Selasa, 27 September 2011

Rahasia Dunia

Allah menunjukkan tujuan manusia dalam ayat berikut:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi, 18: 7)
Dengan demikian, Allah mengharapkan manusia tetap menjadi hamba-Nya yang setia sepanjang hidupnya. Dengan kata lain, dunia adalah tempat di mana mereka yang takut kepada Allah dan mereka yang tidak berterima kasih kepada Allah dibedakan satu sama lain, kebaikan dan keburukan, kesempurnaan dan kekurangan bersisian dalam "kerangka" ini. Manusia diuji dalam banyak hal. Pada akhirnya, orang-orang yang beriman akan terpisahkan dari orang-orang yang tidak beriman dan mencapai surga. Dalam Al Quran hal tersebut digambarkan sebagai berikut:
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabuut, 29: 3)

Saat memandang bumi dari angkasa, siapa pun yang mengklaim punya keunggulan mau tak mau akan menyadari keberadaannya sebagai tak lebih dari sebuah titik teramat kecil di dunia ini. Karena merasa punya status dan tempat yang khusus di dunia ini, banyak orang menganggap diri dan cara hidupnya berbeda dari yang lainnya. Namun, baik seseorang itu berkecukupan maupun miskin, tua maupun muda, terpelajar maupun buta huruf, ia menempati ruang yang nyaris dapat diabaikan di alam semesta yang sangat luas ini, samudera miliaran bintang.



Gambar ini menunjukkan posisi bumi di dalam tata surya, posisi tata surya di dalam Bima Sakti, dan akhirnya, posisi galaksi kita di alam semesta.
Untuk memahami intisari dari ujian ini, seseorang harus memiliki pemahaman mendalam tentang Penciptanya, yang keberadaan dan sifat-Nya terwujud dalam segala sesuatu yang ada, Ialah sang Pencipta, Pemilik kekuatan, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang tak terbatas.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyhr, 59: 24)
Allah menciptakan manusia dari tanah liat, memberkahinya dengan banyak keistimewaan, dan melimpahkan banyak kemurahan atasnya. Tidak ada seorang pun mendapatkan kemampuan penglihatan, pendengaran, berjalan, atau bernafas dengan sendirinya. Lebih lanjut, sistem yang kompleks ini ditempatkan di tubuhnya dalam rahim sebelum ia dilahirkan dan ketika ia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk merasakan dunia luar.
Dengan seluruh pemberian ini, yang diharapkan dari seorang manusia adalah agar ia menjadi hamba Allah. Bagaimanapun, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran, kebanyakan manusia adalah "pendurhaka" dan "tidak berterima kasih" kepada Penciptanya, karena mereka menolak mematuhi Allah. Mereka menganggap bahwa kehidupan itu panjang dan mereka memiliki kekuatan untuk bertahan.
Itulah sebabnya tujuan mereka adalah "menggunakan hidup mereka sebaik-baiknya selagi sempat". Mereka melupakan kematian dan hari akhir, Mereka berusaha keras menikmati kehidupan dan mencapai standar kehidupan yang lebih baik. Allah menjelaskan kecintaan mereka terhadap hidup ini dalam ayat berikut:
Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat. (QS. Al Insaan, 76: 27)
Di dalam Al Quran, wahyu otentik terakhir yang tersisa, yang membimbing manusia kepada jalan yang benar, Allah berulang kali mengingatkan kita akan sifat fana dunia ini, memanggil kita kepada kejernihan pikiran dan kesadaran. Tentu saja, di mana pun kita tinggal, kita semua rentan terhadap dampak-dampak yang menghancurkan dari dunia ini, sebuah fenomena yang menjelaskan dirinya sendiri bagi orang-orang yang mengamati kehidupan dan berbagi kejadian di sekitar kita. Ini sama halnya untuk segala keindahan yang mengelilingi kita. Gambar di halaman ini masing-masingnya menunjukkan fakta ini. Setiap sudut dunia betapa pun mengesankannya, akan rusak dalam beberapa dasawarsa, terkadang bahkan dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada yang diperkirakan.

Segala sesuatu di muka bumi ditakdirkan untuk musnah. Inilah sifat kehidupan duniawi yang sebenarnya...
Orang-orang yang tidak beriman berusaha keras merasakan seluruh kesenangan hidup ini. Namun, sebagaimana yang digambarkan dalam ayat di atas, hidup berlalu dengan sangat cepat. Ini adalah poin penting yang dilupakan oleh kebanyakan manusia.

Sumber: Harun Yahya, www.harunyahya.com

Hadiah Natal

Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah "The Christmas Shopping Season - Musim Belanja Natal" yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam sambil berkata:


"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"

Memang, cerita itu berasal dari Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.

Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:

"The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus."

Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.

Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?

Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati "sebuah hari" - yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus - dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.

Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.

Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:

"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain."

Di Mana Allah

Di mana Tuhan ?, sebuah pertanyaan yang seringkali dilontarkan oleh kaum atheisme. Mereka meragukan, bahkan menolak eksistensi Tuhan. Dialog antara Imam Abu Hanifah (M) dan beberapa orang atheis (A) berikut akan memberikan pencerahan tentang eksistensi Tuhan.

A:"Tahun berapakah Tuhanmu dilahirkan?" 
M:"Allah SWT tidak dilahirkan, sebab jika dilahirkan berarti Dia memilki kedua orang tua. Dia juga tidak beranak, sebab jika beranak berarti Dia memilki anak. Dan hal ini telah dijelaskan dalam Al Quran Surat Al Ikhlas :3 (Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan)"
A:"Tahun berapakan Tuhanmu ditemukan?"
M:"Allah SWT ada sebelum adanya penanggalan, zaman ataupun waktu?"
A:"Kami meminta kepadamu untuk menjawab dengan contoh-contoh dari realita kehidupan ini"
M:"Bilangan berapakah sebelum empat?"
A:"Tiga"
M:"Sebelum tiga?"
A:"Dua"
M:"Sebelum dua?"
A:"Satu"
M:"Sebelum satu?"
A:"Tidak ada lagi sebelumnya"
M:"Jika dalam ilmu hitung saja tidak ada angka sebelum angka satu, maka bagaimana dengan "Satu Yang Hakiki" yaitu Allah SWT. Sesungguhnya Dia Maha Terdahulu dan tidak ada permulaan bagi-Nya"
A:"Ke arah manakah Tuhanmu menghadap?"
M:"Jika kalian meletakkan sebuah lampu ditempat yang gelap, maka menghadap ke arah manakah cahaya itu menghadap?"
A:"Menghadap ke semua arah"
M:"Jika cahaya yang dibuat oleh manusia saja seperti itu, maka bagaimana dengan cahaya langit dan bumi?"
A:"Beritahukan kepada kami tentang Dzat Tuhanmu, apakah berupa zat pada seperti besi, ataukah zat cair seperti air, ataukah zat gas seperti asap?"
M:"Apakah kalian pernah duduk di samping orang sakit yang sedang menghadapi sakaratul maut?"
A:"Ya, kami pernah"
M:"Apakah setelah mati, ia dapat berbicara kepadamu?"
A:"Tidak"
M:"Sebelum mati ia dapat berbicara. tetapi setelah mati ia tidak dapat berbicara. Demikian pula, sebelum mati ia dapat bergerak, tetapi setelah mati ia tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu sesuatu apakah yang telah merubah kondisinya itu?"
A:"Keluarnya ruh dari badannya"
M:"Apkah ruhnya telah keluar?"
A:"Ya"
M:"Berilah gambaran kepadaku tentang ruh tersebut apakah ia berupa zat padat seperti besi, ataukah zat cair seperti air, ataukah zat gas seperti asap?"
A:"Kami tidak mengetahuinya sama sekali"
M:"Jika kalian tidak dapat memberikan gambaran tentang hakikat ruh padahal ruh itu termasuk mahluk Allah, lalu mengapa kalian meminta kepadaku untuk menggambarkan tentang Dzat Allah?"
A:"Di tempat manakah Tuhanmu berada?"
M:"Jika kalian menyuguhkan segelas susu segar, apakah dalam susu tersebut terlihat ada minyak samin?"
A:"Ya"
M:"Di bagian manakah minyak itu?"
A:"Minyak itu tidak menempati tempat tertentu, tetapi ia tersebar di seluruh bagian susu tersebut"
M:"Jika sesuatu yang diciptakan oleh manusia saja yaitu minyak samin tidak menempati suatu tempat tertentu, lalu mengapa kalian meminta kepadaku untuk mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat tertentu. Sungguh, ini merupakan sesuatu yang sangat aneh"
A:"Jika masuk surga memiliki permulaan waktu, mengapa tidak ada akhir ataupun ujungnya. Bahkan para penduduk surga akan kekal di dalamnya"
M:"Bukankah bilangan ilmu hitung yang kenal sekarang ini memiliki permulaan tetapi tidak memiliki akhir?"
A:"Bagaimana mungkin kenikmatan-kenikmatan surgawi akan selalu bertambah dan tidak akan pernah habis meskipun telah digunakan?"
M:"Bukankah jika kalian mengamalkan ilmu yang telah kalian miliki, ilmu itu akan terus bertambah dan tidak pernah berkurang sedikitpun"

Sumber: Di Mana Allah, Abdurrahman As-Sanjari. Penerbit Iqra Insan Press

Yesus Tidak Lahir pada 25 Desember

Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:


"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud."

Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.

Adam Clarke mengatakan:
"It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."

Adam Clarke melanjutkan:
"During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot."

"Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan Kaki".

Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.

Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.

Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya.

Bible Berbicara Tentang Dosa Waris

Umat Kristiani meyakini bahwa setiap manusia yang dilahirkan akan menanggung dosa warisan dari manusia pertama, yaitu Adam. Doktrin ini terus ditanamkan Gereja terutama pada sekolah-sekolah minggu. Sebagai manusia yang telah dianugerahkan oleh Tuhan berupa akal dan pikiran, tentu kita akan menelaah terlebih dahulu. 

Kita lihat bagaimana sesungguhnya Bibel berbicara tentang dosa waris:

1. Yehezkiel pasal 18 ayat 20
"Orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya."
Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. 

2. Matius pasal 19 ayat 14.
"Tetapi kata Yesus. 'Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga”
Ayat di atas menyatakan bahwa Yesus sendiri yang berkata, bahwa Yesus mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata: Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga. 

3. Roma Pasal 2 ayat 5 dan 6.
"Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil." "Yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing."
Ayat di atas menyatakan bahwa kita akan di balas sesuai dengan perbuatan kita masing-masing, bukan berdasarkan dosa warisan.

4. Matius pasal 16 ayat 27.
"Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya."

5. 2 Korintus pasal 5 ayat 10.
" Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat."

6. Ulangan pasal 24 ayat 16
” Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri”

7. II Tawarikh pasal 25 :4
” Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana TUHAN telah memberi perintah: ''Janganlah ayah mati karena anaknya, janganlah juga anak mati karena ayahnya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri.''

8. Yeremia pasal 31 ayat 29-30
” Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu,” 
”melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu”

9. Yehezkiel pasal 18 ayat 20-22
” Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya” 
”Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati” 
”Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya”

10. Dalam kekristenan, dosa yang dilakukan Adam akan pindah kepada anak keturunannya. Dosa itu diwariskan kepda anak cucunya melalui nutfah ayah. Oleh karena itulah, Yesus dilahirkan tanpa ayah, agar tetap terpelihara dari bekas-bekas dosa warisan tersebut. Padahal Bible mengatakan bahwa Adam dan Haawa (kedua-duanya) telah makan dari pohon larangan itu. Dengan sendirinya keduanya sama-sama bergelimang dalam dosa. Malah Hawa yang lebih besar dosanya, Kejadian pasal 3 ayat 6 ” Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya”.
Dan juga dalam I Timotius pasal 2 ayat 14” Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”
Jika berdasarkan ayat-ayat tadi, agar Yesus terpelihara dari ”bekas-bekas doa” Adam, maka seharusnya Yesus tidak lahir melalui Maria.

Bible Mengajarkan untuk Mengkafani Jenazah

Awalnya, mayat Yesus dirawat dengan cara dikafani.


"Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimateayang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru yang digalinya di dalam bukit batu dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu" (Matius 27 : 57-62).
"Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota sebuah Majelis Besar, dan seorang yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan majelis itu. Ia berasal dari Arimatea sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengafaninya dengan kain lenan lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah di baringkan mayat. Hari itu adalah persiapan dan Sabat hampir mulai. Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan melihat kubur itu dan bagaimana mayatNya dibaringkan. Dan setelah pulang mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur" (Lukas 23:50-56a).

Matius dan Lukas dengan jelas menerangkan mayat Yesus yang dirawat dengan cara dikafani. Lalu, mengapa saat ini ketika meninggal dunia umat Kristen tidak dikafani, tetapi justru dirias (berjas, bersepatu, bersapu tangan, bermake-up, berjubah, bertopi, membawa tas atau tongkat) ?. Mengapa mereka tidak meniru cara Yesus dimakamkan, yakni dengan cara dikafani? Manakah yang ditiru, Bible atau doktrin gereja?
Orang yang mati kemudian dikafani adalah hal yang lumrah terjadi pada waktu itu karena memang demikian ajaran Tuhan yang dipraktikkan oleh Yesus dan komunitas Yahudi pada umumnya. Pada kisah Lazarus dibangkitkan, mayat Lazarus juga dikafani.

"Dan sesudah berkata demikian berserulah Ia dengan suara keras: 'Lazarus marilah keluar!' Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi" (Yohanes 11:43-44).

Petrus dan orang-orang muda merawat jenazah Ananias, juga dengan cara dikafani.

"Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan terputuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. Lalu datanglah beberapa orang muda, mereka mengafani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya" (Kisah Para Rasul 5:5-6).

Jadi semuanya sudah jelas: mayat dirawat dengan cara dikafani. Lalu, darimana datangya praktik meriasi jenazah atau kreasi memasukkan mayat ke dalam peti yang mahal? Jika mengubur dengan cara di peti tidak ada tuntunannya sama sekali dalam Bible, lalu dari mana datangnya tradisi itu?


Sumber: Evolusi Kristen, Penulis M.I. Ananias, Penerbit Gelanggang

Mengupas Hubungan Hindu dan Yunani

Di sini kita akan mengikuti hasil-hasil penyelidikan ilmiah para ilmuwan, terutama bangsa Jerman, yang mengupas hubungan Hinduisme dan Yunani. Seluruh ahli Ketimuran setuju bahwa pengaruh Hinduisme, melalui mitologi, bahasa Sansekerta maupun filsafat, telah meliputi seluruh dunia. Ajaran Hindu atau reformatornya Budha, terlihat di China, Jepang, sampai ke Yunani. Pengaruh terhadap Yunani, jauh sebelum Nabi Isa lahir, adalah terang sekali. Pengaruh Hinduisme terhadap mitologi Yunani (Greek mythology) dapat dilihat dari persamaan 'dongeng-dongeng' itu sendiri termasuk nama-nama pahlawan yang melakoni mitos Yunani itu, yang berasal dari nama-nama Sansekerta. Deimikian pula, tuhan-tuhan atau dewa-dewa Olympus berasal dari sumber yang sama. Demikian pula nama-nama suku bangsa dan nama orang dalam sejarah Yunani sebelum Masehi banyak berasal dari bahasa Sansekerta. Berikut ini adalah beberapa contoh:

Demikianlah kita mengambil sekedar beberapa contoh, yang cukup memberi bayangan bahwa pengaruh antara Yunani dan Hindu adalah nyata sekali, sehingga tidaklah mengherankan bila Christopher Isherwood berkata dalam pengantar komentar terjemahan Upanishad, kitab suci Hindu:
These sacred documents have influenced Greek philosophy, Judaism, and Christianity
Dokumen-dokumen suci ini telah mempengaruhi falsafah Yunani, agama Yahudi dan agama Kristen awal
Demikianlah Pythagoras, pencipta rumus Phytagoras dalam ilmu ukur yang namanya dihapal oleh pelajar-pelajar di seluruh dunia, adalah seorang yang mempercayai ajaran reinkarnasi sesuai dengan ajaran Hinduisme; Seorang yang berbuat baik di dunia setelah mati akan lahir lagi ke dunia sebagai raja dan sebagainya. Dan orang yang berbuat jahat akan dilahirkan lagi sebagai pengemis, orang buta atau binatang, yang terkenal sebagai hukum karma. Pada suatu hari Pythagoras sedang berjalan-jalan dan bertemu dengan seekor anjing yang menyalak, lalu ia berseru: ‘Suara ini saya kenal. Ini suara teman saya. Anjing ini adalah reinkarnasi teman saya yang telah mati’.
Plato menyebut-nyebut pula ajaran Hindu tentang reinkarnasi, bahwa jiwa manusia berasal dari Jiwa Semesta Alam (Brahman) dan harus dilahirkan lagi ke dalam dunia setelah orang meninggal, dan menyatakan bahwa antara dua penjelmaan memakan waktu seribu tahun.
Empedocles, murid Pythagoras, berkata: ‘Saya juga pernah dilahirkan sebagai seorang anak laki-laki, sebagai seorang budak wanita, pernah tumbuh sebagai kuncup pohon dan sebagai seekor ikan yang melayang-layang di dasar laut’.
Malah orang alim dan suci Kristen, Santo Agustinus dalam Confession-nya mengatakan: ‘Bukankah saya pernah hidup dalam tubuh lain sebelum memasuki rahim ibuku?’
Plato yang hidup tahun 429-389 sebelum Masehi, dalam Timaues, mengenai kejadian dunia membayangkan sifat Tuhan sebagai Bapak yang mencipta dan memberi hukum kepada dunia sesuai dengan sifat Bapak dalam rumah tangga (vaderlijke wereldmarker). Demikianlah pengoknuman Tuhan menjadi Bapak sebagai Causa Prima.
Dalam Hinduisme. Tuhan dioknumkan sebagai Bapak (Zupitri), yaitu Brahma. Wishnu yang merupakan oknum kedua adalah Anak Tuhan (Sohn Gottes) yang dapat menjelma menjadi manusia dalam bentuk Krisyna, Rama, Budha, dan lain-lain. Sedang Shiva adalah Roh Suci (TH. Plange, Christus Ein Inder?)
Dalam agama Kristen, Tuhan (Allah) mempunyai tiga oknum, yaitu Allah Bapak sebagai pencipta (Creator), Anak atau Putra sebagai juru selamat berupa inkarnasi ke dalam tubuh manusia (Redeemer) dan Roh Kudus, Roh Suci, the Holy Spirit.
Adalah suatu kenyataan bahwa agama Yunani yang berupa mitologi yang mempunyai pertalian dengan metologi Hindu yang mempercayai sejumlah Tuhan-huhan (Dewa-dewa) dalam bentuk manusia dan masih bersifat manusia, yang disebut anthropomorphic polytheism.

Sumber : Kesaan Tuhan, Penulis O. Hashem, Penerbit Al Huda