Kamis, 22 Desember 2011

Isa Alaihissalam Menurut Al-Qur'an Dan Hadits


Ini juga tulisan yang panjang dan karenanya saya menganjurkan pembaca - apa pun keyakinan anda, untuk lebih bersabar dalam menyimaknya dan mudah-mudahan saja dapat pula memahami pandangan Islam tentang issue-issue krusialseputar Isa Alaihissalam - menurut Islam, atau Yesus Kristus - menurut Kristiani, yang seolah tidak ada habisnya diperdebatkan oleh kedua umat ini sejak jaman dahulu hingga hari ini.

Dari begitu banyaknya topik yang selama ini kerap "dipertentangkan" oleh berbagai pihak (maupun kepentingan) melalui polemik terbuka di banyak situs internet - yang ujung-ujungnya sering berubah menjadi ajang saling menghujat - maka dalam tulisan berikut ini saya ingin coba menyoroti, atau lebih tepatnya menelaah kajian terbatas pada hal-hal yang menurut hemat saya sangat prinsip. Untuk itu, demi memelihara adab seperti yang diajarkan Tuhan melalui Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW khususnya kepada umat muslim, maka dengan lebih dulu mengucap Basmalah, mari kita mulai dengan firman Allah SWT berikut ini:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS. Al-Ankabut[29]:46)

Dalam pengertian yang sangat sederhana, ayat di atas menyiratkan 3 pesan kepada Rasulullah SAW dan tentu saja, kepada seluruh pengikut beliau untuk:

Pertama: Senantiasa menahan diri dari perdebatan (tentang agama) dengan ahli kitab (pengikut ajaran kitabullah - atau kitab-kitab Allah) yang juga diimani umat Islam seperti Zabur (Mazmur), Taurat (Torah) dan Injil sebagai kitab-kitab pendahulu dari Al-Qur'an.

Kedua: Dalam hal terpaksa berdebat, maka tidak ada cara lain yang dibenarkan oleh Allah SWT untuk dilakukan kecuali cara-cara yang paling baik. Dengan demikian, menghujat agama manapun, terutama agama samawi (yang datang dari Allah melalui para nabi dan rasul), di dalam ajaran Islam adalah perbuatan yang jelas-jelas DILARANG!

Ketiga: Kendati ada "pengecualian" tentang larangan berdebat ini, namun sangat penting untuk difahami bahwa itu hanya berlaku kepada orang-orang zalim (atau yang menzalimi agama Allah SWT) dengan tujuan untuk menyampaikan 2 pesan penting, yakni bahwa umat Islam mengimani semua kitabullah, dan bahwa sesungguhnya Tuhan dari semua ahli kitab adalah satu, yakni Allah SWT, satu-satunya llahi kepada siapa kita semua diperintahkan untuk tunduk, patuh, dan berserah diri. [1]

Berangkat dari pemahaman sederhana ini, maka marilah selanjutnya sama-sama kita simak penjelasan serba ringkas menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

I. Kenapa Nabi Isa Di Juluki Al Masih?

Jawab:
Tidak diragukan lagi, bahwa nama aslinya adalah Isa. Nama itulah yang disebutkan dalam al-Quran seperti dalam ayat berikut:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu ..." (QS Ash-Shaff [61]:09)

Dan ayat berikut:

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ"
"Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya." (QS Maryam [19]:34)

Dan ayat berikut:

وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ
"... dan Zakariya, Yahaya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh." (QS Al-An'am [6]:85)

Dan ayat berikut:

إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدتُّكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلاً وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإِنجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْراً بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ إِنْ هَـذَا إِلاَّ سِحْرٌ مُّبِينٌ
"(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai 'Isa putra Maryam, ingatlah ni'mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata." (QS al-Maidah [5]:110)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya, seperti di antaranya:

ذْ قَالَتِ الْمَلآئِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ
الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهاً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
(Ingat!ah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera Maryam." ( QS. Ali Imran [3]: 45)

Perhatikan juga firman Allah ini: "Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah."(QS.An-Nisa' [4]:172) dan "Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam." (QS. An-Nisaa [4]:171)

Sebagian ulama Salaf berpendapat, nabi Isa dijuluki al-Masih dari kata saaha, yaitu karena beliau sering berpindah tempat, atau banyak berjalan kaki. Pendapat lain mengatakan karena telapak kakinya datar. Dan ada juga yang memberi alasan kata al-Masih dari akar kata ma-sa-ha, karena dengan izin Allah, setiap kali ia mengusap orang yang sakit, maka si sakit segera sembuh.

Laits dan Abu `Ubaid berkata; "Kata al-Masih berasal dari bahasa Ibrani, Machih. Kemudian diserap ke dalam bahasa Arab, dan lafadznya ikut berubah dari huruf Syin Masyih menjadi huruf Sin Masih. Oleh sebab itu, dalam bahasa Arab kata al-Masih tidak ditemui akar katanya." Namun mayoritas ulama (jumhur) berpendapat, bahwa kata al-Masih itu adalah musytaq (memiliki akar kata). Menurut ahli bahasa yang lain, kata al-Masih berarti As Siddiq (yang membenarkan).

Pendapat lain mengatakan, karena sentuhan (masaha) nabi Zakariya kepada Isa. Dan ada juga yang memberi alasan karena nabi Isa berkelana di bumi (dari kata masaha yang artinya qatha'a atau menempuh jarak). Berikutnya ada ahli bahasa yang memberi alasan karena saat terlahir ke bumi, tubuh nabi Isa AS sudah terolesi minyak (dari kata masaha). Pendapat lain, karena nabi Isa AS ketika lahir disentuh oleh keberkahan. Pendapat berikutnya, masih dari kata masaha yang artinya khalaqa; nabi Isa AS diciptakan Allah dengan fisik yang sempurna dan bagus. Dan masih banyak lagi pendapat lain, sebagaimana diterangkan Imam Nawawi dalam Syarh Muslim [Lihat Syarh Kitab al-Imam Muslim li an-Nawawi (Bab tentang al-Masih bin Maryam dan Masih Dajjal), (1/510). Dan lihat juga Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar AI 'Asqalani, Kitab Hadits-hadits kisah para nabi. (6/544)].
Wallahu'alam.

II. Bagaimana dengan ayat al-Qur'an yeng menyebutkan bahwa: "Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami ...." yang kemudian diyakini oleh umat Nasrani sebagai salahsatu bukti bahwa nabi Isa adalah anak Tuhan?

Jawab: Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari anggapan yang merendahkan dzat Allah SWT seperti itu. Ayat tersebut selengkapnya terdapat dalam (QS At-Tahrim [66]: 12) seperti firman Allah SWT:

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
"Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang ta'at."

Selain itu disebut juga dalam (QS. Al-Anbiya' [21]: 91)

وَالَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَاهَا وَابْنَهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami."

Ayat-ayat ini menyatakan adanya tiupan ruh kepada Maryam dan ruh itu masuk ke dalam rahimnya sehingga ia mengandung nabi Isa. Allah berfirman:

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَراً سَوِيّاً
"Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (QS. Maryam [19]: 17).

Ruh yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat yang kemudian berbicara kepada Maryam; "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:19)

Dalam tafsir disebutkan bahwa malaikat meniupkan ruh ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim, maka jadilah nabi Isa.

Yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu - atau makhluk - yang diciptakan Allah dari ruh, yang dengan adanya ruh itu maka sang makhluk menjadi hidup. Sama seperti yang terjadi pada penciptaan nabi Adam sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُ سَاجِدِينَ
"Maka apabila Aku telah menyempumakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk karnu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijir [15]:29)

Allah telah meniupkan ruh kepada Nabi Adam AS, sama halnya dengan ditiupnya ruh kepada nabi Isa AS. Ini jelas menunjukkan bahwa baik Nabi Adam AS maupun Nabi Isa AS adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah. Lebih jelas perhatikan ayat-ayat berikut:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin TuhanNya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr [97] : 4)

Dan Allah juga berfirman:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفّاً لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرحْمَنُ وَقَالَ صَوَاباً
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf." (QS. an-Naba'[ 78] : 38).

Kesimpulannya, nabi Isa AS tercipta dari ruh yang berasal dari Allah, yakni ruh ciptaan Allah, sama kejadiannya bahwa dengan ruh itu pula Allah menciptakan sekalian manusia. Adapun seperti kita ketahui, manusia yang pertama kali "dihidupkan" dengan ditiupkannya ruh ke dalam jasadnya adalah Nabi Adam AS.

Allah berfirman: "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah [32]: 9)

Dengan demikian, tentunya dapat difahami bahwa bukan ruh itu, sekali lagi; BUKAN RUH ITU yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa. Sebab Ruh yang ditiupkan kepadanya sama dengan ruh yang ditiupkan oleh Allah SWT kepada seluruh makhluk bernyawa ciptaan-Nya, yakni makhluk yang bergerak dan bertebaran di alam semesta ini sampai tiba saatnya ruh-ruh itu satu persatu dicabut kembali oleh Allah SWT melalui tangan-tangan malaikat pencabut nyawa Izrail AS. Lalu, apa yang menjadikan Nabi Isa AS istimewa? Jawabnya, tentu saja, kenabian beliau! [2]
Wallahu'alam.

III. Jika demikian, siapakah sebenarnya Roh Kudus atau Ruhullah itu?

Jawab: Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
"Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. An-Nahl[16]:162)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam bukunya al-Jawab Ash-Shahih li man Baddala bi Din al-Masih - ditahqiq dan dikomentari oleh Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Askar dan Dr. Hamdan al-Hamdani (3/248) - tentang penjelasan makna yang tepat terhadap kata ruhullah - Ruh Allah, adalah malaikat yang merupakan ruh pilihan Allah, dan Allah mencintainya seperti tersebut dalam al-Quran:"Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa." la (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam [19]:17-19).

Allah memberitakan bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya (melalui ruhullah - Jibril AS) kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Kita semua mengetahui bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah. Maka dapat mengerti bahwa ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat, yaitu ruh pilihan Allah. Allah menyandingkan kata ruh itu kepada Dzat-Nya, sama halnya dengan penyandingan kata benda yang lain dengan lafzul jalalah, seperti dalam ayat: "(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya." (QS. asy-Syams [91]:13) dan ayat: "Dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud" (QS. AI-Hajj[22]:26) dan firman Allah: "(Yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanyahamba-hamba Allah minum." (QS. Al-Insan [76]: 6)

Kata yang disandingkan kepada Allah, jika itu adalah kata keterangan (sifat), tidak bermakna makhluk, seperti kata `llm, Qudrah, Kalam, dan Hayat (hidup), menjadi sifat kesucian Allah. Dan jika kata itu adalah kata benda, ia berdiri sendiri atau menjadi kata keterangan dari yang lain, contohnya: kata bait(rumah), naqah (unta), 'abd (hamba) dan ruh (nyawa) menjadi milik, ciptaan yang disandarkan kepada pencipta dan pemiliknya.

Hanya saja, dalam kaidah idhafat, mudhaf ilaih tidak terlepas dari pengkhususan kata mudhaf dengan sifat yang membuat mudhaf ilaih berbeda dari yang lain sebagai syarat sahnya idhafat. Misalnya dalam hal ini khusus Ka'bah, Naqah (unta tertentu) dan Ibadussholihin (hamba-hamba shalih)-lah yang sesungguhnya dimaksudkan dalam idhafat baitullah, naqatullah dan ibadullah.

Demikianlah ruh khusus pilihan Allah yang disebut dalam idhafat ruhullah tadi tidak boleh dijeneralisir sehingga termasuk ruh-ruh yang buruk, seperti syaitan, Iblis, orang kafir, dlsb.

Ruh syaitan dan orang-orang kafir itu memang makhluk ciptaan Allah, namun tidak sah diidhafatkankepada Allah seperti mengidhafatkan ruh-ruh yang suci dan bersih. Begitu juga tidak sahmengidhafatkan segala benda mati kepada Allah kecuali Ka'bah, dan tidak sah mengidhafatkan unta-unta lain kecuali naqatullah (unta Allah) sebagaimana diterangkan dalam surat asy-Syams di atas, yaitu unta nabi yang Shalih.

Menurut Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, makna yang benar dari idhafat ruhullah itu adalah 'malaikat utusan dari sisi Allah' seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an: "Ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS. Maryam[19]:19). Bukan seperti yang selama ini diimani oleh umat Nasrani sebagai: `Ruh Allah menyatu dengan jasad Isa' atau`Ruh Allah berpindah ke jasad Isa'. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari prasangka seperti itu.

Seandainya keyakinan umat Nasrani di atas benar, pasti Allah juga akan mewajibkan mereka untuk menyembah Nabi Adam AS. Sebab ayah dari seluruh umat manusia ini bahkan diciptakan tanpa ayah dan ibu, dan lebih jauh lagi, ruh Nabi Adam AS ditiupkan oleh Allah SWT tanpa melalui perantaramalaikat Jibril (ruhullah) yang dalam penciptaan Nabi Isa AS, harus turun dulu ke bumi untuk menemui Maryam.

Difirmankan oleh Allah SWT, sebagaimana tersirat dalam Al-Quran "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr[15]:29). Di sana terlihat bahwa sesungguhnya tiada perbedaan antara peciptaan Nabi Adam AS dan Nabi Isa AS, begitu juga dengan seluruh umat manusia ciptaan Allah SWT.

Al-Quran menegaskan hal itu dalam ayat: "Sesungguhnya penciptaan 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia." (QS. Ali `Imran 3:59). Kesimpulannya, sudah seharusnya mereka yang berkeyakinan di luar batasan ini untuk kembali ke ajaran yang benar. Berpaling dari kekeliruan selama ini untuk selanjutnya menyembah Allah yang Esa, yang tiada satu dzat pun pantas menjadi sekutu-Nya.

IV. Ayat: "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada Ku" (QS Ali 'Imran [3]:55). Apakah pengertian yang menyebutkan Isa 'wafat' dalam surah ali Imran ini mengandung makna yang sesungguhnya atau bukan?

Jawab:
Makna 'wafat' yang tepat di sini adalah 'tidur'. Yaitu, Allah mengangkat nabi Isa ke sisi-Nya dalam keadaan tidur. Dalam bahasa Arab, kata 'tidur' sah dipakaikan dalam makna wafat, setidaknya hampir serupa dengan wafat (mati), sebagaimana firman Allah:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي
قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahan jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan." (QS az-Zumar [39]:42)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia (hidup) sesungguhnya wafat di dalam tidur. Saat tertidur - dan ruh terpisah dari jasad - manusia praktis kehilangan kepekaannya sebagai makhluk hidup. Otak meraka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan gerak atau aktifitas bagian mana pun dari seluruh organ tubuhnya (kecuali hal-hal yang terjadi di alam bawah sadar seperti mengigau, tidur berjalan dan hal-hal sejenis itu).

Saat terbangun dari tidur, atau tepatnya saat ruhnya dikembalikan oleh Allah SWT ke jasad masing-masing, maka kecuali Allah SWT menghendaki lain, segala kemampuan normalnya sebagai manusia akan kembali berfungsi sebagaimana lazimnya.

Dalam hadits disebutkan bahwa sebelum beranjak tidur Rasululah SAW selalu berdoa: "Dengan Nama-Mu wahai Tuhanku, aku baringkan badanku, dan dengan Nama-Mu juga aku mengangkatnya. Kalau Engkau mencabut nyawaku, sayangilah ia, dan jika Engkau belum mencabutnya, jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga nyawa hamba-hamba-Mu yang shalih". [3] Ketika Rasulullah SAW terbangun, ia membaca doa: "Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali." [4] serta membaca: "Segala puji bagi Allah Yang telah mengembalikan ruhku kepadaku dan Yang telah menyehatkan jasadku." [5]

Dengan adanya hadits-hadits ini jelaslah bahwa makna ayat tersebut adalah: "Sesungguhnya Aku mematikanmu (seperti rupa yang mati waktu tidur), ketika itu engkau tidak merasakan diangkat ke langit."

Artinya nabi Isa tertidur pulas, dan dalam keadaan tidur pulas itulah Allah mengangkatnya ke langit sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Nabi Isa tidak terbangun kecuali setelah sampai di langit. Ulama lain berpendapat, nabi Isa diwafatkan, dengan pengertian mati yang sesungguhnya, namun hanya sebentar. Ketika dalam kondisi tidak bernyawa, ia diangkat ke langit, kemudian ia dibangkitkan, dan kembali hidup.

Lebih jauh tentang hal ini, mari sama-sama kita simak penjelasan berikut:

Mathar al-Warraq menafsirkan ayat "Sesungguhnya Aku mewafatkanmu ..." bermakna mewafatkanmu dari dunia, tapi bukan berarti mati. Penafsiran yang sama juga ditarik oleh Ibnu Jarir: Sesungguhnya wafatnya Isa AS adalah diangkatnya ia dari dunia karena telah ditetapkan bukan sebagai ahli (penghuni) dunia lagi. Dan atas kuasa Allah SWT setelah itu ia tidak lagi memerlukan segala kebutuhan ahli dunia seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain hal yang bersifat manusiawi. Cukup banyak hadits yang mengkabarkan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman nanti, dan ia akan menjalankan hukum Islam. Ia akan mematahkan palang-palang salib, memusnahkan babi, meniadakan upeti (pajak), dan yang ia terima hanyalah agama Islam. Hal ini diperkuat oleh firman Allah SWT:

"Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya (sebelum kematian Isa). Dan di hari akhir nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka" (QS. an-Nisa'[4]: 159).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Mufti Saudi Arabia, rahimahullah menulis dalam bukunya Majmu' Al Fatawa, Bab: Tauhid dan hal-hal yang berkenaan dengannya (1/433) sebagai berikut:

Para ulama berbeda pendapat mengenai penafsiran kata almutawaffa (dimatikan/diwafatkan) yang ada dalam ayat "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengongkat kamu kepada-Ku."

Pendapat-pendapat tersebut di antaranya:

Pertama: Yang dimaksud dengan wafat di sini adalah wafat dalam artian mati, sebab itulah pengertian yang zahir (tekstual) dari ayat tersebut jika tidak disandingkan dengan bukti-bukti terkait lainnya. Dan dikarenakan kata mutawaffa terdapat dalam al-Quran lebih dari sekali, seperti dalam ayat:"Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu..."(QS. As-Sajadah[32]:11), dan dalam ayat: "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar" (QS. Al-Anfal[8]:50). Demikian pula di ayat lain, kata waffa juga memiliki pengertian 'mati'. Atas dasar makna inilah penafsiran ayat tersebut memakai uslub (gaya) taqdim danta'khir.

Kedua: Dengan makna qabd (berada dalam genggaman). Pendapat ini dinukil Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya dari sekelompok ulama salaf, dan Ibnu Jarir memilih pendapat ini sekaligus mendudukkannya di tingkat pertama dibanding dengan pendapat-pendapat lain. Dengan demikian, makna ayat tersebut adalah sebagai berikut: "Sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi ke alam langit, engkau dalam keadaan hidup kemudian aku mengangkatmu ke sisi-Ku."

Dalam ucapan orang-orang Arab juga terdapat makna yang persis dengan makna waffa dalam ayat tersebut, yaitu: "tawaffaitu maali min fulan," maksudnya, aku menggenggam (menguasai) seluruh harta kekayaanku dari si Fulan. Atau dengan kata lain, aku berkuasa sepenuhnya atas kekayaanku dari gangguan si fulan.

Ketiga: Maksud wafat pada ayat tersebut adalah wafat yang berarti 'tidur'. Sebab kata naum (tidur) dalam bahasa Arab dapat diartikan juga sebagai wafat (mati). Maka pemaknaan ayat tersebut adalah tidur dengan merujuk kepada dalil dari ayat-ayat al-Qur'an seperti firman Allah SWT yang artinya: "Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari", dan ayat: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka la tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan."

Pendapat yang kedua dan ketiga lebih kuat dari pendapat yang pertama. Kesimpulannya, pendapat yang benar adalah yang didukung oleh dalil-dalil yang jelas, dan dikuatkan dengan fakta, bahwa ia diangkat ke langit dalam keadaan hidup. Dengan kata lain Nabi Isa AS belum pernah mati, dan senantiasa dalam keadaan hidup di langit sampai pada suatu saat nanti akan turun ke bumi untuk melaksanakan tugas yang diembannya sesuai dengan pemberitaan lewat hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Setelah menyelesaikan tugas-tugas itu, barulah beliau wafat - sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan Allah.

Dari keterangan ini dapat dimengerti bahwa penafsiran kata yatawaffa dengan makna maut (mati dengan dicabut nyawa) adalah pendapat yang lemah, tidak akurat. Sekiranya pun pendapat itu benar, maka sudah barang tentu yang dimaksud adalah wafatnya Isa di akhir zaman nanti. Artinya, penyebutan kata itu sebelum kejadian "pengangkatan" termasuk gaya bahasa taqdim (mendahulukan sesuatu) dengan makna ta'khir (diakhirkan). Sebab sebagaimana diingatkan oleh ulama dan ahli bahasa Arab, huruf "waw" (kata sambung) tidak selamanya mengandung pengertian tartib (urutan).

Sedangkan anggapan bahwa nabi Isa AS tewas dibunuh, atau tewas disalib, ayat-ayat di dalam Al-Quran secara terang dan tegas membatalkan dan menolaknya. Al-Qur'an juga dengan sendirinya menolak pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa AS tidak diangkat ke langit tapi hijrah ke Kashmir (India) dan lama hidup di sana (sampai wafat secara normal) dan tidak akan turun sebelum hari Kiamat. Dan jika pun ada, maka yang akan datang itu adalah "duplikat" nabi Isa.

Pendapat ini benar-benar pendapat batil, menentang ketetapan Allah SWT dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT serta hadits Rasulullah SAW yang jelas menyiratkan bahwa Nabi Isa AS senantiasa hidup sampai sekarang dan akan turun di kemudian hari sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah SAW.

Berpegang pada keterangan di atas tentunya kita menjadi lebih faham bahwasanya siapa pun yang "mengklaim" nabi Isa AS tewas terbunuh di tiang salib, atau yang mengatakan bahwa nabi Isa AS berhijrah ke negeri Kashmir dan hidup di sana cukup lama sebelum mati dengan cara yang normal - dan setelah mati tidak pula diangkat ke langit - adalah pendapat yang menentang Allah SWT , mendustakan ayat-ayat Allah SWT, serta menafikan hadits Rasulullah SAW.

Kita semua tahu bahwa barangsiapa mendustakan Allah dan Rasul-Nya hukumnya adalah kafir. Oleh karenanya, siapa pun yang (masih) mempercayai pendapat keliru ini hendaknya bersegera ightifar, bertaubat, dan kembali ke jalan yang benar. Kitab Suci al-Quran dan hadits dengan jelas memberitakan bahwa jika seseorang bertaubat dan kembali ke jalan Allah SWT, niscaya ia selamat. Namun jika tidak, maka ia akan mati dalam kekufuran.

Dalil-dalil yang menyatakan bahwa "kematian" Nabi Isa AS tidak seperti yang disangkakan sebagian besar umat Nasrani cukup banyak, bahkan sangat jelas diterangkan oleh Allah SWT sendiri melalui firman-Nya:

"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa'[4]:157-158)

Dan ini masih dikuatkan oleh hadits-hadits dari Rasulullah SAW yang memberitakan tentang turunnya nabi Isa AS di akhir zaman sebagai hakim yang adil, yang akan membunuh Dajjal Sang Sesat, mematahkan palang salib, membunuh babi, meniadakan upeti (pajak), dan tiada satu agama pun yang ia terima kecuali agama Islam.

Hadits-hadits tersebut adalah hadits mutawatir dan status shahihnya akurat, sebab berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama sependapat menerima berita itu untuk diimani karena ada dalil dan mereka sebutkan sendiri di dalam buku-buku aqidahnya.

Adapun yang menolaknya dengan alasan karena haditsnya hadits ahad, juga tidak dapat menolaknya secara penuh, atau mentakwilkan hadits tersebut dengan pengertian bahwa manusia di akhir zaman nanti berpegang kepada akhlak Al-Masih AS, bersikap lembut, penyayang, merangkul orang-orang dengan semangat, tujuan, dan subtansi hukum - bukan dengan teks atau redaksi hukum - jelas merupakan pendapat yang keliru, batil, dan menyalahi pendapat mayoritas ulama Islam. Pendapat ini bahkan terang-terangan menolak nash yang tsabit (fakta) dan mutawatir sehingga dapat dianggap sebagai tindakan kriminal terhadap syariah, menentang ajaran Islam dan nabi yang ma'shumMuhammd SAW. Sebuah bentuk kebodohan jahiliyah yang menilai sesuatu dengan hukum prasangka dan hawa nafsu, atau keluar dari kebenaran serta petunjuk dari Allah SWT.

Orang yang berpegang teguh pada syariat, yang percaya sepenuhnya kepada para nabi dan rasul pembawa syariat, yang menjunjung tinggi hukum serta segala nash ajarannya, tentu tidak mungkin gegabah dan berani membuat pernyataan seperti itu.

Demikian pula dengan pendapat yang menyatakan bahwa hadits pembawa berita tentang turunnya Nabi Isa AS adalah hadits ahaddan tidak dapat dijadikan landasan hukum, adalah pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya, hadits-hadits yang memberitakan hal itu cukup banyak, diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits shahih, kitab sunan dan kitab musnad para ulama hadits denganthariqul hadits serta sanad yang bervariasi, telah mencukupi kriteria mutawatir.

Lalu, bagaimana mungkin orang-orang yang pengetahuannya tidak cukup tentang syariah mengatakan tidak menerima dan menolak untuk berpegang pada hadits-hadits ini?

Sekiranya pun hadits-hadits ini dianggap sebagai hadits ahad, perlu difahami bahwa tidak semua hadits ahad tidak layak dijadikan landasan hukum. Sebab sesuai dengan metode ulama hadits dan ahli hahqiq hadits; maka hadits ahad, jika thariq haditsnya banyak, sanadnya lurus dan tidak cacat, ia sah dijadikan sebagai landasan hukun. Dengan metode ini, hadits-hadits tentang berita turunnya nabi Isa adalah hadits yang status keshahihannya sudah lulus kriteria, sanad dan riwayatnya juga bervariasi. Sehingga tidak ada alasan yang tepat untuk menolak hadits-hadits tersebut. Ia sah dijadikan dalil, baik itu disebut sebagai hadits ahad atau hadits mutawatir.

Dengan demikian, semoga kita menjadi lebih mengerti akan kekeliruan syubhat tentang memaknai "kematian" Nabi Isa AS yang telah diselewengkan dari kebenarannya menurut Islam. Tindakan yang paling parah dan penentangan paling dahsyat terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pendapat yang mentakwilkan hadits-hadits tersebut kepada pengertian yang tiada sangkut-pautnya dengan dalil-dalil hadits.

Pelaku ini telah menggabungkan dua kesalahan sekaligus, yaitu pendustaan atas nash dan ketidakpercayaannya akan berita yang disampaikan melalui hadits Rasulullah SAW tentang turunnya Nabi Isa AS. Ia tidak menerima bahwa Nabi Isa AS akan menjadi hakim adil untuk sekalian umat manusia, membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung ia telah mengidentikkan Rasulullah SAW - salahsatu manusia terpilih yang paling mengetahui perkara-perkara syariat Allah di antara umat manusia - sebagai orang yang telah mencampuradukkan hukum, tidak sesuai antara ucapan dan maksud (atau tujuan) ucapannya - padahal redaksi ucapan beliau dalam hadits cukup jelas - lalu perkara ini diartikan sebagai puncak pendustaan, pengelabuan serta penggelapan terhadap umat sehingga tidak selayaknya Nabi Muhammad SAW masuk dalam kriteria seorang rasul Tuhan.

Orang yang mentakwilkan ini persis seperti penganut paham ateis yang menisbahkan para nabi dan rasul sebagai fantasi demi kepentingan mayoritas umat manusia, dan menurut mereka apa yang dipetik dari ucapan para nabi bukanlah redaksi yang sesungguhnya. Paham ini telah ditangkis oleh ahlul ilmi wal iman, mereka telah mencoret paham tersebut dengan pena fakta dan bukti-bukti akurat.

Semoga kita terlindungi dari penyakit hati, terhindar dari kerancuan, dari fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan dari godaan syaitan. Marilah kita memohon kepada Allah semoga kita terbebas dari ketundukan terhadap hawa nafsu dan syaitan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada kekuatan yang dapat menyelamatkan kita kecuali kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Maha Perkasa.

Semoga keterangan di atas dapat menjadi rujukan menuju kebenaran dan kejelasan aqidah yang diridhai oleh Allah SWT.

Amin Ya, Rabbal Alamin.


CATATAN KAKI:
[1] Lihat penjelasan dalam wikipedia tentang "berserah diri"

[2] Lihat Tarikh - Sejarah Para Rasul: Nabi Isa Alaihissalam di Serambi Mengaji

[3] Hadits HR. Bukhari nomor: 7393 Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Muslim dengan nomor hadits: 714. Kitab: Zikir, Doa, Toubat dan Memohon ampun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur don ketika berboring'. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Abu Daud dengan nomor hadits: 5050. Kitab: Adab. Bab: Doa sebelum tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ibnu Majah dengan nomor hadits: 3874. Kitab: Doa, Bab: Doa menjelang tidur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ahmad di kitab hadits Musnad (2/246, 422,432), diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

[4] HR. Bukhari (nomor hadits: 7394) Kitab: Tauhid, Bab: Berdoa dan meminta perlindungan dengan menyertakan Asma'ullah al-Husna.' Diriwayatkan dari Huzaifah ra. Muslim dengan nomor hadits: 2811. Kitab: Zikir, Doa, Taubat dan Memohon ompun, Bab: Bacaan doa sebelum tidur dan ketika berboring, diriwayatkan dari al­Barra' ra. Abu Daud, dengan nomor hadits: 5049 Kitab Adab, Bab: Doa sebelum tidur, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ibnu Majah, dengan nomor hadits: 3880, Kitab: Doo, Bab: Doa ketika terjaga di tengah malam, diriwayatkan dari Huzaifah ra. Ahmad, dalam kitab hadits Musnad (5/385, 387), diriwayatkan dari Huzaifah ra.30. HR. Turmudzi, dengan nomor hadits: 3398, Kitab: Doa-doa. Nasai, dengan nomor hadits: 866, Bab: Amalan siang dan malam. Ibnu Sinni, dengan nomor hadits: 9. Hadits ini shahih menurut Imam Nawani dalam bukunya Af-Adzkar, nomor: 28. Dan oleh al-Bani, hadits ini statusnya hasan, dalam buku Shahih al-Kalim at Thayyib, nomor: 37.

[5] Pendapat yang tepat yang dipilih Ibnu Jarir-rahimahullah dalam tafsir Jami' al-Bayan (3/256), adalah pendapat yang menafsirkan dengan: "Sesungguhnya aku menarikmu dari bumi dan mengangkatmu ke langit." Alasannya, karena hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah SAW di antaranya hadits yang menyebutkan bahwa nabi Isa AS akan turun, dan ia akan membunuh Dajjal, kemudian bertahan di muka bumi dalam jangka waktu tertentu. Sementara menurut Asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsir Fathul Qadir (1/344), yang tepat adalah bahwa Allah mengangkat nabi Isa AS ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu. Pendapat ini didukung oleh mufassir-mufassir dan dipilih oleh Ibnu Jarir at Thabari. Alasannya ialah bahwa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang mengabarkan turunnya nabi Isa AS dan akan membunuh Dajjal.

Sebenarnya masih ada lagi pendapat selain ini yang menafsirkan bahwa Allah SWT mewafatkan Nabi Isa AS selama tiga jam di siang hari, kemudian mengangkatnya ke langit. Namun pendapat ini lemah karena tidak memiliki bukti yang akurat.

[Dipetik dari berbagai sumber dengan rujukan utama penjelasan dari Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin]

Risalah Nabi Isa Alaihissalam

Isa (bahasa Arab: عيسى, `Īsā, Essa) (sekitar 1 - 32M) adalah nabi penting dalam agama Islam dan merupakan salah satu dari Ulul Azmi. Dalam Al-Qur'an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa al-Masih. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Ia mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah. Cerita tentang Isa kemudian berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah, penolakan oleh Bani Israil dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke surga.
Etimologi

Kata Isa ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umum digunakan umat Kristen untuk menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu' al-Masih (bahasa Arab: يسوع المسيح).

Genealogi

Narasi Qur'an tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya. Kemudian Al-Qur'an menceritakan keajaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa ayah.
(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). (Ali 'Imran: 45)
Wujud

Dalam situs Google Books dikatakan bawa wujud fisik Isa digambarkan oleh Muhammad yaitu, rambutnya terbelah dua, wajahnya tampan, kulitnya putih agak kemerah-merahan. Muhammad bertemu dengan Isa, ketika ia sedang dalam Isra Mi'raj ke Sidrat al-Muntahā, dilangit kedua yang disebut sebagai Al-Maa'uun.[1]
Riwayat
Kelahiran

Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan sepanjang dalam beberapa ayat dalam Al Qur'an. Menurut kisah di Al-Qur'an, Maryam selalu beribadah dan telah dikunjungi oleh malaikat Jibril. Jibril mengatakan kepada Maryam tentang akan diberikan calon anak yang bernama Isa, Maryam sangat terkejut, karena ia telah bersumpah untuk menjaga kesuciannya kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu dan bagaimana pula dia bisa hamil tanpa seorang lelaki, lalu Jibril menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah bagi Allah, yang ingin membuat dia sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya. Seperti halnya dalam konsep penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.
Pembicaraan mereka terekam dalam salah satu surah didalam Al-Qur'an
ibril berkata; "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan". (surat Maryam: 21)
...Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. (Maryam: 35)
Beberapa ayat lain terkait dengan kelahiran Isa antara lain
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran: 59)
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam (Al Anbiyaa': 21)
Setelah Isa berada didalam rahim Maryam, ia lalu mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Disana ia melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah batang pohon kurma. Isa kemudian berbicara memerintahkan ibunya dari buaian, untuk mengguncangkan pohon untuk mengambil buah-buah yang berjatuhan, dan juga untuk menghilangkan rasa takut Maryam dari lingkungan sekelilingnya Maryam berzinah, kemudian Maryam menunjuk kepada anaknya yang baru lahir itu, maka Isa pun menjawab
Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.. (Maryam: 30-32)
Referensi dalam hadits lain adalah: "Ketika setiap manusia lahir. Setan menyentuh seorang bayi di kedua sisi tubuh dengan dua jarinya, kecuali Isa a.s., putera Maryam, Setan mencoba menyentuhnya tapi gagal, karena dia hanya menyentuh plasentanya saja."[2]
Menurut al-Tabari, hal ini disebabkan karena doa Maryam: "Aku berlindung kepada-Mu, untuk dia dan keturunannya dari setan yang terkutuk."
Misi sebagai nabi

Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil, untuk mengajarkan tentang ke-esaan Tuhan dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa telah dinubuatkan dalam Taurat, membenarkan ajaran-ajaran nabi sebelumnya. Isa digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya, seperti berbicara sewaktu masih bayi dalam peraduan, memberikan nyawa/kehidupan pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati dan meminta makanan dari surga atas permintaan murid-muridnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Yahya bin Zakariyya[3] pernah bertemu dengan Isa di sungai Yordan, sewaktu Yahya pergi ke Palestina. Sungai Yordan tempat dimana Isa bin Maryam pernah bertemu dengan Yahya bin Zakariyya.[4] menurut beberapa kisah.

Beberapa ayat dari Al Qur'an yang menegaskan tentang kenabian Isa antara lain:

Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia." (Maryam: 30-35)

Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku". Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). " (Az Zukhruf: 63-65)

"Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu)." (Al Maa'idah: 75)

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (Al Maa'idah: 116-117)

Isa dan Ruhul Qudus

Qur'an juga menceritakan perihal Isa yang diberikan kekuatan dengan ruh kudus oleh Tuhan.
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapamukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (Al Baqarah: 253)

Ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata". (Al Maa'idah: 110)

Isa tidak dibunuh ataupun disalib

Al-Qur'an menerangkan dalam surat An Nisaa':157 bahwa Isa tidaklah dibunuh maupun disalib oleh orang-orang kafir. Adapun yang mereka salib adalah orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah seperti Isa. [5]
dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An Nisaa': 157)
Isa diangkat ke langit

Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa ditangan musuhnya. Al-Qur'an menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. Al Qur'an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa':158)
Ramalan dan misi Isa di akhir zaman 
Turun kembali ke bumi

Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi.[6] Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:

Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi.[6] Peristiwa itu tergambar dari hadist berikut:
  • “Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air waulupun ia tidak basah.”[7]
  • “Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa bin Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al Mahdi): “Kemarilah dan imamilah shalat kami.” Ia menjawab; ”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam).”[8]
  • “Tiba-tiba Isa sudah berada diantara mereka dan dikumandangkanlah shalat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam shalat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab: "Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami shalat kamu”.[9]
Menurut Islam, hal pertama yang dilakukan Isa setelah turun dari langit adalah menuaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang di imami oleh Imam Mahdi.
Adapun lokasi turunnya Isa dijelaskan oleh Muhammad dalam sebuah hadist berikut:
  • “Isa ibn Maryam akan turun di ‘Menara Putih’ (Al Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik.”[10]
Kedatangan Isa akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia, setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal
Membunuh Dajjal

Turunnya Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.
Dikisahkan setelah Isa selesai menunaikan shalat, ia berkata: "Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal." Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal silaknat yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi.

Begitu Dajjal melihat Isa, maka dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air. Kemudian dajjal melarikan diri, akan tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina. Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan."

Lalu Isa menombak dan membunuhnya, maka Isa memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal (dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Isa.

Menyelamatkan manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj

Salah satu tugas besar beliau setelah membunuh dajjal adalah menyelamatkan ummat manusia dari fitnah Ya’juj dan Ma’juj.[11]
Dikisahkan, fitnah dan kejahatan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) sangat besar dan menyeluruh, tiada seorang manusiapun yang dapat mengatasinya, jumlah mereka pun sangat banyak sehingga kaum Muslimin akan menyalakan api selama 7 tahun untuk berlindung dari penyerangan mereka, para pemanah dan perisai mereka.[12]

Maka saat mereka telah keluar (dari diding tembaga yang mengurung mereka sejak zaman raja Zulkarnain) maka Allah SWT berkata kepada Isa ibn Maryam: ”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba (Ya’juj dan Ma’juj) yang tidak mampu diperangi oleh siapapun, maka hendaklah kamu mengasingkan hamba-hambaKu ke Thur (Thursina)”

Dan di Thur terkepunglah Nabiallah ‘Isa beserta para sahabatnya, sehingga harga sebuah kepala sapi lebih mahal dari 100 dinar kamu hari ini.Kemudian Nabiyullah ‘Isa dan para sahabatnya, menginginkan itu, maka mereka tidak menemukan sejengkalpun dari tanah di bumi kecuali ia dipenuhi oleh bau anyir dan busuk mereka. Kemudian Isa dan sahabatnya meminta kelapangan kepada Allah SWT maka Allah mengutus seekor burung yang akan membawa mereka kemudian menurunkan mereka sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Allah menurunkan air hujan yang tidak meninggalkan satu rumahpun di kota atau di kampung, maka Ia membasahi bumi sehingga menjadi seperti sumur yang penuh.”[13]
Dahsyatnya fitnah Ya’juj dan Ma’juj digambarkan dalam sebuah hadist Rasulullah saw. sebagai berikut:
  • "Dinding Ya'juj dan Majjuj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiyaa: 96)
Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslim akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya'juj dan Ma'juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebahagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminum air sungai tersebut sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut, maka mereka berkata: "Dulu di sini pernah ada air". Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang dari mereka: "Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit", kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit, dan tombak tersebut kembali dengan berlumur darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah.
Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslim berkata: "Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami berani mati) untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh musuh kita ini?" maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian dia menemui bahwa mereka semua telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berhimpitan), maka laki-laki tersebut menyeru: "Wahai semua kaum Muslim bergembiralah kamu sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri sudah membinasakan musuhmu", maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang-padang rumput kemudian padang rumput tersebut dipenuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.”[14]
Menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman

Menurut suatu riwayat, Isa setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut :
  • “Demi yang diriku berada ditangan-Nya, sesungguhnya Ibnu Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya.”[15]

Menunaikan ibadah haji

Diceritakan dalam sebuah hadist bahwa Isa akan melaksanakan haji.
  • ”Demi Dzat yang diriku berada ditanganya, sesungguhnya Ibnu Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak.”[16]

Isa akan wafat

Setelah Isa menjadi pemimpin yang adil di akhir zaman, Allah akan mewafatkan beliau. Hanya Allah saja yang tahu kapan dan dimana Isa akan diwafatkan. Setelah wafatnya Isa Al-Masih dunia kemudian dunia akan kiamat.
Al-Hawâriyyûn (Pengikut)

Dalam berdakwah, Isa didampingi para pengikutnya yang disebut al-Hawâriyyûn, yang jumlahnya 12 orang, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-masing hawari ini ditugaskan untuk menyampaikan risalah Injil bagi masing-masing suku Bani Israil. Namun nama-nama hawari tersebut tidaklah disebutkan di dalam Al-Quran. Kisah para sahabat Isa ini terdapat dalam surat Al-Mâ'idah: 111-115 dan surat Ãli-'Imrân: 52. Dalam surat tsb diceritakan bahwa al-Hawâriyyûn meminta Isa untuk menurunkan makanan dari langit. Nama surat Al-Maidah yang berarti makanan diambil karena mengandung kisah ini. Kejadian turunnya makanan dari langit ini makin menambah ketebalan iman para pengikut Isa.
Kepercayaan dasar Islam tentang Isa

Isa disebutkan dengan banyak nama di dalam Al-Quran. Sebutan yang paling umum adalah "Isa bin Maryam" (Isa putra Maryam), kadang-kadang diawali dengan julukan lain. Isa juga diakui sebagai seorang nabi dan utusan (rasul) Allah. Istilah wadjih ("patut dihargai dalam dunia ini dan selanjutnya"), mubārak ("diberkati" atau "sumber manfaat bagi orang lain"), `abd-Allah (hamba Allah) adalah semua yang digunakan dalam Al-Qur'an dalam memberikan nama/julukan kepada Isa.
Nama lain yang sering disebutkan adalah Al-Masih, yang diterjemahkan ke "Mesias". Islam menganggap semua nabi, termasuk Isa, sebagai manusia biasa dan tanpa berbagi dalam Ketuhanan, sehingga tidak sama dengan konsep Kristen tentang Mesias. Muslim menjelaskan penggunaan kata Masih dalam Al Qur'an sebagai merujuk kepada Isa, yaitu status sebagai seorang yang diurapi dan merupakan bentuk pujian, dengan mukjizatnya antara lain ialah dapat menyembuhkan orang sakit dan menyembuhkan mata orang buta. Ayat Qur'an juga menggunakan istilah kalimatullah (yang berarti "firman Tuhan") sebagai penjelasan tentang Isa, yang mengakui dirinya sebagai sebagai utusan Allah, dan berbicara atas nama Allah.

Teologi

Ajaran Islam menganggap Isa hanya sebagai utusan Allah saja. Kepercayaan yang menganggap Isa sebagai Allah atau Anak Allah, menurut Islam adalah perbuatan syirik(mengasosiasikan makhluk sama dengan Allah), dan dengan demikian dianggap sebagai suatu penolakan atas konsep Keesaan Tuhan (tauhid).
Islam melihat Isa sebagai manusia biasa yang mengajarkan bahwa keselamatan datang dengan melalui kepatuhan manusia kepada kehendak Tuhan dan hanya dengan cara menyembah Allah saja. Dengan demikian, Isa dalam ajaran Islam dianggap sebagai seorang muslim, begitu pula dengan semua nabi Islam. Islam dengan demikian menolak konsep trinitas dalam Ketuhanan Kristen, seperti juga konsep tentang Ketuhanan Yesus.

Pendahulu Muhammad

Muslim meyakini bahwa Isa adalah sebagai seorang nabi pendahulu Muhammad, dan menyatakan bahwa setelah ia akan muncul seorang nabi terakhir, sebagai penutup dari para nabi utusan Tuhan. Hal ini berdasarkan dari ayat Al-Qur'an, di mana Isa menyatakan tentang seorang rasul yang akan muncul setelah dia, yang bernama Ahmad. Islam mengasosiasikan Ahmad sebagai Muhammad. Muslim juga berpendapat bahwa bukti Isa telah memberitahukan tentang akan hadirnya seorang nabi terakhir ada di dalam kitabnya.
Suatu argumentasi dari pakar muslim menyatakan bahwa kata bahasa Yunani parakletos, yang berarti "penghibur" yang diramalkan akan datang dalam Injil Yohanes, sesungguhnya adalah kata periklutos, yang berarti "termasyhur, agung, terpuji". Kata terakhir ini dalam bahasa Arab dianggap sebagai Ahmad, atau Muhammad.