Kamis, 22 Desember 2011

Torah Dan Empat Injil Perjanjian Baru

M. Darojat Ariyanto
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Pabelan Tromol Pos I Kartasura, Surakarta 57102

Abstrak
Tulisan ini mencoba mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya) yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Hasil penulisan menunjukkan, bahwa Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber (Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester), ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama (antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat.

Adapun Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi Injil sementara (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya) sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) telah terjadi banyak perubahan.

Kata kunci: Kitab Taurat, Perjanjian Lama, Empat Injil, Perjanjian Baru.

Pendahuluan
Ada beberapa cara pemeluk agama Islam mengkritisi keaslian Kitab Taurat dan Empat Injil.Cara yang pertama, dengan menilainya dari kacamata Al Qur’an. Misalnya dengan menyatakan bahwa Kitab Taurat dan Kitab Injil yang dipakai sebagai kitab suci pemeluk agama Yahudi dan Nasrani sudah dipalsukan atau sudah ada campur tangan manusia. Hal ini didasarkan pada beberapa ayat dari Al Qur’an yang memberi informasi tentang ketidakasliannya Kitab Taurat dan Empat Injil yang sekarang dipakai oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani Misalnya di dalam Surat Al An Nisaa’: 46, Surat Al Baqarah: 75, dan Surat Al Maidah: 41, diinformasikan bahwa isi Taurat sudah dirubah. Selanjutnya di dalam Surat Al Baqarah: 146 dan Surat Ali ‘Imran: 17 diinformasikan bahwa orang-oang Yahudi dan Nasrani telah menyembunyikan kebenaran tentang Muhammad. Cara ini biasanya dilakukan oleh para muballig atau da’i Muslim.

Cara yang kedua, dengan menunjukkan beberapa kontradiksi di dalam Kitab Taurat dan Empat Injil. Misalnya kontradiksi antara ajaran Tuhan Yang Maha Esa dengan ajaran Trinitas atau ajaran-ajaran lainnya baik yang ada di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Cara ini misalnya dilakukan oleh kelompok Arimatea, Irena Handono, Hasbullah Bakri, dsb.

Cara yang ketiga, dengan analisis sejarah agama yang menunjukkan bahwa ajaran Trinitas Kristen dipengaruhi oleh ajaran agama lain sebelum agama Kristen ada. Misalnya dengan menyatakan bahwa ajaran Trinitas yang ada di dalam Perjanjian Baru dipengaruhi oleh ajaran Trimurti dari agama Hindu, ajaran agama Yunani Kuno, dan sebagainya. Cara ini dilakukan oleh O. Hashem, M. Arsyad Thalib Lubis, dsb.

Adapun pada tulisan ini penulis tidak memakai beberapa cara di atas, tetapi mencoba memakai cara lain yaitu dengan cara mengkaji proses penulisan Kitab Taurat yang merupakan bagian dari Perjanjian Lama dan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes Yahya) yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru.

Tulisan ini dilakukan dengan cara mengkaji beberapa literatur yang membahas tentang penulisan Kitab Taurat dan Empat Injil, terutama yang dikarang oleh pemeluk Kristen sendiri, baru kemudian dari penulis non Kristen. Setelah beberapa literatur tersebut dikaji kemudian dianalisis secara kualitaif.

Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama
Kitab Taurat merupakan bagian dari Perjanjian Lama. Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kedudukan dan proses penulisan Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama perlulah di sini diuraikan tentang isi dari Perjanjian Lama dan proses penulisan Kitab Taurat.

1. Isi perjanjian Lama
Perjanjian Lama terdiri dari 39 Kitab, yaitu: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemis, Ester, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi (LAI, 1983: 5).

Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Lama adalah bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani kadang-kadang disebut dengan bahasa Yehuda, bahasa Yahudi dan bahasa Kanaan. Bahasa Ibrani termasuk dalam kelompok bahasa Semitik, yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang keturunan Sem, salah seorang anak Nabi Nuh. Di samping ditulis dalam Bahasa Ibrani, ada sebagian kecil Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Arami (Syria) (Santoso, 1981: 45-46).

Ke 39 kitab di dalam Perjanjian Lama diklasifikasikan menjadi tiga bagian besar, yaitu:

1.1. Taurat/Thora/Pentateuch
Bagian dari Taurat ini terdiri dari Kitab kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.
Bagian Taurat ini ditetapkan keabsahannya sebagai ukuran ajaran yang benar bagi umat Nasrani (kanonik) pada tahun 456 SM. Pada saat itu Ezra (ahli Kitab Suci dari Babel) telah membacakan Kitab-kitab Musa (Taurat/ Thora/ Pentateuch) pada bangsa Yahudi di pembuangan.

1.2. Nabi-Nabi (Nebiim)
Bagian Nebiim ditetapkan sebagai kitab kanonik pada tahun 200 SM. Kitab-kitab ini sudah ada pada masa pembuangan dan baru dibukukan sesudah masa pembuangan. Pada saat itu Yesus Sirach (190 SM) dan 12 nabi Kecil telah mengenal 3 Nabi Besar. Bagian ini terdiri dari :

a. Nabi-nabi yang terdahulu (Nebiim Risyonim), yaitu: Yosua (Yusak), hakim-hakim (Syofetim), I, II Samuel (I, II Syemuel), dan I, II Raja-raja (I, II Melakim).
b. Nabi-nabi yang terkemudian (Nebiim Akharonim). Ini terdiri dari dua bagian yaitu:
i) Nabi-nabi Besar, yaitu: Yesaya (Yesyayahu), Yeremia (Yirmeyahu) dan Yehezkiel (Yechezqel).
ii) Nabi-nabi Kecil, yaitu: Hosea (Hosyea), Yoel (Joel), Amos, Obaja (Obadyah), Yunus (Yonah), Mikha (Mikah), Nahum, Habakuk, Zefanya (Sefanyah) dan Maleakhi (Malaki).

1.3. Kitab-kitab (Ketubim)
Bagian ini disahkan sebagai kitab yang bersifat kanonik pada tahun 100 M pada Synode Jamnia. Kitab-kitab ini dihimpun pada masa sesudah pembuangan, walaupun ada bahan-bahan dari sebelum masa pembuangan, yaitu Mazmur dan Amsal. Kitab-kitab (Ketubim) ini terdiri dari: Mazmur (Tehillim), Ayub (Iyob), Amsal (Misyele), Rut (Ruth), Kidung Agung (Syir’ul- Asyar atau Syir hasysyiirim), Pengkhotbah (Alkhatib atau Qohelet), Ratapan (Nudub-Yeremia atau Ekah), Ester (Esther), Daniel, Ezra, Nehemia (Nehemiyah), dan I, II Tawarikh (I, II Dibre Hayyamim) (Naipospos, 1988: 9-10).

Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Kitab Taurat merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di Perjanjian Lama. Lima kitab di dalam Kitab Taurat ini adalah Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan.

Kitab Taurat juga merupakan bagian yang pertama dari tiga bagian besar Perjanjian Lama yang mencakup: a. Taurat, b. Nabi-nabi (Nebiim), dan c. Kitab-kitab (Ketubim).

2. Penulisan Kitab Taurat

Kitab Taurat disebut juga dengan istilah Thora atau Pentateuch merupakan lima kitab yang pertama dari 39 kitab yang ada di dalam Perjanjian Lama. Kitab Taurat terdiri dari lima kitab yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan.

Beberapa peneliti Kitab Taurat menemukan beberapa kejanggalan atau keanehan di dalam Kitab
Taurat. Beberapa kejanggalan tersebut antara lain sebagai berikut:

Pertama, di dalam Kitab Taurat sering terjadi pengulangan dalam isi atau cerita. Misalnya sepuluh firman Allah yang sudah disebutkan di dalam Keluaran 20 ditulis lagi dalam Ulangan 5 dengan sedikit perbedaan. Pengusiran Hagar oleh Abraham juga diceritakan dua kali, yaitu di dalam Kejadian 16 dan 21. Demikian juga masih banyak pengulangan cerita lagi di berbagai tempat.

Kedua, sering terjadi perubahan bahasa, seolah-olah penulisnya berganti dialek dalam satu bahasa. Contoh yang paling menonjol adalah nama untuk Tuhan. Sebagian teks memakai nama “Elohim” untuk Tuhan, sebagian memakai istilah “Yahwe,” dan sebagian kecil lainnya memakai kombinasi yang disengaja “Yahwe-Elohim.”

Ketiga, cerita kadang-kadang juga memberikan kesan seakan-akan tidak begitu logis dan konsekuen. Misalnya di dalam sebagian cerita, Moses sendiri yang memegang peranan paling penting. Dia mengucapkan pidato di muka Fir’aun seraya memegang tongkatnya. Tetapi di dalam cerita lain, Harunlah yang menyampaikan pidato dan memegang tongkat (Steenbrink, 1987: 100).

Berdasarkan beberapa kejanggalan tersebut, beberapa peneliti memberikan teorinya tentang penulisan Kitab Taurat.

Menurut A. Kuenen dan J. Wellhausen, Kitab Taurat ini berasal dari 4 sumber yang berbeda-beda, yaitu:

i. Sumber yang menggunakan nama “Yahwe” (Y).
ii. Sumber yang menggunakan nama “Elohim” (E).
iii. Sumber yang khususnya terdapat dalam Kitab Ulangan atau Deuteronium (D).
iv. Sumber yang terutama dipelopori oleh imam-imam yang disebut “Priester Codex” (P).

Sumber Yahwist menulis sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan (Keluaran) bangsa Israel dari Mesir, dan perkembangan mereka setelah berada di Kanaan. Sumber ini muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 Sm di daerah selatan (Yehuda). Ciri-ciri sumber Yahwist adalah sbb:

1) Allah selalau disebut dengan nama Yahwe; juga nenek moyang Israel sudah mengenal nama ini.
2) Pada umumnya Allah di dalam wahyu-Nya (penyataan-Nya) dilukiskan dan digambarkan dalam bentuk seorang manusia (antropomorf).
3) Sumber ini bersifat universal, Allah adalah Khalik langit dan bumi (Kej. 2: 4b dst.), dan Allah seluruh dunia dan semua manusia.

Berikutnya di dalam sumber Elohist (E), Allah disebut dengan nama Elohim. Sumber E menggunakan nama Elohim sampai cerita pemangilan Musa (Keluaran 2), dimana Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musa-lah orang pertama yang mengenal nama Yahwe.

Selanjutnya sumber E lahir di Kerajaan Utara (Israel) kurang lebih tahun 800 dan 700 SM, ketika sinkretisme Baalistis melanda kehidupan agama Israel. Situasi ini diprotes oleh para nabi, terutama dibawahi oleh Nabi Elia dan Elisa. Gerakan para nabi ini mempengaruhi sumber E dan menjadi dasar kemunculan sumber tersebut. Sumber ini menitikberatkan bangsa Israel sebagai bangsa yang dipilih Allah, atau menekankan hubungan yang khusus antara Allah dengan bangsa Israel. Maka sumber ini bersifat partikularistik.

Seterusnya sumber Deuteronomist (D) muncul pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah sedang diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai Taurat (II Raja 22: 8) yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26.

Secara teologis sumber ini menentang sinkretisme. Hal ini terlihat di dalam pembaharuan Deutoronomis, dimana kuil-kuil di luar kota Yerusalem diprotes dan ditutup, sebab kuil-kuil tersebut disebut sebagai pusat sinkretisme. Di samping itu sumber ini juga menekankan pemanggilan Allah kepada bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi segaka perintah dan hukum-hukum Allah. Apabila mereka tidak mematuhinya, maka Allah akan menghukum dan menolak mereka.

Akhirnya sumber Imamat atau Priester codex (P) lahir kira-kira pada tahun 550 sampai 500 SM. Penulisan ini terjadi di masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Maksud P menulis ialah untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa merekalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini P sangat menekankan peranan kultus. Dengan demikian tulisan-tulisan P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan semua hal yang berhubungan dengan dengan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat dalam Kitab Imamat.

Sementara itu para ahli lain menaruh perhatian pada bagian yang paling kecil dari Pentateukh, kepada bentuk sasteranya dan peranannya dalam kebudayaan bangsa Israel. Ada ahli yang menguraikan ke-empat sumber besar di atas menjadi anak-anak sumber yang lebih kecil. Misalnya sumber “Y” diuraikan menjadi Y, Y1, Y2, Y3. Sumber “E” juga diurai menjadi E, E1, E2, E3.

Selanjutnya Engnell menggantikan teori sumber ini dengan memperhatikan tradisi-tradisi lisan dan tradisi tulisan. Menurut dia setelah dalam perkembangan yang lama, tradisi-tradisi lisan dikumpulkan oleh seorang redaktur menjadi Kitab Kejadian sampai Bilangan. Sementara itu seorang redaktur lain mengumpulkannya menjadi Kitab Ulangan sampai Raja-raja (Naipospos, 1988: 17-22).

Empat Injil dalam Perjanjian Baru
Sebagaimana disebutkan di atas, Empat Injil merupakan bagian dari Perjanjian Baru. Untuk dapat memahami kedudukan dan proses penulisan Empat Injil dalam Perjanjian Baru perlulah di sini diuraiakan mengenai isi dan proses penulisan dari Perjanjian Baru.

1. Isi Perjanjian Baru

Perjanjian Baru terdiri dari 27 Kitab. Nama-nama kitab tersebut adalah sebagai berikut: Matius, Markus, Lukas, Yohanes (Yahya), Kisah Para Rasul, Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani, Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu (LAI, 1983: 5). Sedang istilah Kitab Injil yang biasa diketahui oleh kebanyakan orang Islam ialah empat kitab yang pertama dari Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Mereka kurang menyadari bahwa masih ada 23 kitab lain di dalam Perjanjian Baru.

Bahasa yang dipakai dalam Perjanjian Baru adalah bahasa Yunani Koine. Bahasa Yunani Koine ini biasa disebut juga dengan Koine dialektos atau Hellenistik Greek atau terkadang disebut dengan bahasa Yunani umum, karena paling luas daerah pemakaiannya. Yang dipakai bukan bahasa Yunani Homeric (bahsa Yunani klasik), Attic (bahasa Yunani yang dipakai oleh penduduk di pedalaman negeri Grika, di Attica, suatu distrik dekat dengan Atena), Byzantine maupun Modern. Hanya sebagian kecil dari Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Arami (Syria) (Santoso, 1981: 46, 47).

Secara garis besar ke-27 kitab dari Perjanjian Baru dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan besar, yaitu:

a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul

Injil-injil ini berisi kesaksian tentang perkataan dan perbuatan Yesus dimana di dalam Yesus kerajaan Allah telah datang, menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama tentang Raja Abadi, Mesias yang dijanjikan. Dia diberi gelar Kristus (Christos dalam bahasa Yunani, yang berarti yang diurapi) “Christos” (bahasa Yunani) sama dengan Masyiyah (bahasa Ibrani), sedang dalam bahasa Indonesia disebut Messias.
Adapun Kisah Para Rasul berisi tentang perkembangan kerajaan Allah sesudah Yesus naik ke sorga, sampai ke pusat dunia zaman itu (Roma).

b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani.

Surat-surat Paulus menyertai dan membimbing perkembangan Gereja dan memberitakan Injil (Duyverman, 1975: 35). Ketiga belas surat Paulus ini adalah Surat Roma, I Korintus, II Korintus, Galatia, Efsus, Filipi, Kolose, I Tesalonika, II Tesalonika, I Timotius, II Timotius, Titus, dan Filemon (Yayasan, 2001: 12).

Sembilan dari Surat-surat Paulus ditujukan ke gereja-gereja dan empat buah ditujukan kepada perseorangan. Kebanyakan dari surat-surat tersebut menguraikan masalah-masalah yang timbul di gereja (kecuali Surat Efesus). Ada beberapa surat yang bernada sangat akrab (Filipi dan II Korintus) dan yang lainnya mempunyai gaya yang lebih resmi dan mirip sebuah tesis, dan dalam unsur-unsur pokoknya (tidak termasuk pembukaan dan penutup yang biasanya bersifat pribadi) menunjukkan nada yang praktis. Mungkin Surat Roma merupakan contoh yang terkemuka dari jenis ini. Selanjutnya, isi surat-surat kiriman Paulus tersebut beraneka ragam dan juga gabungan antara bagian ajaran dengan bagian praktiknya seimbang (Yayasan, 2001: 14).

Surat Ibrani berbeda dengan surat-surat lainnya, tidak ditujukan kepada jemaat tertentu tetapi berupa uraian (Duyverman, 1975: 35). Surat ini terutama membicarakan masalah penderitaan (sama dengan isi surat Yakobus dan I Petrus) (Yayasan, 2001: 14).

c. Ke-7 Surat Am

Sering juga Surat Am disebut dengan Surat-surat Katolik. Maksudnya surat-surat tersebut tidak ditujukan kepada jemaat tertentu seperti surat-surat Paulus, tetapi kepada gereja seluruhnya. Dalam bahasa Yunani-nya disebut dengan surat-surat “kath holen ten oikomenen, “ artinya bagi seluruh bumi (Duyverman, 1975: 36).
Ke-7 SuratAm ini adalah Surat Yakobus, I Petrus, II Petrus, I Yohanes, II Yohanes, III Yohanes, dan Yudas (Yayasan, 2001: 12).

Meskipun penulis surat-surat ini bermacam-macam, tetapi isinya dapat dikelompokkan menjadi dua judul utama.Pertama, beberapa surat yang terutama membicarakan masalah penderitaan (Yakobus dan I Petrus). Kedua, yang terutama membicarakan masalah ajaran palsu (I dan II Petrus, I, II, III Yohanes, dan Yudas) (Yayasan, 2001: 14).

d. Wahyu

Kitab ini termasuk jenis kitab eskhatologis dan apokaliptis, yang menghibur jemaat dalam pengembaraannya di dunia ini. Kata eskhatologis berasal dari kata Yunani ta eskala, artinya hal ihwal yang akhir, dalam arti theologios khususnya ialah akhir zaman. Sedang kata apokalptis berasal dari kata Yunani apokalyptem yang berarti membuka tudung, menyingkapkan: khususnya mengenai akhir zaman (Duyverman, 1975: 36).

Sebagaimana kitab nubuat Daniel dalam Perjanjian Lama, sebagian besar dari kitab Wahyu menguraikan penghukuman Allah pada akhir zaman terhadap “semua orang yang diam di atas bumi.” Di dalam kitab Wahyu klimaks penebusan digambarkan. Kata-kata Paulus yang pernah diucapkan sebelumnya bahwa rencana Allah ialah “mempersatukan di dalam Kristus . . . segala sesuatu” (Efesus 1: 10), telah menjadi kenyataan ketika Yohanes menulis :Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya” (Wahyu 11: 15) (Yayasan, 2001: 15).

Gaya bahasa di dalam Perjanjian Baru bermacam-amacam. Ada kitab yang gaya bahasanya kurang baik (misalnya Kitab Wahyu), ada yang terlatih (misalnya Kitab Lukas dan Kitab Ibrani), dan ada yang sederhana (misalnya Markus). Injil yang empat (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun 170 M. Sebelum Injil yang empat ditulis di masyarakat Kristen sudah beredar surat-surat dari Paulus.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/ Yahya) merupakan empat kitab yang pertama dari 27 kitab yang ada di dalam Perjanjaian Baru.

Demikian juga Empat Injil merupakan bagian yang pertama dari empat bagian besar di dalam Perjanjian Baru, yaitu: a. Injil-injil dan Kisah Para Rasul, b. Tiga Belas Surat Paulus dan Surat Ibrani, c. Ke-7 Surat Am, dan d. Wahyu.

2. Penulisan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes/Yahya)

Pada zaman modern beberapa peneliti Injil mulai mengerti bahwa setiap pengarang Injil, meskipun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia juga menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena itu beberapa ahli mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, di satu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan di lain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan suatu kumpulan yang utuh atau berupa bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh setiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.

Holtzmann berteori bahwa Matius dan Lukas memakai sumber dari Markus dan dari suatu dokumen yang sekarang hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai sumber sendiri. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:


Teori di atas dikritik oleh O. Culmann sebagai berikut:
Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius tersebut belum tentu merupakan Injil Markus. Boleh jadi yang dianggap Injil Markus tersebut berupa karangan lain yang ditulis sebelumnya.

Teori tersebut mengabaikan tradisi lisan. Padahal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya setiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang merupakan tradisi lisan.

Menurut R.P. Boismard ada 4 dokumen yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C dan Q.
Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.

Dokumen B adalah interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, keculi Matius.

Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

Dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebut dalam teori “dua sumber.”

Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitif yang dimiliki sekarang. Antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil.

Bagan dari teori di atas adalah sebagai berikut:

Keterangan:
Q A B C Q = dokumen-dokumen dasar.
Mt. inter = Matius intermedier
Mk. inter = Markus intermedier
Proto Lukas = Lukas intermedier
Yahya = Yahya intermedier
Final Mt. = redaksi final Matius
Final Mk. = redaksi final Markus
Final L = redaksi final Lukas
Final Y = redaksi final Yahya

Berdasarkan informasi di atas dapatlah disimpulkan bahwa dengan membaca Injil, pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, ia mendengar suara Gereja (Rasjidi, 1979: 118-123).

Ada lagi teori tentang penulisan Injil yang dinamakan teori Formgeschichte. Menurut teori ini cerita-cerita tentang kehidupan Yesus bertahun-tahun lamanya beredar di antara pengikut-pengikutnya secara lisan. Kemudian bentuk-bentuk cerita tersebut ditulis dan diklasifikasikan sesuai dengan isinya, yaitu mujizat-mujizat, nasihat-nasihat, pengajaran-pengajaran dsb. Kemudian fragmen-fragmen tersebut dikumpulkan dan dicocokkan dengan maksud penulis setiap kitab Injil. Oleh karena itu kitab-kitab Injil bukanlah merupakan laporan historis 100% dari kehidupan dan perbuatan Yesus, tetapi suatu kisah yang disusun dan ditulis untuk memenuhi kebutuhan rohani jemaat permulaan (Tulluan, t.th.: 43).

Selanjutnya Injil Matius, Markus dan Lukas mempunyai banyak cerita yang sama, bahasa yang sama, susunan kalimat dan kata-kata yang sama. Oleh karena itu dinamakan Injil synopsis. Berdasarkan beberapa persamaan ini ada dugaan:

Pertama, adanya satu sumber tulisan-tulisan yang digunakan atau dengan kata lain yang dijiplak. Berdasarkan dugaan ini, ada beberapa kemungkinan:

i. Markus, Matius dan Lukas ditulis secara sendiri-sendiri.
ii. Markus dikarang lebih dahulu, baru dipergunakan sebagai sumber oleh Matius, kemudian Lukas mengambil pula karangan Matius sebagai dasar.
iii. Markus menjadi dasar untuk Matius dan Lukas, yang mengarang Injil-injil mereka tanpa saling mempengaruhi.
iv. Markus merupakan petikan dari Markus dan Lukas.

Kedua, Injil Markus dikarang lebih dahulu. Selanjutnya Injil Matius dan Lukas ditulis kemudian lepas satu sama lain. Kedunya (Matius dan Lukas) mengambil sumber baik Injil Markus (terutama untuk ajaran-ajaran) maupun sumber lain (Q). Di samping itu masing-masing Injil (Markus, Matius dan Lukas) masih mengambil bahan-bahan khas yang diambil dari tradisi yang tersiar dalam gereja (Duyverman, 1976: 36-41).

Analisis terhadap penulisan Kitab Taurat
Berdasarkan pendapat A. Kuenen dan J. Wellhausen Kitab Taurat berasal dari empat sumber yang berbeda-beda.

Pertama, sumber “Y” (Yahwist). Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Yahwe”, antropomorf, dan universal. Sumber ini berisi tentang sejarah Israel dari penciptaan sampai kepada Kelepasan (Keluaran) bangasa Israel dari Mesir, dan perkembangannya setelah berada di Kanaan. Sumber “Y” muncul dan ditulis kira-kira tahun 900-800 SM di daerah selatan (Yehuda).

Kedua, sumber “E” (Elohist). Sumber ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Tuhan disebut dengan “Elohim” dan bersifat partikularistik. Sumberi ini menggunakan nama “Elohim” sampai cerita pemanggilan Musa (Keluaran 2) dimana Tuhan menyatakan nama-Nya kepada Musa. Jadi Musalah orang pertama yang mengenal nama Yahwe. Sumber “E” lahir di Kerajaan Utara (Israel) kuranf lebih tahun 800 – 700 SM.

Ketiga, sumber “D” (Deutoronomist). Sumber ini berisi tentang penolakan sinkretisme yang berada di kuil-kuil di luar kota Yerusalem. Sumber ini juga menekankan pemanggilan Tuhan kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan-Nya. Konsekuensinya bangsa Israel harus mematuhi semua perintah dan hukum Tuhan. Bila mereka tidak mematuhinya, maka Tuhan akan menghukum dan menolak mereka. Sumber “D” ada pada tahun 622 SM di Yerusalem ketika Bait Allah diperbaiki atas perintah Raja Yosia. Pada saat itu para tukang menemukan suatu naskah gulungan yang disebut sebagai taurat (II Raja 22: 8) yang ternyata adalah sebagian dari Kitab Ulangan, yaitu fasal 12-26.

Keempat, sumber “P” (Priester Codex). Sumber ini lahir kira-kira pada tahun 550-500 SM. Penulisan ini terjadi pada masa bangsa Israel ditawan di Babilonia dan Bait Allah di Yerusalem hancur. Pada masa ini para imam menulis segala tradisi yang ada dan mengumpulkannya supaya tidak hilang. Sumber ini mengingatkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa kudus Allah. Dalam kerangka ini sumber P menekankan peranan kultus. Oleh karena itu tulisan-tulisan dari sumber P banyak menyangkut aturan-aturan kebaktian dan imamat. Aturan-aturan kultus P teristimewa terdapat di dalam Kitab Imamat.

Berdasarkan teori empat sumber di atas, dapatlah diambil suatu pengertian bahwa Kitab Taurat ditulis bukan oleh seorang penulis (Musa). Tetapi ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama (kurang lebih tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber di atas dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Sebagai konsekuensinya di dalam Kitab Taurat terdapat beberapa kejanggalan, misalnya dalam pengulangan isi atau cerita, perubahan bahasa, cerita tidak begitu logis dan konsekuen. Secara logis maka Kitab Taurat yang sekarang ini dipercayai sebagai kitab suci agama Yahudi dan Kristen tidak asli lagi sebagai wahyu Allah, karena sudah melibatkan banyak campur tangan manusia dari berbagai status sosial penulisnya, dari berbagai lingkungan sosio-budaya dan disusun selama berabad-abad lamanya.

Berkaitan dengan campur tangan manusia dalam penulisan Kitab Taurat ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan:

Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque) memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu (Rasjidi, 1979: 39).

Selanjutnya Prof. Dr. M.M. Al A’zami dalam hal ini menyatakan:

Sebuah kesan yang salah telah terbangun di antara para pembaca umum bahwa PL telah ditransmisikan sepanjang masa secara persis kata demi kata, dan huruf demi huruf. Padahal tidaklah demikian kasusnya; bahkan “Sepuluh Perintah (The Ten Commandments) saja berbeda dalam dua versi.

Para sarjana sepakat bahwa pada akhir era pra-Masehi, teks PL dikenal dalam berbagai tradisi yang berbeda satu sama lain pada tingkat yang beragam. Untuk menyelesaikan teka-teki tipe teks yang sangat beragam ini, para sarjana telah menggunakan pendekatan-pendekatan (approaches) yang berbeda. “Frank M. Cross menafsirkan keberagaman tersebut sebagai bentuk-bentuk teks lokal Palestina, Mesir, dan Babilonia,” yang berarti bahwa setiap pusat dari pusat-pusat itu memelihara teks PL masing-masing, yang sama sekali berdiri sendiri (independent) dan tak ada hubungan apapaun dengan teks-teks yang digunakan pusat-pusat yang lain. Shemaryahu Talmon menolak teorinya Cross; sebagai gantinya dia berpendapat bahwa “para pengarang, penghimpun, dan juru tulis dulu itu menikmati apa yang bisa diistilahkan sebuah kebebasan yang terkontrol tentang keragaman teks . . . .

Dari tahap transmisi manuskripnya yang paling awal, teks Perjanjian Lama memang dikenal dalam sebuah keragaman tradisi yang berbeda satu sama lain sampai pada kadar yang beragam pula. Jadi, sementara Cross berpendapat bahwa setiap pusat (centre) menentukan bentuk teksnya masing-masing, Talmon berargumen bahwa keberagaman ini tidak disebabkan karena pusat-pusat yang berbeda, akan tetapi karena para penghimpun dan juru tulis teks-teks itu sendiri yang sejak semula memang menggunakan sedikit kebebasan dalam hal bagaimana mereka membentuk ulang teks itu. Apa pun jawabannya, wujudnya bentuk-bentuk teks yang berbeda tidak mungkin dimungkiri”. (Solihin at. all., 2005: 269-270).

Dalam konteks ini Al Qur’an, Surat An Nisa’ ayat 46 telah menyatakan:
“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis”. (Depag., 2003: 126).

Demikian juga di dalam Surat Al Maidah ayat 41 dinyatakan:
“. . . (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” . . . (Depag.,2003: 166).

Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Kitab Taurat dalam Perjanjian Lama, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Kitab Taurat mengalami banyak perubahan.

Analisis terhadap penulisan Empat Injil
Menurut R.P. Boismard ada empat dokumen yang menjadi sumber penulisan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) yang ada sekarang ini. Untuk memudahkan keempat sumber tersebut diberi nama dokumenr A, B, C dan Q.

Dokumen A merupakan sumber yang berasal dari lingkungan Yahudi Kristen. Dokumen ini memberi inspirasi pada Matius dan Markus dalam menulis Injilnya.

Dokumen B merupakan interpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini menjadi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya dalam menulis Injilnya. Hanya Matius yang tidak mengambilnya sebagai insprasi penulisan Injilnya.

Dokumen C memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

Akhirnya dokumen Q merupakan bagian besar dari sumber bersama yang digunakan oleh Matius dan Lukas dalam menulis Injilnya.

Di antara 4 macam dokumen tersebut di atas tidak ada yang menjadi teks definitive yang dimiliki sekarang. Di antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-rdaksi antara yang dinamakan Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara tersebut akhirnya menjadi Injil yang empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dari satu Injil.

Berdasarkan pendapat R.P. Boismard tersebut di atas jelaslah bahwa Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) yang ada sekarang ini tidak asli dari kata-kata atau perbuatan-perbuatan Yesus sendiri yang didengar, dilihat secara langsung oleh Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang kemudian ditulisnya. Injil yang ada sekarang ini berasal dari empat dokumen (A, B, C dan Q). Injil Matius ditulis berdasarkan inspirasi dokumen A, dan Q. Injil Markus ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen A, B, dan C. Injil Lukas ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumen B, C dan Q. Akhirnya Injil Yahya ditulis berdasarkan inspirasi dari dokumrn B dan C.

Selanjutnya sebelum menjadi Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya yang sekarang ini atau yang difinif, ternyata melalui tulisan Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) yang bersifat “sementara” yang disebut dengan istilah Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Tentu saja proses penulisan dari dokumen-dokumen A, B, C, dan Q menjadi “Injil sementara” terjadi banyak perubahan.

Akhirnya proses dari “Injil sementara” (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya) menjadi Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) yang ada sekarang ini atau yang “difinitif,” terjadi lagi perubahan-perubahan.

Ringkasnya proses sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi “Injil sementara” (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas, dan Proto Yahya), kemudian menjadi Injil yang sekarang ini atau yang “definitif” (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya), telah terjadi banyak sekali perubahan. Dengan kata lain Injil yang ada sekarang ini sudah tidak asli lagi.

Dalam hal ini Dr. Maurice Bucaille menyatakan bahwa dengan membaca Injil pembaca sama sekali tidak yakin bahwa pembaca telah membaca kata-kata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi konpensasi bahwa jika pembaca tidak dapat mendengarkan suara langsung dari Yesus, paling tidak ia telah mendengar suara gereja (Rasjidi, 1979: 123).

Beberapa perubahan yang melibatkan banyak tangan manusia di dalam penulisan Empat Injil ini telah diinformasikan di dalam Surat Al Baqarah ayat: 79 sebagai berikut:

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan”. (Depag., 2003: 23).

Dengan demikian informasi Al Qur’an tentang ketidakaslian Al Kitab, termasuk di dalamnya Empat Injil di dalam Perjanjian Baru, sesuai dengan hasil penelitian ilmiah modern yang menyimpulkan bahwa dalam proses penulisannya Empat Injil telah mengalami banyak perubahan.

Kesimpulan

Kitab Taurat tidak asli lagi, sebab tidak ditulis dari satu sumber saja, tetapi dari empat sumber (Yahwist, Elohist, Deuteronomis, dan Priester) , ditulis oleh banyak penulis (para imam dan penulis-penulis lainnya) dari rentang waktu yang lama ( antara tahun 900 SM sampai dengan 500 SM) dan dari tempat dan lingkungan sosio-budaya yang bermacam-macam (Israel, Yehuda, dan Babilonia). Kemudian oleh seorang penulis akhir semua bahan dari empat sumber tadi dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang bernama Kitab Taurat. Proses penulisan dari empat sumber tadi sampai ditulis oleh seorang penulis akhir menjadi Kitab Taurat telah terjadi banyak perubahan.

Sedangkan Empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) tidak asli lagi, sebab proses penulisannya sejak dari empat dokumen (A, B, C, dan Q) menjadi Injil sementara (Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya) sampai menjadi Injil yang sekarang ini atau yang definitif (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) telah terjadi banyak perubahan.


DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an dan Terjemahnya. 2003. Jakarta: Depag.
Duyverman, M.E. 1975. Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Lembaga Alkitab Indonesia. 1983. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Naipospos, P.S (ed.). 1988. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Rasjidi, M (trans.). 1979. Bibel, Qur-an dan Sains Modern. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang.
Santoso, Miriam. 1981. Bibliologi Pengantar Alkitab (Reviced). Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang.
Solihin, Sohirin. at. all. (trans.). 2005. Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: Gema Insani Press.
Steenbrink, Karel A. 1987. Perkembangan Teologi dalam Dunia Kristen Modern. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.
Tulluan, Ola. t.t. Introduksi Perjanjian Baru. Malang: Departemen Literatur YPPII.
Yayasan Penerbit Gandum Mas (trans.). 2001. Pengantar Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas.

Kekinian Zabur, Taurat, dan Injil menurut Al Qur'an


Al-Quran menyebut Zabur (Mazmur) sebagai tulisan, sedangkan Taurat (Torah) dan Injil (Bible) sebagai Al kitab. Suatu isyarat dari Allah SWT bahwa Zabur, Taurat, dan Injil yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Daud Alaihissalam, Nabi Musa Alaihissalam, dan Nabi Isa Alaihissalam berbentuk tulisan, kitab, atau yang menyerupainya. 

Ayat-ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan hal ini di antaranya adalah: 

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur [1] kepada Daud." (QS. An Nisa[4]:163) 

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur [2] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh." (QS. Al Anbiyaa[21]105) 

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. [3]Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?" (QS. Al-Baqarah[2]:87) 

"Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. [4] Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya." (QS. Al Baqarah[2]:113)

Untuk Taurat, Al-Quran bahkan menyebutkan dengan sangat jelas bahwa ia diturunkan oleh Allah benar-benar dalam bentuk lembaran-lembaran atau kepingan dari batu (atau kayu) yang disebut dengan luh. [5] 
"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." (QS. Al-A'raaf[7]:145)

Satu dari (hanya) enam syarat keimanan umat Muslim - yang disebut Rukun Iman - adalah kewajiban mengimani Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah melatakkan keempatnya sama penting. Al-Quran juga membenarkan apa yang ada dalam Zabur, Injil dan Taurat, bahkan janji-janji Allah tercantum di dalam keempatnya. 

"Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkansebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. [6] Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)." (QS. Ali Imran[3]:3-4) 

"Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mu'jizat-mu'jizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna." [7] (QS. Ali Imran[3]:184) 

Kendati pada dasarnya Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan terbatas, dan hanya untuk bangsa Israel - namun kini dianggap sebagai kitab-kitab suci pemeluk agama Nasrani di dunia - tidak banyak kita dapati orang, atau kelompok-kelompok yang seara khusus membicarakan, apalagi sampai memperdebatkan isi dan ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Zabur. Lain halnya dengan Taurat dan Injil yang selama berabad-abad lamanya telah menjadi objek perdebatan melawan Al Qur'an, atau sebaliknya. 

Dalam Al-Quran cukup jelas disebutkan bahwa Taurat dan Injil adalah ajaran yang diturunkan dalam bentuk kitab kepada Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS. Jadi, bukan kitab-kitab yang berisikankesaksian manusia. 

Sedangkan Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru) yang kita kenal sekarang ini adalahkitab lain, atau kitab-kitab yang telah 'ditambah-kurangi' isinya oleh tangan manusia, sehingga bercampur dengan kesaksian-kesaksian manusia sendiri, namun tetap disebut sebagai Taurat dan Injil.

Tidak jelas siapa yang menamakan kesaksian-kesaksian tersebut sebagai Taurat dan Injil, kapan hal itu dilakukan, dan dalam peristiwa apa. Rasanya kita perlu sama-sama meneliti kembali hal ini dengan sangat kritis. Sebab, jika pada waktu itu novelis besar seperti Ernest Hemingway sudah lahir dan menulis sebuah novel misalnya, maka tidak seorangpun dapat melarangnya untuk memberi judul pada novel itu 'Injil' atau 'Taurat'. Tapi mestinya kita dapat dengan mudah mengerti bahwa novel tersebut, tentu saja, bukan Injil atau Taurat sebagaimana yang dimaksud di dalam Al-Quran. Berbeda halnya dengan Taurat dan Injil yang ada sekarang. 

Non-Muslim mengatakan bahwa pada waktu turunnya Al-Quran, sudah ada Alkitab (Perjanjian Lama atau Taurat, dan Perjanjian Baru atau Injil), bahkan sejak tahun 200 M, jauh sebelum kenabian Muhammad SAW dan tidak ada satu kalimatpun tertulis dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut bukan Taurat dan Injil. Untuk mengklarifikasi hal ini, simak ayat-ayat Al-Quran berikut: 

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi." (QS. Maryam[19]:30) 

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali Imran[3]:79) 
"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raaf[7]:157) 
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisaa[4]"171) 

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Maaidah[5]:117-118)

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (QS. Maryam[19]:30-36)

"Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni'mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku." Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim ya'ni siksaan hari yang pedih (kiamat)." (QS. Az-Zukhruf[43]:59-65) 

"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam,Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa." (QS. An-Nisaa[4]:157) 
Jika Al-Quran sendiri mewajibkan setiap Muslim mengimani kitab-kitab sebelumnya, maka isi dari kitab-kitab sebelumnya itu tentu saja harus sama seperti apa yang diturunkan oleh Allah. Apakah mungkin Allah mewajibkan umat Muslim untuk mengimani ajaran yang saling berbeda dan bertentangan? Lebih jauh lagi, apakah mungkin Allah memerintahkan manusia untuk mengimani kitab-kitab yang berisi tulisan dan kesaksian manusia yang dalam konteks ini, tidak jelas atas otoritas siapa, kemudian mensejajarkan tulisan-tulisan itu dengan wahyu atau firman-Nya? Dengan demikian, tentunya mudah untuk difahami bahwa Taurat dan Injil yang dimaksud oleh Al-Qur'an bukanlah Taurat dan Injil (Alkitab) yang ada sekarang.

Lalu, di manakah Taurat dan Injil, kitab-kitab ajaran Tauhid yang diturunkan Allah itu? 

Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan umat Islam. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi umat Kristian tidak ada suatu pemikiranpun yang menyatakan bahwa Injil merupakan sebuah kitab, apalagi tidak ada indikasi sejarah yang mengisyaratkan bahwa dulunya memang ada kitab yang bernama Injil. Namun sesungguhnya ada fakta menarik yang tercantum dalam Alkitab, bahwa dikhabarkan Yesus pergi ke suatu tempat dan mengajarkan Injil, artinya bahwa Injil memang sudah ada pada waktu itu, walaupun tidak jelas apakah berbentuk buku atau ajaran. Yang pasti tidak mungkin semasa hidupnya Yesus memerintahkan Mathius, Markus, Lukas, dll untuk menuliskan kesaksiannya dalam sebuah buku, lalu buku itulah yang dibawa-bawa Yesus dan diajarkan kepada umatnya. Sebab kita semua tahu bahwa ketiga orang yang namanya disebut belakangan tidak hidup di zaman yang sama dengan Yesus. 

Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini, yang menerangkan bagaimana Ahli Kitab[8] dan perilaku mereka pada waktu Al-Quran diturunkan layak untuk kita cermati:

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?" (QS. Ali Imran[3]: 70-71) 
"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maaidah[5]:15)

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Baqarah[2]:79)

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. Al Baqarah[2]:146)

Ayat-ayat di atas mengindikasikan adanya kebenaran - atau isi Alkitab - yang disembunyikan, sekaligus juga peringatan atas perbuatan merobah, menulis, mencampur-adukkan isi Alkitab melalui tangan-tangan mereka sendiri. Itulah sebabnya mengapa TIDAK DITEMUKAN SATU AYATPUN DALAM AL-QUR'AN YANG MENYATAKAN BAHWA TAURAT DAN INJIL ADALAH PALSU. Sebab Taurat dan Injil (kitab-kitab wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan Isa) memang sebenar-benarnya ada, namun untuk kepentingan sekelompok manusia, kemudian disembunyikan oleh 'oknum-oknum' Ahli Kitab. 

Untuk kepentingan manusia inilah kemudian dimunculkan kitab-kitab yang ditulisi oleh tangan-tangan mereka sendiri tadi sebagai ganti Taurat dan Injil yang disembunyikan. Ajaran Kitab Taurat dan Injil versi baru ini ada yang sesuai dengan ajaran Al-Qur'an namun banyak yang telah dijungkir-balikkan. Itu sebabnya mengapa kemudian turun ayat, "Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan banyak dari isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkan."

Jadi, pertanyaan mengenai keberadaan kitab Taurat dan Injil asli di atas dapat kita ganti menjadi: 
Dimanakah Kitab-kitab itu sekarang, dan siapakah yang sengaja menyembunyikannya? 

Bahkan rasanya pertanyaan itu masih perlu diperjelas lagi menjadi: 
Siapakah yang diuntungkan dengan disembunyikannya Taurat dan Injil yang asli, dan fihak manakah yang paling dirugikan jika kitab-kitab tersebut terungkap? 

Anda semua tentu mengetahui saat-saat paling kritis dalam sejarah penyebaran ajaran Kristian yang dimulai sejak kematian Yesus. Sejarah masa-masa di mana umat Kristus pertama dikejar-kejar dan dibunuh, sejarah munculnya gereja, sejarah konsili, dll. Ada baiknya jika peristiwa-peristiwa sejarah tersebut diteliti kembali secara sangat kritis.

Adapun tentang peristiwa turunnya Nabi Isa alaihissalam, atau Yesus, kembali ke bumi, perlu kiranya kita cermati pula hadist Rasulullah dibawah ini:

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, katanya Rasulullah bersabda: Demi Allah yang jiwaku ditangannya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun ditengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil, akan dihancurkannya salib, dibunuhnya babi, dihapuskannya pajak dan kekayaan akan melimpah ruah, sehingga tidak seorangpun yang bersedia menerima pemberian." [HR. Muslim]

"Jabir bin Abdullah mendengar Rasulullah bersabda: Nabi Isa akan turun ketengah-tengah umat, lalu pemimpin-pemimpin mereka berkata: Sudilah anda shalat dan menjadi pemimpin kami, jawab nabi Isa alaihassalam: Tidak! Masing-masing kamu boleh menjadi pemimpin bagi yang lain, selaku suatu kehormatan yang dilimpahkan Allah kepada umat ini." [HR. Muslim] 

Bagaimana jika kita tafsirkan bahwa turunnya nabi Isa alaihissalam kembali ke bumi nanti akan mengungkap dan mengembalikan kitab Injil yang diturunkan Allah kepadanya? Perintah Allah yang selama ini disembunyikan, yakni yang berisi perintah agar menghancurkan salib (mengkoreksi ajaran yang menyebut Yesus sebagai menebus dosa manusia), membunuh babi (mengharamkan babi), membolehkan makmum untuk menjadi imam (menghapus otoritas gereja yang mengambil inisiatif sebagai 'jembatan' hubungan manusia dengan Tuhan), dlsb?

Lalu, bagaimana pulakah pertolongan Allah untuk umat Kristian yang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah tersesat atau disesatkan? Apakah ada petunjuk Allah yang dapat menolong? Apakah umat Kristian harus menunggu sampai Nabi Isa alaihissalam turun ke bumi? 

Eloknya, dan ini sangat penting untuk diketahui baik oleh umat Muslim maupun umat Kristian sendiri, bahwa dalam Al-Qur'an kita diberitahu: AL-QUR'AN MENYERUKAN PERINTAH ALLAH AGAR UMAT KRISTIAN KEMBALI MELURUSKAN AJARANNYA. AL-QUR'AN TIDAK MEMINTA AGAR UMAT KRISTIAN BERGANTI AGAMA MENJADI ISLAM.

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali Imran[3]:64)

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maaidah[5]:15)

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". (QS. Al-Maaidah[5]:68)

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maaidah[5]:77)

Apakah anda, khususnya saudara-saudara pemeluk Kristian, dipaksa berpindah agama oleh Al-Qur'an? Sama sekali tidak! Anda diseru untuk meluruskan ajaran yang selama ini anda yakini. Jika anda sudah meluruskan aqidah anda, menyatakan bahwa Allah itu Tuhan Yang Satu, tidak memiliki sekutu, baik dalam angan-angan apalagi secara lahiriah, tidak mempercayai adanya ritual penebusan dosa (sebab dosa manusia hanya mungkin dihapus jika manusia itu sendiri yang memohon ampun dan bertobat kepada Allah satu-satunya yang paling berhak mengampuni dan menghapus dosa-dosa manusia), maka terlepas dari apakah anda pemeluk Kristian atau Muslim, anda akan disebut sebagai seorang Ahli Kitab yang beriman. Lantas, mungkin saja anda bertanya, apakah ada Ahli Kitab yang seperti itu, dan bagaimana imbalannya menurut Al-Qur'an?

"Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang)."(QS. Ali Imran[3]:113)

"Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya." (QS. Ali Imran[3]:199)

"Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan." (QS. Al-Maaidah[5]:65)

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (QS. Al-Maaidah[5]:82) 

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur an dan kenabian Muhammad SAW)." (QS. Al-Maaidah[5]:83)

Dengan demikian tentunya dapat difahami bahwa 'keberatan' umat Muslim terhadap Kristianiti dewasa ini sesungguhnya bukan terletak pada para pemeluknya, melainkan pada ajarannya yang diyakini telah menyimpang dari apa yang disampaikan dan diajarkan sendiri oleh Yesus, atau yang oleh umat Muslim dikenal sebagai Nabi Isa alaihissalam. 

Umat Muslim mempercayai dan tanpa keraguan sedikitpun mengimani Isa alaihissalam, atau Yesus, sebagai Rasul Allah, dan kitab suci Injil sebagai kitab wahyu yang diturunkan Allah melalui beliau. Maka wajarlah apabila berdasarkan temuan-temuan ilmiah, apalagi Al-Qur'an sendiri menyiratkan bahwa kerasulan Yesus dan kesucian Injil telah 'dikotori' oleh tangan-tangan manusia, maka banyak umat Muslim yang merasa sangat prihatin dan oleh karenanya sebagian dari mereka merasa terpanggil untuk ikut meluruskan kesalahan tersebut demi kepentingan umat Kristian sendiri. Adapun jika kemudian ada di antara umat Kristian yang bertanya; "apa perdulimu?" maka perhatikanlah kembali firman Allah dalam (QS. Al-Maaidah[5]:82) di atas; 

" ......... Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani ....." 

Berbeda dengan umat Kristian, dalam hal ini para misionaris, yang cenderung sangat gigih mengajak umat lain, termasuk umat Muslim untuk memeluk agama Kristian, maka tugas umat Muslim (bagi yang merasa terpanggil untuk melaksanakannya) terbatas hanya untuk menyampaikan seruan Allah agar saudara-saudaranya itu kembali ke ajaran Tauhid, yakni menyembah Tuhan Yang Satu. Hanya sebatas itu. Tidak lebih, tidak kurang. 

Mengapa demikian? Simaklah firman Allah berikut ini: 

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut162 dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah[2]:256) 

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah394, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya395, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah396, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini397 orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,[9] dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam[10] itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa398 karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Maaidah[5]:3) 

"Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku." (QS. Qaf[50]:45) 

Semoga ada manfaatnya. 
Amin.