Kamis, 14 Juli 2011

Menjawab Tuduhan Alqur’an Tidak Murni Firman Allah

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. [QS. An-Naml:91]
Kristener mempertanyakan:
1.Kata “aku” dalam ayat tersebut  adalah kata ganti untuk Muhammad.
Kenapa ada perkataan Muhammad dlm Alqur’an? berarti Alqur’an bukan murni firman Allah
2. Selain itu ayat ini juga sering dipakai untuk membantah bahwa Islam bukan agama yang universal berdasarkan kalimat “Aku hanya menyembah Tuhan Negeri ini (Mekah)…” yang disumbatkan melalui mulut Muhammad itu murni wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril.
Jawabannya:
1. Redaksi kalimat yang menggunakan kata “aku” yang menunjukan sebagai kata ganti  “Muhammad” bukan berarti kehendak rasulullah sendiri untuk berbicara seperti itu. Tapi itu adalah perintah Allah yang diwahyukan melalui malaikat jibril.
Sebenarnya sederhana saja, katakanlah didalam injil, isinya adalah banyak yang bukan perkataan Yesus, layaknya sebuah biografi dimana Lukas, Yohanes, Matius atau Markus menceritakan kejadian saat Yesus masih ada. Misalnya saja dikatakan, ketika Yesus berjalandan seterusnya, itu kan bukan perkataan Yesus, tetapi ceritera dari si penulis untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
Berbeda dengan al-Quran semua isinya adalah wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Masalahnya memang pengertian ‘wahyu’ atau firman antara Islam dengan Kristen berbeda. Kalau  umat Kristen bilang bahwa firman itu dapat berupa mimpi atau inspirasi yang didatangkan Tuhan kepada sang rasul untuk kemudian rasul tersebut menyampaikannya dengan gaya bahasa masing-masing
Sedangkan kalau  menurut Islam, pengertian wahyu adalah  firman Allah yang disampaikan secara tidak langsung (melalui perantaraan Jibril) kepada Muhammad. Muhammad menyampaikan persis dengan yang ia dengar dari Jibril, jadi beliau tidak menyampaikan dengan gaya bahasanya sendiri.
2.  Semisal perkataan seseorang ” aku hanya menurut kepada bapak yang menjadi tuan di rumah ini ” …. dan ternyata bapak dimaksud ternyata seorang gubernur yang membawahi negeri dimana rumah dimaksud berdiri …. maka apakah perkataan itu membatalkan fakta ” kedudukan bapak sbg seorang gubernur ” ??? Islam bukan agama yang  universal berdasarkan kalimat “Aku hanya menyembah Tuhan Negeri ini (Mekah). jika menitik beratkan pada potongan kalimat “KEPUNYAANNYA LAH SEGALA SESUATU, hal itu jelas universal . perlu diingat bahwa kota Mekkah adalah rumah ibadah pertama Nabi Ibrahim menegakkan TAUHID yang kita sebut Millah Ibrahim, yaitu artinya tempat berdirnya Ibrahim untuk tunduk menyerahkan segalanya untuk sang pencipta, patuh tunduk hanya kepada Allah. Tuhan kota Mekkah itu tak lain Tuhan semesta alam. jadi tidak ada alasan hanya Tuhan kota Mekkah. karena ka’bah adalah rumah Allah (Millah) sewaktu ikrarnya nabi Ibrahim menegakkan ajaran TAUHID bersama Ismail anaknya.
Allah itu seperti pernyataan allah sendiri tiada lain adalah rabbis samawati wal ardhi ( tuhan sekalian langit dan bumi beserta segenap isinya ) termasuk tuhan negeri makkah beserta penduduknya. Allah menyebut secara khusus negeri makkah sbg negeri yg dipertuhani-nya sekedar untuk membantah anggapan kaum musyrikin yang menganggap makkah sebagai negeri Tuhan mereka, karena bukti historis telah jelas bahwa negeri tersebut dibangun oleh nabiyullah ibrahim as
Semisal perkataan seseorang ” aku hanya menurut kpd bapak yg menjadi tuan di rumah ini ” …. dan ternyata bapak dimaksud ternyata seorang gubernur yg membawahi negeri dimana rumah dimaksud berdiri, maka apakah perkataan itu membatalkan fakta ” kedudukan bapak sbg seorang gubernur ?
maka apakah pernyataan ” Allah tuhan negeri makkah ” bisa menghapus penegasan ” Allah sebagai Tuhan alam semesta? tentunya tidak bukan, karena tidak ada sedikitpun pertentangan antara kedua pernyataan tersebut ….
Kalau memang benar Al-Qur’an adalah produk manusia maka akan terjadi banyak kesalahan dan pertentangan di dalamnya.
Untuk menjawab isu yang berkembang, yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah produk manusia maka dengan tegas Allah berfirman dalam kitab suci al-Qur’an yang artinya, “dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba kami  (muhammad) maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. (QS.Al-Baqarah:23).
Demikianlah dengan gamblang bantahan diberikan kepada siapa pun yang meragukan Al-Qur’an, lantas masihkah kita akan berdalih menyangkal dalil tersebut dan berusaha membuat surat sendiri. semua itu kembali kepada diri masing-masing karena setiap manusia memiliki nurani. Dan setiap manusia berhak memilih apa pun dengan konskuensi yang akan diterimanya sendiri.
Dalam Al Qur’an telah menjamin keaslian firmanNya yang diwahyukan kepada nabi Muhammad saw. dan Dia pun memelihara keasliannya sampai kapanpun. Sebagaimana firmanNya :
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Qs 15 Al Hijr 9)