Kamis, 14 Juli 2011

menjawab Tuduhan ::Ada ayat Setan di dalam Al Quran ?

1. Kata pengantar
Sumber dari klaiman “Ayat-ayat Setan” adalah at-Tabari dan Ibn Sa’d,mereka adalah narasumber Muslim ternama pada masa awal dalam hal uraian Qur’an dan Sejarah Islam .
Nah kurang lebih begitulah kira-kira potongan kalimat yang biasa diucapkan orang Kristen untuk menguatkan argumen mereka bahwa “Ayat-ayat Setan” memang ada.
Lalu pertanyaannya sekarang mana dan dimana pernyataan Ibn Jarir al-Tabari dan Ibn Sa’d yang mengatakan bahwa mereka adalah narasumber atas kasus “Ayat-ayat Setan”? ini adalah sangat bertentangan, yang pada kenyataannya mereka hanya menyambung kisah atas kisah disampaikan kepada mereka.Al-Tabari menyebutkan apa yang dinamakan “Ayat-ayat Setan” dalam kitab Tarikhnya. Beliau menjelaskan dalam pendahuluan kitab Tarikhnya:
Sebab itu,jika saya menyebutkan suatu hal dalam buku ini berkenaan sebuah laporan perihal orang-orang di masa lalu,jika pembaca atau pendengar menemukan celaan yang tidak dapat disetujui dikarenakan mereka mengetahui dan faham tidak ada aspek kebenaran dan tidak pula ada pokok yang faktual didalamnya,maka buku ini tidak seharusnya dihubungkan kepada kami namun kepada orang-orang yang menyampaikannya kepada kami dan kami hanya menyampaikan (dalam buku ini) seperti apa yang disampaikan kepada kami.
Jadi,al-Tabari tepat dalam menunjukkan kejadian-kejadian dalam bukunya menurut etika penyusunan kejadian atas apa yang dia dapat (dari kisah-kisah tsb).Lalu apakah beliau dapat dijadikan pijakan atas klaiman “Satanic Verse “ini?al-Tabari dengan tegas menolak untuk bertanggung jawab atas kritik sejarah yang ditujukan kepada bukunya kelak.Oleh karenanya kisah-kisah palsu didalamnya TIDAK BISA di pertalikan atau dihubungkan padanya.
Perihal “Ayat-ayat Setan” disampaikan oleh al-waqidi kepada Ibn Sa’d,dan Ibn sa’d adalah asisten atau sekretaris al-Waqidi dan juga dianggap HANYA berperan dalam penyampai berita belaka dalam konteks menyebutkan text dan isnadnya. Berkenaan dengan 2 sejarawan ,al-Waqidi dan Ibn Sa’d, sarjana kontemporer, Tarif Khalidi menjelaskan:
Waqidi adalah senior dari Ibn Sa’d.Ibn Sa’d adalah sebagai “Katib al-Waqidi” dan juga sebagai sekretaris dan editor al-Waqidi dan bahan-bahan yang dia kumpulkan dan kemudian dia jelaskan.
Dengan kata lain bahkan al-Waqidi maupun Ibn Sa’d bukan saksi mata atas turunnya wahyu yang di sebut “Satanic Verses”,pada kenyataannya mereka hanyalah sebagai perawi (penyampai berita).
Adalah rahasia umum bahwa:
…Waqidi juga disalahkan atas kesalahannya dalam penempatan dan kehilangan isnad dalam penilaian ketat para praktisi ilmu Hadis…
Sekarang saya akan menuliskan “mengapa Muslim masa sekarang menolak dengan mudah kisah yang di bawa oleh 2 penulis diatas”. Dimulai dengan penjelasan kaum Muslim dimasa lalu yang menolak isu-isu tersebut. Perkara ini didunia Muslim bukan perkara baru. Michale Fischer dan Mehdi Abedi, membahas dan juga mengomentari ayat-ayat setan ini:
Kisah bahwa Muhammad (saw) memakai bisikan setan ditolak hampir oleh semua pakar. Namun fakta bahwa masalah ini tetap bertahan hanya sebagai subjek dari diskusi dan tuduhan para misionaris secara kontinue dari tiap generasi yang membuat isu ini tetap eksis.
Karena isu itu di tolak oleh hampir semua pakar,lalu apakah Muslim tidak dibenarkan dalam menolak kisah yang berhubungan dengan “ayat-ayat setan”?
Dan juga saya akan menulis riset yang dikerjakan seorang orientalis John Burton,yang juga adalah pengekor kedua orientalis ternama Muir dan Watt,mengomentari masalah ini:
Keberadaannya oleh karena didorong motiv teori yang dipaksakan atas penemuan hadis-hadis yang tidak populer ini. Jika ditemukan kesalahan dikarenakan hadis2x ini diangkat kepermukaan, dan tidak perlu pencarian lebih lanjut yang detail bahwa hadis-hadis tersebut tidak punya back-geround historis.
Nah sekarang kita beranjak kepada argumen Kaum Muslim dan penjelasannya mengenai ayat-ayat setan.
2. Ayat-ayat setan dan argumen kaum Muslim.
Pada bagian ini kami akan menguji komplain Missionaris Kristen.
Tapi sepertinya jawaban-jawaban dari cendikiawan Muslim akan hal ini susah untuk ditemukan ,apalagi oleh para Missionaris.
Saya bertanya-tanya apa para Misionaris pernah membaca literatur ,dari Muslim modern maupun klasik atas bahasan ini. Sebelumnya kita telah membaca (diatas) bahwa menurut Michael Fischer dan Mehdi Abedi hampir semua pakar Muslim menolak hadis-hadis ayat-ayat setan. Mereka menolak bukan tanpa alasan atau argumen! Dalam literatur modern, ada sejumlah salinan hasil karya para Muslim yang berkenaan dengan “ayat-ayat Setan”.
Salah satu yang terkenal diantara mereka adalah 2 buku dari Abu A’la Mawdudi yaitu Tahfim al-Qur’an (1972) dan Sirat-i Sarwar-i‘Alam (1979).yang secara kritis menguji semua aspek dari riwayat dan mengevaluasi tulisan-tulisan cendikiawan Muslim generasi awal atas kasus ini secara detail dan eksplisit. Dan juga hasil karya Sayyid Qutb (Fi Zilal al-Qur’an) dan M.H.Haykal (The Life of Muhammad). Zakaria Bashier dalam bukunya The Makkan Crucible, juga membahas masalah ini secara komprehensif dan faktual.
Juga disebutkan dalam Appendix (tambahan) 2 dalam bukunya Zakaria Bashier sebuah artikel “The Satanic Verses and The Orientalists” (A Note on The Authenticity Of The So-Called Satanic Verses), di bawah ini adalah versi yang telah di revisi dari artikelnya yang pernah di terbitkan dalam surat kabar Hamdard Islamicus:
Al-Tabari, Ibn Sa’d dan beberapa penulis Muslim telah menulis bahwa Nabi Muhammad saw di bawah inspirasi Setan ketika menambahkan 2 ayat dalam Surah an-Najm (53):
Nabi didduga keras mengumandangkan ini bersamaan dengan ayat-ayat dari surah an-Najm dalam doanya. Kaum Musryikin Mekah yang berada disekitar Ka’bah saat itu bergabung bersamanya (saw) dalam doa tsb karena Nabi memuja tuhan-tuhan mereka untuk memenangkan hati mereka. Kejadian tersebut akhirnya mencapai Abyssina (Dinasti Kristen kuno/Etiopia) tempat di mana sebagian kaum Muslim mengungsi akibat penyiksaan kaum Musrikin dan akhirnya sebagian dari mereka kembali ke Mekah di bawah penahanan kaum Musrikin setelah diyakini bahwa kaum Musrikin tidak akan lagi menyusahkan Nabi saw dan pergerakan Islam.
Rasullah saw pada hari yang sama dan memperingatkan atas kesalahan yang beliau lakukan dengan melantunkan ayat-ayat yang sekalipun tidak pernah di wahyukan kepadanya. Dan hal tersebut sangat mengkhawatirkan nabi saw dan membuatnya risau. sebagai “peneguran” kepada Nabi saw, Allah SWT mewahyukan ayat-ayat berikut dari surah al-Isra yaitu (Qs 17:73)
Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (QS. 17:73)
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. 17:74)
kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17:75)
Hal itu membuat Rasullah saw merasa sangat bersalah sampai akhirnya Allah swt mewahyukan ayat dari Surah al-Hajj yang menghibur dan sebagai penghibur: [Qur’an 22:52]
Hal diatas adalah intisari dari riwayat yang di tulis oleh al-Tabari dan beberapa penulis Muslim lain yang sering di gunakan oleh missionaris Kristen. Kisah tersebut menyatakan secara langsung dan tidak langsung bahwa Rasullah saw dan sahabat-sahabat radiyallahu anhumma memakai dan menempatkan “ayat-ayat setan” sebagai wahyu resmi dari Allah SWT, jika tidak maka tidak seorangpun yang menerimanya.
Mari sekarang kita menguji riwayat dan isinya, dipandang dari bukti internal dan eksternal dan mengevalusinya pada kriteria basik atas kritirisasi historik. Oleh karena itu saya harus melihat urutan kronologis dari riwayat tersebut dan menetapkan apakah atau tidak sama sekali perincian dari kisah itu terhubung dalam satu periode dan saling berhubungan. Diperlukan perhatian khusus untuk menentukan periode-periode dari pem-wahyuan dari 3 ayat-ayat yang di sebutkan diatas, yang nantinya malah akan mensyahkan atau memberatkan riwayat tersebut.
Dengan mudah dapat dikumpulkan dari riwayat atas insiden pengumandangan “Satanic Verses” dan kelemahan dari konsekuensi para kuffar di sekitar Ka’bah setelah sejumlah kaum Muslim pindah ke Abyssinia. Perpindahan, menurut sumber yang dapat dipercaya, terjadi dibulan Rajab tahun ke-5 setelah panggilan kenabian di gua Hirah atau sekitar 8 tahun sebelum Hijrah ke Madinah. Oleh karena itu insiden tersebut pasti terjadi mendekati hari tersebut atau jauh setelah migrasi ke Abyssinia.
Ayat-ayat dari surah al-Isra (17:73-75) yang di wahyukan, menurut riwayat diatas sebagai “teguran” kepada Rasullah saw yang diduga keras mengumandangkan ayat-ayat setan, namun pada kenyataannya tidak di wahyukan SAMPAI SETELAH KEJADIAN MI’RAJ ATAU PERJALANAN ISRA’ MIJRAJ, menurut sumber-sumber historis terjadi tahun ke-10 atau ke-11 dari peristiwa gua Hirah (penugasan ke-Nabian) sekitar 2 atau 3 tahun sebelum Hijrah keYastrib (Madinah).
Jika begitu ,maka secara tidak langsung riwayat diatas mengatakan “ayat-ayat setan” tidak terdeteksi atau tidak di gubris sama sekali selama 5 atau 6 tahun sampai akhirnya turun ayat “teguran” yaitu al-Isra (17:73-75) jika hal itu adalah sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan tersebarnya ayat-ayat dari inspirasi setan selama tahunan? Yang padahal teguran atas kesalahan yang lebih ringan dari Rasullah saw mendapat respon hanya dalam hitungan hari (dalam kasus Insya Allah) dan juga menimbang betapa responsifnya Allah SWT atas masalah-masalah yang terjadi dikalangan umatNya.
Apakah orang yang berfikiran sehat akan percaya penyisipan terjadi hari ini dan peneguran baru di buat 5 atau 6 tahun kemudian dan pengganti baru atas ayat setan yang diduga disisipkan baru di umumkan secara publik setelah 9 tahun kemudian?
Ayat yang relefan atas surah al-Hajj (22:52) menurut komentator Quran diwahyukan ini ditahun pertama Hijriah, sekitar 8 atau 9 tahun setelah insiden itu dan sekitar 2.5 tahun setelah surat 17:73-75 (yang di kenal ayat “peneguran”). Mungkinkah orang yang faham Quran baik dari sisi sejarah dan pemwahyuannya ,dapat mengerti dan menjelaskan bagaimana ayat sisipan atas insiden satanic verse di “izinkan” dan dibiarkan selama 5 tahun dan juga ayat tandingan tidak men-nasakh-nya sampai 9 tahun kemudian?
Implikasi dari argumen ini dikarenakan ayat-ayat nasakh di turunkan setelah 9 tahun kejadian tersebut., jadi berarti selama 9 tahun Muslim ditanyai mengenai perantaraan Lat, Manat dan Uzza! Dengan kata lain hasil kemusrykan sekaligus/secara ikhlas/sama sekali palsu dari kepercayaan monoteis yang dikompromikan. Oleh karenanya mewah untuk mengusulkan bagaimana bisa mungkin Muslim di tanyai ketelibatan Lat, Uzza dan Manat selama hampir 1 dekade (masa 10 tahun).
Sekarang mari kita melihat bukti internal. Dikatakan riwayat penyisipan bisikan Setan terjadi dalam surat an-Najm (53-19) yang menyejukkan penyembah berhala dan sebagai langkah persahabatan dan niat baik. Mereka semua membungkuk hormat pada Rasullah saw. Untuk mengomentari riawayat tersebut adalah penting untuk membaca ayat-ayat dalam Qur’an, menjawab apa yang diduga keras sebagai “ayat-ayat Setan”, dan menemukan apa sebenarnya yang dimaksudkan atau disampaikan ayat tersebut:
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Mana yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka. (QS. 53:19-23)
Jika membaca ayat yang diduga sebagai “ayat-ayat setan” diatas. Sulit dimengerti bagaimana Allah SWT sekaligus memberi pujian dan diayat kemudian mencelanya. Juga sangat sulit dicerna bagaimana para pemimpin-pemimpin Quraisy menyimpulkan bahwa Muhammad saw membuat langkah damai atau berkompromi dan sedang mengadopsi kebijaksanaan memberi dan menerima dengan kaum Musrykin.
Menarik kesimpulan dari ragam laporan berhubungan dengan riawayat tersebut, Watt menyarankan bahwa:”
…pada suatu waktu Muhammad mengumandangkan secara umum ayat-ayat Setan sebagai bagian dari Qur’an; adalah tidak mungkin riwayat tersebut ditemukan kemudian oleh Muslim atau de selinapkan kepada mereka oleh NonMuslim. Dan kedua, kemudian Muhammad mengumumkan bahwa ayat-ayat ini bukan bagian Qur’an.
3. kesimpulan
Jelas sudah bahwa riwayat diatas adalah konyol dan tidak lulus seleksi dari bukti dan kritik eksternal maupun internal. Dan lebih jelas lagi didalam Qur’an adalah MUSTAHIL bagi nabi saw untuk menerima apapupun didalam Qur’an dari sumber selain Allah SWT.
Dan sangat disayangkan ahli sejarah terkemuka seperti al-Tabari mengisahkan riwayat ini dalam Tarikh al-Umam wal-Muluk tanpa mencantumkan komentar apapun mengenai ke-otentikannya atau ulasan yang kritis selain HANYA menyebutkan bahwa dia tak lain hanya sebagai penyampai dari apa yang dia dengar. Walaupun begitu ada keuntungan yang dapat di ambil dalam hal metodologi (lihat bahasan di bawah) juga resiko. Para Misionaris Kristen mendapat keuntungan besar dalam hal ini dan mencoba membuat “sesuatu” suprais dengan membuat riwayat ini menjadi heboh dengan mentitlekan sebagai “Ayat-ayat Setan”.
Yang pada kenyataannya baik al-Tabari maupun Ibn Sa’d dan lain-lain mencatat riwayat ini dalam karyanya dan mereka sama sekali tidak membuktikan bahwa riwayat ini benar, dan para Muslim ditantang oleh para Misionaris yang kegirangan:
Muslim masa sekarang yang menolak riwayat dari penulis-penulis ini sebagai riwayat palsu dan tidak punya dasar historik setidaknya harus menjawab pertanyaan :”mengapa orang-orang yang bereputasi spt al-Tabari dan Ibn Sa’d memalsukannya?”,
Masalah ini bukanlah hal baru jauh sebelum Missionaris masa sekarang membuka mulut2x mereka mengajukan pertanyaan tsb mulut-mulut para ahli kitab (pra Nabi) jauh sebelum mereka juga mempertanyakan hal yang sama. Namun masalahnya jawaban-jawaban dari para Muslim klasik susah didapat sacara umum.
Saya sudah memaparkan melalui artikel ini secara historis, kronologi maupun kredibilitas pengakuan al-tabari dan Ibn Sa’d sendiri.
Ayat-ayat Setan didalam Quran hanyalah sebuah tuduhan palsu.
Wassallam.