Jumat, 12 Agustus 2011

haleluya artinya “terpujilah dewa bulan”


Para pembaca yang dirahmati Allah ., dan seluruh alam semesta ciptaaNya., sekarang kita akan melihat suatu keterangan bukti siapa sebenarnya yang menyembah dewa bulan, zaman dulu Allah memang dianggap dewa bulan ole horang-orang arab pagan, karena pada saat Nabi ismail wafat akhirnya pergeseran demi pergeseran dari ajaran ibrahim yang benarpun mulai menyimpang yaitu penyembahan terhadap dewa bulan yang dibawa oleh orang –orang mesir tapi tindakan mereka tidak dapat memperkenalkan ‘dewa Yah’ kepada orang-orang arab karena seperti yang kita ketahui orang arab sangat kuat dalam menjaga tradisi nenek moyang, maka timbul ide orang-orang pagan mesir mengatakan bahwa dewa bulan yang mereka sembah bernama Allah hal ini merupakan metode yang juga dilakukan oleh kaum pagan yunani yaitu paulus dalam memperkenalkan Isa sebagai ‘Je Zeus’ kepada orang romawi, akhirnya hingga kedatangan rasulullah orang-orang arab menjadi memiliki kepercayaan bahwa Allah itu dewa bulan, dan dengan kedatangan Nabi Arab Muhammad . kembali sebagai sebutan kepada Tuhan yang sejati pencipta Alam semesta, bukan lagi sebutan untuk dewa bulan.
Suatu kesalah yang telah terjadi sejak turun temurun yang dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristen adalah pemujaan terhadap Yah, umat kristen begitu ngotot bahwa tuhannya Ibrahim bernama ‘Yah Weh’, dan Allah SWT.adalah dewa bulan, ternyata hal tersebut sangat berbeda dengan kenyataan, ternyata dewa bulan yang sesungguhnya adalah YHWH, dan umat kristen dan yahudi selalu memujanya dalam ucapan ‘Haleluya’. Satu lagibukti, Allah SWT. adalah tuhannya Ibrahim adalah pengakuan dari parapakar dan sarjana bible sendiri.
Hal ini disadari oleh para pakar alkitab di Indonesia dan di ‘situs Sabda’, sehingga mereka tetap mengatakan Allah adalah nama tuhan dan YHWH adalah hanya gelar seperti halnya adonai, god, ataupun tuhan ataupun king. Tapi ada orang kafir yang begitu sok dan ngotot mengumbar kebodohan dan kemaluan sendiri di setiap web dan bahkan buat blok sendiriuntuk pamer kemaluan, dan mengatakan YHWH lah tuhan sejadi dan Allaha dalah dewa bulan, tidak taunya dia membuka pengetahuan kita untuk mencari tau apa itu Yhwh ternyata para ahli memang sengaja tidak berani mengatakan bahwa YHWH adalah nama tuhan adalah suatu alasan nya karena YHWH ditemukan sebagai nama dari dewa pagan Mesir kuno. Hal yang dilakukan Duladi atau Baidowi ternyata telah membuka borok yahudi selebar-lebarnya bahwa yang mereka sembah adalah Dewa bulan.
Ok sekarang kita dalam judul Haleluya, maka kita akan membahas Yah atau Ya atau Ia yang terdapat pada kalimat “Halelu Ya”. menurut orang-orang yahudi sebutan Haleluya berarti pujilah tuhan. “Ya”sengaja diartikan sebagai Tuhan karena kata Ya terdapat pada “Yahweh”. Benarkah Ya atau Ia atau Yah adalah berarti Tuhan? Ini adalah dewa bulan, di babilonia para pagan menyebut dewa bulan dengan sebutan “Ya, Ia ataupun Yah” dewa ini bencong alias memiliki dua identitas sebagai laki-laki dan perempuan.Tidak berjenis kelamin dan tidak menikah, kemudian ada yang benarama“Shua” adalah sebutan untuk dewa langit, jadi ketika orang menggabungkan kedua kata Ia dan Shua maka akan terbentuk dua dewa pagan sekaligus,yaitu Dewa bulan dan Dewa langit, jadi “YahShua” atau IaShua” adalah sebutan nama untuk “Dewa Bulan dan Dewa Langit”.
Suatu keanehan, alkitab memuat nama dewa bulan bangsa babilonia sebagai nama lain dari dewa bulan yaitu baal, mereka bangsa yahudi telah murtad setelah mereka mulai memuja berhala EHYEH, bulan dalam bahasa Ibrani berarti yareach, dan ini sama dengan sebutan untuk YHWH, Ibrani modern mengeja ini sengaja berbeda, untuk menyimpangkan identitas asli dari dewa pagan mesir kuno. Tapi tidak masalah, para sarjana sangat mengetahui ini adalah benar. Bukti para sarjanapun sangat berlimpah untuk bisa dan tak pernah bisa tersanggah oleh orang yahudi bahwa YHVH adalah Dewa bulan. Dan mereka para yahudi dan kristen telah lama menjadi penyembah berhala.
Hal yang dilihat dan pengalaman-pengalaman bangsa bani israel selama di mesir dulu selalu membayangi bangsa bani Israel ini. Yang mana kehidupan dengan dewa-dewa dan kekuatan sihir dari mesir kuno dan majikan mereka. Mereka benar-benar tidak bisa meninggalkan tradisi yang mereka lakukan secara turun temurun sejak mereka dalam perbudakan bangsamesir kuno.
Walau sebelumnya telah diperingatkan oleh Musa, bani Israil tetap dalam penentangan mereka, dan ketika Musa meninggalkan mereka, mendaki Gunung Sinai seorang diri, penentangan itu tampak sepenuhnya. Dengan memanfaatkan ketiadaan Musa, tampillah seorang bernama Samiri. Dia meniup-niup kecenderungan bani Israil kepada apa yang dilakukan oleh majikan mereka dulu yaitu menyembah berhala. dan membujuk mereka untuk membuat patung seekor anak sapi dan menyembahnya. Konon kisah berhala tersebut terbuat dari emas yang didalamnya dimasukkan tanah pijakan NabiMusa dan Dengan sedikit mantra yang dilihat waktu majikannya dulu berbuat sihir maka patung tersebut pun dapat berbicara, sihir itu disebut Kabbalah.
Kecenderungan bani Israil terhadap keberhalaan Mesir Kuno dan dewaYah (dewa Bulan), yang telah kita gambarkan di sini, penting untuk dipahami dan memberi kita wawasan tentang perubahan dari teks Taurat
Penyisipan ajaran keberhalaan mesir kuno oleh umat yahudi ini sudah menjadi kekhawatiran dalam diri Musa sendiri, ke khawatiran Musa tertulis dalam kitab ulangan 31:26 “Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkuk mu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. (takut diubah isi taurat oleh orangisrael)
Bukti penyimpangan-penyimpangan bangsa Israel kepada dewa mesir kuno banyak tercatat dalam Alkitab, seperti dalam: Bilangan 22:41 dan Num25:3, hakim-hakim 2:13, 8:33; 2raja2 23:13, 1:2, 16:16, 23:13, 1raja 211:33
Mazmur 68:4 2Tawarikh 33:3; Yehezkiel 8:16; 8:1 dan lainya.
Nah kembali kepada Haleluya apakah artinya?
Dalam bahasa Ibrani Halelu berarti “Puji” dan Ya adalah dewa bulan
Lihat disini nama-nama dewa mesir kuno http://touregypt.net/godsofegypt/index.h
tm
Jadi haleluya artinya adalh puji dewa bulan
Umat kristen terpelajar memang sangat menyembunyikan itu dan berusaha untuk mengatakan bahwa Tuhan ibrahim adalah Allah, lihat situs Sabda sangat jelas YHWH diartikan sebagai gelar sebutan saja bukan nama pribadi tuhan, YHWH sama dengan Adonai, King, Tuhan, dll. Tapi KRISTEN begitu ngotot mengatakan bahwa Tuhan Ibrahim dalam alkitab adalah YHWH sampai kirim surat ke LAI untuk merubah terjemahan Tuhan jadi YHWH, gak bisa dibayangin pasti orang LAI mentertawakan kebodohan ini..
by.fakhrudin

mengenal kitab wahyu karangan yohanes


Mengenal Kitab Wahyu (Apocalypse)
Penulis Kitab Wahyu (Apocalypse) mungkin merupakan Kitab satu-satunya yang mengakui dengan jelas peran inspiratif dalam penulisannya, Namun Kitab terakhir Perjanjian Baru ini masih saja menyisakan berbagai persoalan.
Secara tradisional penulisan Kitab ini dinisbatkan kepada Johannes, walaupun perdebatan masih terjadi merujuk kepada identitas Johannes yangdimaksud. Konon Kitab ini ditulis berdasarkan Mimpi-mimpi Johannes saat diasingkan di pulau Patmos. Mimpi-mimpi yang diasumsikan sebagai inspirasi Ilahiah terhadap Johannes berisi simbol-simbol aneh, yang tampaknya sangat menarik bagi penduduk di masa itu.
mimpiJohannes berisikan nubuat-nubuat apokalips dan kisah-kisah simbolis akhir jaman yang kebenarannya tidak dapat terbukti kecuali setelah terjadi. Untuk menguji kebenarannya, kita perlu meninjau petunjuk Perjanjian Lama :
Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? –
apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Ulangan 18:20-22)
Melihat peringatan ayat tersebut, tampaknya penulis Kitab ini harus mempertaruhkan nyawanya di tangan Allah. Sebab, bila ia menulisnya tanpa dasar wahyu yang sesungguhnya, ia telah melakukan dosa yang sangat besar. Ayat di atas dapat pula diterapkan pada pernyataan-pernyataan Paulus dalam berbagai suratnya, yang mengatasnamakan ajaran atau ucapan Yesus.
Sebenarnya tiada yang istimewa dari nubuat Johannes, Seorang awam dapat saja meramalkan terjadinya peperangan, bencana alam, kelaparan, wabah penyakit di masa depan tanpa perlu menjadi rasul atau peramal. Tidak lain karena hal-hal tersebut (peperangan, bencana, wabah) merupakan suatu kepastian yang mesti terjadi tanpa perlu diramalkan, peristiwa-persitiwa itu sudah terjadi bahkan sejak manusia menginjakan kakinya di dunia. Satu-satunya taruhan besar yang dilakukan penulis Wayhu adalah saat mengatakan bahwa akhir jaman telah dekat.
Pernyataan akan kedatangan akhir jaman memang selalu menjadi favorit pemuka Agama yang ingin mendapatkan banyak penganut secara instan. Entah telah berapa ribu orang yang memproklamirkankan kedatangan akhir jaman, tetapi pada akhirnya perhitungan mereka semua yang mengaggukan tersebut terhempas ke tanah dan terkubur oleh waktu.
Kaum Yahudi (atau kristen) saat itu memang sangat menyukai kisah-kisah nubuat kehancuran jaman, dimana kaumnya akan memenangkan peperangan melawan kafir, dan sungguh mereka tidak sabar atas kedatangan peristiwa tersebut. Yesus sendiri, mendapatkan banyak dukungan ketika ia mengikrarkan kedatangan akhir jaman, para pendukungnya mengira Yesus sendiri yang akan memimpin perlawanan terhadap kekaisaran Romawi, sayangnya harapan tersebut tidak terjadi dan Yesus akhirnya tidak melakukan perlawanan apapun terhadap kekaisaran.
Tetapi tetap saja, umat Yahudi pasca kematian Yesus tetap menantikan akhir jaman tersebut. Berbagai kisah apokalips palsu disusun atas kemauan mereka sendiri dan menisbatkan penulisannya terhadap orang-orang terpandang seperti Petrus dan tokoh penting lain. Salah satunya adalah Kitab Apocalypse of Peter merupakan salah satu Kitab apokrip yang ditulis sekitar tahun 100-150 M., seratus tahun setelah kematian Petrus yang asli ! Selain itu dikenal juga Kitab kisah apokaliptik atas nama Yakobus dan Paulus, keotentikan keduanya sangatlah diragukan.
Kaum Yahudi sebelum masa Yesus juga gemar membuat Kitab serupa yang penulisannya diatributkan kepada nabi-nabi mereka, seperti Musa, Nuh dan Henokh. Semua itu demi memenuhi ketidaksabaran mereka atas kedatangan messias yang akan membawa mereka keluar dari penderitaan selama berabad-abad. Sedih melihat kenyataan bahwa ketika mesias tersebut benar-benar datang, mereka menyangkalnya. Saat para penulis Perjanjian Baru menyusun karyanya pun, mereka meyakini dekatnya akhir jaman. Termasuk penulis Kitab mimpi ini, ia mengatakan :
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.”(wah 1:3)
Mereka bertambah yakin atas dekatnya akhir jaman setelah melihat kaumnya dibantai penguasa Romawi yang mereka anggap sebagai perwujudan sang setan. Mereka tidak mengetahui perkembangan masa depan dimana “sang setan” akan berteman dengan kaumnya sendiri, yaitu saat Konstantin memproklamirkan agama Kristen tirinitas sebagai agama negara. Akhir jaman tampaknya harus tertunda beberapa abad lagi.
mimpi Johannes berbentuk analogi-analogi atau simbol-simbol yang tidak masuk akal. Kisahnya harus diartikan secara khusus atau Kitab ini tidak berharga sama sekali. Bagaimanapun seluruh isi Kitab ini merupakan mimpi seorang Johannes, patut kita pertanyakan mengapa Yesus tidak sempat memberikan kisah-kisah atau pernyataan-pernyataan ini selagi hidup agar dapat diketahui seluruh muridnya, mengapa tidak ada suatu Kitab tersendiri berjudul “The apocalypse of Yesus” yang ditulis oleh Yesus sendiri ? Dan mengapa ia harus menyatakannya dalam mimpi Johannes yang tidak dikenal. Pengakuan keotentikan dari para Bapak Gereja awal juga beragam, sebagian menolak dan lainnya menerima. Marilah kita menyimak sejarah penerimaan Kitab ini sebagai anggota Kitab suci.
Sejarah Penerimaan
Secara tradisional penulis Kitab ini adalah rasul Johannes, tanpa memperdulikan berbagai persoalan yang diakibatkan keputusan ini. Tradisi menyebutkan Johannes sempat menulis beberapa karya lain dalam Perjanjian Baru, yaitu Injil, surat-surat dan Kitab wahyu ini. Sayangnya sampai saat ini kita masih belum menemukan bukti kuat untuk mendukung pandangan tersebut. Dukungan teori ini memang muncul melalui pernyataan beberapa bapak gereja awal, khususnya Iranaeus. Menurutnya Johannes mendapatkan visi saat diasingkan di pulau Patmos oleh rejim Dominitian, sekitar tahun 95 M.. Sedangkan sarjana modern yang menyangkal kepenulisannya turut mendapat dukungan dari karya-karya bapak Gereja awal seperti Dyonisius, Papias, dan Eusebius.
Marcion yang mencium aroma Yahudi yang kuat pada Kitab ini tidak ketinggalan menolak keotentikannya. Para Alogi dan Dynosius menganggap baik Injil maupunKitab wahyu sebagai karya heretis Cerinthus. Pandangan mereka cukup mempengaruhi pandangan Gereja Timur secara umum, sehingga tidak serta merta menerima kanonitas Kitab ini. Dalam riwayat lain, Kitab ini absen dari Kitab sinopsis Athanasius, daftar tujuh puluh Kitab, Pesshita (Bible Syria) dan berbagai catatan penting lainnya. Kelompok Nestorian dan Jakobian turut menolak otoritas Kitab ini. Kaum Kristen Syria hingga saat ini menolak karena melihat penggunaan Kitab ini dalam kalangan heretis Montanis. Sebaliknya Gereja barat secara umum menerima otoritas Kitab ini, kecuali Jerome yang menempatkanya dalam status diragukan, berada di antara status canonikal dan apokripa.
Pada dasarnya penolakan didasarkan atas perbedaan penggunaan bahasa Yunani dalam Kitab ini yang berbeda apabila dibandingkan dengan teks Injil Johannes yang dianggap ditulis oleh orang yang sama. Bagaimanapun kita tidak boleh menganggap ringan pandangan ini. Perbandingan gaya penulisan merupakan satu bentuk pengujian keotentikan yang cukup akurat. Bila kita dapat menerapkan pengujian tersebut terhadap tulisan-tulisan Paulus, mengapa kita tidak dapat menerapkan ujian yang sama pada karya-karya yang dianggap ditulis oleh Johannes ?
Tom Harpur dalam “America obsessed with future apocalypse” hal 57 menyebutkan bahwa penulis Kitab wahyu menggunakan bahasa Yunani kasar, sedangkan Injil Johannes terkenal atas bahasa Yunani halusnya. Bila menggunakan pertimbangan tersebut, tampaknya rasul Johannes lebih memungkinkan untuk menulis Kitab ini daripada Injil. Dengan asumsi rasul Johannes Hanyalah seorang nelayan galilea yang berbicara dengan bahasa Aramia dalam kehidupan sehari-harinya. Atas dasar itulah ia tentunya tidak akan menulis suatu karya dengan bahasa Yunani yang sempurna. Dyonisius bahkan mempertimbangkan nama Johannes Markus sebagai penulis Kitab ini, dengan dasar kesamaan penggunaan bahasa kasar dalam Injil Markus.
Perbandingan bahasa bukan satu-satunya alat penguji keotentikan Kitab ini. Ada dua ujian lagi yang harus dilewati. Tidak lain adalah kesulitan waktu. Dengan anggapan rasul Johannes menulis Kitab ini di akhir abad pertama di pulau Patmos, akan bertentangan dengan pandangan bahwa Johannes yang sama menulis Injinya pada waktu yang sama di Efesus atau daerah lain diluar Patmos. Selain itu ia pastilah telah berumur sangat tua saat menulis Kitab ini. Dengan perkiraan ia menjadi murid Yesus saat berumur 20 tahun-an (ia merupakan murid termuda), ia telah berumur seabad lebih saat menulis Kitab ini. Mampukah seseorang berumur seabad lebih menulis beberapa Kitab sekaligus ? Beberapa riwayat bahkan menyebutkan waktu kematian yang lebih awal bagi Johannes. Kesulitan selanjutnya adalah perbedaan dari sisi teologi. Perbandingan Injil Johannes dan Kitab wahyu menunjukan muatan teologi yang berbeda, Dyonisius turut menyadari hal ini sehingga tekadnya untuk menolak otoritas rasul Johannes atas Kitab ini menguat.
Perbedaan lain yang dianggap kadang terlewatkan adalah frase favorit Injil Johannes, “murid terkasih”, yang tidak pernah disebutkan dalam Kitab ini. Dibandingkan dengan surat Johannes (I, II dan III Johannes), Penulis Kitab ini juga tidak malu membubuhkan namanya, berbeda saat ia menulis surat-surat Johannes yang miskin identitas. Masih dari segi bahasa, saat Injil Johannes membicarakan Kristus sebagai “domba”, ia mengggunakan kata”amnos”, sedangkan Kitab wahyu menggunakan kata “arnion”. Selajutnya dalam penyebutan kata Jerusallem, Penulis Injil menyebutnya sebagai “ierosoluma”, sedangkan Kitab wahyu menggunakan kata “ierousalem”. Penulis Kitab wahyu tampaknya masih terpengaruh bahasa Ibrani yang kuat, sedangkan Injil Johannes menunjukan penguasaan bahasa Yunani lebih sempurna.
Waktu Penulisan
Sesuai dengan riwayat Iranaeus yang menyebutkan bahwa Johannes menperoleh visinya pada masa akhir kekuasaan Dominitian, maka penentuan masa yang lebih awal menjadi semakin mustahil. Tradisi menyebutkan bahwa Iranaeus merupakan kawan dari Polycarp, yang pernah menjadi murid Johannes di Efesus. Masalahnya, dengan perkiraan masa Dominitian sebagai waktu penulisan Injil ini, maka Johannes pastilah telah berumur sekurangnya seratus tahun saat menulisnya ! Selain itu nubuat mengenai kehancuran Jerusalem akan menjadi sia-sia karena telah terjadi. Itulah sebabnya para sarjana konservatif terus berusaha mencari alasan untuk menempatkan waktu penulisan Kitab ini sebelum kehancuran kuil Jerusallem, dalam jangka waktu tahun 60-69 M. atau sebelum rejim Nero. Keputusan ini meninggalkan pertanyaan tempat penulisan karena Johannes mengaku penulisan Kitab ini dilakukan di pulau Patmos (1:9). Tidak ada riwayat yang pernah menyebutkan bahwa Johannes diasingkan di pulau tersebut oleh Nero atau kaisar sebelumnya.
Pandangan mengenai waktu penulisan Kitab yang lebih awal (60-69 M.) memiliki dasar-dasar sebagai berikut, dan sebagai pembantahan saya menggunakan argumen E.B. Horae Elliott :
* Sarjana konservatif akan mengacu pada nubuat Johannes mengenai kehancuran kuil, yang mengindikasikan bahwa Kitab ini ditulis sebelum peristiwa tersebut. Tetapi kenyataanya nubuat ini tidak harus ditujukan terhadap kuil Jerusallem, perumpamaan mengenai kuil biasa dilakukan oleh penulis-penulis Yahudi lainnya seperti Ezeliel, Daniel, Zakaria, dll.. Elliot melihatnya dari sisi yang tidak jauh berbeda, ia menganggap nubuat mengenai kehancuran kuil hendaknya tidak diartikan secara literal atau fisik, tetapi harus ditafsirkan secara lebih luas seperti simbol-simbol lain yang Johannes berikan dalam Kitab ini.
* Beberapa sarjana konservatif menuduh Iranaeus telah memberikan riwayat yang ambigu atau bahkan keliru saat menyebutkan bahwa Johannes memperoleh visinya di masa akhir Dominitian. Riwayat Iranaeus merupakan batu sandungan utama bagi penentuan waktu penulisan yang lebih awal. Dengan kata lain, Seorang sarjana konservatif mau tidak mau harus menolak kredibilitas pencatatan sejarah oleh Iranaeus. Apabila hal tersebut benar terjadi, Sesungguhnya para sarjana tersebut telah melakukan keputusan yang sangat subjektif, mereka hanya menerima pandangan yang sesuai dengan pendapat pribadi mereka, yang senantiasa melekat dengan dogma-dogma dan pandangan tradisional. Elliot dalam hal ini berusaha mempertahankan kredibilitas Iranaeus. Menurutnya Iranaeus merupakan salah satu sarjana Kristen awal yang paling terkemuka, ia mendapat ajaran langsung dari Polycarp yang merupakan murid langsung Johannes.
* Meurut para sarjana tradisional, riwayat Iranaeus merupakan satu-satunya dukungan terhadap penentuan waktu penulisan yang lebih akhir, sebaliknya terdapat lebih banyak dukungan terhadap penetuan waktu yang lebih awal. Kita akan melihat bahwa pandangan ini tidaklah tepat, Elliot akan menunjukan fakta yang berkebalikan. Ia mencatat setidaknya beberapa nama bapak Gereja awal yang mendukung pandangan Iranaeus, pribadi-pribadi tersebut turut memiliki kredibilitas yang tinggi. Mereka adalah Tertullian, Clement dari Alexandria, Cvictorinus, Eusebius dan Jerome. Sebaliknya dukungan terhadap waktu awal sangatlah sulit untuk ditemukan dan kadang berasal dari sarjana yang kredibilitasnya diragukan.
* Penulisan Kitab ini dilakukan pada masa umat Kristen diburu dan dibantai, oleh karena itu rejim Nero merupakan waktu yang paling tepat. Pandangan ini, tentu saja, menyisakan berbagai pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Penyiksaan yang terjadi terhadap umat Kristen diketahui terjadi pada tiga masa pemerintahan Romawi, yaitu Nero, Dominitian dan Trajan. Ketiga rejim tersebut memiliki cara yang berbeda dalam menyiksa umat Kristen, dan Nero merupakan pengguna metode yang paling keras dan kejam berupa pembakaran dan pembantaian. Dominitian diketahui hanya mengasingkan umat Kristen dan menghindari pembantaian. Tentu saja ini akan menjadi dukungan bagi pandangan bahwa Johannes menulis kitab ini di pulau Patmos saat diasingkan rejim Dominitian. Bila Johannes menulis kitab atau Injilnya pada masa Nero, ia mungkin akan menerima perlakuan yang sama seperti yang dialami oleh Petrus dan Paulus, tidak lain adalah hukuman mati ! Kekejaman Nero diketahui hanya meliputi daerah sekitar Roma, sedangkan Dominitian mencapai daerah asia Minor. Oleh karena itu dapat dipahami adanya peringatan Johannes terhadap tujuh gereja di Asia Minor (Wah 1:11).
Beberapa pertanyaan lain akan muncul dengan asumsi kesamaan identitas penulis kitab wahyu dan Injil Johannes, apakah Johannes menulis kitab wahyu sebelum Injil, atau sebaliknya ? Mengacu pada kesimpulan tersebut, maka penentuan waktu penulisan akan dilihat dari perbedaan bahasanya karena perkembangan bahasa kedua kitab diperkirakan memerlukan waktu berpuluh tahun. Pertanyaan kedua kemudian muncul, bila Johannes menulis kitab wahyu terlebih dahulu di pulau Patmos, lalu dimanakah ia menulis Injilnya ? Johannes diyakini mengakhiri hidupnya tidak lama setelah kembali dari pengasingan di pulau Patmos, sedangkan penulisan Injil diyakini dilakukan di Efesus. Tidak ada tradisi yang menyebutkan bahwa Johannes yang tua renta melakukan perjalanan dari Patmos ke Efesus.
Selain itu perbedaan penggunaan gaya bahasa cukup menyulitkan para sarjana untuk merekonstruksi sejarah penulisan dua karya seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Masalah lain, sangatlah sulit untuk membayangkan Johannes menulis Injilnya pada umur yang sangat tua. Seorang normal berumur seabad bahkan penglihatannya sudah kabur, dan kemampuannya untuk menulis sangat rendah.
Pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa, siapapun penulis kitab ini sebenarnya, ia menulisnya pada masa Dominitian atau sekitar tahun 96 M.. Selanjutnya beberapa sarjana menganggap kitab wahyu sebagai penutup turunnya wahyu, sehingga karya-karya yang ditulis setelahnya tidak sempat mendapat “inspirasi” Roh Kudus. Pandangan ini menimbulkan akibat yang lebih serius lagi, bila Johannes menulis kitab wahyu sebelum kehancuran kuil Jerusallem tahun 70 M., mau tidak mau kita harus membantah kebanyakan kitab Perjanjian baru yang ditulis paska masa tersebut, termasuk beberapa Injil.
Metode Penafsiran
Seperti diketahui bahwa Johannes menggunakan simbol-simbol dalam pemaparannya mengenai hari akhir. Saya tidak akan berusaha untuk menafsirkan simbol-simbol tersebut, tetapi lebih membicarakan metode-metode penafsiran simbol-simbol tersebut oleh para sarjana. Dalam hal ini para sarjana terbagi atas empat golongan penafsiran.
* Pendekatan para Praeteris
* Dengan kata lain menganggap kitab wahyu hanya menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di abad pertama, tentu saja dengan dasar Johannes menulisnya beberapa saat setelah kehancuran Jerusallem. Karena menceritakan hal yang telah terjadi, istilah “nubuat” perlu diganti dengan “mengisahkan”. Selain mempertimbangkan bahwa sudah menjadi gaya sastra saat itu untuk mengisahkan kejadian yang telah terjadi seolah-olah kejadian tersebut belum terjadi dan diramalkan akan terjadi. Pemaparan Johannes yang mencakup kehancuran kuil, beberapa kekejaman yang terjadi atas umat Kristen, wabah, dan lain-lain, memang pernah terjadi di abad pertama.
* Pendekatan para Futuris
* Pendekatan ini dilakukan oleh sebagian umat Kristen, mempercayai bahwa kitab wahyu berisikan nubuat-nubuat kejadian yang menyertai kedatangan kedua Yesus. Tanda-tanda akhir jaman memang sudah terjadi, tetapi beberapa belum terpenuhi. Salah satu tanda yang akan menyertai akhir jaman maupun kedatangan kedua Kristus adalah jatuhnya Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Walaupun banyak yang membaca anti-Kritus disini sebagai pasukan setan, banyak juga yang menafsirkan anti-Kristus sebagai kaum Yahudi atau Muslim. Para Kristen fundamentalis Amerika umumnya memilih pemikiran terakhir tersebut, menurut mereka dukungan terhadap Israel akan mempercepat turunnya sang Yesus. Disebutkan pula bahwa kaum Yahudi yang membantu perebutan Jerusallem dari tangan Muslim akan kebagian “keselamatan”, dan pada akhirnya menjadi Kristen. Pemikiran semancam ini sangat dipengaruhi oleh iklim politik Amerika-Israel dan Timur tengah yang berbau propagandis.
* Pendekatan Historis
* Tidak jauh berbeda dari pendekatan yang dilakukan para Futuris, golongan ini beranggapan bahwa sebagian besar kejadian atau nubuat dalam kitab wahyu telah terjadi, sejak penyiksaan yang dilakukan terhadap umat Kriten oleh Nero. Salah satu kejadian penting yang belum sepenuhnya terjadi adalah kejatuhan Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Dalam hal ini saya perlu meluruskan pandangan kebanyakan umat Kristen bahwa sang anti-Kristus adalah kaum Muslim. Bila benar Muslim adalah sang anti-Kristus, akhir jaman pastilah telah terjadi beberapa abad lalu, saat kaum Muslim berhasil menduduki Jerusallem di perang salib.
* Pendekatan Idealis
* Penafsiran kitab wahyu yang dilakukan secara idealis berarti tidak mengartikan simbol-simbol didalamnya secara khusus, melainkan secara umum. Seluruh materi didalamnya hanya diartikan sebagai simbol pertempuran abadi antara kebaikan melawan kejahatan. Simbol tersebut dapat diterapkan terhadap kejadian apapun, yang tidak spesifik dan berlaku sepanjang jaman.
Empat pendekatan di atas dilakukan dengan dasar kepercayaan bahwa rasul Johannes benar-benar menulis kitab ini berdasarkan visi atau inspirasi dari Tuhan. Bila kita menyangkal keempat pandangan tersebut, kita bisa memilih pendekatan kelima, yaitu pendekatan “omong kosong”. Menurut metode ini, kita harus melihat segala kisah aneh dan simbol-simbol dalam kitab ini sebatas halusinasi atau mimpi buruk yang di alami si penulis dalam tidurnya, entah apapun penyebab timbulnya keadaan tersebut. Beberapa jenis tetumbuhan atau jamur terbukti dapat menimbulkan halusinasi. Kontemplasi yang berat juga dapat menyebabkan keadaan tersebut. Tapi marilah kita tidak terburu-buru mempercayai pendekatan ini.
Perkembangan penafsiran kitab wahyu yang dilakukan kaum futuris-historis selalu berkembang seiring jaman, berbagai peristiwa penting seperti peperangan dan bencana seakan-akan menandakan dekatnya akhir jaman. Setiap penafsir memiliki pandangan tersendiri dalam mengartikan simbol-simbol, dan ini sangatlah relatif. Sebagai contoh, seorang sarjana konservatif Protestan akan menafsirkan “Babylon” atau “kerajaan anti-Kristus” sebagai gabungan dari negara-negara Eropa yang dimotori Inggris dan Roma akan bangkit melawan Israel dalam Armageddon, tentu saja perang ini akan dimenangi kaum Israel dengan bantuan Tuhan. Selajutnya kaum Yahudi akan memeluk agama Kristen. Versi yang berbeda akan kita temukan apabila seorang Katolik Roma (Eropa) menafsirkan “Babylon”. Mereka akan menuduh Amerika sebagai kerajaan “Anti-Kristus” tersebut. Setiap sekte Kristen akan memiliki pandangan tersendiri dalam menafsirkan simbol akhir dunia, dan pada akhirnya hanya Tuhanlah yang akan membuktikan kebenaran.
by.fakhrudin

tudingan misionaris jil dan penginjil kristen : Rasulallah menikah secara kristen di gereja


Oleh : Ahmad Hizbullah MAG ( ahmadhizbullah@gmail.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )
Setali tiga uang!! Itulah misi yang diusung oleh para misionaris JIL –kelompok jaringan liberal berkedok Islam– dan penginjil Kristen. Hal ini nampak nyata dengan banyaknya persamaan jurus ketika mereka menggugat Islam baik kesucian Rasulullah, otentisitas Al-Qur’an wahyu Allah, validitas hadits Nabi, maupun keagungan syariat Islam. Salah satu objek yang tak pernah surut dari hujatan para misionaris JIL dan penginjil Kristen adalah soal pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah bintu Khuwailid.
Mohamad Guntur Romli, salah seorang punggawa JIL menuding pewahyuan Al-Qur’an adalah proses kolektif, baik sumber maupun proses kreatifnya. Al-Qur’an adalah kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan dan kitab suci Kristen sekte Ebyon, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya. Salah satu kepentingannya adalah karena kedekatan Nabi Muhammad dengan Waraqah bin Naufal, seorang rahib Kristen Ebyon, yang memiliki jasa besar dalam menikahkannya dengan Khadijah. Berikut tuduhan Guntur:
“Bukti lain bahwa Al-Quran tidak bisa melampaui konteksnya adalah kisah tentang Nabi Isa (Yesus Kristus). Sekilas kita melihat bahwa kisah Nabi Isa dalam Al-Quran berbeda dengan versi Kristen. Dalam Al-Quran, Isa (Yesus) hanyalah seorang rasul, bukan anak Allah, dan akhir hayatnya tidak disalib. Sementara itu, dalam doktrin Kristen, akhir hidup Yesus itu disalib, yang diyakini untuk menebus dosa umatnya.
Ternyata kisah tentang tidak disalibnya Nabi Isa juga dipengaruhi oleh keyakinan salah satu kelompok Kristen minoritas yang berkembang saat itu, yakni sekte Ebyon. Bagi kelompok Kristen mayoritas yang menyatakan Isa (Yesus) mati disalib, sekte Ebyon adalah sekte Kristen yang bidah…
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Al-Quran lebih memilih pandangan Ebyon yang minoritas dan keyakinannya dianggap bidah oleh mayoritas Kristen waktu itu? Saya memiliki dua asumsi. Pertama, karena pandangan Ebyon ini lebih dekat dengan akidah ketauhidan Islam. Kedua, sepupu Khadijah bernama Waraqah bin Naufal adalah seorang rahib sekte Ebyon. Kedekatan Waraqah dengan pasangan Muhammad–Khadijah diakui oleh sumber-sumber Islam, baik dari buku-buku Sirah (Biografi Nabi Muhammad), seperti Sirah Ibn Ishaq dan Ibn Hisyam, ataupun buku-buku hadis standar: Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain.
Waraqah adalah wali Khadijah yang menikahkannya dengan Muhammad. Seorang perempuan kali itu –yang kemudian dilanjutkan oleh syariat Islam– tidak bisa menikah tanpa seorang wali laki-laki. Bisa dibayangkan kedekatan Waraqah dengan Khadijah dan Muhammad.
Kesimpulan saya sementara kisah Isa (Yesus) dalam Al-Quran, yang menegaskan bahwa Isa hanyalah seorang rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah “saduran” dari keyakinan sebuah sekte Kristen: Ebyon.” (Pewahyuan Al-Qur’an: Antara Budaya dan Sejarah,” (http://www.korantempo.com/).
“Tudingan Guntur itu bukan hal yang baru dalam daftar gugatan para musuh Islam. Jauh sebelumnya, tudingan yang sama dilontarkan oleh Pendeta Muhammad Nurdin –anggota WASAI/TAZI Lembaga Alkitab Indonesia– dengan dosis yang lebih tinggi. Dalam buku-buku kristenisasi berkedok Islam yang ditulisnya, Nurdin menuding Rasulullah sebagai orang yang banyak berhutang budi kepada Kristen karena sebelum jadi nabi, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang wanita Kristen yang taat ke gereja.
Prosesi pernikahan Muhammad dengan Khadijah dilangsungkan dengan tatacara ritual Kristen, di mana yang bertindak sebagai wali nikah adalah pastur besar bernama Romo Waraqah bin Naufal. Maka dalam khutbah nikah tersebut Romo Waraqah membacakan ayat-ayat Taurat dan Injil. Tak lupa, Romo Waraqah menghadiahkan kado nikah kepada Muhammad berupa sebuah Alkitab (Bibel). Setelah menikah, selama 15 tahun Muhammad kursus Alkitab (Bibel) bersama Khadijah. Atas dasar itulah, maka Nurdin menyimpulkan bahwa Muhammad pernah beribadah secara Kristen di gereja selama 15 tahun bersama Khadijah dan pamannya, Romo Waraqah bin Naufal.
“Bila pamannya Siti Khadijah yaitu Waraqah bin Naufal, faham akan Taurat dan Injil, beliau adalah seorang Pendeta besar, atau seorang Pastur besar atau seorang Penginjil besar dan pada pernikahan Muhammad SAW dan Siti Khadijah tentulah beliau bertindak sebagai Wali atau Penghulu pada waktu itu, dan menyampaikan Firman Allah yaitu Taurat dan Injil, agama Yahudi dan Nasrani, karena agama Islam dan Alquran belum ada pada waktu itu” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 24).
“Pada waktu pernikahan berlangsung antara Muhammad SAW dengan Siti Khadijah seorang Nasrani, dan pasti hadiah Waraqah bin Naufal sebagai seorang Pendeta atau Pastur adalah sebuah Alkitab. Dan tentu Muhammad SAW selama 15 tahun bersama istrinya Siti Khadijah mempelajari Alkitab” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 53).
“Istri beliau Siti Khadijah beragama Kristen Nasrani dan paman beliau Waraqah bin Naufal adalah pendeta bersama pendeta alim Buhaira namanya, dan umat pada waktu itu adalah semua umat Kristen Nasrani yang beribadah tentu di gereja, karena masjid pada waktu itu belum ada” (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur’an, hlm. 68).
“Pada waktu Muhammad SAW berumur 25 tahun beliau menikah dengan Khadijah yang beragama Nasrani. Dan pada waktu itu Muhammad SAW berumur 40 tahun beliau bertahanuts menyendiri. Bila demikian Muhammad SAW telah bersama istrinya selama 15 tahun, beliau tentu beribadah bersama istrinya dan pamannya Waraqah bin Naufal dan Pendeta Buhaira yang mana tentu Muhammad SAW ikut beribadah Nasrani dan beliau bertahanuts menyendiri dengan segala bekal dan pelajaran Alkitab, Taurat dan Injil” (Keselamatan Didalam Islam, hlm. 35).
Sebenarnya, pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah sudah lama jadi primadona bagi para misionaris JIL dan Kristen untuk menyengat akidah Islam. Tetapi lemahnya validitas data menjadikan tulisan mereka bernilai tak lebih dari sebuah “teologi imajiner.” Karenanya, kita tidak butuh rekayasa dan dugaan-dugaan untuk membantah tuduhan-tuduhan itu, karena sejarahlah yang otomatis menjawabnya:
Pertama, Khadijah bintu Khuwailid memang memiliki paman seorang rahib bernama Waraqah bin Naufal. Tapi Waraqah bukanlah orang yang menikahkan Khadijah dengan Muhammad. Kitab-kitab sejarah Nabi mencatat bahwa yang meminang Khadijah adalah paman Muhammad yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib. Lalu yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah adalah paman Khadijah yang bernama ‘Amru bin Asad, sedangkan yang memberikan khutbah nikah adalah Abu Thalib, paman Muhammad. Maharnya pun bukan Alkitab (Bibel), tapi 20 ekor unta. (lihat: As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, juz I, hlm. 201).
Kedua, Fakta-fakta ini sekaligus menampik tudingan Pendeta Nurdin bahwa pernikahan Muhammad dihiasi dengan khutbah ayat-ayat Alkitab (Bibel) yang disampaikan oleh Pastur Waraqah bin Naufal.
Ketiga, fakta bahwa yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah adalah paman Khadijah yang bernama ‘Amru bin Asad, ini harus digarisbawahi oleh Guntur Romli. Karena dengan fakta ini, maka tudingannya terhadap Nabi Muhammad sebagai orang yang menyadur kisah-kisah Bibel sebagai balas jasa terhadap rahib Waraqah yang menikahkannya dengan Khadijah, terbantah secara otomatis.
Keempat, Tuduhan bahwa Muhammad menikahi Khadijah dengan tatacara Kristen karena pada waktu itu Islam belum ada karena Muhammad belum menjadi Nabi, ini adalah logika kelirumologi yang naif.
Untuk menganalisa ritual pernikahan yang dipakai oleh Muhammad dan Khadijah, kita tidak perlu repot-repot dan merekayasa tatacara pernikahan yang diterima oleh bangsa Arab pada waktu itu. Bangsa Arab pada waktu itu masih mengikuti adat-istiadat yang diwarisi turun-temurun dari syariat Nabi Ibrahim yang hanif. Hal ini terbukti, mereka masih melaksanakan syariat khitan dan menghormati Ka’bah yang didirikan oleh Nabiyullah Ibrahim dan putranya, Ismail alaihissalam. Secara historis, bangsa Arab adalah keturunan Ibrahim melalui Ismail yang menikahi penduduk Mekkah dari suku Jurhum yang berasal dari Yaman. Keturunan Ismail inilah yang beranak-pinak di Mekkah yang disebut sebagai Bani Ismail atau Adnaniyyun.
Sampai zaman Muhammad belum diangkat Allah sebagai Nabi, bangsa Arab meyakini bahwa pemeliharaan serta kepemimpinan dalam upacara keagamaan di depan Ka’bah itu adalah hak Bani Ismail. Salah satu pemimpin kabilah Quraisy dari keturunan Ismail adalah Qushaiy.
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa satu-satunya syariat yang diterapkan dalam pernikahan Muhammad dengan Khadijah adalah syariat hanif Nabi Ibrahim.
Kelima, Anggapan Pendeta Nurdin bahwa Khadijah adalah seorang Kristen yang aktif di gereja, tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena dia tidak mencantumkan satu referensi pun dalam tulisannya. Untuk mengetahui dengan pasti apa agama yang dianut Khadijah pada waktu itu, sebaiknya Nurdin membaca buku Khadijah: Drama Cinta Abadi Sang Nabi tulisan Dr Muhammad Abduh Yamani. Berdasarkan sumber-sumber yang terpercaya, buku ini menyimpulkan bahwa Khadijah bukan seorang Kristen, melainkan penganut agama Ibrahim alaihissalam (Al-Hanif) yang mendapat gelar “Ath-Thahirah” (perempuan suci).
Keenam, tudingan bahwa Rasulullah menyadur kisah-kisah Bibel sesuai dengan kepentingannya juga sangat rapuh. Hanya orang kafir saja yang pantas melakukan tudingan ini.
“Dan orang-orang kafir berkata: “Al-Qur’an ini tidak lain hanya¬lah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain, maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar” (Qs Al-Furqan 4).
Tuduhan bahwa Nabi Muhammad menjiplak Bibel terbantah oleh kenyataan bahwa beliau adalah seorang nabi yang ummiy (buta aksara). Allah menegaskan hal ini dalam surat Al-‘Ankabut 48-49 dan Al-A’raf 157-158. Meski ditakdirkan sebagai seorang yang ummiy yang tidak bisa menyadur kitab-kitab terdahulu, tapi seluruh ayat Al-Qur’an tidak dapat diragukan, justru semakin terjamin otentisitasnya karena segala yang disampaikan Nabi Muhammad adalah wahyu (inspirasi) langsung dari Allah (Qs. An-Najm 3-5).
Salah satu buktinya adalah ayat Al-Qur’an:
“…Dan orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.” (Qs. At-Taubah 30).
Ayat ini menyatakan bahwa doktrin ketuhanan Yesus (Trinitas) adalah doktrin yang menjiplak keyakinan orang-orang kafir (pagan) sebelumnya. Ternyata, sejarah membuktikan bahwa Trinitas Kristiani yang meyakini Tuhan ada 3 oknum: Tuhan Bapa, Tuhan Ana dan Roh Kudus adalah doktrin yang sudah ada jauh sebelum Kristen lahir ke dunia. Buktinya, di Mesir sudah Trinitas yang meyakini: Osiris, Horus dan Isis, masing-masing sebagai Tuhan Bapa, Anak dan Ibu. Horus diyakini sebagai juru selamat yang mati menebus dosa dengan darahnya, dikuburkan, kemudian jasadnya bangkit pada hari ketiga kemudian bangkit lagi.
Trinitas/Trimurti di India (Hindu), meyakini Tuhan terdiri dari tiga oknum (Trimurti), yaitu Brahma (Tuhan Bapa), Wisnu (Tuhan Pemelihara), dan Syiwa (Tuhan Pembinasa). Brahma mempunyai seorang anak yang tunggal yaitu Krisna yang dilahirkan di kandang sapi. Oknum ketiga dari Trimurti adalah Syiwa. Kepadanya sering dikorbankan beratus-ratus nyawa manusia. Tetapi, menurut pemeluk Hindu, nyawa-nyawa yang dikorbankan itu sesungguhnya adalah inkarnasi Syiwa sendiri.
Di Persia (Mitraisme), meyakini Mitra (dewa matahari) sebagai Juru selamat penebus dosa yang lahir dari seorang perawan pada hari Minggu tanggal 25 Desember. Hari Minggu mereka yakini sebagai hari suci, dalam perkembangannya, tradisi ini diabadikan sebagai hari suci untuk beribadah di gereja oleh umat Kristen. Sehingga hari Minggu disebut sebagai Sunday (hari Matahari).
Coba perhatikan, wahyu yang diterima Rasulullah menyatakan “yudhohi’una qaulalladziina kafaruu min qablu” (mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.” Sungguh tepat apa yang disampaikan oleh Nabi dengan sejarah yang sudah ada jauh sebelum beliau lahir. Padahal Rasulullah tidak pernah membaca buku-buku sejarah maupun enskiklopedi agama, karena beliau adalah seorang yang ummiy. Tidakkah hal ini direnungkan oleh para misionaris JIL dan Kristen?

kronologis kebangkitan yesus, fiktif atau sejarah….?


Atas kejadian ini beberapa prajurit sadar dan bertobat (Mat 27:54). Maka dari prajurit inilah dimulai drama penyelamatan Yesus untuk mengelabui orang-orang Yahudi.
31. Pertolongan Allah yang keenam (drama untuk menyelamatkan Yesus) :
· Ketika orang-orang berhamburan karena gempa (Luk 23:48) prajurit yang tobat tadi dan murid rahasia bergerak cepat untuk melihat kondisi Yesus yang ternyata hanya pingsan.
· Maka Pilatus perintahkan prajurit yang tobat itu tidak mematahkan kaki Yesus ketika Yahudi minta dipatahkan (Yoh 19:33).
· Namun prajurit yang lain menikam lambung Yesus (Yoh 19:34) dan ternyata meleset.
· Setelah Yusuf dan Nikodemus mendapat izin dari Pilatus, mereka segera menurunkan Yesus dan menyembunyikannya di tempat rahasia, mereka cepat-cepat mengobati Yesus, lalu menjadikannya seperti mayat untuk mengelabui kaum Yahudi (Yoh 19:38).
· Kemudian mereka cepat-cepat memindahkan Yesus ke tempat yang baru (Mat 27:60).
· Murid rahasia membeli rempah-rempah untuk merawat Yesus (Mark 16:1). Kemudian Magdalena pergi seorang diri (Yoh 20:1) ke tempat Yesus dibaringkan untuk merawatnya (Mark 16:1) tapi Yesus tidak ada, maka Maria sedih (Yoh 20:11) dikiranya Yesus diculik.
32. Tempat Yesus dibaringkan :
· Tempat Yesus dibaringkan adalah sebuah ruangan besar yang sengaja dibuat oleh Yusuf di taman buah miliknya (Mat 27:60) yang letaknya tidak jauh dari tempat penyaliban (Yoh 19:41). Ruangan ini sangat nyaman untuk orang HIDUP.
33. Yusuf dan Nikodemus menjaga Yesus :
· Emmeus mendapat gosip bahwa malaikat yang menjaga Yesus (Luk24:23), Yohanes ikut-ikutan percaya sama gosip itu (Yoh 19:35 & 20:12). Padahal BUKAN malaikat.
· Setelah Yusuf dan Nikodemus merawat Yesus malam hari (nomor 31 point 4), mereka tetap menjaga Yesus sampai minggu pagi dengan memakai baju putih sehingga berkilau ketika terpantul cahaya matahari (Luk 24:4). Ketika Magdalena datang hendak merawat Yesus (Yoh 20:1) mereka berkata : “Mengapa kamu mencari dia yang HIDUP?.”
· Kenapa Yusuf dan Nikodemus mengatakan bahwa Yesus masih HIDUP? Karena merekalah yang pertama kali mengetahui bahwa Yesus hanya pingsan di tiang salib. Dan merekalah yang menurunkan Yesus dari tiang salib untuk dirawat (lihat no 31 point 1-4).
· Maria tidak mengenali Yusuf karena Yusuf seorang anggota Majlis Besar terkemuka (Mark 15:43) yang kesehariannya selau berada di Bait Allah.
· Dan juga Maria tidak mengenali Nikodemus, karena Nikodemus orang asing (tidak dekat dengan murid-murid lainnya) yang diam-diam telah beriman terhadap ajaran Yesus. Dan Nikodemuslah yang merawat Yesus pertama kali sebelum Yusuf datang (Yoh 19:39).
34. Yesus melakukan penyamaran :
· Setelah Yesus siuman dari pingsannya (lihat BAB 14 no 21) dia cepat-cepat keluar dari gua, pergi ke taman lalu menyamar sebagai penjaga taman dengan menutupi kepalanya sehingga Maria Magdalena tidak mengenali Yesus (Yoh 20:14).
· Penyamaran ini dilakukan agar tidak dikenali oleh orang-orang Yahudi. Kemudian ketika Yesus mengetahui bahwa Maria Magdalena yang datang, maka dia berkata : “Maria” (Yoh 20:16) kemudian Maria dengan sepontan menengok ke arah suara Yesus dan hendak memeluknya. Namun karena luka-luka badan yang masih nyeri, Yesus mencegah Maria : “Janganlah engkau memegang aku, karena aku belum pergi ke Bapa (belum mati).” (Yoh 20:17 & lihat BAB 14 nomor 14). Kemudian Yesus menyuruh Magdalena mencari dan memberitahu 11 muridnya bahwa dia masih hidup (Yoh 20:17-18).
· Setelah menyuruh Maria pergi, Yesus langsung pergi ke Galilea (Mark 16:7) ditemani Yusuf dan Nikodemus untuk bersembunyi. Kenapa Yesus pergi ke Galilea?
· Karena Galilea adalah tempat tinggalnya (Mark 1:9) sehingga Yesus merasa aman di sana . Dan ketika disidang, penguasa Galilea (Herodes) membela dirinya (lihat no 24 point 5-6).
35. Orang-orang Yahudi curiga namun terlambat :
· Yesus disalib baru 3 jam dan kaki Yesus tidak dipatahkan.
· Pilatus dengan cepat memberi izin kepada Yusuf untuk memindahkan tubuh Yesus.
· Jarak tempat penyaliban sangat dekat dengan tempat Yesus dibaringkan.
· Tempat dibaringkan Yesus sangat besar yang dibuat oleh Yusuf yang juga pengikutnya.
· Dari 4 hal tersebut orang-orang Yahudi curiga kalau Yesus belum mati. Maka mereka minta Pilatus menjaga pintu tempat Yesus dibaringkan, supaya muridnya tidak mengambil Yesus (Mat 27:64), karena Pilatus muak dengan sifat kekanakan mereka, maka tanpa bicara panjang ia berkata : “Ini penjaga-jaga, pergi dan jagalah kubur itu.” (Mat 27:65).
· Tapi kecurigaan orang-orang Yahudi sudah terlambat dan kalah cepat dengan tindakan para murid rahasia yang telah merawat Yesus dengan cepat (lihat nomor 31-34). Sehingga ketika para penjaga itu sampai di tempat Yesus dibaringkan, ternyata Yesus sudah tidak ada maka orang-orang Yahudi itu ketakutan dan kerepotan sendiri (Mat 28:11-12).
36. Apakah Maria Magdalena hendak meminyaki mayat ???
· Meminyaki dalam bahasa Ibrani yaitu “Masaha/I” yang berarti “Mengusap/memijat,” dalam bahasa Arab yaitu “Masaha” yang berarti “Membasuh” seperti ketika berwudhu.
· Yesus dianggap mati hari Jum’at (Mat 27:45) lalu diturunkan pada sore hari menjelang Sabtu, sekitar jam 6 (Mat 27:57). Kemudian Minggu pagi Maria Magdalena datang untuk meminyaki Yesus (Mark 16:1) = Jum’at – Sabtu – Minggu (3 hari).
· Jika didiamkan tanpa pengawet maka mayat akan membusuk dan sel-sel tubuh sudah sensitif jika dipijat. Artinya Magdalena bukan untuk meminyaki mayat yang sudah 3 hari, karena sel-sel tubuh akan terurai jika dipijat. Tapi dia ingin merawat Yesus yang masih HIDUP dengan minyak zaitun/mur dan diobati dengan obat luka saat itu (Mark 16:1).
· Minyak mur atau minyak zaitun ini sering juga digunakan oleh umat Islam untuk mengeringkan luka
.
37. Maksud ucapan Maria Magdalena :
· Ketika Yesus menyamar dan Maria tidak mengenalinya (lihat nomor 34), maka Maria bertanya kepada orang yang menyamar itu : “Tuan jikalau tuan yang mengambil dia (Yesus), katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan dia?, supaya aku dapat mengambilnya.” (Yoh 20:15).
· Jika Maria hendak mengambil mayat Yesus, untuk apa? Mau dibawa ke mana? Apakah dia akan menggotong mayat yang beratnya sekitar 160 pon plus minyak gaharu yang mencapai 100 pon? (Yoh 19:39). Mau dikuburkan? Menggali kuburan? – Ropi jawab : TIDAK, TIDAK, TIDAK
· Hal itu bisa saja dilakukan oleh Super Woman Amerika, tapi TIDAK bagi Maria Magdalena yang hanya seorang wanita lemah.
· Adapun maksud ucapan Maria Magdalena itu adalah untuk merawat dan mengobati Yesus yang masih HIDUP. Sehingga dia bertanya : “Di mana kamu meletakkan dia?” dan Maria TIDAK bertanya : “Di mana kamu menguburkan dia?.”
38. Tikaman di lambung Yesus tidak menyebabkan kematian :
· Dalam “Ensiklopedia Biblica” artikel “Cross/salib” (lihat di internet) menyebutkan bahwa penikaman yang dilakukan oleh prajurit bodoh itu meleset sehingga tidak menyebabkan kematian. Hal ini membuktikan ucapan Yohanes bahwa darah dan air muncrat seketika (Yoh 19:34) yang menunjukkan Yesus MASIH HIDUP.
· Lalu kenapa air dan darah yang mengalir? Dr. W.B. Primrose seorang ahli anestesi senior Rumah Sakit Royal Glasgow, memberikan penjelasan di harian Thinkers Digest, London , 1945 : ia mengatakan bahwa air tersebut keluar karena adanya gangguan saraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yang berlebihan dari proses penyaliban (lihat di internet). Penemuan ini sangat masuk akal dan pernah terjadi juga ketika di taman Getsemani, waktu itu Yesus sedang ketakutan dan gemetaran yang berlebihan sehingga Yesus mengeluarkan keringat darah (Luk 22:44).
39. Arti kalimat “Penyaliban” :
· Orang-orang Yahudi bertekad kuat untuk menghukum mati Yesus. Dan menurut kebiasaan saat itu setiap orang yang dihukum mati harus dengan cara disalib berhari-hari sampai mati di tiang salib.
· Jika orang yang disalib itu tidak mati artinya bukan penyaliban (menurut kebiasaan saat itu). Jelasnya yaitu : penyaliban = hukuman mati dan hukuman mati = penyaliban.
· Dan kenyataannya Yesus tidak mati (lihat nomor 29-34).
· Ayat Al-Qur’an menyebutkan : “Padahal mereka tidak menyalibnya dan tidak membunuhnya,” (QS. An-Nisa : 157 – lihat BAB 14 nomor 1). Dua kalimat yang digaris bawahi itu adalah kalimat yang menunjukkan kalimat penjelas atau untuk memperkuat kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, seperti kalimat : “Naik ke atas” atau kalimat “turun ke bawah”, dua kata itu saling berhubungan satu sama lain.
· Firman Allah di dalam Al-Qur’an tersebut SUDAH TERBUKTI dengan BUKTI-BUKTI dan FAKTA-FAKTA tersebut di Alkitab.
· MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA (Shodaqollohul ‘Aziim).
40. Yesus membantah kalau dirinya dikatakan telah mati :
· Ucapan Yesus kepada Magdalena : “Aku belum pergi ke Bapa/belum mati.” (Yoh 20:17).
· Ketika Yesus mengucap “Damai sejahtera bagi kamu” (Assalamu ‘Alaikum) maka sepontan murid-muridnya itu terkejut dan takut karena menyangka bahwa mereka telah melihat hantu. Kenapa mereka takut? Karena mereka lari entah ke mana (Mark 14:50) sehingga mereka mendapat kabar burung (gosip) kalau gurunya sudah mati, padahal BELUM MATI. Maka Yesus MEMBANTAH mereka dengan berkata : “Hantu tidak ada daging dan tulangnya.” (Luk 24:36-40). Yang artinya Yesus BELUM MATI.
· Perkataan Yesus itu BUKAN untuk membuktikan dirinya telah bangkit dari mati. Tapi untuk membuktikan bahwa dirinya hanya bangkit/siuman dari pingsannya. Karena orang yang bangkit dari kematian HARUS seperti MALAIKAT / ROH / HANTU (Luk 20:36), tapi kenyataannya Yesus masih dalam JASMANI MANUSIA (ada daging dan tulang). Sehingga Yesus menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa tubuhnya itu BUKAN ROH/HANTU/MALAIKAT (Luk 24:40).
· Untuk lebih menguatkan lagi bahwa dirinya BELUM MATI, maka Yesus membuktikan murid-muridnya dengan meminta makanan kepada mereka, lalu Yesus diberikan ikan goreng dan memakannya di depan mata mereka (Luk 24:41-43). Pembuktian Yesus ini sudah jelas dan gamblang kalau dirinya BELUM MATI.
· Karena orang yang bangkit dari mati tidak akan mati lagi (lihat BAB 14 nomor 18).
· Dan jika Yesus telah mati, dia tidak perlu makan dan minum lagi, dan tidak perlu menyamar dan tidak perlu lari ke Galilea karena takut dibunuh. Tapi kenyataannya Yesus melakukan itu semua, yang artinya Yesus BELUM MATI.
· Sebagaimana ucapan Yesus kepada orang-orang Yahudi bahwa tanda/mukjizat dirinya seperti Nabi Yunus yang TIDAK MATI dalam perut ikan, yang artinya Yesus juga TIDAK MATI dalam perut bumi (lihat BAB 14 nomor 21).
41. Yesus diangkat oleh Allah dan akan kembali diturunkan ke bumi oleh Allah :
Setelah menemui semua murid-murid dan keluarganya dan membuktikan bahwa dirinya belum mati, dan mengajar sebentar kepada banyak orang. Yesus diangkat oleh Allah (Mark 16:19). Dan Yesus akan diturunkan kembali di akhir zaman untuk menolak orang-orang Kristen yang menyebut Yesus sebagai Tuhan (Mat 7:21-23). Kemudian setelah membunuh Dajjal, Allah mencabut nyawa Yesus. Karena setiap yang bernyawa akan merasakan kematian (Al-Qur’an dan Hadits).
by.fakhrudin

yesus menubuatkan kedatangan nabi muhamad saw dalam injil yahya dan penolakannya oleh krister


Kesimpang siuran untuk menetapkan umur Yesuf pada saat menikahi Maria, dan kemudian mereka berhubungan sexual adalah fakta yang membingungkan umat koatolik Roma, dan mereka hanya menekankan pada “keparawanan maria” karena umur yeusuf adalah 90 Tahun. dan maria setidaknya berumur 12 tahun. Klaim phedopil pada Yusus sebagai BAPAK TUHAN, mengapa tidak???
Ensiklopedia Katholik
Online : http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm
… Lihat Selengkapnya
Mary, then twelve to fourteen years of age. Joseph, who was at the time ninety years old, went up to Jerusalem among the candidates…that St. Joseph was an old man at the time of marriage with the Mother of God.
Terjemahan.
“Maria, kemudian berumur 12 hingga 14 tahun, Yusuf, yang pada waktu itu sedang berumur 90 tahun, pergi ke Yerusalem diantara kandidat-kandidat….. bahwa St. Yusuf adalah seorang lelaki tua pada waktu menikahi ibunya Tuhan.”
Dalam Injil Perjanjian Baru memang dikatakan bahwa Yusuf tidak berhubungan badan dengan Maria ketika ia mengandung Yesus dan Yesus bukan benih dari Yusuf. Tetapi mengenai masalah persetubuhan ini Injil Matius menyatakan :
Injil Matius 1:24-25 TB
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus”.
Jadi menurut Injil Matius, Yusuf tidak bersetubuh dengan dia sampai Yesus lahir. Seandainya Injil Matius hendak menyatakan kepada kita mengenai persetubuhan Yusuf-Maria itu tidak pernah ada selama masa hidup mereka, maka Injil Matiua akan mengatakan :
“dan ia tidak pernah bersetubuh dengan dia” atau “dan ia sama sekali tidak pernah bersetubuh dengan dia”.
Bukan :
“tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan” (Matius 1:25).
Jadi menurut Injil Matius 1:25, Yusuf hanya tidak bersetubuh dengan Maria saat ia hamil. Atau dengan kata lain, Yusuf bersetubuh setelah Maria melahirkan Yesus, yang artinya Yusuf bersetubuh dengan seorang wanita berusia 13-15 tahun.
Jika Ekstrimis Kristen menyatakan kriteria pedofilia adalah berhubungan seks dengan pasangan dibawah usia 17 tahun artinya pasangan suci ini (sebagaimana kepercayaan kristen) telah menjalin dan melakukan hubungan pedofilia.
Selain itu, kita dapat pula menyimpulkan bahwa tidak ada batasan umur pernikahan dalam literatur kitab suci Kristen sekalipun, contohnya adalah Maria yang dinikahi Yusuf pada usia 12-14 tahun.
Ekstrimis Trinitarian seringkali menghujat Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pedofilia karena menikah dengan gadis muda bernama Aisyah. Meskipun kita sebagai Muslim berusaha menjelaskan bahwa pernikahan seperti ini adalah lazim dizaman dahulu, namun mereka tidak mau memperdulikan penjelasan kita. Kristen mengatakan tidak ada pedofilia dalam agama Kristen,
namun diartikel ini Anda akan mengetahui dari Ensiklopedia Katholik bahwa Maria (ibunda Yesus) yang diduga berusia sekitar 12-14 tahun telah dinikahi oleh Yusuf (Joseph)Tukang Kayu yang diduga telah berusia 90 tahun!
by.fakhrudin  

mur yusuf 90 thn dan umur maria 12-14 thn….?


Kesimpang siuran untuk menetapkan umur Yesuf pada saat menikahi Maria, dan kemudian mereka berhubungan sexual adalah fakta yang membingungkan umat koatolik Roma, dan mereka hanya menekankan pada “keparawanan maria” karena umur yeusuf adalah 90 Tahun. dan maria setidaknya berumur 12 tahun. Klaim phedopil pada Yusus sebagai BAPAK TUHAN, mengapa tidak???
Ensiklopedia Katholik
Online : http://www.newadvent.org/cathen/08504a.htm
… Lihat Selengkapnya
Mary, then twelve to fourteen years of age. Joseph, who was at the time ninety years old, went up to Jerusalem among the candidates…that St. Joseph was an old man at the time of marriage with the Mother of God.
Terjemahan.
“Maria, kemudian berumur 12 hingga 14 tahun, Yusuf, yang pada waktu itu sedang berumur 90 tahun, pergi ke Yerusalem diantara kandidat-kandidat….. bahwa St. Yusuf adalah seorang lelaki tua pada waktu menikahi ibunya Tuhan.”
Dalam Injil Perjanjian Baru memang dikatakan bahwa Yusuf tidak berhubungan badan dengan Maria ketika ia mengandung Yesus dan Yesus bukan benih dari Yusuf. Tetapi mengenai masalah persetubuhan ini Injil Matius menyatakan :
Injil Matius 1:24-25 TB
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus”.
Jadi menurut Injil Matius, Yusuf tidak bersetubuh dengan dia sampai Yesus lahir. Seandainya Injil Matius hendak menyatakan kepada kita mengenai persetubuhan Yusuf-Maria itu tidak pernah ada selama masa hidup mereka, maka Injil Matiua akan mengatakan :
“dan ia tidak pernah bersetubuh dengan dia” atau “dan ia sama sekali tidak pernah bersetubuh dengan dia”.
Bukan :
“tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan” (Matius 1:25).
Jadi menurut Injil Matius 1:25, Yusuf hanya tidak bersetubuh dengan Maria saat ia hamil. Atau dengan kata lain, Yusuf bersetubuh setelah Maria melahirkan Yesus, yang artinya Yusuf bersetubuh dengan seorang wanita berusia 13-15 tahun.
Jika Ekstrimis Kristen menyatakan kriteria pedofilia adalah berhubungan seks dengan pasangan dibawah usia 17 tahun artinya pasangan suci ini (sebagaimana kepercayaan kristen) telah menjalin dan melakukan hubungan pedofilia.
Selain itu, kita dapat pula menyimpulkan bahwa tidak ada batasan umur pernikahan dalam literatur kitab suci Kristen sekalipun, contohnya adalah Maria yang dinikahi Yusuf pada usia 12-14 tahun.
Ekstrimis Trinitarian seringkali menghujat Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pedofilia karena menikah dengan gadis muda bernama Aisyah. Meskipun kita sebagai Muslim berusaha menjelaskan bahwa pernikahan seperti ini adalah lazim dizaman dahulu, namun mereka tidak mau memperdulikan penjelasan kita. Kristen mengatakan tidak ada pedofilia dalam agama Kristen,
namun diartikel ini Anda akan mengetahui dari Ensiklopedia Katholik bahwa Maria (ibunda Yesus) yang diduga berusia sekitar 12-14 tahun telah dinikahi oleh Yusuf (Joseph)Tukang Kayu yang diduga telah berusia 90 tahun!
by.fakhrudin