Jumat, 16 Desember 2011

DISTORSI MATIUS 9 : RASUL SEBELUMNYA

Setelah murid2 Yohanes pergi, Yesus konon membicarakan Yohanes Pembaptis kepada kerumunan orang di sekelilingnya. Dalam pembicaraan ini, Matius menceritakan bahwa Yesus bersabda, "Kenabian Yohanes merupakan pemenuhan nubuat." Berikut ini tulisan Matius:
11:7. Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari?
11:9 Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi.
11:10 Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.*

Tulisan Matius di atas didistorsi dari Kitab Maleakhi berikut ini:
3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firmanTUHAN semesta alam.
3:5 Aku akan mendekati kamu untuk menghakimi dan akan segera menjadi saksi terhadap tukang-tukang sihir, orang-orang berzinah dan orang-orang yang bersumpah dusta dan terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu, dan yang mendesak ke samping orang asing, dengan tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam.
3:6 Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.
Perhatikan perubahan kata ganti yang paling penting, yang dimasukkan Matius dalam ayat tersebut. Bukanlah bahwa rasul itu akan mempersiapkan jalan di hadapan-"Mu", tetapi di hadapan-"Ku", yaitu rasul itu akan mempersiapkan jalan Allah.
Perhatikan juga penambahan frase "mendahului Engkau" dalam Matius, yang seolah2 Tuhan (Bapa) berbicara dengan Yesus tentang Yohanes. Padahal, "utusan" yang dimaksud Maleakhi tidak hanya dimungkinkan pada Yohanes, tetapi pada setiap rasul Allah. Bahkan dalam konsep ketuhanan trinitarian, perubahan2 kata ganti ini menimbulkan banyak persoalan. Dengan mengasumsikan pandangan trinitarian untuk mempertahankan argumen tersebut, keterangan dari Maleakhi mengisyaratkan bahwa rasul tersebut mempersiapkan jalan "Tuhan Bapa", bukan "Tuhan Anak". Betapa pun anda berupaya menyelamatkan Matius pada titik ini, ia sama sekali tidak akan cocok!
Keterangan:

*Dalam konteks Matius ini, posisi Yesus sebagai utusan Tuhan, yang datangnya didahului oleh Yohanes Pembaptis. Namun, jika posisi Yesus sebagai Tuhan, maka kutipan Matius tersebut memiliki konsekuensi yang sangat fatal, yakni ada 2 Tuhan yang sedang berkomunikasi, yaitu Tuhan Bapa berkata kepada Tuhan Anak/Yesus.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 10 : PELAYAN

Konon, sebagai reaksi terhadap kaum Farisi yang bersekongkol melawannya, Yesus meninggalkan satu wilayah kemudian pindah ke wilayah lainnya. Banyak sekali orang yang konon mengikutinya, dan ia konon melakukan banyak penyembuhan mukjizati, sementara memerintahkan kelompok orang itu untuk "tidak membuatnya terkenal". Lagi2 Matius menempatkan pemenuhan nubuat dalam peristiwa2 ini. Berikut petikan Matius:
12:17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
12:18 "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada orang-orang non Yahudi. *
12:19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
12:20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
12:21 Dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap." *
Ayat yang dibicarakan di atas berasal dari Yesaya. Yang menarik, dalam menyuguhkan keterangan ini, Matius tampaknya melompat ke sana ke mari antara teks berbahasa Ibrani dan Septuaginta berbahasa Yunani, dengan menggunakan makna yang paling sesuai dengan tujuan2 teologinya pada saat itu. Dan demikianlah kita akhirnya menerima terjemahan akhir yang diberikan oleh Matius yang sudah agak terdistorsi dari kata2 Kitab Yesaya sebenarnya, yang dikutip di bawah ini:
42:1. Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.
42:2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.
42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.
42:4 Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
Perbandingan antara terjemahan Yesaya yang dilakukan Matius dengan keterangan asli Yesaya mengilustrasikan perhatian Matius dengan menekankan dan membenarkan dugaan kerasulan Yesus untuk orang2 non Yahudi. Ini khususnya tampak jelas dalam pernyataan yang dikarang Matius, "dan pada-Nyalah orang-orang non Yahudi akan berharap," yang TIDAK ADA dalam ayat Yesaya sebenarnya. Inilah kali kedua bias Matius terhadap kenabian untuk orang2 non Yahudi itu muncul ke permukaan (baca: Distorsi Matius 7). Karena ini merupakan kejadian yang kedua, maka harus ditekankan lagi bahwa Yesus secara khusus membantah bahwa ia mengemban misi kenabian untuk orang2 di luar Bani Israel. Dalam bentuk orisinilnya, ayat Yesaya mungkin bisa diterapkan kepada Yesus, tetapi ia juga bisa diterapkan kepada nabi2 Allah yang lain. Singkatnya, kain pakaian itu begitu besar dan banyak sehingga ia bisa mencakup banyak individu yang berbeda, dan tidak ada hal yang cukup spesifik dalam keterangan itu yang bisa dengan tepat menunjukkan identifikasi Yesus.
Keterangan:
** "orang-orang non Yahudi", dalam versi Alkitab Indonesia diubah menjadi "bangsa-bangsa". Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk menciptakan persamaan antara teks Yesaya dengan pemenuhan nubuat yang dikarang Matius. Sebagai perbandingan, lihat versi Alkitab: Douay Rheims, King James Version 1611, dan New American Bible.
Secara tekstual, jika diteliti secara cermat ayat2 Yesaya yang dikutip Matius, maka akan terlihat 4 perubahan yang sangat mencolok, yaitu:
1. Frasa "yang Kupegang" dalam Yesaya diganti dengan "yang Kukasihi". Matius ingin menunjukkan bahwa Yesuslah orang yang paling dikasihi Tuhan. Jelas, ada niat busuk dari pengarang Matius.
2. Frasa "Aku" dalam Yesaya diganti dengan "jiwa-Ku". Matius ingin menunjukkan bahwa jiwa Yesus berisi jiwa Tuhan. Ini juga tak lain merupakan hayalan Matius belaka.
3. Kata "telah" dalam Yesaya diganti dengan "akan". Matius ingin menunjukkan bahwa "Roh Tuhan" itu baru akan diturunkan kepada Yesus ketika Yesus selesai dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (baca: Matius 3:16-17). Ini juga merupakan akal2an Matius dan para pengarang injil2 kanonik lainnya.
4. Frasa "bangsa-bangsa" dan "segala pulau" dalam Yesaya diganti dengan "orang-orang non-Yahudi". Matius ingin menunjukkan bahwa kerasulan Yesus adalah bersifat "universal", bukan hanya untuk orang2 Yahudi saja sebagaimana pernyataan Yesus sendiri dalam Matius 10:5-6 dan 15:24. Jelas sekali, Matius telah mengada2kan sendiri pemenuhan nubuat Yesaya tersebut.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 11 : TENTANG TANDA YUNUS

Matius memerintahkan para juru tulis dan kaum Farisi untuk mendekati Yesus, dan meminta satu tanda darinya, yang meneguhkan bahwa ia adalah Sang Juru Selamat. Kemudian Matius menempatkan ke dalam mulut Yesus kata2 yang kira2 berarti bahwa satu2nya tanda yang diberikan adalah tanda Yunus yang akan diungkapkan kemudian dalam dugaan penyaliban dan kebangkitan kembali Yesus. Sekalipun Matius tidak secara langsung mengutip dari Yunus, kiasan itu sangat jelas. Berikut petikan Matius:
12:39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
Secara konteks, tidak ada distorsi yang dilibatkan dalam rujukan Matius kepada Yunus, sebagaimana kutipan Kitab Yunus berikut ini:
1:17 Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.
Namun demikian, sama sekali tidak ada kemungkinan bahwa situasi kehidupan Nabi Yunus ini bisa secara akurat diterapkan kepada dugaan penyaliban dan kebangkitan kembali Yesus. Dengan mengasumsikan untuk sementara waktu bahwa dugaan penyaliban dan kebangkitan kembali Yesus benar2 terjadi, maka tampaklah bahwa Matius memiliki banyak persoalan yang patut diperhitungkan! Dalam hal ini, catatan Kristen tradisional mengenai penyaliban dan kebangkitan kembali Yesus diuraikan secara garis besar.
Tradisi Kristen meyakini bahwa Yesus disalib pada hari Jumat, dan bahwa tubuhnya dipindahkan dari tiang salib tepat sebelum matahari terbenam. Kemudian, ia langsung dikuburkan. Pada hari Minggu pagi, kebangkitan kembali itu telah digenapi.
Mengingat catatan tersebut, Yesus meninggal selama 1 hari 1 malam pada hari Sabtu dan 1 malam pada hari Minggu.* Ini akan menghasilkan setengah dari 3 hari 3 malam, yang berarti bertentangan langsung dengan pernyataan Matius bahwa "selama tiga hari tiga malam Anak Manusia itu akan tinggal di dalam rahim bumi"! Perlu dicatat di sini, bahwa Yunus tinggal di dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam adalah dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu selama 72 jam (perhatikan kata "lamanya" dalam Yunus). Sebaliknya, Yesus tinggal di rahim bumi selama 1 hari 2 malam saja, atau sekitar 36 jam.
Satu persoalan lagi, bahwa pemenuhan nubuat Matius ini juga meleset untuk kedua kalinya, yaitu bahwa Yunus berada di dalam perut ikan dalam keadaan hidup, sementara Yesus berada di dalam rahim bumi dalam keadaan mati!
Keterangan:
*Orang2 Yahudi pada zaman Yesus mulai menghitung awal hari baru pada saat matahari terbenam. Dengan demikian, pada saat matahari terbenam di hari Jumat, berarti hari Sabtu dimulai.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 12 : PERUPAMAAN - PERUPAMAAN

Matius menduga bahwa Yesus sering berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan, dengan masud untuk tetap menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak pantas mengetahuinya. Orang-orang semacam ini bisa mendengar Yesus berbicara, tetapi mereka tidak akan pernah bisa memahami pesannya. Sebaliknya, murid-murid Yesus mampu memahami "rahasia-rahasia" ini, yang tersimpan dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus. Matius menganggap hal ini sebagai pemenuhan nubuat.1
Bersama mereka sesungguhnya terpenuhilah nubuat Yesaya yang mengatakan, "Engkau sesungguhnya akan mendengar, tetapi tidak pernah memahami, dan engkau sesungguhnya akan melihat, tetapi tidak pernah mencerap. Karena hati orang-orang ini telah menjadi tumpul, dan telinga mereka sulit untuk mendengar, dan mereka telah menutup mata mereka; demikianlah mereka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan hati dan bakat mereka – dan aku akan menyembuhkan mereka". Tetapi diberkatilah matamu, karena mereka melihat, dan telingamu, karena mereka mendengar.2
Di sini Matius menggunakan terjemahan Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani.3 Pernyataan Yesaya sebenarnya adalah sebagai berikut.
Kemudian aku mendengar suara Tuhan bersabda, "Siapa yang akan aku utus, dan siapa yang akan menghampiri kami?" Dan aku berkata, "Inilah aku: utuslah aku!" Dan ia bersabda, "Pergilan dan katakan pada orang-orang ini, Teruslah mendengarkan, tetapi jangan memahami; tetaplah melihat, tetapi tidak mengerti". Buatlah pikiran mereka tumpul, dan hentikanlah pendengaran mereka, tutuplah mata mereka, sehingga mreka tidak mungkin melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka, serta memahami dengan pikiran dan bakat mereka, kemudian mereka akan disembuhkan."4
Berbagai perbedaan antara kutipan dari Yesaya di atas dan terjemahan Matius atas pernyataan ini bisa dinisbahkan kepada Matius yang menggunakan versi Yesaya dari Septuaginta berbahasa Yunani, alih-alih teks Yesaya yang berbahasa Ibrani. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sandaran Matius pada Septuaginta berbahasa Yunani merupakan bukti yang kuat bahwa penyusun Matius bukanlah salah seorang murid Yesus, bahkan juga bukan seorang Yahudi dari Palestina. Namun, penyusun Matius harus dilihat sebagai seorang Yahudi yang terhellenisasi atau orang Kristen non-Yahudi, yang hidup di Pengungsian (mungkin di Suriah).
Akan tetapi, penggunaan Septuaginta berbahasa Yunani bukanlah persoalan yang sebenarnya dalam terjemahan Yesaya Matius. Persoalan sebenarnya adalah bahwa Matius berusaha memilih kata-kata Yesaya menjadi sebuah nubuat datangnya seorang Juru Selamat. Dengan sekali lagi mengeluarkan satu ayat tersebut dari konteks yang sebenarnya. Dengan menghapus bagian awal ayat Yesaya, dimana Yesaya konon secara suka-rela menyampaikan pesan dari Allah, Matius menyembunyikan fakta bahwa pesan Yesaya itu sebenarnya membicarakan tentang diutusnya Yesaya sebagai seorang nabi Allah.5 Pesan ini jelas mengidentifikasi Yesaya sebagai seorang rasul yang dibicarakan, dan dengan jelas mengidentifikasi peristiwa-pwristiwa yang telah digenapi selama masa hidup Yesaya. Sekali lagi, bualan Matius mengenai pemenuhan nubuat gagal mencapai sasaran. Sekali lagi, dalam pengujian atas beberapa ayat Perjanjian Lama di atas mengungkapkan bahwa Matius telah menyobek kain dari ayat Perjanjian Lama dengan berusaha membentangkannya agar sesuai dengan kehidupan dan kerasulan Yesus.
Keterangan:
1. Matius 13:10-13. Bahan-bahan dan sentimen-sentimen yang sama bisa dilihat dalam Markus 4:10-12 dan dalam Lukas 8:9-10. Dengan demikian, keterangan ini bisa dilihat sebagai memiliki asal-muasal dari Markus, meskipun Matius banyak mengelaborasi asal-muasal Markus tersebut.
2. Matius 13:14-16.
3. A)Fenton JC (1973) B) Kee HC (1971).
4. Yesaya 6:8-10.
5. Ackroyd PR (1971).
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 13 : PERUPAMAAN - PERUPAMAAN LAGI

Masih ada kali kedua, dimana Matius menyatakan bahwa Yesus berbicara dalam bentuk perumpamaan sebagai pemenuhan nubuat Perjanjian Lama.
Yesus mengatakan segala hal ini kepada kerumunan orang tersebut dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan; tanpa perumpamaan ia tidak mengatakan apa pun kepada mereka. Ini untuk memenuhi apa yang telah disabdakan melalui sang nabi: "Aku akan membuka mulutku untuk berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan; aku akan menyatakan apa yang telah tersembunyi dari dasar dunia.1
Kutipan tersebut bersal dari Kitab Mazmur dalam Perjanjian Lama, yang menunjukkan sandaran pada teks-teks berbahas Ibrani maupun Yunani,2 dan dikutip secara langsung di bawah ini.
Dengarkanlah, wahai umatku, ajaranku; condongkanlah telinga kali pada kata-kata dari mulutku. Aku akan berbicara dalam bentuk perumpamaan; aku akan mengungkapkan ungkapan-ungkapan sulit dari masa lampau, hal-hal yang telah kita dengar dan ketahui, yang telahn diceritakan nenek moyang kita kepada kita. Kita tidak akan menyembunyikannya dari anak-anak mereka; kita akan menceritakan kepada generasi yang akan datang tentang perbuatan-perbuatan mulia Tuhan, dan kekuasaanya, serta keajaiban-keajaiban yang telah ia lakukan.3
Kita mungkin ingin memperdebatkan terjemahan Matius atas keterangan dari Mazmur ini, tetapi itu berarti kita tidak memahami masalah yang sebenarnya. Masalahnya, keterangan dari Mazmur tersebut begitu umum bagi para nabi maupun pengajar agama yang berbicara dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan. Lagi-lagi, kain telah dipotong demikian besar sehingga mencakup setiap orang yang memiliki anonomitas tanpa bentuk. Tidak ada sesuatu yang cukup spesifik dalam keterangan dari Mazmur tersebut untuk bisa menunjuk pada Yesus secara khusus.
Keterangan:
1. Matius 13:34-35. Sebagian teks Matius mengidentifikasi nabi tersebut sebagai Yesaya. Namun, sebagaimana akan dijelaskan, keterangan Perjanjian Lama tersebut bukan berasal dari Yesaya, tetapi dari Mazmur.
2. Kee HC (1971).
3. Mazmur 78:1-4.
Wassalaam.

DISTORSI MATIUS 14 : ISAPAN JEMPOL

Dalam surat ke-15 Matius, penyusun injil ini melaporkan sebuah situasi, dimana para juru tulis dan kaum farisi Yahudi bertanya kepada Yesus mengenai kelalaian murid-muridnya dalam melaksanakan aspek-aspek tertentu dari "tradisi nenek moyang". Konon, Yesus kemudian menggunakan kesempatan ini untuk menentang kemunafikan religius orang-orang yang bertanya kepadanya, dan mengakhiri konfrontasinya dengan mengutip perilaku orang-orang yang bertanya kepadanya sebagai pemenuhan nubuat berdasarkan ayat Yesaya.
Kalian munafik! Yesaya meramalkan dengan tepat mengenai kalian ketika ia berkata, "Orang-orang ini menghormatiku dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dariku; sia-sia saja mereka menyembahku, dengan mengajarkan pelbagai ajaran sebagai doktrin kepada manusia."1
Dalam ayat di atas, penyusun Matius agaknya mengikuti laporan dari Injil Markus,2 meskipun menambahkan frasa "kalin munafik" kepada kata-kata Yesus. Ayat Yesaya tersebut, sebagaimana tampak dalam Matius dan Markus, agaknya diambil dari Septuaginta berbahasa Yunani.3 Pernyataan sebenarnya Yesaya dikutip di bawah ini :
Tuhan bersabda: karena orang-orang ini mendekat dengan mulut mereka dan menghormatiku dengan bibir mereka, sementara hati mereka jauh dariku, dan pengabdian mereka padaku adalah satu perintah manusia yang dipelajari melalui hafalan; demikianlah aku akan melakukan hal-hal yang mengherankan dengan orang-orang ini, mengejutkan dan mengherankan. Kearifan dari para bijak mereka akan lenyap, dan kecerdasan orang-orang yang cerdas akan tersembunyi.4
Sebagian perubahan dalam teks Yesaya tersebut bisa dicermati antara teks berbahasa Ibrani, yang dikutip langsung di atas, dan Septuaginta berbahasa Yunani. Namun demikian, pada umumnya, keterangan tersebut tidak mengalami distorsi, dan juga tidak dikutip di luar konteks yang sebenarnya. Masalahnya adalah bahwa keterangan tersebut bisa diterapkan kepada orang-orang munafik yang ditemui oleh seluruh nabi Allah, bukan hanya mereka yang ditemui oleh Yesus. Kita bisa dengan mudah membayangkan kata-kata ini berasal dari Yohanes Sang Pembaptis, Eliah atau Muhammad, semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atas mereka. Sekali lagi, kain telah dipotong demikian besar dan demikian tak-berbentuk sehingga satu ukuran benar-benar cocok untuk semua.
Sebagai lanturan singkat, kita memiliki banyak kesulitan untuk membayangkan bahwa Yesus mengutip dari versi Yesaya dalam Septuaginta berbahasa Yunani, alih-alih dari teks berbahasa Ibrani.
Keterangan:
1. Matius 15:7-9.
2. Markus 15: 7:6-8.
3. Fenton JC (1973).
4. Yesaya 29:13-14.
Wasslaam.

DISTORSI MATIUS 15 : TRICK RIDER (SIRKUS YESUS)

Dalam penuruturan Kristen tradisional, kehidupan dan kerasulan Yesus berakhir dalam dugaan penyaliban dan kebangkitan kembali di Yerusalem. Pekan terakhir kehidupan Yesus di dunia ini konon diawali dengan sebuah kemenangan memasuki Yerusalem, yang menandai permulaan "Minggu Suci". Kemenangan ini menemukan ekspresinya dalam 4 injil kanonik, meskipun masing2 memiliki putaran dan kelokan unik tersendiri. Namun, hanya dalam Matius dan Yohaneslah salah satu aspek dari peristiwa ini yang dilihat sebagai pemenuhan langsung atas nubuat. Versi Matius akan dikutip di bawah.
Menurut Matius, ketika Yesus dan murid2nya sudah mendekati Yerusalem dari arah timur, mereka sampai di dekat kampung Betfage, yang terletak di lereng sebelah timur Bukit Zaitun. Yesus kemudian memerintahkan 2 orang muridnya, dan mengarahkan mereka memasuki kampung tersebut, tempat mereka menemukan seekor keledai betina yang diikat, dan di sisinya ada seekor keledai jantan. Kedua murid tersebut kemudian membawa kedua keledai itu kepada Yesus. Jika ada orang yang berusaha menghentikan murid2 tersebut, mereka hanya tinggal mengatakan bahwa "Tuhan memerlukan mereka". Setelah menyelesaikan tugas ini, murid2 tersebut meletakkan jubah2 mereka di atas keledai, dan Yesus menunggangi kedua keledai itu memasuki Yerusalem. Peristiwa ini diklaim oleh Matius sebagai pemenuhan nubuat. Berikut petikan Matius:
21:4 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi:
21:5 "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina, dan seekor keledai jantan, seekor anak keledai beban."*
Penting untuk dicatat bahwa Matius menduga ada DUA KELEDAI (Matius 21:2-3), dan Yesus duduk di atas keduanya (Matius 21:7)* Singkatnya, dengan mengamati ungkapan Matius secara harfiah, Yesus terus-menerus menunggangi kedua keledai itu memasuki Yerusalem, dan karenanya melakukan sesuatu yang sama dengan semacam tipuan sulap. Bagaimanakah Matius bisa menyuguhkan sesuatu yang sangat aneh ini?
Jawabannya terletak pada: ketidakmampuan penyusun Matius untuk memahami gaya literer Ibrani, yang merupakan petunjuk lain bahwa penyusun Matius bukanlah seorang murid Yesus dari Palestina, tetapi seseorang dari dunia yang terhellenisasi; dan keinginan penyusun itu adalah mengubah peristiwa2 dalam kehidupan Yesus demi menyesuaikan dengan pemahamannya atas nubuat tersebut. Namun, sebelum menguraikan lebih lanjut misteri ini, teks Perjanjian Lama yang sebenarnya dari Kitab Zakharia, yang dirujuk Matius, harus disuguhkan berikut ini:
9:9. Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina, seekor keledai jantan, seekor anak keledai.
9:10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi. (New Revised Standard Version & New American Bible).
Keterangan Zakharia merujuk pada "seekor keledai betina, seekor keledai jantan, seekor anak keledai". Ini merepresentasikan teknik kesusasteraan yang mendasar dan formal dalam puisi Ibrani, yaitu paralelisme. Paralelisme Ibrani bisa dipahami sebagai pengulangan gagasan yang sama dalam kata2 yang berbeda, dan sebagai satu keseimbangan dari pelbagai gagasan, dimana pemikiran dalam satu baris ditinggikan, dibandingkan, atau ditekankan dengan pemikiran yang paralel dalam baris selanjutnya. Singkatnya, keterangan Zakharia tersebut hanya berbicara tentang SATU KELEDAI, bukan dua. Frasa, "(menunggang) seekor keledai jantan, seekor anak keledai" hanyalah paralelisme Ibrani untuk penyebutan awal "seekor keledai betina". Konsep yang sama bisa dilihat lebih awal dalam keterangan Zakharia, dimana "hai putri Yerusalem" digunakan sebagai paralelisme untuk "hai putri Zion". (Harvey DW [1971]; Kee HC [1971]; Fenton JC [1973]).
Sekali lagi, penyusun Matius menunjukkan bahwa ia bukanlah seorang Yahudi Palestina atau murid Yesus, karena gagal mengenali paralelisme Ibrani dalam Zakharia. Namun, ia memahami keterangan Zakharia itu secara harfiah, dan beranggapan bahwa dua keledai itu diperlukan untuk menggantikan pemenuhan atas nubuat. Karena dua keledai itu memang diperlukan untuk memenuhi nubuat Zakharia, maka kedua keledai tersebut dimasukkan ke dalam teks Matius. Tanpa penyesalan apa pun, penyusun Matius telah mengubah banyak peristiwa dalam kehidupan Yesus. Sementara Markus, Lukas, dan Yohanes sepakat untuk menyatakan hanya ada SATU KELEDAI (Markus 11:1-11; Lukas 19:28-40; Yohanes 12:12-19), penyusun Matius memperkenalkan keledai kedua, karena ia tidak memahami paralelisme Ibrani yang ada dalam Zakharia. Mungkin perlu diingat bahwa sementara Markus dan Lukas tidak merujuk pada keterangan Zakharia, Yohanes justru merujuknya. Namun demikian, penyusun Yohanes jelas memahami hakikat paralelisme Ibrani, dan ia merasa tidak harus menciptakan keledai yang kedua.
Bagaimanakah jika tidak ditambahkan keledai kedua dalam kutipan Matius di atas? Bagaimanakah jika hanya diambil satu keterangan Zakharia, dan menerapkannya pada masuknya Yesus ke Yerusalem? Kita bisa membayangkan bahwa secara harfiah ada ribuan orang yang telah memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, dan tidak ada alasan untuk menerapkan keterangan Zakharia tersebut hanya untuk Yesus seorang!
Keterangan:
**Dalam Alkitab Indonesia, kata "dan", yang menunjukkan ada 2 ekor keledai menurut Matius, ditiadakan! Sebagai referensi, lihat versi New American Bible berikut ini:
MATIUS:
21:5. "Say to daughter Zion, ‘Behold, your king comes to you, meek and riding on an ass, and on a colt, the foal of a beast of burden.’"
21:7. They brought the ass and the colt and laid their cloaks over them, and he sat upon them.
ZAKHARIA:
9:9. Rejoice heartily, O daughter Zion, shout for joy, O daughter Jerusalem! See, your king shall come to you; a just savior is he, Meek, and riding on an ass, on a colt, the foal of an ass.
Di dalam Zakharia tidak ada kata "and" yang berarti hanya SATU KELEDAI (ingat gaya bahasa paralelisme Ibrani!). Perhatikan baik2 di bawah ini:
"on an ass, on a colt, the foal of an ass" artinya: "(naik) seekor keledai betina, seekor keledai jantan, seekor anak keledai."
Sementara pengarang Matius mendistorsinya menjadi:
"on an ass, and on a colt, the foal of a beast of burden", yang artinya: "(naik) seekor keledai betina, dan seekor keledai jantan, seekor anak keledai."
Jelaslah sekarang, bahwa pengarang Injil Matius bukanlah seorang Yahudi dari Palestina dan bukan pula seorang murid Yesus, karena telah gagal total menerjemahkan paralelisme Ibrani. Sekali lagi, Matius menduga ada 2 keledai, karenanya dia menyuguhkan 2 keledai dalam narasi injilnya, padahal yang dimaksud Zakharia adalah 1 keledai (gaya bahasa paralelisme Ibrani).
Catatan:
Seluruh pemenuhan nubuat gagasan Matius dikutip oleh pengarangnya dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani. Mengapa Matius tidak mengutip dari Perjanjian Lama berbahasa Ibrani? Bukankah lebih otentik sumbernya? Inilah salah satu bukti kuat bahwa pengarang Matius bukanlah seorang Yahudi dari Palestina, apalagi seorang murid Yesus. Matius tidak benar2 menguasai budaya, bahasa, dan kesusasteraan Ibrani, oleh karenanya, Matius mengutip seluruh pemenuhan nubuat gagasannya dari Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani.
Wassalaam.