Rabu, 28 Desember 2011

GAME COCOK-COCOKKAN ALA ORANG KRISTEN Yesaya VS Mathius

Dalam beberapa diskusi dengan orang-orang kristen, mereka mengatakan bahwa kedatangan Yesus sebagai Allah sudah dinubuatkan didalam PL. Nubuat ini bisa dilihat dari ayat-ayat yang ada dalam PL yang sekilas mirip dengan ayat-ayat yang ada didalam PB, salah satunya yang ada dalam Yesaya yang dicocok2an dengan yang ada dalam Mathius;
Yesaya 7: (14)
Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Ayat ini sangat cocok dengan berita kedatangan Yesus yang ada dalam Mathius
Mathius 1: (23)
Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.
Karena dianggap memaliki kisah yang sealur, maka dianggap bahwa Yesaya 7:14 ini merupakan nubuat dari Mathius 1:23 yang mengacu kepada Yesus. Imanuel ini adalah diartikan sebagai Yesus yang bersama dengan Allah (imanuel adalah kata Ibrani yang berarti, “Allah ada bersama kita”.)
Implikasi dari Yesaya 7:14 kemudian disambungkan dengan Yesaya 9: (6) (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Karena Yesus yang dianggap penjelmaan Allah oleh orang-orang Kristen maka orang-orang Kristen meyakini bahwa Yesaya adalah benar berisi tentang nubuat Yesus karena dalam Yesaya 9:6 diterangkan tentang anak yang lahir yang disebut sebagai Allah yang perkasa.
Tapi sepertinya orang-orang kristen tidak teliti dalam bermain “game cocok-cocokkan” karena mereka tidak memperhatikan bahwa surat Yesaya itu tidak pernah menyentuh kejaman Yesus karena pada ayat pertama pasal pertama dijelaskan bahwa; (1) Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda. Jadi lingkup surat Yesaya hanyalah bercerita pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia yang merupakan raja-raja Yehuda/yahudi.
Lalu bagaimana dengan Yesaya 7:14 dan Mat 1:23, kok mempunyai alur yang sama?? Bukankah imanuel itu hanya mengacu kepada Yesus?? Pertanyaannya kemudian apakah benar imanuel hanya mengacu kepada Yesus?? Imanuel dalam bahasa Ibrani artinya Allah ada bersama kita. Itu berarti yang dimaksud sebagai Imanuel adalah orang yang selalu disertai oleh Allah, atau bisa dikatakan sebagai Nabi. Kesimpulan ini bisa dibuktikan dimana Yesaya yang seorang Nabipun dipanggil imanuel oleh Allah.
Yesaya 8: (8) serta menerobos masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga sampai ke leher; dan sayap-sayapnya yang dikembangkan akan menutup seantero negerimu, ya Imanuel!”
Jadi siapakah imanuel dalam Yesaya 7:14?? Maka bila mengacu pada Yesaya 1:1, imanuel yang dimaksud tentu saja Nabi yang lahir pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan hizkia yaitu anak yang telah lahir pada Yesaya 9:6. Lalu bagaimana dengan kalimat “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”?? Itu hanyalah kalimat metafora yang Hiperbolik untuk menyanjung seorang Nabi yang lahir dikalangan mereka. Lalu bagaimana dengan kalimat “Allah yang perkasa”, bukankah Allah yang perkasa hanya merujuk kepada Allah?? Ternyata dalam PL, titel “Allah” bisa disematkan kepada siapa saja yang menerima perkataan/wahyu Allah. Ini sesuai dengan perkataan Yesus dalam Yohanes 10:34-35 Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah–sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan–, Musapun dalam keluaran mendapat tittle “Allah” dari Allah. Kel 7:(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. Kemudian akan ada pertanyaan lagi, bukankah dalam Yesaya 9:6 kata “Allah memakai huruf besar sedangkan dalam Yohanes 10:35 kata “allah” memakai huruf kecil?? Dalam bahasa Ibrani tidak dikenal adanya huruf besar dan huruf kecil. Munculnya kata “Allah” dan “allah” itu hanyalah sebuah bentuk eisegese dari para penterjemah untuk membedakan mana “Allah” yang mereka sembah, mana “allah” yang tidak mereka sembah. Karena dianggap Yesaya 9:6 ini mengacu kepada Yesus yang mereka sembah maka kata “Allah” tentu harus diterjemahkan dengan huruf besar.
Begitulah game cocok-cocokkan yang suka dimainkan oleh orang-orang Kristen untuk mencari dalil-dalil penguat penyembahan kepada Yesus. [maskulinman]

Menjawab Hujatan Kristen Radikal Bekasi: Tuhan Menyesatkan Manusia?

Menjawab Hujatan Kristen Radikal Bekasi: Tuhan Menyesatkan Manusia?

VOA-ISLAM.COM - Sudah empat puluh hari berlalu sejak 21 April 2010, penulis Blog Santo Bellarminus Bekasi menghina Islam dengan hujatan yang sangat keji dan provokatif, namun polisi belum bisa mengungkap, apalagi menangkap pelakunya.
Salah satu hujatan dalam blog bertitel “Habisi Islam di Indonesia” itu adalah menuduh Kitab Suci Al-Qur'an sebagai kitab sesat dengan ilustrasi foto mushaf Al-Qur'an dimasukkan dalam lobang WC dengan komentar biadab:
“Al-Kooran, sebuah Buku pedoman untuk kesesatan yang biasa di tempatkan oleh orang Islam di tempat yang seperti di gambar di atas. Seluruh tulisan Setan di dalam buku Al-Kooran itu Salah dan jelas sesat!!"
Sayangnya, sang penulis blog tidak menyebutkan ayat Al-Qur'an mana saja yang dimaksud menyesatkan manusia, sehingga menyulitkan para intelektual Islam untuk menjawab hujatan tersebut.
Masih dari kawasan Bekasi, penulis mendapat foto copy majalah Midrash Talmiddim edisi 4 yang diterbitkan oleh Yayasan Kaki Dian Emas, yang beralamat di blok F Kompleks Galaksi, Kelurahan Jaka Mulya, Bekasi Selatan. Majalah bercorak ‘islamologi’ versi Kristen ini dikomandani oleh Pendeta Edhie Sapto Wedha, seorang murtadin asal Pulau Garam Madura.
Terang-terangan, diiklankan di Midrash Talmiddim bahwa di kompleks tersebut juga terdapat aktivitas penginjilan berupa Sekolah Alkitab Terampil dan Terpadu (SATT). Salah satu program unggulannya adalah program pendidikan bahasa Arab gratis. Proses kelulusannya pun tidak mudah. Sebagaimana tertulis di Midrash Talmiddim bahwa salah satu syarat kelulusannya adalah menginjili minimal 5 orang Muslim, seperti dalam kutipan berikut:
“Program SATT: Pengutusan siswa/siswi SATT dalam rangka mencari jiwa minimal lima jiwa dari saudara sepupu sebagai salah satu syarat kelulusan yang ada di Manado, Cilacap, Madura, Lampung dan Riau” (Midrash Talmiddim, hlm. 44).
Kalimat “dari saudara sepupu” maksudnya dari kalangan umat Islam. Sedangkan “mencari jiwa” adalah istilah khas penginjilan yang berarti menyebarkan kekristenan kepada orang lain. Bila orang tersebut berhasil dikristenkan (mengakui ketuhanan Yesus Kristus), maka istilah khasnya adalah memenangkan jiwa.
Beberapa doktrin islamologi yang diajarkan Edhie Sapto dalamMidrash Talmiddim itu nampak sejalan dengan pelecehan blog Santo Bellarminus Bekasi, yaitu menuduh Islam sebagai agama yang menyesatkan karena ajaran Allah dan Al-Qur'an itu menyesatkan manusia.
...doktrin islamologi Pendeta Edhie Sapto dan blog Bellarminus Bekasi, sama-sama menuduh Islam sebagai agama yang menyesatkan karena ajaran Allah dan Al-Qur'an itu menyesatkan manusia...
Sepanjang enam halaman berjudul “Mengapa Allah Menyesatkan Orang?”, Edhie Sapto membuat ilustrasi sbb: “Pernahkah anda pergi ke suatu rumah teman dan hanya mempunyai alamat yang kurang jelas, lalu anda bertanya kepada orang tentang alamat tersebut. Dan anda yakin akan orang itu. Ternyata informasi itu salah dan membuat tersesat karena orang itu telah menyesatkan anda. Bagaimana seandainya yang menyesat­kan dan tidak mau meng­ampuni itu Allah? Benarkah Allah menyesat­kan dan tidak mau mengampuni?” (hlm. 15).
Pertanyaan tersebut dijawab sendiri dengan kutipan empat buah ayat Al-Qur‘an, antara lain: “Dan siapa yang disesatkan ­Allahmaka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” (Qs. Asy-Syura 44).
Dengan sistematika seperti ini, jelas Pendeta Edhie Sapto menyatakan bahwa Allah yang disembah setiap hari oleh umat Islam itu adalah Tuhan yang menyesatkan manusia.
Itulah islamologi batil versi pendeta yang hanya melihat penggalan ayat: “Dan siapa yang disesat­kan Allah.” Padahal bila dibaca utuh, ayat tersebut berbicara tentang keadaan orang yang zalim. Dan pada ayat berikutnya (ayat 45) disebutkan bahwa orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal (inna adh-dhaalimiina fii ‘adzaabin muqiim).
Kenyataan bahwa Allah menyesatkan dan menyiksa orang-orang yang zalim dengan azab yang kekal, jangan disimpulkan secara hyperbola bahwa Allah itu tidak Maha Pemberi petunjuk. Karena ketentuan bahwa Allah akan menyesatkan orang-orang yang zalim itu sesuai dengan firman-Nya, bahwa Dia menyesatkan orang-orang yang zalim (Ibrahim 27) dan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Al-An’am 144, Al-Qashash 50, Ali Imran 86, At-Taubah 19, Ash-Shaff 7,) serta melaknat/mengutuk orang-orang zalim (Al-A’raf 44, Hud 18).
Allah SWT tidak memberi hidayah kepada orang-orang zalim karena mereka sendiri melakukan hal-hal yang menolak hidayah-Nya, antara lain:
1. Membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia (Qs. Al-An’am 144),
2. Membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya (Qs. Al-An’am 21, Hud 18).
3. Berbuat fasik (Qs. Al-Baqarah 59, Al-A’raf 165),
4. Menghalang-halangi manusia dari zikir menyebut asma Allah dalam masjid-masjid-Nya (Qs. Al-Baqarah 114),
Prototipe zalim ini digambarkan dalam sosok Firaun dan para pengikut­nya. Mereka semua adalah orang-orang yang zalim yang dibinasakan Allah karena mendustakan ayat-ayat Ilahi (Al-Anfal 54).
Selain orang zalim, masih ada lagi golongan manu­sia yang disesatkan oleh Allah, antara lain: orang fasik (Al-Baqarah 26), orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu (Al-Mukmin 34), dan orang-orang kafir (Al-Mu’min 74).
Perilaku orang kafir adalah mengikuti hal-hal batil dan meng­halangi manusia dari jalan Allah (Muham­mad 1-3), serta benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur‘an) (Muham­mad 9).
“Allah tidak menzalimi (menganiaya) mereka, akan tetapi merekalah yang men­zalimi (menganiaya) diri mereka sendiri”(Qs. Ali Imran 117).
...Allah menyesatkan orang-orang zalim, fasik, kafir dan orang yang melampaui batas karena mereka sendiri telah menolak dan menentang kebenaran ayat-ayat Allah...
Jelaslah bahwa Allah menyesatkan golongan orang-orang zalim, fasik, kafir dan orang yang melampaui batas karena mereka sendiri telah menolak dan menentang kebenaran ayat-ayat Allah.
JUSTRU DALAM BIBEL, TUHAN TERANG-TERANGAN MENYESATKAN MANUSIA
Dengan tudingan bahwa Allah dalam Al-Qur'an itu menyesatkan orang, kependetaan Edhie Sapto patut dipertanyakan. Sebab dalam Alkitab (Bibel) sendiri bertebaran ayat yang menyatakan dengan eksplisit bahwa Tuhan menyesatkan banyak orang, termasuk nabi-Nya.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh nabi-Nya untuk menikahi seorang pelacur:
“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).
...Perintah Bibel yang mengharuskan Nabi Hosea mengawini pelacur ini jelas menyesatkan karena dalam ayat yang lain, Tuhan mengharamkan pernikahan dengan pelacur...
Perintah Bibel yang mengharuskan Nabi Hosea mengawini pelacur ini jelas menyesatkan karena dalam ayat yang lain, Tuhan mengharamkan pernikahan dengan wanita yang pernah pelacur, meski sudah tobat:
“Seorang imam tak boleh kawin dengan seorang wanita bekas pelacur atau seorang wanita yang bukan perawan atau yang sudah bercerai, karena imam adalah milik-Ku” (Imamat 21:7).
Seharusnya pendeta dan penulis blog malu mengejek Al-Qur'an, karena dalam kitab mereka sendiri tertulis bahwa Tuhan mendatangkan kesesatan: “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta” (2 Tesalonika 2:11).
Tak hanya mendatangkan kesesatan, Bibel juga menyebutkan bahwa Tuhan membiarkan orang tersesat dari jalan-Nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu?” (Yesaya 63:17).
...Tak hanya mendatangkan kesesatan, Bibel juga menyebutkan bahwa Tuhan membiarkan orang tersesat dari jalan-Nya...
Tuhan dalam Bibel juga menyesatkan dan menghinakan raja-raja: “Maka dicurahkan-Nya kehinaan atas raja-raja, disesatkan-Nya mereka itu di tempat sunyi senyap yang tiada jalannya”(Mazmur  107:40, Alkitab terjemahan lama).
Bahkan dalam kita Ayub, Tuhan terang-terangan menyesatkan dan menghilangkan akal sehat para pemimpin:
“Dilalukan-Nya hati dari dalam penghulu-penghulu di atas bumi;disesatkan-Nya mereka itu di gurun yang tiada jalannya. Mereka itu merayau-rayau dalam kegelapan, di tempat tiada terang. Disesatkan-Nya mereka itu seperti orang mabuk” (Ayub 12:24-25, Alkitab terjemahan lama).
“Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya. Mereka meraba-raba dalam kegelapan yang tidak ada terangnya; dan Ia membuat mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk."” (Ayub 12:24-25).
Bisa jadi, para penginjil dan pendeta radikal mengejek Allah dan Al-Qur'an sebagai sumber kesesatan, karena mereka terinspirasi ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Tuhan menyesatkan dan membuat manusia gila. [A. Ahmad Hizbullah MAG/SI]

Dalam Bibel, Tuhan Terang-Terangan Menyesatkan Manusia

Dengan tudingan bahwa Allah dalam Al-Qur’an itu menyesatkan orang, kependetaan Edhie Sapto patut dipertanyakan. Sebab dalam Alkitab (Bibel) sendiri bertebaran ayat yang menyatakan dengan eksplisit bahwa Tuhan menyesatkan banyak orang, termasuk nabi-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh nabi-Nya untuk menikahi seorang pelacur:
“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).
…Perintah Bibel yang mengharuskan Nabi Hosea mengawini pelacur ini jelas menyesatkan karena dalam ayat yang lain, Tuhan mengharamkan pernikahan dengan pelacur…
Perintah Bibel yang mengharuskan Nabi Hosea mengawini pelacur ini jelas menyesatkan karena dalam ayat yang lain, Tuhan mengharamkan pernikahan dengan wanita yang pernah pelacur, meski sudah tobat:
“Seorang imam tak boleh kawin dengan seorang wanita bekas pelacur atau seorang wanita yang bukan perawan atau yang sudah bercerai, karena imam adalah milik-Ku” (Imamat 21:7).
Seharusnya pendeta dan penulis blog malu mengejek Al-Qur’an, karena dalam kitab mereka sendiri tertulis bahwa Tuhan mendatangkan kesesatan: “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatanatas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta” (2 Tesalonika 2:11).
Tak hanya mendatangkan kesesatan, Bibel juga menyebutkan bahwa Tuhan membiarkan orang tersesat dari jalan-Nya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu?” (Yesaya 63:17).
…Tak hanya mendatangkan kesesatan, Bibel juga menyebutkan bahwa Tuhan membiarkan orang tersesat dari jalan-Nya…
Tuhan dalam Bibel juga menyesatkan dan menghinakan raja-raja: “Maka dicurahkan-Nya kehinaan atas raja-raja, disesatkan-Nya mereka itu di tempat sunyi senyap yang tiada jalannya” (Mazmur  107:40, Alkitab terjemahan lama).
Bahkan dalam kita Ayub, Tuhan terang-terangan menyesatkan dan menghilangkan akal sehat para pemimpin:
“Dilalukan-Nya hati dari dalam penghulu-penghulu di atas bumi; disesatkan-Nya mereka itu di gurun yang tiada jalannya. Mereka itu merayau-rayau dalam kegelapan, di tempat tiada terang. Disesatkan-Nya mereka itu seperti orang mabuk” (Ayub 12:24-25, Alkitab terjemahan lama).
“Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya. Mereka meraba-raba dalam kegelapan yang tidak ada terangnya; dan Ia membuat mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.“” (Ayub 12:24-25).
Bisa jadi, para penginjil dan pendeta radikal mengejek Allah dan Al-Qur’an sebagai sumber kesesatan, karena mereka terinspirasi ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Tuhan menyesatkan dan membuat manusia gila. []

KRISTEN PUN MENOLAK TRINITAS

KRISTEN PUN MENOLAK TRINITAS

Oleh: A. Ahmad Hizbullah M.A.G.

[www.kristenisasi.wordpress.com, ahmadhizbullah@gmail.com]
.
Jika diwartakan secara luas, teologi awam buatan Robert Paul Walean dalam buku “Kebenaran Yang Terungkap dari Al-Qur’an dan Alkitab” itu justru menjadi bumerang bagi umat Kristen sendiri. Karena tidak semua umat Kristen mengakui doktrin Trinitas. Salah satu sekte Kristen yang radikal dalam menentang Trinitas adalah Saksi Yehovah (Jehovah Witnesses). Dalam buku Should You Believe in the Trinity? terbitan Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania (edisi Indonesia: Menolak Mitos Trinitas), Saksi Yehovah membantah doktrin Trinitas dengan segudang alasan, antara lain:
Pertama, hasil penelitian sejarah, seperti diungkap dalam buku The Paganism in Our Chistianitydisebutkan, “The origin of the Trinity is entirely pagan” (Asal-usul Trinitas sepenuhnya berasal dari kepercayaan penyembah berhala).
Kedua, Trinitas adalah ajaran yang rumit dan membingungkan, sehingga The Encyclopedia Americanamenyatakan, “Beyond the grasp of human reason” (Trinitas itu di luar jangkauan akal manusia). Padahal Allah itu bukan Tuhan yang menghendaki kekacauan (I Korintus 14:33). Maka tidak mungkin Allah mencetuskan doktrin mengenai diri-Nya sendiri dengan begitu membingungkan, hingga para sarjana dan ilmuwan pun tidak mampu menjelaskannya.
Ketiga, Trinitas tidak ada sumbernya dalam Bibel. The Illustrated Bible Dictionary, sebuah publikasi Protestan menyebutkan, “The Word Trinity is not found in the Bible… It did not find a place formally in the theology of the church till the 4th century” (Kata Trinitas tidak terdapat dalam Alkitab… Trinitas baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi di gereja pada abad ke-4).
The Catholic Encyclopedia menambahkan, “In Scripture there is as yet no single term by which the Three Divine Person are denoted together. The word ‘Tri’as’ –of which the Latin trinitas is translation– is first found in Theophilus of Antioch about A.D. 180” (Dalam Alkitab tidak terdapat satu istilah pun untuk menyatakan ketiga oknum Tuhan yang disebut secara bersama-sama. Istilah ‘Tri’as’ –yaitu asal mula kata trinitas dalam bahasa Latin– mula-mula ditemukan dalam tulisan Teofilus dari Antiokhia kira-kira tahun 180).
Keempat, Trinitas tidak pernah diajarkan dalam Kristen yang mula-mula (primitive Christianity). The New International Dictionary of New Testament Theology menyebutkan, “Primitive Christianity did not have an explicit doctrine of the Trinity such as was subsequently elaborated in the creeds.” (Keyakinan Kristen yang mula-mula tidak mempunyai ajaran Trinitas yang gamblang seperti yang setelah itu dirinci dalam berbagai kredo).
Kelima, Para nabi utusan Allah selama ribuan tahun tak satupun yang mengajarkan Trinitas kepada umatnya. Berarti, Trinitas adalah penyimpangan dan kemurtadan dari kebenaran.
Keenam, Bibel baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menegaskan bahwa Allah itu satu (monoteisme), bukan tiga (trinitas). Contoh ayat, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa” (Ulangan 6:4).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus menyebut Allah dengan istilah “satu-satunya Allah yang benar.” Berarti Yesus juga menekankan monoteisme, bukan trinitas. Yesus bersabda, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).
Di bagian akhir buku tersebut, Saksi Yehovah menutup dengan seruan penolakan terhadap doktrin Trinitas: “Kebenaran Allah tidak dapat dikompromikan. Maka, menyembah Allah menurut syarat-syarat dari Dia berarti menolak doktrin Trinitas. Doktrin tersebut bertentangan dengan apa yang Allah katakan mengenai diri-Nya dalam kitab Yesaya 46:9 “Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku”.
Dengan pandangan seperti itu, jelaslah bahwa doktrin Trinitas adalah buatan manusia yang bertentangan dengan ajaran ketuhanan monoteisme yang dibawa oleh para nabi dari Adam sampai nabi yang terakhir. Sedangkan pemolesan ketuhanan Trinitas dengan ayat-ayat Al-Qur`an adalah penodaan terhadap agama Islam.[]
(Dimuat di Majalah Al-Mujtama’ edisi 2 Th 1/29 Jumadil Ula 1429, hlm. 52-53)

TRINITAS VERSUS ASMAUL HUSNA

TRINITAS VERSUS ASMAUL HUSNA

Oleh: A. Ahmad Hizbullah M.A.G.

[www.kristenisasi.wordpress.com, ahmadhizbullah@gmail.com]
.

PERTANYAAN:

Setahu saya, Trinitas adalah doktrin yang bertolak belakang dengan ajaran Tauhid karena meyakini adanya tiga Tuhan yaitu Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Beberapa waktu yang lalu seorang evangelis menjelaskan kepada saya bahwa pandangan itu tidak benar. Menurutnya, doktrin ketuhanan Trinitas itu sama dengan doktrin Asmaul Husna dalam aqidah Islam yang meyakini adanya 99 nama pribadi Allah. Jika doktrin Trinitas itu disebut musyrik (mempersekutukan Tuhan) karena meyakini tiga nama Tuhan, maka umat Islam lebih musyrik lagi karena meyakini adanya 99 oknum Tuhan yang disebut Asmaul Husna. Bagaimana cara menjelaskannya?
Bagus, Malang Jawa Timur (bagus_malang@excite.com)
.

JAWABAN:

Inti ajaran semua agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) yang dibawa oleh para nabi adalah tauhid (mengesakan Tuhan dalam beribadah). Semua nabi memiliki kesamaan dalam risalah tauhid. Tidak seorang rasul pun yang menyimpang dari dakwah tauhid. Karena Allah mengutus semua nabi untuk berdakwah kepada manusia agar beribadah hanya kepada Allah saja.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Qs Al-Anbiya` 25).
Semua agama dan semua nabi mengajarkan Tauhid, ajaran yang menyimpang dari Tauhid jelas menyimpang dari ajaran para Nabi. Nabi yang mengajarkan ajaran non Tauhid pasti nabi palsu.
Tauhid ada tiga macam, yaitu Tauhid Rububiyah (mengesakan Allah sebagai Rabb yang mencipta, memberi rezeki, menguasai dan mengatur segenap makhluk di alam semesta), Tauhid Uluhiyah (mengesakan Allah dengan beribadah hanya kepada-Nya), dan Tauhid asma’ wa shifa (mengesakan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah SWT berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah).
Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen adalah tindakan yang sangat ceroboh dan tidak berdasar. Karena keduanya jelas bertolak belakang dengan empat perbedaan yang paling mendasar.
Pertama, dalam Asmaul Husna terdapat 99 nama dan sifat Allah yang Esa, sedangkan dalam Trinitas ada tiga oknum Tuhan yang berbeda bentuk/wujud.
Asmaul Husna berarti nama-nama Allah yang terbaik. Istilah lainnya adalah Ismullah al-A’dham yang berarti nama-nama Allah yang agung.
“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang baik)” (Qs. Thaha 8).
Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Allah memiliki 99 nama: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Tiadalah seseorang menghafalkan kecuali dia akan masuk sorga. Dia itu Tunggal dan menyukai yang tunggal” (HR. Bukhari dan Muslim).
Secara detail, Rasulullah SAW menyebutkan 99 asmaul husna ini dalam hadits riwayat Tirmidzi, antara lain: Allah (yang tidak ada Tuhan selain-Nya), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Al-Malik (Maha Merajai), Al-Qudduus (Maha Suci), As-Salaam (Maha Menyelamatkan), Al-Mu’min (Maha Pemelihara Keamanan), Al-Muhaymin (Maha Penjaga), Al-‘Aziiz (Maha Mulia), Al-Jabaar (Maha Perkasa), Al-Mutakabbiu (Maha Megah), Al-Khaaliq (Maha Pencipta), Al-Baariu (Maha Pembuat), Al-Mushawwir (Maha Pembentuk), Al-Ghaffaaru (Maha Pengampun), dan lain seterusnya.
Meski Allah memiliki 99 nama yang disebut Asmaul Husna, bukan berarti bahwa Allah itu terdiri dari 99 oknum/pribadi, karena pemilik nama-nama itu adalah Allah yang Maha Esa (Al-Ahad). Allah juga tidak menampakkan diri dalam 99 wujud, karena Allah dalam akidah Islam adalah Maha Gaib (Al-Ghoib) dan Maha Tersembunyi (Al-Bathin) yang tidak dapat ditangkap dengan indera makhluk-Nya (Qs Asy-Syura 42:11).
Dalam akidah Islam, mengenal Asmaul Husna adalah satu keharusan, karena setiap berdoa dan beribadah kepada Tuhan harus menyebut nama-nama tersebut, misalnya: Ya Allah, Ya Rohman, Ya Rohim, Ya Hayyu Ya Qayyum, Ya Robbal Alain, dan seterusnya.
“Hanya milik Allah Al-Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu…” (Al-A’raf 180).
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik)…” (Qs. Al-Isra` 110).
Jelaslah bahwa Asmaul Husna dalam akidah Islam bukanlah suatu kemusyrikan, melainkan kemurnian Tauhid yang tidak dimiliki oleh agama lain.
Hal ini bertolak belakang dengan doktrin Trinitas (tri-unitas = tiga tapi tunggal) dalam iman kristiani yang mengimani adanya tiga oknum Tuhan, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.
Dalam The Catholic Encyclopedia, Gereja Katolik Roma menjelaskan definisi Trinitas sbb: “The Trinity is the term employed to signify the central doctrine of the Christian religion… Thus, in the words of the Athanasian Creed: ‘the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and yet there are not three Gods but one God.’ In this Trinity… the Persons are co-eternal and co-equal: all alike are uncreated and omnipotent.”
(Tritunggal adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan doktrin utama agama Kristen… Jadi, dalam kata-kata Kredo Athanasia: ‘sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, namun tidak ada tiga Allah melainkan satu Allah.’ Dalam Tritunggal ini… Pribadi-Pribadinya sama kekal dan setara: semuanya tidak diciptakan dan mahakuasa).
Rumusan di atas hampir diterima oleh semua gereja. Gereja Orthodoks Yunani menyebutnya sebagai “the fundamental doctrine of Christianity” (doktrin dasar dari Kekristenan). Dalam buku Our Orthodox Christian Faith, gereja ini berkata:
“God is triune. The Father is totally God. The Son is totally God. The Holy Spirit is totally God.” (Allah adalah suatu kesatuan tiga serangkai. Sang Bapa adalah Allah sepenuhnya, Sang Anak adalah Allah sepenuhnya, dan Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya).
Ketiga oknum Tuhan Trinitas Kristiani ini memiliki wujud yang berbeda. Allah Bapak tidak bisa dilihat, sedangkan Allah Anak berwujud manusia Yesus, dan Allah Roh Kudus wujudnya seperti burung merpati. Gambaran ketiga oknum Tuhan ini dikisahkan dalam Bibel, ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, Roh Kudus turun seperti burung merpati dan Allah berfirman dari langit.
“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:21-22; bdk: Matius 3:16-17 dan Markus 1:10-11).
Ayat tersebut jelas menyatakan bahwa ketiga oknum Trinitas memiliki bentuk pribadi yang berbeda di tempat yang berbeda pula, yaitu: Allah Bapak ada di langit dan bersuara, Allah Anak kelihatan berupa manusia Yesus yang sedang basah kuyup di sungai, dan Allah Roh Kudus menjelma menjadi burung merpati yang sedang terbang di atas kepala Yesus.
Kedua, konsep Asmaul Husna bukan rumusan manusia, melainkan wahyu dari Allah dan sabda Rasul-Nya, yang dituangkan secara gamblang dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi (Qs. Thaha 8, Al-A’raf 180, Al-Isra` 110, hadits riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dll).
Sedangkan doktrin Trinitas sama sekali tidak tertulis dalam Alkitab (Bibel), baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Satu-satunya ayat yang secara eksplisit diyakini sebagai penopang Trinitas, yaitu 1 Yohanes 5:7 pun diakui oleh Gereja sebagai ayat yang palsu karena tidak terdapat dalam manuskrip yang paling tua. Ayat ini baru muncul sejak abad ke-16.
Ketiga, Asmaul Husna sudah diajarkan pada masa awal Islam ketika Rasulullah masih hidup, sedangkan Trinitas tidak diajarkan oleh para nabi maupun jemaat Kristen yang mula-mula (primitive Christianity).
Doktrin Trinitas baru disusun jauh setelah Yesus tidak ada di dunia, yaitu pada konsili Konstan­ti­nopel pada tahun 381 M yang diadakan oleh kaisar Theodosius untuk merevisi konsili Nicea 325 M. Konsili ini melahirkan formula Trinitas yang dikenal dengan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano-Constantinopolitanum). Saat ini kredo ini dikenal oleh umat Kristen dengan sebutan “12 Pengakuan Iman Rasuli” atau “Sahadat Iman Rasuli.”
Keempat, dalam Asmaul Husna tidak memiliki pembagian tugas menjadi 99 tuhan sesuai dengan namanya. Karena disebut Al-Khaliq (Maha Pencipta), Ar-Razzaaq (Maha Pemberi Rizki), Al-Ghaffaar (Maha Pengampun), Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), Al-Mumiit (Maha Mematikan), Al-Hayyu (Maha Hidup) dan seterusnya, semuanya bukan dzat yang berbeda, semuanya adalah Allah SWT.
Sedangkan dalam Trinitas ada pembagian fungsi tugas, antara lain: menciptakan adalah tugas Allah Bapak, inkarnasi untuk penebusan dosa adalah tugas Allah Anak (Yesus), dan penyucian adalah tugas Allah Roh Kudus. Dengan kata lain, Allah Bapak adalah oknum Tuhan yang di atas, Allah Anak (Yesus) adalah oknum Tuhan yang hadir bersama manusia, dan Allah Roh Kudus adalah oknum Tuhan yang hadir di dalam manusia.
Pengkajian mengenai Tauhid dalam akidah Islam sangat mudah dipahami baik secara aqli maupun naqli. Sedangkan perbincangan apologetika mengenai Trinitas sampai kapan pun tidak akan menemui titik terang dari selimut kebuntuan dan kegelapan. Pada tanggal 28 April 2007 pukul 10.00-16.00 pihak Kristen mengadakan seminar dengan tema “Keilahian Yesus Kristus dari Perspektif Alkitab” di Alam Indah Resto, Semarang. Pembicara yang paling banyak mendapat sorotan adalah Romo Tom Jacobs. Dengan berani Romo Tom menghantam doktrin Trinitas:
“Saya keberatan dengan istilah Allah Bapak, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yesus itu jalan menuju Allah. Rumusan Yesus 100% Allah dan 100% manusia itu tidak tepat. Rumusan ini hasil dari Calcedon, bukan dari kitab suci.”
Lebih jauh Romo Tom mengungkapkan pengalaman rohaninya kenapa saat ini menolak Trinitas. “Dulu sebelum tahun 1974, kehidupan saya tidaklah baik. Saat itu saya yakin Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Tetapi, setelah tahun 1974 sampai sekarang, saya tidak lagi berdoa kepada Yesus, tetapi saya berdoa kepada Allah… Saya lebih kristiani sejak percaya Yesus bukan Allah daripada sebelumnya,” ungkapnya.
Ungkapan Romo Tom ini jangan dianggap remeh, karena beliau bukan orang awam. Semua tokoh Katolik di Indonesia tak ada yang tak kenal Romo Tom, guru besar ahli Dogma lulusan Roma, Italia.
Allah (yang tidak ada Tuhan selain-Nya), Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahiimu (Maha Penyayang), Al-Maliku (Maha Merajai), Al-Qudduusu (Maha Suci), As-Salaamu (Maha Menyelamatkan), Al-Mu’minu (Maha Pemelihara Keamanan), Al-Muhayminu (Maha Penjaga), Al-‘Aziizu (Maha Mulia), Al-Jabaaru (Maha Perkasa), Al-Mutakabbiru (Maha Megah), Al-Khaaliqu (Maha Pencipta), Al-Baari’u (Maha Pembuat), Al-Mushawwiru (Maha Pembentuk), Al-Ghaffaaru (Maha Pengampun), Al-Qahhaaru (Maha Pemaksa), Al-Wahhaabu (Maha Pemberi), Ar-Razzaaqu (Maha Pemberi Rizki), Al-Fattaahu (Maha Membukakan), Al-‘Aliimu (Maha Mengetahui), Al-Qaabidhu (Maha Mencabut), Al-Baasithu (Maha Meluaskan), Al-Haafidhu (Maha Menjatuhkan), Ar-Raafi’u (Maha Mengangkat), Al-Mu’izzu (Maha Pemberi Kemuliaan), Al-Mudzillu (Maha Pemberi Kehinaan), As-Samii’u (Maha Mendengar), Al-Bashiiru (Maha Melihat), Al-Hakamu (Maha Menetapkan Hukum), Al-‘Adlu (Maha ‘Adil), Al-Lathiifu (Maha Lemah Lembut), Al-Khabiiru (Maha Waspada), Al-Haliimu (Maha Penyantun), Al-‘Azhiimu (Maha Agung), Al-Ghafuuru (Maha Pengampun), Asy-Syakuuru (Maha Menghargai), Al-‘Aliyyu (Maha Tinggi), Al-Kabiiru (Maha Besar), Al-Hafiizhu (Maha Memelihara), Al-Muqiitu (Maha Pemberi Kecukupan), Al-Hasiibu (Maha Menghitung/Penjamin), Al-Jaliilu (Maha Luhur), Al-Kariimu (Maha Pemurah), Ar-Raqiibu (Maha Peneliti), Al-Mujiibu (Maha Mengabulkan), Al-Waasi’u (Maha Luas), Al-Hakiimu (Maha Bijaksana), Al-Waduudu (Maha Pencinta), Al-Majiidu (Maha Mulia), Al-Baa’itsu (Maha Membangkitkan), Asy-Syahiidu (Maha Menyaksikan/Mengetahui), Al-Haqqu (Maha Benar), Al-Wakiilu (Maha Memelihara Penyerahan), Al-Qawiyyu (Maha Kuat), Al-Matiinu (Maha Kokoh/Perkasa), Al-Waliyyu (Maha Melindungi), Al-Hamiidu (Maha Terpuji), Al-Muhshii (Maha Penghitung), Al-Mubdi’u (Maha Memulai), Al-Mu’iidu (Maha Mengulangi), Al-Muhyi (Maha Menghidupkan), Al-Mumiitu (Maha Mematikan), Al-Hayyu (Maha Hidup), Al-Qayyuumu (Maha Berdiri Sendiri), Al-Waajidu (Maha Menemukan/Kaya), Al-Maajidu (Maha Mulia), Al-Waahidu (Maha Esa), Al-Aahadu (Maha Esa), Ash-Shamadu (Maha Dibutuhkan), Al-Qaadiru (Maha Kuasa), Al-Muqtadiru (Maha Menentukan), Al-Muqaddimu (Maha Mendahulukan), Al-Muakhkhiru (Maha Mengakhirkan), Al-Awwalu (Maha Awal/Pertama), Al-Aakhiru (Maha Akhir/Penghabisan), Azh-Zhaahiru (Maha Nyata), Al-Baathinu (Maha Tersembunyi), Al-Waali (Maha Menguasai), Al-Muta’aali (Maha Agung/Suci), Al-Barru (Maha Dermawan), At-Tawwaabu (Maha Menerima Taubat), Al-Muntaqimu (Maha Penyiksa), Al-‘Afuwwu (Maha Pema’af), Ar-Ra’uufu (Maha Pengasih), Maalikul Mulki (Maha Menguasai Kerajaan), Dzul Jalaali wal Ikraami (Maha Memiliki), Kebesaran dan Kemuliaan), Al-Muqsithu (Maha Adil), Al-Jaami’u (Maha Mengumpulkan), Al-Ghaniyyu (Maha Kaya), Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan), Al-Maani’u (Maha Menolak/Membela), Adh-Dhaarru (Maha Pemberi Bahaya), An-Naafi’u (Maha Pemberi Manfaat), An-Nuuru (Maha Bercahaya), Al-Haadi (Maha Pemberi Petunjuk), Al-Badii’u (Maha Pencipta Yang Baru), Al-Baaqii (Maha Kekal), Al-Waaritsu (Maha Mewarisi), Ar-Rasyidu (Maha Cendekia), dan Ash-Shabuuru (Maha Penyabar).[]
(Dimuat berseri di Majalah Al-Mujtama’ edisi 5 Th 1/12 Sya’ban 1429 h. 50-51 dan edisi 6 Th 1/11 Ramadhan 1429, hlm. 40-41)