dengan menarik dalam Bab "Bagaimana Membuktikan Bahwa Al-Qur'an Tak Dapat Ditiru." Dalam artikel ini penulis merujuk sebuah buku berharga yang berjudul "Proses Perkembangan Al-Qur'an", yang belakangan ini telah terbit. Dalam buku itu, sang penulis membuktikan bahwa ukuran dan panjang ayat dan kata-kata yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dalam dua puluh tiga tahun membentuk suatu garis lengkung yang akurat dan teratur. Mengomentari temuan yang digali dari Al-Qur'an, penulis mengatakan, "Adakah di dunia ini orang yang kalimat-kalimatnya dapat diketahui kapan diucapkan dengan melihat panjang kalimatnya, khususnya bila kalimat-kalimat ini tidak berupa teks buku sastra atau ilmiah, yang dibuat oleh seorang penulis dengan cara yang konsisten? Namun, itu merupakan kalimat-kalimat yang dari waktu ke waktu keluar dari mulut seseorang dalam periode panjang dua puluh tiga tahun kehidupannya yang sibuk. Kalimat-kalimat itu tidak membentuk sebuah buku yang ditulis dengan pokok masalah khusus, juga bahkan tidak ada kaitannya dengan bidang yang sudah dikonsepsikan sebelumnya. Kalimat-kalimat itu meliput beragam persoalan yang mencuat dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Sebagiannya menjawab pertanyaan-pettanyaan tertentu yang diajukan, dan sebagiannya lagi membahas problem-problem yang muncul selama suatu perjuangan panjang. Kalimat-kalimat itu diwahyukan kepada seorang pemimpin besar, lalu di kemudian hari dihimpun serta disusun."
Fakta bahwa Kitab suci (Al-Qur'an—pen.) merupakan mukjizat Nabi terakhir saw, sungguh selaras dengan zamannya, zaman kemajuan ilmu pengetahuan, budaya dan pendidikan. Keabadian Al-Qur'an Suci juga sesuai dengan keabadian pesannya yang tak akan pernah dicabut.
Dalam beberapa ayat Al-Qur'an dengan tegas disebutkan aspek supra-manusiawi dan luar biasa ini. Salah satunya mengatakan:
Dan jika hamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan hepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (sajaj yang semisal Al-Qur'an itu. (QS. al-Baqarah: 23)
Al-Qur'an juga dengan jelas menyebutkan beberapa mukjizat lain Nabi terakhir saw. Al-Qur'an Suci berbicara panjang lebar mengenai sejumlah masalah yang berkaitan dengan mukjizat. Al-Qur'an menyatakan bahwa risalah Allah SWT harus disertai mukjizat, bahwa mukjizat merupakan bukti kuat dan pasti, bahwa nabi dapat melakukan perbuatan mukjizat atas kehendak Allah dan untuk membuktikan kebenaran pernyataannya, dan bahwa nabi tidak harus mengabulkan setiap permintaan orang akan mukjizat. Dengan kata lain, nabi tidak diharapkan memamerkan mukjizat atau memproduksi mukjizat.
Di samping membahas soal-soal ini, Al-Qur'an Suci juga dengan jelas menceritakan kisah mukjizat banyak Nabi seperti Nuh as, Ibrahim as, Luth as, Saleh as, Hud as, Musa as dan Isa as, dan memperkuat kisah-kisah itu.
Sebagian orientalis dan pendeta Nasrani, berdasarkan ayat-ayat yang menolak permintaan kaum musyrik agar Nabi Muhammad saw memperlihatkan mukjizat yang mereka minta, mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw menyatakan kepada kaumnya bahwa mukjizatnya tak lain adalah Al-Qur'an Suci, dan kalau mereka tak mau menerimanya, maka dia tak dapat berbuat apa-apa lagi. Beberapa penulis Muslim yang "berpandangan terbuka" juga menerima pandangan ini, dan ketika menjelaskan pandangan ini, mereka mengatakan bahwa mukjizat merupakan argumen yang hanya dapat meyakinkan manusia yang belum matang yang mencari sesuatu yang luar biasa dan fantastis. Manusia yang sudah matang tak akan terkesan dengan hal-hal seperti itu. Yang menjadi perhatian manusia yang sudah matang hanyalah hal-hal yang rasional. Mengingat zaman Nabi Muhammad saw adalah zaman rasionalitas, bukan zaman mitos dan fantasi, maka dia, dengan kehendak Allah, tak mau menerima permintaan akan mukjizat selain Al-Qur'an Suci. Seorang penulis mengatakan, "Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw mau tak mau harus menggunakan mukjizat, karena pada zaman itu nabi-nabi nyaris mustahil dapat meyakinkan orang dengan menggunakan argumen rasional. Ketika Nabi Muhammad saw datang, manusia sudah melewati periode kanak-kanak (belum matang)-nya. Manusia sudah sampai pada tahap kematangan pikirannya. Yang kemarin anak, sekarang sudah tak lagi bergantung pada ibunya dan sudah mampu berdiri sendiri serta menggunakan otaknya. Dalam kondisi seperti itu pantaslah kalau Nabi Muhammad saw menentang tekanan kaum kafir, dan lawan-lawannya yang menghendaki mukjizatnya. Untuk membuktikan kebenaran misinya, Nabi Muhammad saw hanya bersandar pada argumen rasional dan bukti sejarah. Kendatipun kaum kafir bersikeras, namun Nabi Muhammad saw, atas perintah Allah, tak mau memperlihatkan tindakan mukjizat seperti yang dilakukan para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad saw hanya bersandar pada Al-Qur'an Suci sebagai mukjizat yang tiada taranya. Bahwa Al-Qur'an Suci tak ada tandingannya itu sendiri sudah merupakan bukti nnalitas kenabian. Mukjizat tersebut adalah sebuah kitab yang berisi kebenaran, ajaran dan petunjuk yang sungguh cocok dengan semua aspek kehidupan. Kitab tersebut merupakan mukjizat yang cocok untuk manusia yang sudah matang, bukan untuk manusia yang masih kanak-kanak yang mempercayai mitos dan dongeng.
Apa yang disebut penulis Muslim "berpandangan terbuka" itu menambahkan, "Asmosfer kehidupan manusia purba selalu penuh dengan mitos, cerita kosong dan pikiran supranatural." Karena itu, yang mengesankan manusia purba hanyalah hal-hal yang tak dapat diterima akal sehat dan yang tak dapat dimengerti. Itulah sebabnya sepanjang sejarahnya umat manusia menyukai hal-hal yang aneh dan mencari hal-hal yang supranatural. Sikap emosional terhadap apa yang tak dapat dimengerti dan yang tak dapat diterima akal sehat ini lebih kuat di kalangan manusia yang semakin tidak beradab.
Bila manusia semakin dekat dengan alam, maka dia semakin menyukai hal-hal yang supranatural. Mitos merupakan produk situasi seperti ini. Manusia gurun selalu mencari keajaiban. Dunianya penuh dengan roh dan misteri besar. Itulah sebabnya bukan saja nabi, namun juga raja, pahlawan dan orang arif setiap bangsa, menggunakan sesuatu yang supranatural untuk memperkuat klaim mereka. Dalam keadaan seperti ini, nabi yang misinya didasarkan pada hal yang nyata (kasat mata), kemudian lebih menggunakan mukjizat, karena pada periode sejarah ini kejadian supranatural lebih efektif ketimbang logika, ilmu pengetahuan dan fakta yang tak terbantahkan."
Namun, kehidupan Nabi Muhammad saw merupakan kekecualian. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa mukjizatnya adalah Al-Qur'an. Pernyataan ini dilontarkan di tengah masyarakat, di sebuah kota perdagangan yang terbesar, di kota ini orang yang tahu seni menulis tak lebih dari tujuh orang. Yang jadi pikiran masyarakat ini hanyalah berbual, bersombong diri, berbesar mulut, pedang, onta dan anak laki-laki. Bahwa di tengah masyarakat ini Nabi Muhammad saw memaklumkan mukjizatnya adalah Al-Qur'an, ini sendiri sudah merupakan mukjizat. Nabi Muhammad saw memaklumkan ini di sebuah negara yang belum pernah ada Kitab samawinya. Tuhannya, Allah, Sang Pencipta bersumpah dengan tinta, pena dan tulisan kepada kaum yang memandang pena sebagai alat bagi segelintir orang lemah tak berdaya. Ini sendiri sudah merupakan mukjizat. Dan mukjizat yang senantiasa dapat dilihat hanyalah kitab samawi itu. Tidak seperti mukjizat lainnya, Al-Qur'an Suci merupakan satu-satunya mukjizat yang karakternya yang luar biasa dapat lebih diapresiasi dan dipahami dengan lebih tepat oleh orang-orang yang lebih arif dan lebih berpengetahuan dalam masyarakat yang maju dan berbudaya.
Al-Qur'an Suci merupakan satu-satunya mukjizat yang bukan saja dipercaya oleh orang-orang yang mempercayai hal-hal yang supranatural. Kesupranaturalan Al-Qur'an Suci diakui oleh orang yang berpengetahuan luas. Kemukjizatan Al-Qur'an Suci bukan saja bagi orang biasa. Kemukjizatan Al-Qur'an Suci juga bagi kaum cerdik cendekia. Tidak seperti mukjizat lainnya, Al-Qur'an Suci tidak dimaksudkan untuk menggugah decak kagum orang yang membacanya, dan juga tidak dimaksudkan untuk meyakinkan mereka agar, setelah mengaguminya, menerima pesannya. Al-Qur'an Suci dimaksudkan untuk mendidik orang-orang yang mau menerimanya. Al-Qur'an Suci merupakan pesan (risalah) itu sendiri. Mukjizat Nabi Muhammad saw, meskipun bukan produk manusia, bukanlah sesuatu yang tak ada kaitannya dengan umat manusia. Tidak seperti mukjizat sebelumnya, Al-Qur'an Suci bukanlah alat yang digunakan sekadar untuk membuat orang percaya dan tak ada manfaat lainnya. Namun mukjizat Nabi Muhammad saw ini merepresentasikan semacam manifestasi kecakapan dan kekuatan tertinggi manusia. Juga merupakan sebaik-baik model untuk praktik dan pendidikan, dan karena itu sebuah model yang selalu dapat diakses.
Nabi Muhammad saw mencoba mengalihkan rasa ingin tahu manusia, dari masalah-masalah yang luar biasa dan supranatural ke masalah-masalah yang logis, rasional, intelektual, sosial dan moral. Tugas beliau saw tidaklah ringan, khususnya kalau melihat kenyataan bahwa kaum yang dihadapinya hanya mau menerima hal-hal yang supranatural. Sungguh mengherankan bagaimana dia menyebut dirinya Nabi, mengajak orang untuk menerima risalah Ilahiah-nya dan sekaligus mengakui secara formal bahwa dia tidak mengetahui hal-hal yang "gaib". Terlepas dari nilai manusiawi pengakuan ini, yang mencolok adalah kebenaran luar biasa yang terasakan dalam perbuatannya dan yang memaksa setiap had untuk hormat dan kagum kepadanya. Sebagian orang meminta dia untuk meramalkan harga yang dapat dicapai barang mereka agar mereka dapat membuat rencana sehingga dapat memperoleh untung.
Al-Qur'an Suci menyuruh Nabi untuk mengatakan:
Aku tidak berkuasa menarik manfaat bagi diriku dan tidak (pula) menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa mudarat. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. al-A'râf: 188)
Seorang nabi yang tak dapat membuat ramalan, yang tidak bicara dengan roh, peri dan jin, dan yang tidak berbuat mukjizat setiap hari, tak ada gunanya di mata orang gurun. Nabi Muhammad saw mengajak mereka untuk memperhatikan alam semesta, takwa, lurus dan beriman, untuk mencari pengetahuan dan untuk memahami makna kehidupan dan takdir, namun mereka selalu saja meminta dia untuk memperlihatkan mukjizat dan membuat ramalan. Di lain pihak Allah mendorong dia untuk mengatakan:
Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi Rasul? (QS. Al-Isrâ': 93)
Orang-orang yang menafikkan kejadian-kejadian mukjizat terutama bersandar pada ayat-ayat yang mengatakan:
Dan mereka berhata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari etnas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah Kitab yang kami baca." Katakanlah: "Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?" (QS. al-Isrâ': 90-93)
Mereka mengatakan bahwa ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrik meminta Nabi Muhammad saw untuk memperlihatkan mukjizat selain Al-Qur'an, namun Nabi saw menolak permintaan mereka.
Sayangnya, teori ini tak dapat kami terima, khususnya kalau melihat poin-poin yang disebutkan di atas, dan kalau melihat paparan kami mengenai keunggulan Al-Qur'an Suci terhadap mukjizat-mukjizat lainnya. Menurut kami, poin-poin yang dapat dipertanyakan itu adalah:
(1) Mukjizat Nabi Muhammad saw hanyalah Al-Qur'an Suci. Nabi saw tak mau memenuhi permintaan kaum musyrik yang menghendaki Nabi saw memperlihatkan beberapa mukjizat lainnya. Ayat-ayat surah al-Isrâ' itu membuktikan poin ini.
(2) Adapun nilai dan efektivitas mukjizat, dapat dikatakan bahwa mukjizat cocok untuk periode ketika umat manusia belum matang, yaitu ketika nalar dan logika belum jalan. Bahkan orang arif dan raja harus menggunakan hal-hal supranatural untuk menjustifikasi diri mereka. Para nabi juga menggunakan hal-hal supranatural untuk meyakinkan kaum mereka. Nabi Muhammad
saw, yang mukjizatnya adalah Al-Qur'an Suci, merupakan kekecualian. Nabi saw menjustifikasi dirinya dengan menggunakan Al-Qur'an Suci atau dengan nalar dan logika.
(3) Nabi Muhammad saw mencoba mengalihkan perhatian kaumnya dari masalah-masalah supranatural ke masalah-masalah rasional dan logika, dan mencoba mengalihkan kepekaan mereka dari hal-hal yang ajaib ke hal-hal yang aktual dan faktual.
Mari kita bahas satu persatu poin-poin yang diajukan oleh para penentang mukjizat. Betulkah Nabi Muhammad saw mukjizatnya hanya Al-Qur'an saja? Terlepas dari kenyataan bahwa pandangan ini tak dapat diterima bila dilihat dari segi sejarah dan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sumber-sumber tepercaya, pandangan ini justru bertentangan dengan Al-Qur'an sendiri. Mukjizat terbelahnya bulan disebutkan dalam Al-Qur'an Suci itu sendiri. Misal saja seseorang memandang remeh arti ayat yang menyebutkan mukjizat ini, sekalipun tak dapat dijelaskan, lantas bagaimana menjelaskan kisah mi'râj Nabi Muhammad saw yang disebutkan dalam Surah al-Isrâ'? Dengan tegas Al-Qur'an Suci mengatakan:
Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. al-Isrâ': 1)
Apakah peristiwa ini bukan peristiwa supranatural dan bukan mukjizat? Dalam Surah at-Tahrîm disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw mengemukakan sebuah rahasia kepada salah seorang istrinya. Istrinya ini kemudian membuka rahasia itu kepada istri Nabi saw yang lain. Nabi saw bertanya kepada istri pertamanya, kenapa membuka rahasia kepada istri keduanya, dan kenapa menceritakan sebagian pembicaraan yang terjadi antara keduanya. Istri pertama ini terkejut, lalu bertanya kepada Nabi saw bagaimana Nabi saw bisa tahu semua itu. Nabi Muhammad saw menjawab bahwa Allah memberitahukan kepadanya tentang kejadian itu. Ketika Nabi saw menceritakan sebuah rahasia kepada salah seorang istrinya, dan ketika istrinya itu kemudian membeberkan rahasia itu, dan Allah memberitahukan kepada Nabi saw tentang kejadian itu, dan Nabi saw memberitahukan kepada istrinya itu sebagiannya saja. Dan ketika Nabi saw menceritakannya kepada istrinya. Si istri berkata, "Kata siapa?" Nabi saw berkata, "Yang Mahatahu yang telah memberitahuku." Bukankah ini berarti Nabi saw menceritakan hal yang gaib? Bukankah ini mukjizat? Apa yang disebutkan dalam surah al-Isrâ': 90-93, dan beberapa ayat lainnya sama sekali tidak menunjukkan apa yang disimpulkan dari ayat itu. Kaum musyrik tidak minta bukti kenabian dan ayat dengan tujuan mendapatkan kepuasan. Sesungguhnya mereka minta sesuatu yang lain. Ayat-ayat ini dan juga surah al-‘Ankabût: 50, banyak menjelaskan mentalitas khas kaum musyrik yang rupanya meminta mukjizat. Ayat-ayat ini juga menjelaskan filosofi Al-Qur'an Suci tentang mukjizat para nabi.
Dalam surah al-Isrâ’, kaum musyrik mengawali pembicaraannya dengan mengatakan, "Kami sekali-kali tak akan mempercayaimu sampai kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami." Ini cuma sebuah transaksi. Kemudian mereka mengatakan, "Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, ataukamu mempunyai sebuah rumah yang penuh emas, sehingga kami bisa berbagi denganmu." Ini lagi-lagi merupakan transaksi, karena mereka menginginkan semua ini untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengatakan, "Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana menurutmu akan jatuh pada Hari Kiamat." Ini adalah meminta hukuman dan akhir segalanya, sekalipun rupanya mereka meminta mukjizat. "Atau kamu naik he langit, atau kamu bawa Allah dan para malaikat ke hadapan kami." (QS al-Isrâ’: 90-93) Ini lagi-lagi adalah transaksi, kendatipun kali ini mereka tak meminta kekayaan, melainkan minta sesuatu yang dapat mereka banggakan. Namun mereka mengabaikan fakta bahwa mustahil mengabulkan per-mintaan mereka.
Kata-kata yang digunakan kaum musyrik itu sesungguhnya luar biasa. Mereka tidak mengatakan, "Lan nu'mina bika", yaitu kami tak akan mempercayaimu. Yang mereka katakan adalah, "Lan nu'mina laka", yang artinya adalah kami tak akan bergabung denganmu yang akan menguntungkanmu. Perbedaan makna ini sudah disebutkan oleh ahli-ahli ushul fiqih ketika menjelaskan ungkapan-ungkapan yang sama dalam surah at-Taubah: 61.
Dari bagaimana kaum musyrik itu mengajukan permintaan terlihat jelas niat mereka. Mereka minta Nabi saw untuk memancarkan mata air dari bumi untuk mereka sebagai imbalan untuk dukungan dan kepercayaan mereka kepada Nabi saw. Jelaslah ini adalah meminta upah dan bukan meminta bukti dan mukjizat. Nabi saw datang untuk membuat orang jadi beriman, bukan untuk membeli pandangan dan iman mereka.
Penulis yang kami kutip di atas itu sendiri mengatakan, "Kaum musyrik itu meminta Nabi saw untuk meramalkan harga yang dapat dicapai oleh barang mereka, sehingga mereka dapat memperoleh untung." Jelaslah permintaan akan mukjizat ini bukan untuk mengetahui kebenaran. Mereka ingin memanfaatkan Nabi saw sebagai sarana untuk mendapatkan uang. Tentu saja jawaban Nabi saw adalah, "Kalau saja aku tahu hal gaib, tentu aku sudah menggunakannya untuk mendapatkan banyak keuntungan di dunia ini." Jelaslah mukjizat tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan seperti itu. "Aku adalah seorang Nabi. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita baik kepada orang-orang yang beriman."
Kaum musyrik itu menganggap Nabi saw akan memperlihatkan mukjizat kalau diminta kapan pun dan untuk tujuan apa pun. Itulah sebabnya mereka menginginkan Nabi memancarkan mata air dari bumi, memiliki rumah emas, dan meramalkan harga pasar. Namun, faktanya adalah bahwa mukjizat tak ubahnya seperti wahyu. Terjadinya mukjizat bergantung pada "sana", bukan pada "sini". Wahyu tidak mengikuti kemauan Nabi. Wahyu merupakan proses yang mempengaruhi kehendak Nabi. Begitu pula dengan mukjizat. Mukjizat juga merupakan proses yang berasal dari "sana" dan mempengaruhi kehendak Nabi, kendatipun yang melakukan aksi mukjizat tersebut adalah Nabi. Itulah arti kata "atas kehendak Allah" dalam kaitannya dengan wahyu dan mukjizat:
Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata. (QS. al-‘Ankabût: 50)
Ayat ini telah disalahtafsirkan oleh misionaris Kristen. Begitu pula dengan pengungkapan hal gaib secara mukjizat. Sejauh menyangkut personalitas Nabi saw, dia tidak tahu hal gaib. Al-Qur'an Suci mengatakan, "Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat, juga aku tidak tahu hal gaib."
Namun ketika dalam pengaruh supranatural, Nabi saw menuturkan hal gaib, dan ketika ditanya dari mana dia tahu, dia menjawab bahwa Allah Yang Mahatahu telah memberitahunya.
Ketika Nabi saw mengatakan tidak tahu hal gaib, dan kalau dia tahu tentu dia akan mendapat banyak uang dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang yang gaib, dia ingin menyangkal dugaan keliru kaum musyrik. Dia menjelaskan bahwa pengetahuan tentang yang gaib merupakan bagian dari mukjizat, dan dia menerima pengetahuan seperti itu hanya melalui wahyu Allah. Seandainya pengetahuannya tentang yang gaib itu otomatis dan seandainya dapat memanfaatkannya untuk tujuan yang dikehendakinya, tentu dia sudah memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri, dan tak akan menyebutkan harga pasar ke depan kepada orang lain yang akan menguntungkan mereka saja.
Dalam ayat lain disebutkan pula, yang artinya:
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak mempertihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuati kepada Rasul yang dipilih-Nya. (QS. al-Jin: 26-27)
Nabi Muhammad saw tentu saja adalah Rasul pilihan-Nya. Kemudian, Al-Qur'an Suci menceritakan banyak mukjizat nabi-nabi sebelumnya seperti Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Lantas mana mungkin Nabi saw, ketika diminta memperlihatkan mukjizat seperti mukjizat nabi-nabi sebelumnya, mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang diutus sebagai Rasul? Apakah kaum musyrik itu tidak berhak menjawab, "Anda sendiri dengan fasih menguraikan mukjizat nabi-nabi sebelumnya. Apakah mereka itu bukan manusia atau apakah mereka itu bukan Nabi?" Mungkinkah kontradiksi yang mencolok seperti itu ada dalam Al-Qur'an Suci? Apakah dapat dibayangkan bahwa kaum musyrik itu tidak melihat kontradiksi yang mencolok seperti itu?
Seandainya pikiran orang-orang yang "berpandangan terbuka" ini benar, tentu yang dikatakan Nabi saw bukan "Mahasuci Allah, aku hanyalah seorang manusia yang menjadi Rasul", tetapi "Mahasuci Allah, karena aku Nabi terakhir, maka aku tak termasuk dalam norma yang berlaku pada nabi-nabi lain. Karena itu jangan suruh aku melakukan apa yang nabi-nabi lain diminta untuk melakukannya." Namun Nabi saw tidak mengatakan begitu. Nabi saw justru mengatakan, "Aku adalah seorang Rasul seperti rasul-rasul lainnya."
Ini menunjukkan bahwa yang diminta kaum musyrik dari Nabi Muhammad saw bukanlah mukjizat dengan tujuan untuk menemukan kebenaran. Mereka meminta sesuatu yang lain, dan permintaan mereka itu sedemikian rupa sehingga Nabi saw tak mengabulkannya. Itulah sebabnya Nabi saw tak mau mengabulkan permintaan arogan dan egois mereka. Sebenamya mereka meminta sesuatu yang mustahil.
Memang orang biasa suka merekayasa cerita
Nilai dan Efek Mukjizat
Apa nilai mukjizat? Ahli logika dan ahli filsafat membagi materi yang digunakan untuk memperdebatkan urusan menjadi beberapa jenis. Sebagian argumen ada nilai tahkiknya. Argumen-argumen tersebut sangat kuat, seperti yang terjadi pada data yang digunakan ahli matematika. Sebagian argumen lainnya hanya memiliki nilai persuasif, seperti yang terjadi pada argumen-argumen yang diajukan ahli retorika. Namun sepanjang tidak dianalisis, argumen-argumen seperti itu ternyata sangat mengesankan. Sebagian argumen lainnya semata-mata emosional atau ada nilainya yang lain.
Nilai Mukjizat Menurut Al-Qur'an
Al-Qur'an Suci menggambarkan mukjizat para nabi sebagai tanda dan bukti yang kuat, dan memandangnya sebagai bukti yang meyakinkan dan logis tentang eksistensi Allah. Al-Qur'an Suci juga menganggap alam semesta sebagai bukti eksistensi-Nya yang tak terbantahkan. Al-Qur'an Suci membicarakan dengan saksama masalah mukjizat. Al-Qur'an memandang permintaan orang akan mukjizat dan ketaksudian mereka menerima nabi kecuali kalau mereka sudah menyaksikan mukjizatnya, dapat dibenarkan dan masuk akal, asalkan permintaan tersebut bukan untuk maksud-maksud tersembunyi atau sekadar iseng. Dengan fasih Al-Qur'an Suci membawakan banyak kisah tentang jawaban praktis para nabi terhadap permintaan-permintaan seperti itu. Al-Qur'an Suci tak pernah menunjukkan bahwa mukjizat hanyalah argumen persuasif yang cocok untuk orang bodoh dan untuk periode ketika manusia masih belum matang. Al-Qur'an Suci justru menyebut mukjizat sebagai bukti yang nyata.
Karakter Petunjuk Nabi saw
Mukjizat "Nabi terakhir" yang berupa Al-Qur'an, sebuah Maha-karya sastra dan sebuah khazanah budaya dan ilmu pengetahuan, merupakan mukjizat yang abadi. Banyak di antara segi-segi mukjizat Al-Qur'an berangsur-angsur mulai terungkap. Sebagian segi luar biasa dari Al-Qur'an yang kini telah diketahui oleh manusia di zaman kita, di masa lalu tidak diketahui dan tak dapat diketahui. Nilai mukjizat-Al-Qur'an lebih dimengerti oleh pemikir ketimbang orang biasa. Memang mukjizat ini, berkat nilai-nilai khususnya, cocok untuk periode akhir kenabian. Namun apakah juga benar bahwa mukjizat ini memiliki karakter sebuah kitab lantaran antara lain dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian manusia dari masalah gaib ke masalah nyata, dari masalah yang tidak rasional ke masalah yang rasional dan logis, dan dari masalah supranatural ke masalah natural? Apakah Nabi Muhammad saw berupaya mengalihkan rasa ingin tahu orang dari masalah-masalah yang luar biasa dan supranatural ke masalah-masalah yang rasional, logis, intelektual, ilmiah, sosial dan moral, dan berupaya mengalihkan rasa ingin tahu mereka dari masalah yang luar biasa ke realitas? Kelihatan itu tidak benar. Andaikata benar, berarti para nabi lainnya mengajak orang untuk memperhatikan masalah-masalah gaib, dan hanya Nabi Muhammad saw sajalah yang mengajak orang untuk memperhatikan masalah-masalah nyata. Kalau memang begini, kenapa sampai ratusan ayat Al-Qur'an Suci memaparkan tentang mukjizat?
Memang benar, salah satu karakter pokok Al-Qur'an Suci adalah mengajak orang untuk mengkaji alam dan memaparkan fenomena alam sebagai ayat-ayat Allah. Namun ajakan untuk mengkaji alam tidak berarti mengalihkan perhatian orang dari segala sesuatu yang tak ada hubungannya dengan alam. Ajakan untuk mengkaji fenomena alam sebagai ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan—pen.) Allah SWT justru berarti melangkah dari alam menuju yang di luar alam, dan dari yang kasat mata ke yang dapat dimengerti akal.
Arti penting karya Nabi Muhammad saw terletak pada fakta bahwa di samping mengajak orang untuk mengkaji alam, sejarah dan masyarakat, Nabi Muhammad saw juga meyakinkan orang-orang yang hanya mau menerima yang supranatural untuk mau menerima akal, logika dan ilmu pengetahuan juga. Nabi saw juga berupaya membuat orang-orang yang keranjingan akal dan logika, dan maunya hanya menerima yang natural dan yang lahiriah saja untuk mengenal logika yang lebih tinggi juga.
Perbedaan pokok antara dunia yang dikemukakan oleh agama sebagai keseluruhan, dan khususnya Islam, dan dunia yang digambarkan filsafat dan ilmu pengetahuan murni, adalah bahwa, seperti dikatakan William James, dalam konstruksi dunia agama, unsur-unsur lain tertentu hilang di samping unsur-unsur material dan hukum-hukum yang lazim dikenal manusia.
Al-Qur'an Suci tak mau mengalihkan perhatian orang dari hal-hal alamiah dan lahiriah ke hal-hal supranatural dan non-lahiriah. Nilai penting Al-Qur'an Suci terletak pada fakta bahwa di samping memperhatikan hal-hal yang alamiah atau, dalam kata-kata Al-Qur'an Suci, nyata, Al-Qur'an juga menempatkan iman kepada yang gaib di garis terdepan ajarannya. Al-Qur'an memfirmankan:
Kitab (Al-Qur'an) ini tak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang takwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib. (QS. al-Baqarah: 2-3)
Mana mungkin Al-Qur'an Suci mengalihkan perhatian orang dari yang supranatural padahal Al-Qur'an itu sendiri adalah mukjizat (yang juga supranatural—pen.), dan sedemikian banyak mukjizat lainnya dipaparkan dalam lebih dari seratus ayatnya.
Kami tak dapat memahami apa maksud perkataan bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya mukjizat yang bukan saja diimani oleh orang-orang yang mempercayai hal-hal yang supranatural.
Percaya yang bagaimana? Apakah maksud si penulis adalah percaya bahwa Al-Qur'an adalah sebuah kitab yang isinya sangat bemilai dan tinggi, atau percaya bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat? Percaya bahwa sesuatu itu mukjizat, dalam pengertian bahwa itu adalah mukjizat Allah, berarti mempercayai kesupranaturalannya. Mana mungkin seseorang mempercayai mukjizat dan sekaligus tidak mempercayai sesuatu yang supranatural?
Sudah disebutkan bahwa mukjizat Nabi Muhammad saw bukan bagian dari masalah-masalah non-manusiawi, sekalipun mukjizat Nabi saw itu merupakan suatu karya non-manusiawi. Bagi kami, makna pernyataan ini juga tidak jelas, karena dapat ditafsirkan dengan dua cara: pertama, bisa berarti bahwa Al-Qur'an yang merupakan kitab wahyu, yang penyusunnya bukan Nabi Muhammad saw, merupakan suatu karya non-manusiawi. Namun, sekalipun Al-Qur'an merupakan firman Allah, bukan kata-kata manusia, namun Al-Qur'an termasuk dalam kategori masalah-masalah manusiawi dan merupakan suatu karya biasa, seperti karya-karya manusiawi lainnya.
Kelihatannya mustahil kalau ini yang dimaksud si penulis, karena kalau pandangan ini diterima, maka Al-Qur'an tak ada bedanya dengan kitab-kitab wahyu lainnya. Kitab-kitab wahyu lainnya juga berasal dari sumber wahyu yang sama. Namun karena kitab-kitab tersebut tak ada aspek supranaturalnya, maka tidak termasuk dalam kategori karya supra-manusiawi.
Ada kategori sabda Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan sebutan hadis Qudsi. Sabda-sabda ini merupakan wahyu Allah meski tidak mukjizat dan juga tidak supra-manusiawi. Al-Qur'an Suci beda dengan kitab-kitab wahyu lainnya dan beda dengan hadis Qudsi karena Al-Qur'an supra-manusiawi. Al-Qur'an adalah wahyu, supra-manusiawi dan supranatural. Itulah sebabnya Al-Qur'an menyebutkan:
Katqkanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. al-Isrâ’: 88)
Interpretasi lain mengenai wahyu tersebut di atas bisa berupa, bahwa tak seperti mukjizat nabi-nabi lainnya seperti mengubah tongkat menjadi ular besar dan menghidupkan mayat—dan kedua perbuatan ini bukan tergolong perbuatan manusia—mukjizat Nabi Muhammad saw, yang berupa kepiawaian berbicara, tergolong perbuatan manusia, meski tetap supra-manusia, karena sumbernya adalah sumber supranatural. Kalau interpretasi ini yang dimaksud, maka paparan ini sendiri merupakan pengakuan bahwa ada yang supranatural dan yang luar biasa, dan bahwa ada hal-hal yang gaib. Kemudian mengapa kita menganggap mukjizat seakan-akan sesuatu yang bersifat mitos dan irasional. Keriapa dari awal kita tidak membedakan saja antara mukjizat di satu pihak dan mitos serta takhayul di lain pihak, sehingga orang-orang yang kurang tahu, kesannya tentang mukjizat jangan sampai seperti yang tidak kita kehendaki. Kenapa bukannya mengatakan dengan jelas dan apa adariya bahwa kitabnya Nabi Muhammad saw (Al-Qur'an—pen.) adalah sebuah mukjizat, tetapi malah secara tak langsung mengatakan bahwa mukjizat Nabi Muhammad saw adalah Al-Qur'an?
Dalam salah satu karya terakhir penulis ini juga dimuat sebuah artikel dengan judul "Al-Qur'an dan Komputer". Artikel ini dapat dianggap sebagai koreksi atas pandangannya sebelumnya mengenai kemukjizatan Al-Qur'an Suci dan sebagai tanda perkembangan gradual pemikirannya.
Dalam artikel ini dia mengusulkan supaya huruf-huruf Al-Qur'an diganti saja dengan karakter-karakter komputer, dan supaya digunakan manifestasi luar biasa dari budaya manusia ini (komputer—pen.) untuk menggali ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Al-Qur'an. Ini merupakan usulan yang bagus dan tepat waktu. Penulis menyinggung upaya-upaya yang telah dan tengah dilakukan oleh beberapa sarjana Mesir dan Iran di bidang ini. Penulis juga berwacana dengan menarik dalam Bab "Bagaimana Membuktikan Bahwa Al-Qur'an Tak Dapat Ditiru." Dalam artikel ini penulis merujuk sebuah buku berharga yang berjudul "Proses Perkembangan Al-Qur'an", yang belakangan ini telah terbit. Dalam buku itu, sang penulis membuktikan bahwa ukuran dan panjang ayat dan kata-kata yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dalam dua puluh tiga tahun membentuk suatu garis lengkung yang akurat dan teratur. Mengomentari temuan yang digali dari Al-Qur'an, penulis mengatakan, "Adakah di dunia ini orang yang kalimat-kalimatnya dapat diketahui kapan diucapkan dengan melihat panjang kalimatnya, khususnya bila kalimat-kalimat ini tidak berupa teks buku sastra atau ilmiah, yang dibuat oleh seorang penulis dengan cara yang konsisten? Namun, itu merupakan kalimat-kalimat yang dari waktu ke waktu keluar dari mulut seseorang dalam periode panjang dua puluh tiga tahun kehidupannya yang sibuk. Kalimat-kalimat itu tidak membentuk sebuah buku yang ditulis dengan pokok masalah khusus, juga bahkan tidak ada kaitannya dengan bidang yang sudah dikonsepsikan sebelumnya. Kalimat-kalimat itu meliput beragam persoalan yang mencuat dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Sebagiannya menjawab pertanyaan-pettanyaan tertentu yang diajukan, dan sebagiannya lagi membahas problem-problem yang muncul selama suatu perjuangan panjang. Kalimat-kalimat itu diwahyukan kepada seorang pemimpin besar, lalu di kemudian hari dihimpun serta disusun."
TEMUAN ILMIAH TERBARU DAN AL QURAN
Dalam Surat al-Isra ayat ke-88, Allah menunjukkan keagungan Al Quran:
"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'" (QS. Al Isra: 88)
Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.
Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.
Sesuai dengan ayat "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:
"Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 1)
"… untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al Mu'min: 54)
Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.
Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah "firman Allah". Menurut ayat "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.
Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.
"Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (Surat Al Mulk: 3-4)
"Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini; niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'" (QS. Al Isra: 88)
Allah menurunkan Al Quran kepada manusia empat belas abad yang lalu. Beberapa fakta yang baru dapat diungkapkan dengan teknologi abad ke-21 ternyata telah dinyatakan Allah dalam Al Quran empat belas abad yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah salah satu bukti terpenting yang memungkinkan kita mengetahui keberadaan Allah.
Dalam Al Quran, terdapat banyak bukti bahwa Al Quran berasal dari Allah, bahwa umat manusia tidak akan pernah mampu membuat sesuatu yang menyerupainya. Salah satu bukti ini adalah ayat-ayat (tanda-tanda) Al Quran yang terdapat di alam semesta.
Sesuai dengan ayat "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushilat: 53), banyak informasi yang ada dalam Al Quran ini sesuai dengan yang ada di dunia eksternal. Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta dan karenanya memiliki pengetahuan mengenai semua itu. Allah juga yang telah menurunkan Al Quran. Bagi orang-orang beriman yang teliti, sungguh-sungguh, dan arif, banyak sekali informasi dan analisis dalam Al Quran yang dapat mereka lihat dan pelajari.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa Al Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan. Tujuan diturunkannya Al Quran adalah sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat-ayat berikut:
"Alif lam ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan Yang Mahakuasa lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 1)
"… untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir." (QS. Al Mu'min: 54)
Singkatnya, Allah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Al Quran menjelaskan kepada manusia cara menjadi hamba Allah dan mencari ridha-Nya.
Betapapun, Al Quran juga memberi informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam semesta, kelahiran manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan di langit dan di bumi. Kenyataan bahwa informasi dalam Al Quran tersebut sesuai dengan temuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal penting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al Quran adalah "firman Allah". Menurut ayat "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" (Surat an-Nisa: 82), terdapat keserasian yang luar biasa antara pernyataan di dalam Al Quran dan dunia eksternal.
Pada halaman-halaman berikut kita akan membahas kesamaan yang luar biasa antara informasi tentang alam semesta yang ada dalam Al Quran dan dalam ilmu pengetahuan.
"Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (Surat Al Mulk: 3-4)
Teori Dentuman Besar (Big Bang) Dan Ajarannya
Persoalan mengenai bagaimana alam semesta yang tanpa cacat ini mula-mula terbentuk, ke mana tujuannya, dan bagaimana cara kerja hukum-hukum yang menjaga keteraturan dan keseimbangan, sejak dulu merupakan topik yang menarik.
Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut "model alam semesta yang statis", alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.
Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.
Pendapat kaum materialis yang berlaku selama beberapa abad hingga awal abad ke-20 menyatakan, bahwa alam semesta memiliki dimensi tak terbatas, tidak memiliki awal, dan akan tetap ada untuk selamanya. Menurut pandangan ini, yang disebut "model alam semesta yang statis", alam semesta tidak memiliki awal maupun akhir.
Dengan memberikan dasar bagi filosofi materialis, pandangan ini menyangkal adanya Sang Pencipta, dengan menyatakan bahwa alam semesta ini adalah kumpulan materi yang konstan, stabil, dan tidak berubah-ubah. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-20 menghancurkan konsep-konsep primitif seperti model alam semesta yang statis. Saat ini, pada awal abad ke-21, melalui sejumlah besar percobaan, pengamatan, dan perhitungan, fisika modern telah mencapai kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal, bahwa alam diciptakan dari ketiadaan dan dimulai oleh suatu ledakan besar.
Selain itu, berlawanan dengan pendapat kaum materialis, kesimpulan ini menyatakan bahwa alam semesta tidaklah stabil atau konstan, tetapi senantiasa bergerak, berubah, dan memuai. Saat ini, fakta-fakta tersebut telah diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Sekarang, marilah kita lihat bagaimana fakta-fakta yang sangat penting ini dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.
"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Surat al-Hadid: 1-2)
Pemuaian Alam Semesta
Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson di California, seorang astronom Amerika bernama Edwin Hubble membuat salah satu temuan terpenting dalam sejarah astronomi. Ketika tengah mengamati bintang dengan teleskop raksasa, dia menemukan bahwa cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke ujung merah spektrum. Ia pun menemukan bahwa pergeseran ini terlihat lebih jelas jika bintangnya lebih jauh dari bumi. Temuan ini menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan hukum-hukum fisika yang diakui, spektrum sinar cahaya yang bergerak mendekati titik pengamatan akan cenderung ungu, sementara sinar cahaya yang bergerak menjauhi titik pengamatan akan cenderung merah. Pengamatan Hubble menunjukkan bahwa cahaya dari bintang-bintang cenderung ke arah warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut senantiasa bergerak menjauhi kita.
Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.
Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah "konstanta" untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai "kesalahan terbesar dalam kariernya".
Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?
Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa "satu titik tunggal" yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki "volume nol" dan "kepadatan tak terbatas". Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.
Harus dikatakan di sini bahwa "volume nol" adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep "ketiadaan", yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai "titik yang memiliki volume nol". Sebenarnya, "titik yang tidak memiliki volume" ini berarti "ketiadaan". Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.
Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:
"Dia Pencipta langit dan bumi." (QS. Al An'am:101)
Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.
Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (Surat Adz-Dzariyat:47)
Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.
Bukti "yang seharusnya ada" ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut "radiasi latar belakang" ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.
Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.
Tidak lama sesudah itu, Hubble membuat temuan penting lainnya: Bintang dan galaksi bukan hanya bergerak menjauhi kita, namun juga saling menjauhi. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dibuat tentang alam semesta yang semua isinya bergerak saling menjauhi adalah bahwa alam semesta itu senantiasa memuai.
Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang tengah ditiup. Sama seperti titik-titik pada permukaan balon akan saling menjauhi karena balonnya mengembang, benda-benda di angkasa saling menjauhi karena alam semesta terus memuai. Sebenarnya, fakta ini sudah pernah ditemukan secara teoretis. Albert Einstein, salah seorang ilmuwan termasyhur abad ini, ketika mengerjakan Teori Relativitas Umum, pada mulanya menyimpulkan bahwa persamaan yang dibuatnya menunjukkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Namun, dia mengubah persamaan tersebut, dengan menambahkan sebuah "konstanta" untuk menghasilkan model alam semesta yang statis, karena hal ini merupakan ide yang dominan saat itu. Di kemudian hari Einstein menyebut perbuatannya itu sebagai "kesalahan terbesar dalam kariernya".
Jadi, apakah pentingnya fakta pemuaian alam semesta ini terhadap keberadaan alam semesta?
Pemuaian alam semesta secara tidak langsung menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu titik tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa "satu titik tunggal" yang mengandung semua materi alam semesta ini pastilah memiliki "volume nol" dan "kepadatan tak terbatas". Alam semesta tercipta akibat meledaknya titik tunggal yang memiliki volume nol tersebut. Ledakan hebat yang menandakan awal terbentuknya alam semesta ini dinamakan Ledakan Besar (Big Bang), dan teori ini dinamai mengikuti nama ledakan tersebut.
Harus dikatakan di sini bahwa "volume nol" adalah istilah teoretis yang bertujuan deskriptif. Ilmu pengetahuan hanya mampu mendefinisikan konsep "ketiadaan", yang melampaui batas pemahaman manusia, dengan menyatakan titik tunggal tersebut sebagai "titik yang memiliki volume nol". Sebenarnya, "titik yang tidak memiliki volume" ini berarti "ketiadaan". Alam semesta muncul dari ketiadaan. Dengan kata lain, alam semesta diciptakan.
Fakta ini, yang baru ditemukan oleh fisika modern pada akhir abad ini, telah diberitakan Al Quran empat belas abad yang lalu:
"Dia Pencipta langit dan bumi." (QS. Al An'am:101)
Jika kita membandingkan pernyataan pada ayat di atas dengan teori Ledakan Besar, terlihat kesamaan yang sangat jelas. Namun, teori ini baru diperkenalkan sebagai teori ilmiah pada abad ke-20.
Pemuaian alam semesta merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan. Meskipun fakta di atas baru ditemukan pada abad ke-20, Allah telah memberitahukan kenyataan ini kepada kita dalam Al Quran 1.400 tahun yang lalu:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa." (Surat Adz-Dzariyat:47)
Pada tahun 1948, George Gamov mengemukakan gagasan lain mengenai teori Ledakan Besar. Dia menyatakan bahwa setelah terbentuknya alam semesta dari ledakan hebat, di alam semesta seharusnya terdapat surplus radiasi, yang tersisa dari ledakan tersebut. Lebih dari itu, radiasi ini seharusnya tersebar merata di seluruh alam semesta.
Bukti "yang seharusnya ada" ini segera ditemukan. Pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan gelombang ini secara kebetulan. Radiasi yang disebut "radiasi latar belakang" ini tampaknya tidak memancar dari sumber tertentu, tetapi meliputi seluruh ruang angkasa. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gelombang panas yang memancar secara seragam dari segala arah di angkasa ini merupakan sisa dari tahapan awal Ledakan Besar. Penzias dan Wilson dianugerahi Hadiah Nobel untuk temuan ini.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke angkasa untuk melakukan penelitian mengenai radiasi latar belakang. Pemindai sensitif pada satelit hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk menegaskan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa-sisa ledakan hebat yang mengawali terbentuknya alam semesta.
Bukti penting lain berkenaan dengan Ledakan Besar adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Pada penghitungan terbaru, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta sesuai dengan penghitungan teoretis konsentrasi hidrogen-helium yang tersisa dari Ledakan Besar. Jika alam semesta tidak memiliki awal dan jika alam semesta ada sejak adanya keabadian (waktu yang tak terhingga), seharusnya hidrogen terpakai seluruhnya dan diubah menjadi helium.
Semua bukti kuat ini memaksa komunitas ilmiah untuk menerima teori Ledakan Besar. Model ini merupakan titik terakhir yang dicapai oleh para ahli kosmologi berkaitan dengan awal mula dan pembentukan alam semesta.
Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.
Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.
Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep "zat yang kekal" yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini "ada" melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini "tidak ada"? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta "yang tidak menguntungkan secara filosofis" (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:
Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.
Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:
Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya
Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.
Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.
Dennis Sciama, yang membela teori keadaan ajeg (steady-state) bersama Fred Hoyle selama bertahun-tahun, menggambarkan posisi terakhir yang mereka capai setelah terkumpulnya semua bukti tentang teori Ledakan Besar. Sciama mengatakan bahwa ia telah ambil bagian dalam perdebatan sengit antara para pembela teori keadaan ajeg dan mereka yang menguji dan berharap dapat menyangkal teori tersebut. Dia menambahkan bahwa dulu dia membela teori keadaan ajeg bukan karena menganggap teori tersebut benar, melainkan karena berharap bahwa teori itu benar. Fred Hoyle bertahan menghadapi semua keberatan terhadap teori ini, sementara bukti-bukti yang berlawanan mulai terungkap. Selanjutnya, Sciama bercerita bahwa pertama-tama ia menentang bersama Hoyle. Akan tetapi, saat bukti-bukti mulai bertumpuk, ia mengaku bahwa perdebatan tersebut telah selesai dan teori keadaan ajeg harus dihapuskan.
Prof. George Abel dari University of California juga mengatakan bahwa sekarang telah ada bukti yang menunjukkan bahwa alam semesta bermula miliaran tahun yang lalu, yang diawali dengan Dentuman Besar. Dia mengakui bahwa dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima teori Dentuman Besar.
Dengan kemenangan teori Dentuman Besar, konsep "zat yang kekal" yang merupakan dasar filosofi materialis dibuang ke tumpukan sampah sejarah. Jadi, apakah yang ada sebelum Dentuman Besar, dan kekuatan apakah yang menjadikan alam semesta ini "ada" melalui sebuah dentuman besar, jika sebelumnya alam semesta ini "tidak ada"? Pertanyaan ini jelas menyiratkan, dalam kata-kata Arthur Eddington, adanya fakta "yang tidak menguntungkan secara filosofis" (tidak menguntungkan bagi materialis), yaitu adanya Sang Pencipta. Athony Flew, seorang filsuf ateis terkenal, berkomentar tentang hal ini sebagai berikut:
Semua orang tahu bahwa pengakuan itu baik bagi jiwa. Oleh karena itu, saya akan memulai dengan mengaku bahwa kaum ateis Stratonician telah dipermalukan oleh konsensus kosmologi kontemporer. Tampaknya ahli kosmologi memiliki bukti-bukti ilmiah tentang hal yang menurut St. Thomas tidak dapat dibuktikan secara filosofis; yaitu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Sepanjang alam semesta dapat dianggap tidak memiliki akhir maupun permulaan, orang tetap mudah menyatakan bahwa keberadaan alam semesta, dan segala sifatnya yang paling mendasar, harus diterima sebagai penjelasan terakhir. Meskipun saya masih percaya bahwa hal ini tetap benar, tetapi benar-benar sulit dan tidak nyaman mempertahankan posisi ini di depan cerita Dentuman Besar.
Banyak ilmuwan, yang tidak secara buta terkondisikan menjadi ateis, telah mengakui keberadaan Yang Maha Pencipta dalam penciptaan alam semesta. Sang Pencipta pastilah Dia yang menciptakan zat dan ruang/waktu, tetapi Dia tidak bergantung pada ciptaannya. Seorang ahli astrofisika terkenal bernama Hugh Ross mengatakan:
Jika waktu memiliki awal yang bersamaan dengan alam semesta, seperti yang dikatakan teorema-ruang, maka penyebab alam semesta pastilah suatu wujud yang bekerja dalam dimensi waktu yang benar-benar independen dari, dan telah ada sebelum, dimensi waktu kosmos. Kesimpulan ini sangat penting bagi pemahaman kita tentang siapakah Tuhan, dan siapa atau apakah yang bukan Tuhan. Hal ini mengajarkan bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak berada di dalamnya
Zat dan ruang/waktu diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, yaitu Dia yang terlepas dari gagasan tersebut. Sang Pencipta adalah Allah, Dia adalah Raja di surga dan di bumi.
Allah memberi tahu bukti-bukti ilmiah ini dalam Kitab-Nya, yang Dia turunkan kepada kita manusia empat belas abad lalu untuk menunjukkan keberadaan-Nya.
Kesempurnaan Di Alam Semesta
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." (QS. Al Mulk: 3-4)
Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.
Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Misalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.
Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)
Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.
Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Misalnya, bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan rata-rata 1.670 km/jam. Dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar.
Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.)
Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.
Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki "cacat" atau "tidak seimbang". Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan "sendiri" dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.
"Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya." (QS. AlAn'am: 101-104)
Orbit Dan Alam Semesta Yang Berotasi
Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu. Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al Anbiya:33)
Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.
"Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati." (Bilim ve Teknik, Juli 1983)
"Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (QS. Al Anbiya:33)
Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.
"Selagi berotasi mengitari matahari, bumi mengikuti orbit yang berdeviasi sebesar 2,8 mm dari lintasannya yang benar setiap 29 km. Orbit yang diikuti bumi tidak pernah berubah karena penyimpangan sebesar 3 mm akan menyebabkan kehancuran yang hebat. Andaikan penyimpangan orbit adalah 2,5 mm, dan bukan 2,8 mm, orbit bumi akan menjadi sangat luas dan kita semua akan membeku. Andaikan penyimpangan orbit adalah 3,1 mm, kita akan hangus dan mati." (Bilim ve Teknik, Juli 1983)
Matahari
Berjarak 150 juta km dari bumi, matahari menyediakan energi yang kita butuhkan secara terus-menerus.
Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.
Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.
Pada benda angkasa yang berenergi sangat besar ini, atom hidrogen terus-menerus berubah menjadi helium. Setiap detik 616 miliar ton hidrogen berubah menjadi 612 miliar ton helium. Selama sedetik itu, energi yang dihasilkan sebanding dengan ledakan 500 juta bom atom.
Kehidupan di bumi dimungkinkan oleh adanya energi dari matahari. Keseimbangan di bumi yang tetap dan 99% energi yang dibutuhkan untuk kehidupan disediakan oleh matahari. Separo energi ini kasatmata dan berbentuk cahaya, sedangkan sisanya berbentuk sinar ultraviolet, yang tidak kasatmata, dan berbentuk panas.
Sifat lain dari matahari adalah memuai secara berkala seperti lonceng. Hal ini berulang setiap lima menit dan permukaan matahari bergerak mendekat dan menjauh 3 km dari bumi dengan kecepatan 1.080 km/jam.
Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)
Matahari hanyalah salah satu dari 200 juta bintang dalam Bimasakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi, matahari merupakan salah satu bintang kecil yang terdapat di alam semesta. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km.)
Perjalanan Matahari
"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin:38)
Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000x24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)
Langit Tujuh Lapis
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq:12)
Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.
Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.
Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.
Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.
Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat
Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.
Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.
Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.
Berdasarkan perhitungan para astronom, akibat aktivitas galaksi kita, matahari berjalan dengan kecepatan 720.000 km/jam menuju Solar Apex, suatu tempat pada bidang angkasa yang dekat dengan bintang Vega. (Ini berarti matahari bergerak sejauh kira-kira 720.000x24 = 17.280.000 km dalam sehari, begitu pula bumi yang bergantung padanya.)
Langit Tujuh Lapis
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi." (QS. Ath-Thalaq:12)
Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.
Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5 C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada -57 C.
Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0 C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon yang penting bagi kehidupan.
Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga -100 C.
Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat
Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer.
Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.
Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.
Gunung Mencegah Gempa Bumi
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." (QS. Luqman:10)
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An-Naba:7)
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An-Naba:7)
Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini "mengikat" lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu.
Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.
Air Laut Tidak Saling Bercampur
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (QS. Ar-Rahman:19-20)
Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut "tegangan permukaan".
Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut "tegangan permukaan".
Dua Kode Dalam Besi
Besi adalah satu dari empat unsur yang paling berlimpah di bumi. Selama berabad-abad besi merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia. Ayat yang berkenaan dengan besi adalah sebagai berikut:
"…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia." (QS. Al Hadid:25)
Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.
"Al Hadid" (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem "Abjad" Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata "Al Hadid" jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.
Nilai numerik (Abjad) dari kata "Hadid" (besi) sendiri, tanpa penambahan "al", jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.
"…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia." (QS. Al Hadid:25)
Ayat ini melibatkan dua kode matematika yang sangat menarik.
"Al Hadid" (besi) adalah surat ke-57 di dalam Al Quran. Nilai numerik (dalam sistem "Abjad" Arab, setiap huruf memiliki nilai numerik) huruf-huruf dari kata "Al Hadid" jumlahnya sama dengan 57, yakni nomor massa besi.
Nilai numerik (Abjad) dari kata "Hadid" (besi) sendiri, tanpa penambahan "al", jumlahnya 26, yakni nomor atom besi.
DENGKI DAN DENDAM
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah "Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami". Berbahagialah orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pema 'af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni dosanya. Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya bersih. Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya, yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam Al-Qur'an yang artinya: "Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang". (Al-Hasyr: 10). Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah. Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: "Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: "Tentu mau". Sabda Nabi saw: "yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama". (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya, bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara penanggulangan mensyari'atkan penepatan akhlak yang baik, yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan. Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: "Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari". (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim, untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali. Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati, seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu. Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Oleh Abbas Shofwan Matla'il FajrDalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah "Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami". Berbahagialah orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pema 'af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni dosanya. Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya bersih. Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya, yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam Al-Qur'an yang artinya: "Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang". (Al-Hasyr: 10). Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah. Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: "Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: "Tentu mau". Sabda Nabi saw: "yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama". (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya, bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara penanggulangan mensyari'atkan penepatan akhlak yang baik, yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan. Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: "Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari". (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim, untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali. Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati, seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu. Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Oleh Abbas Shofwan Matla'il Fajr
Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah "Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami". Berbahagialah orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pema 'af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni dosanya. Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya bersih. Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya, yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam Al-Qur'an yang artinya: "Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang". (Al-Hasyr: 10). Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah. Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: "Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: "Tentu mau". Sabda Nabi saw: "yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama". (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya, bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara penanggulangan mensyari'atkan penepatan akhlak yang baik, yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan. Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: "Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari". (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim, untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali. Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati, seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu. Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Oleh Abbas Shofwan Matla'il FajrDalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah "Mengandung permusuhan didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan mencelakakan orang yang di dendami". Berbahagialah orang yang berlapang dada, berjiwa besar dan pema 'af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, bebas dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda manusia. Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni dosanya. Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap kehidupan. Jiwanya bebas dari perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya bersih. Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya, yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam Al-Qur'an yang artinya: "Yang orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha penyayang". (Al-Hasyr: 10). Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada dosa-dosa besar yang mengakibatkan turunnya kutukan Allah. Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan. Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya: "Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: "Tentu mau". Sabda Nabi saw: "yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama". (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya, bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia. Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah memberikan cara penanggulangan mensyari'atkan penepatan akhlak yang baik, yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan. Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu dilemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: "Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari". (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim, untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini. Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan cuacapun menjadi bersih dan terang kembali. Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati, seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu. Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. (An-Nisa: 32). Oleh Abbas Shofwan Matla'il Fajr
Tunjukkan kami Jalan Yang Lurus
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Dalam suarat Ali Imran:51, dijelaskan bahwa jalan lurus adalah menyembah Allah, artinya jika menyembah selain Allah maka ia berada pada jalan yang sesat. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus". Ditegaskan lagi dalam surat yang sama:101: "Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus". Dalam surat Maryam:36, hakikat yang sama ditegaskan lagi:" Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian, ini adalah jalan yang lurus". Tunjukkan kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat". (Al Fatihah:6-7) Ayat di atas yang selalu kita baca dalam salat adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Dalam sehari minimal kita membacanya lima kali setiap permulaan rakaat sembahyang yang kita tegakkan. Didalamnya terkandung permohonan agar ditunjukkan jalan yang lurus. " Ihdinash shiraathal mustaqiim" demikian teks aslinya, suatu istilah yang selalu berulang dengan versi yang berbeda di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Dalam Al-Baqarah:142 Allah berfirman: "Katakan: Timur dan Barat kepunyaan Allah, Dia beri petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya ke jalan yang lurus". Istilah yang sama juga disebutkan dalam Azzukhruf:64, Al Mulk:22 dan lain sebagainya. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa bila suatu hal diulang berkali-kali dalam Al-Qur'an itu menunjukkan penting dan agungnya hal tersebut. Sudah barang tentu bahwa merambah jalan lurus adalah merupakan dambaan setiap insan. Hanya saja masih banyak dari manusia yang belum mengetahui atau pura-pura tidak tahu apa maksud dari jalan lurus ini? Secara sederhana –seperti yang diungkap Imam Tabari- jalan lurus adalah jalan yang jelas dan tidak berliku-liku. Jalan yang segera menghantarkan ke tempat tujuan. Surat Al-Fatihah sendiri menjawab: Jalan lurus yang dimaksud adalah: jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, itulah orang-orang yang bahagia, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam mengartikan orang yang dimurkai adalah kaum Yahudi, dan orang yang sesat adalah kaum Nasrani. (lihat, Ibn Katsir, Tafsirul Qur'anil azhiim, jild,I, hal5-54, Riyadh, 1998). Ibn Abi Hatim, seperti dinukil Ibn Katsir menyebutkan hasil penelitiannya yang mendalam bahwa tidak ada satupun ulama yang mengingkari penafsiran ini. Dan ini benar, sebab setiap kali para Nabi datang kepada mereka (baca:Yahudi) menunjukkan jalan yang lurus, mereka menolaknya. Mereka memilih jalan yang mereka sukai. Yang diharamkan mereka halalkan dan yang dihalalkan mereka tinggalkan. Tidak hanya itu, para nabi yang berusaha menunjukkan jalan lurus itu, malah mereka bunuh. Perhatikan surat Al-baqarah:61 berkisah begaimana kebejatan akhlak kaum Yahudi itu: "…Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh nabi-nabi tanpa kebenaran, yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan adalah mereka melalmpawi batas". Adapun kesesatan kaum Nasrani adalah karena ajaran agama Kristen yang ada sekarang –sebagaimana diakui sejarawan Barat sendiri- bukan agama yang asli, melainkan banyak di dalamnya karangan Jhon Paul. Sementara Jhon Paul sendiri adalah orang Yahudi. Dari sini nampak mengapa Rasulullah mengartikan adh-daalliin dengan orang Nasrani. Karena mereka secara fakta sejarah disesatkan oleh seorang Yahudi bernama Jhon Paul. (lihat misalnya: Hyam Maccoby, The Mythmaker Paul and Invention of Christianity,Gorge Weiden feld and Nicalson Limited London, 1986) Jelasnya, baik yang dimurkai Allah maupun orang yang sesat mereka dalam kategori Al-Qur'an –sebagimana ditegaskan surat Al-Fatihah- tidak berada dalam jalan yang lurus. Dalam suarat Ali Imran:51, dijelaskan bahwa jalan lurus adalah menyembah Allah, artinya jika menyembah selain Allah maka ia berada pada jalan yang sesat. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus". Ditegaskan lagi dalam surat yang sama:101: "Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus". Dalam surat Maryam:36, hakikat yang sama ditegaskan lagi:" Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian, ini adalah jalan yang lurus". Dalam surat Al An'am:39, disebutkan bahwa kebalikan dari jalan lurus adalah kesesatan. Artinya siapapun yang tidak mengikuti ajaran Allah ia pasti sesat: "Barangsiapa dikehendaki Allah (menjadi sesat) niscaya akan disesatkan-Nya, dan barangsiapa dikehendaki Allah untuk diberinya petunjuk niscaya Dia akan menjadikannya berada di atas jalan yang lurus". Di surat yang sama:161, ditegaskan bahwa agama Islam yang dibawa Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam adalah agama yang sama dengan agama Nabi Ibrahim, dan inilah jalan yang lurus: "Katakanlah: sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". Para ulama yang mendalami ilmu munasabat (keterkaitan antar ayat dan antar surat-surat Al-Qur'an) banyak yang menafsirkan makna sirathal mustaqim dengan Al-Qur'an. Perhatikan – kata mereka – hubungan antara Al-Fatihal dan Albaqarah? Mengapa Surat Al-Baqarah langsung dimulai dengan ungkapan "dhalikal kutaabu laa raiba fiihi" (itulah kitan yang tiada keraguan di dalamny). Di sini seakan terkandung sebuah jawaban: yaitu ketika seorang hamba mohon "ihdinashshiraathal mustaqiim" (yaa Allah tunjukilah kami jalan yang lurus), Allah langsung mejawabnya : "dhalikal kutaabu laa raiba fiihi". Dengan pemahaman ini jalan lurus itu Al-Qur'an. Di dalamnya terdapat seluruh petunjuk kebenaran yang tidak akan pernah menyesatkan. Kebenaran yang menghantarkan pengikutnya menuju tujuan kebahagaiaan di dunia dan akhirat. Dalam surat AnNur:46 Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat(Al-Qur'an) yang menjelaskan (halal dan haram). Dan Allah memimpin siapa yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus". Di sini nampak dengan jelas bahwa jalan lurus itu Al-Qur'an. Siapa yang mengiktui Al-Qur'an maka ia berada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengingkarinya atau mengingkari sebagian isinya maka ia tersesat. Sudah barang tentu bahwa dinatara ajaran Al-Qur'an mengikuti sunnah Raslullah. Dengan demikian pengertian jalan lurus di sini bukan semata mengikuti Al-Qur'an dengan meninggalkan As-Sunnnah seperti yang dilakukan "qur'aniyyuun". Melainkan keduanya: Al-Qur'an dan As Sunnah harus sama-sama ditegakkan. Dr. Amir Faishol Fath
« Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata:` Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad) `. Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:` Ini adalah sihir yang nyata `.(QS. 61:6)Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.`(QS. 3:51) »
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata:` Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),(QS. 3:45)
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali ‘Imran 45
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45)
Di dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw, terhadap ceritera Maryam di kala Jibril datang kepadanya, yang membawa kabar gembira kepadanya bahwa dia akan melahirkan seorang putra yang saleh. Ketika Jibril menyampaikan kabar gembira itu Allah telah memilihnya, menyucikannya untuk tetap beribadah kepada Allah dan selalu bersyukur kepada-Nya. Yang dimaksud dengan malaikat di sini ialah Jibril, sebagaimana di dalam firman Allah:
فأرسلنا إليها روحنا فتمثل لها بشر سويا
Artinya:
“Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sebenarnya”.
(Q.S Maryam: 17)
Isa as disebut dengan “kalimat Allah”, sebagai pemberitahuan tentang proses penciptaannya yang berlainan dengan kejadian manusia biasa.
Isa as dinamakan Al Masih sedang Al Masih itu adalah gelar raja, karena kata Al Masih dalam Taurat dan Injil berarti “yang disapu atau yang diminyaki”. Menyapu dan meminyaki itu adalah suatu ketentuan dalam adat istiadat mereka bahwa siapa yang telah disapu dengan minyak suci oleh kepala agama, maka dia sudan menjadi suci pula, cakap untuk memegang kerajaan, memiliki ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lagi mendapat berkah. Di sini Allah SWT menunjukkan bahwa Isa as senantiasa mendapat berkah walaupun belum pernah disapu dengan minyak suci itu.
Ada pula yang mengatakan hahwa nama Isa itu adalah berasal dari kata Yunani “yasu”, artinya “yang diselamatkan yang terpilih”.
Para nabi dahulu telah menerangkan bahwa akan datang seorang Al Masih, dia seorang raja yang akan mengembalikan kekuasaan Bani Israel yang telah hilang.
Maka ketika Isa lahir dan dinamai Al Masih, segolongan mereka beriman kepadanya Orang-orang Yahudi yang mengingkarinya berpendapat, bahwa yang dijanjikan itu belum lagi datang.
Dan dia dinamakan lbnu Maryam (putra Maryam) untuk memberi pengertian bahwa Isa akan lahir tanpa ayah karena itulah ia dibangsakan kepada ibunya.
Isa as mempunyai kedudukan yang terkemuka di dunia, karena dia mendapat tempat di hati orang-orang mukmin serta dihormati. Perbaikan-perbaikan yang ditinggalkan Isa as tetap membekas dikemudian hari. Dan kebesarannya itu jauh lebih nyata daripada kebesaran para penguasa atau raja-raja sebab orang-orang menghormat kepada para penguasa dan raja itu adalah untuk menghindarkan diri dari penyiksaan mereka, atau karena takut terhadap kelaliman mereka, atau untuk mengambil muka supaya diberi kedudukan duniawi. Kebesaran yang demikian ini adalah kemegahan semu belaka, tanpa ada bekasnya sedikit juapun di dalam jiwa, bahkan mungkin menimbulkan kebencian.
Selain dari itu, Isa as mempunyai kebesaran di akhirat, yaitu kedudukan dan kemuliaan yang tinggi, karena beliau adalah senantiasa dekat kepada Tuhan.
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45)
Di dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw, terhadap ceritera Maryam di kala Jibril datang kepadanya, yang membawa kabar gembira kepadanya bahwa dia akan melahirkan seorang putra yang saleh. Ketika Jibril menyampaikan kabar gembira itu Allah telah memilihnya, menyucikannya untuk tetap beribadah kepada Allah dan selalu bersyukur kepada-Nya. Yang dimaksud dengan malaikat di sini ialah Jibril, sebagaimana di dalam firman Allah:
فأرسلنا إليها روحنا فتمثل لها بشر سويا
Artinya:
“Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sebenarnya”.
(Q.S Maryam: 17)
Isa as disebut dengan “kalimat Allah”, sebagai pemberitahuan tentang proses penciptaannya yang berlainan dengan kejadian manusia biasa.
Isa as dinamakan Al Masih sedang Al Masih itu adalah gelar raja, karena kata Al Masih dalam Taurat dan Injil berarti “yang disapu atau yang diminyaki”. Menyapu dan meminyaki itu adalah suatu ketentuan dalam adat istiadat mereka bahwa siapa yang telah disapu dengan minyak suci oleh kepala agama, maka dia sudan menjadi suci pula, cakap untuk memegang kerajaan, memiliki ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lagi mendapat berkah. Di sini Allah SWT menunjukkan bahwa Isa as senantiasa mendapat berkah walaupun belum pernah disapu dengan minyak suci itu.
Ada pula yang mengatakan hahwa nama Isa itu adalah berasal dari kata Yunani “yasu”, artinya “yang diselamatkan yang terpilih”.
Para nabi dahulu telah menerangkan bahwa akan datang seorang Al Masih, dia seorang raja yang akan mengembalikan kekuasaan Bani Israel yang telah hilang.
Maka ketika Isa lahir dan dinamai Al Masih, segolongan mereka beriman kepadanya Orang-orang Yahudi yang mengingkarinya berpendapat, bahwa yang dijanjikan itu belum lagi datang.
Dan dia dinamakan lbnu Maryam (putra Maryam) untuk memberi pengertian bahwa Isa akan lahir tanpa ayah karena itulah ia dibangsakan kepada ibunya.
Isa as mempunyai kedudukan yang terkemuka di dunia, karena dia mendapat tempat di hati orang-orang mukmin serta dihormati. Perbaikan-perbaikan yang ditinggalkan Isa as tetap membekas dikemudian hari. Dan kebesarannya itu jauh lebih nyata daripada kebesaran para penguasa atau raja-raja sebab orang-orang menghormat kepada para penguasa dan raja itu adalah untuk menghindarkan diri dari penyiksaan mereka, atau karena takut terhadap kelaliman mereka, atau untuk mengambil muka supaya diberi kedudukan duniawi. Kebesaran yang demikian ini adalah kemegahan semu belaka, tanpa ada bekasnya sedikit juapun di dalam jiwa, bahkan mungkin menimbulkan kebencian.
Selain dari itu, Isa as mempunyai kebesaran di akhirat, yaitu kedudukan dan kemuliaan yang tinggi, karena beliau adalah senantiasa dekat kepada Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)